Nurcholis Ingin Bangun Rumah Sakit di NTT
Tak pernah terbesit dalam benak Nurcholis (16) bisa sekolah dan kuliah di salah satu universitas ternama di negeri ini, Universitas Indonesia. Besar dalam keluarga sederhana di Wangapu, Nusa Tenggara Timur, Nurcholis tidak pernah bermimpi macam-macam selain mengikuti keinginan orang tua.
“Saya tidak tahu mau jadi apa ketika itu, disuruh sekolah ya berangkat sekolah,” ungkapnya mengenang masa lalu.
Meski hanya penjual makanan ringan di kota kecil ibukota Sumba Timur NTT, ayah Cholis, Ahmad Husein berharap anaknya memiliki pendidikan yang tinggi, khususnya di bidang ilmu agama. “Pernah saya dipaksa Bapak untuk sekolah di Bangkalan Madura untuk belajar agama,” tambah Cholis.
Hanya dua tahun bertahan di Madura yang merupakan asal keluarganya, pria kelahiran 20 Juli 1996 itu kembali ke Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kamalaputi, Waingapu NTT untuk melanjutkan sekolahnya. Di sinilah Cholis tersadarkan, ia tidak bisa terus menerus bermalas-malasan. Cholis pun memacu dirinya untuk menjadi siswa berprestasi di sekolahnya. Hasilnya tokcer, ia mampu meraih peringkat kedua di kelasnya.
Ulam dicinta pucuk pun tiba, Cholis mendapat kabar seleksi masuk sekolah SMART EI Dompet Dhuafa di Kupang. Berbekal restu orang tuanya, ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Alhamdulillah Cholis diterima, ia pun harus terbang ke Jakarta bergabung bersama rekan-rekannya yang lain dari sejumlah daerah.
“Bapak harus menguras tabungannya agar ada yang mendampingi saya terbang ke Jakarta. Saya tidak berani naik pesawat sendiri,” tuturnya. “Akhirnya guru saya yang mendampingi ke Jakarta.”
Tahun-tahun pertama di asrama SMART EI terasa berat bagi Cholis. Rasa rindu terhadap keluarga yang begitu mendalam sangat menyiksanya. “Setiap libur, saya langsung menghubungi bapak. Tidak pernah saya tidak menangis sewaktu berbicara dengan bapak. Saya di sini dikenal sebagai anak yang cengeng. Sudah banyak guru-guru yang ikut menenangkan saya,” akunya.
Tidak ada prestasi yang didapat Cholis saat tahun pertama dan kedua di SMART Ekselensia Indonesia. Semua terkesan biasa-biasa saja. Bahkan ia berlanganan remedial (ujian perbaikan). Barulah saat memasuki tahun ketiga, Cholis mulai mengerti dan menyesuaikan diri, bahwa di SMART Ekselensia Indonesia adalah tempat anak-anak yang berprestasi dan pilihan. “Di sini adalah tempat orang-orang hebat, saya harus beradaptasi agar bisa menjadi orang hebat,” tegasnya.
Memasuki tahun ke-3 Cholis tidak lagi menjadi peserta remedial. Ia pun memberanikan diri ikut berbagai lomba.Di tahun berikutnya, grafik prestasi Cholis itu terus meningkat, ia juga terus memompa semangatnya untuk menjadi yang terbaik, dan akhirnya bisa masuk peringkat 4 di kelasnya.
Ketika pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jalur undangan dibuka, ia langsung mendaftar. Alhamdulillah, ia diterima di Fakultas Kedokteran UI. Rasa syukur yang dirasakannya teramat dalam. “Setelah melihat pengumuman itu saya langsung lari ke kamar. Saya menangis dan sujud syukur kepada allah. Saya kasih kabar kepada orang tua saya, ibu saya juga nangis,” jelas Cholis.
Harapan Nurcholis ketika menapaki dunia perkuliahan adalah mendapat nilai yang maksimal, menjadi aktifis, dan setelah lulus nanti Ia ingin mendirikan sebuah rumah sakit di Nusa Tenggara Timur.
“Saya ingin membangun rumah sakit di NTT, kalu tidak bisa ya klinik,” pungkasnya. Selamat, semoga cita-citanya terkabul dan terus menebar manfaat.





