Archive for August 2011

LKC Dompet Dhuafa Terima Donasi dari Karyawan Indo Tambang

CIPUTAT – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa (LKC-DD) menerima infak sebesar Rp11.839.000, dari keluarga besar karyawan PT Indo Tambangraya Megah TBK, yang diniatkan membantu pembiayaan pasien-pasien dhuafa untuk meraih nikmat sehat.

Sumbangan tersebut disampaikan oleh utusan karyawan PT Indo Tambangraya Megah TBK, Puji Rahadin selaku Safety Management System Manager, Cipta Andrinov (Tax Department) dan Andri Subarul Nuryaqin (Business Process Management Analyst) dan diterima langsung oleh Muhammad Staf  Komunikasi Program LKC-DD yang spesialis menangani donasi, Jumat (26/8) di Ruang Direksi LKC-DD, Ciputat.

Menurut Puji Rahadin, infak tersebut terkumpul secara insidentil ketika karyawan melaksanakan berbuka puasa bersama di kantor perusahaan tersebut, Jumat (19/8)

“Semula sumbangan tersebut terkumpul Rp11.016.210 dan ada beberapa lembar uang dolar Amerika, setelah dikurskan menjadi rupiah, alhasil sumbangan yang terkumpul Rp11.839.000,” jelas Puji.

Puji juga menyampaikan, ke depan mereka akan mencoba untuk melakukan kegiatan penggalangan dana secara rutin agar dapat bermanfaat untuk membantu pasien LKC-DD secara terprogram. Termasuk dalam hal ini niat untuk mendanai baksos pengobatan untuk kaum dhuafa langsung ke lapangan.

Atas sumbangan tersebut Muhammad, mewakili LKC-DD menghatur terimakasih.Semoga apa yang sudah disumbangan oleh keluarga besar karyawan bermanfaat untuk kesembuhan pasien LKC-DD dan untuk karyawan PT Indo Tambangraya Megah TBK, semakin dimudahkan dalam aktifitas serta dilipatgandakan rejeki yang didapat. Amin.[fil]

Mudik Berdayakan Desa (MUBED)

MUSIM mudik sudah tiba. Jutaan orang dari berbagai kota mulai beramai-ramai pulang ke kampung halaman untuk berkumpul dengan sanak keluarga untuk merayakan lebaran bersama. Fenomena sosial yang selalu terjadi di penghujung bulan suci Ramadhan setiap tahun.

Tradisi mudik bukan saja sekadar fenomena budaya, tapi sudah menjadi fenomena ekonomi. Riset Dompet Dhuafa menemukan sedikitnya Rp 81,7 triliun uang berputar di sepanjang musim mudik.

Sayangnya, jumlah uang sefantantis itu tidak pernah berdampak signifikan bagi pemberdayaan dan pembangunan desa, tempat tujuan para pemudik. Triliunan rupiah uang yang dibelanjakan para pemudik hilang begitu saja bersamaan dengan berlalunya musim mudik yang hanya berlangsung sesaat. Wajar, jika ada yang bersuara kalau tradisi tahunan umat muslim ini hanya “pemborosan nasional”. Sementara pemerintah selalu dipusingkan dengan proyek-proyek perbaikan jalan, jembatan, terminal, pelabuhan, dan sarana prasarana transportasi lainnya.

Harus ada rekayasa sosial agar mudik menjadi lebih berarti dan menguntungkan masyarakat desa. Mudik harus didorong menjadi instrumen pemberdayaan pembangunan desa. Di sinilah gagasan Mudik Berdayakan Desa (MUBED) menemukan momentumnya untuk menjadi instrumen alternatif dalam sebuah perencanaan pemberdayaan desa.

Pertama, gerakan efisiensi transportasi dan komunikasi mudik. Pemudik sangat diimbau untuk selektif dalam memilih moda transportasi yang murah dan aman. Pemerintah dan pihak swasta diharapkan dapat menyediakan transportasi mudik yang efisien dan aman bagi para pemudik. Kenapa mesti efisien? Agar para pemudik dapat membelanjakan uangnya secara efisien dan hemat, tidak untuk pembelanjaan transportasi yang tidak penting, tidak tercecer di perjalanan atau untuk transportasi yang terlalu boros. Bahkan masyarakat didorong semaksimal mungkin menggunakan transportasi milik rakyat saat berada di desa. Begitu pun dengan komunikasi mudik yang selama ini lebih banyak dinikmati perusahaan dan operator besar dari kota, daripada masyarakat desa sendiri.

Kedua, gerakan belanja ke pasar rakyat di desa. Mudik semestinya memberi keuntungan bagi pasar-pasar rakyat dan pusat-pusat perbelanjaan di desa, bukan pasar dan pusat-pusat perbelanjaan di kota. Karena itu, masyarakat sangat didorong agar membeli segala kebutuhan lebaran di desa. Dan, pemerintah kota dan kabupaten memberikan peluang untuk menghidupkan dan memfasilitasi pasar di desa, sehingga dapat menggeser porsi konsumsi dari perusahaan besar ke pengusaha desa.

Ketiga, gerakan berinvestasi di desa. Setiap pemudik sebaiknya mempunyai niat dan rencana untuk menginvestasikan uangnya di kampung halaman mereka. Sehingga masyarakat tidak akan bertindak konsumtif dalam membelanjakan uangnya ketika mudik.

Keempat, gerakan filantropi mudik. Filantropi mudik atau diaspora mudik ini telah berakar budaya di Indonesia, hanya saja perlu didorong efektivitasnya. Jika selama ini perilaku kedermawanan masyarakat desa diwujudkan secara tidak teratur, dan tidak terarah khususnya untuk pembangunan desa secara terencana, maka gerakan filantropi mudik memberikan donasi bagi upaya-upaya sosial dan pemberdayaan di desa.

Perlu kesadaran agar tradisi mudik yang berlangsung setiap tahun tidak menjadi persoalan sosial baru, tetapi menjadi solusi bagi pemberdayaan desa dan pemerataan ekonomi. Mengimplemetasikan gagasan MUBED, setidaknya menjadi alternatif untuk mudik yang lebih efisien dan bermanfaat. Selamat mudik![]

Mudik, Kembali ke (Berdayakan) Desa

Jika musim mudik tiba, biasanya semua orang mulai sibuk. Orang-orang sibuk mencari tiket pulang kampung. Para ibu sibuk membelikan pakaian baru untuk anaknya, sampai pemerintah pun ikut dipusingkan dengan berbagai proyek perbaikan infrastruktur lalu lintas untuk kenyamanan para pemudik. Para pelaku usaha juga berlomba-lomba mengeruk keuntungan dari perputaran uang selama Ramadhan dan mudik.

Ritual tahunan yang terjadi di setiap penghujung bulan suci Ramadhan di Indonesia ini disebut-sebut sebagai mobilisasi penduduk terbesar di dunia. Bukan saja besar secara kuantitas, tapi juga jumlah uang yang mengalir dari kota ke desa.

Pemerintah memperkirakan jumlah pemudik tahun ini mencapai 15,5 juta orang. Meningkat dibandingkan tahun 2010 yang mencapai 14,8 juta pemudik dan tahun 2009 dengan 14,5 juta pemudik. Lain hal data Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) yang menyebutkan jumlah pemudik tahun 2010 saja mencapai 17 juta orang. Jumlah ini hampir menyamai jumlah keseluruhan penduduk Australia yang berjumlah 20 juta jiwa. Dan MTI memprediksi jumlah pemudik 2011 meningkat dari tahun kemarin.

Sedangkan fakta ekonomi dari fenomena mudik cukup mengejutkan. Penghitungan yang dilakukan Dompet Dhuafa terhadap fenomena mudik tahun 2010 saja menunjukkan jumlah uang yang berputar di masyarakat dan mengalir dari kota ke desa tidak kurang dari Rp 80,9 triliun. Dari jumlah tersebut, 56 persen uang beredar dalam bentuk biaya akomodasi, wisata (leisure), kedermawanan (filantropi) dan zakat. Sedangkan 44 persen sisanya tercecer selama di perjalanan dalam bentuk biaya transportasi, konsumsi dan oleh-oleh yang dibawa dari kota. Untuk zakat saja, potensinya mencapai Rp 7,35 trilun atau 9 persen dari total biaya mudik. Jika pemudik membayar zakat di daerah, sudah tentu yang akan mendapat keuntungan dari zakat adalah masyarakat desa.

Selain itu, remittance yang masuk dari luar negeri selama musim mudik juga sangat besar. Masyarakat Indonesia yang mengadu nasib di luar negeri menambah deras arus aliran uang yang mengalir ke daerah. Menurut data Kemenakertrans, remittance (pengiriman uang) TKI menjelang lebaran 2010 saja mencapai Rp 20 triliun. Sungguh angka-angka yang fantastis untuk sebuah ritual tahunan sesaat.

Sayangnya, fenomena ekonomi mudik di atas tidak terjadi secara jangka panjang, dan tidak mendorong peningkatan pembangunan di desa dalam waktu yang lama. Fenomena ekonomi mudik yang terjadi tahunan tidak ditangkap menjadi inspirasi kebijakan bagi stakeholder pemerintah untuk menjadikan mudik sebagai instrumen untuk mengurangi kesenjangan ekonomi melalui pemerataan pembangunan. Karena dengan pemberdayaan desa, maka tingkat urbanisasi dan ketergantungan masyarakat desa terhadap kota dapat ditekan.

Mudik pada hakikatnya adalah “gerakan kembali ke desa” secara massif. Mudik, tidak saja “mengembalikan” orang-orang desa dari kota ke kampung halamannya, tetapi juga mengalihkan perputaran uang dari kota ke desa. Karena itu, semestinya mudik menjadi momentum pemberdayaan desa dengan perencanaan terintegrasi jangka panjang. Sehingga pemudik yang pulang ke kampung halamannya tidak terpikir untuk kembali ke kota. Karena keberadaan mereka lebih diperlukan untuk pembangunan desa.

Mudik semestinya menjadi ‘gerakan kembali ke desa’ yang mengundang investor untuk menanamkan modalnya di desa, sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakatnya dan menghidupkan pembangunan perekonomiannya.

Mudik adalah simbolik ajakan ‘gerakan kembali ke desa’ untuk merubah mindset dan cara pandang yang salah terhadap desa. Desa bukanlah wilayah dengan segudang keterbelakangan dan kemunduran, seperti persepsi selama ini. Justru desa adalah aset yang sangat berharga sebagai penopang ekonomi nasional. Keberadaan desa sebagai pengimbang kota juga menjanjikan keuntungan dan kesejahteraan sebagaimana kota, jika uang yang mengalir ke desa dikelola dan diberdayakan dengan baik.

Akhirnya, jika kebijakan pemberdayaan desa lebih dimassifkan lagi dan terjadi pemerataan pembangunan, maka tidak mustahil mudik alias pulang kampung yang seringkali juga menimbulkan banyak persoalan, dan urbanisasi yang selalu berdampak sosial di kota, bisa teratasi secara perlahan-lahan.[]

Pages:1234...2122Next »