“Anak Saya Harus Sekolah”

Siapa yang tak bahagia ketika melihat anak-anak kita dapat meraih kesuksesan dan kejayaan. Mereka dapat menikmati cerianya belajar di sekolah dasar hingga menengah, bahkan dapat mengenyam pendidikan tinggi untuk mengantarkan mereka meunuju kesuksesan.

Demikian cita-cita yang diinginkan oleh perempuan kelahiran Menteng pulo, 17 April 1976 yang mempunyai nama Wini, atau lebih dikenal dengan Wiwin. Wiwin merupakan sosok perempuan tahan banting, betapa tidak, Wiwin harus mampu merawat tiga buah hatinya sendirian, karena sang Suami, Yayan Adriansah telah berpulang ke rahmatullah.

“Tepatnya lima tahun yang lalu suami saya meninggal. Namun saya harus tetap melanjutkan kehidupan. Dan anak-anak saya harus sekolah,” kata Wiwin.
Wiwin yang tinggal di Gang Lengkeng, Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan. Beji, Kota Depok ini menjalankan pekerjaannya sebagai pedagang makanan-makanan kecil di sekolah dan di rumah. Pekerjaan tersebut dimulainya sekitar tujuh tahun yang lalu.  Sebelum berdagang, sebenarnya Wiwin sempat bekerja sebagai penjaga kantin bilyard. Namun tak berjalan lama, karena selain harus pulang dini hari terus-menerus, ia juga tidak mau keluarga mendapat stigma yang negatif.

“Sempat bekerja di bilyard itu sebelum menikah. Tapi tidak lama, karena kasihan ibu saya kalau jadi bahan omongan terus,” ungkap Wiwin.

Wiwin sangat mensyukuri apa yang ia kerjakan saat ini. Semua yang ia lakukan agar anak-anaknya mampu sekolah sampai pendidikan tinggi. Bahkan selain berdagang, Wiwin juga menawarkan jasanya untuk mencuci serta menyeterika pakaian. Ia tidak mau anak-anaknya, Lia (15), Azis (10), dan Heri (5) seperti dirinya yang hanya mengenyam bangku sekolah hingga SMP (Sekolah Menengah Pertama) karena faktor biaya. “Saya tidak mau anak-anak seperti ibunya. Mereka harus lebih tinggi dari saya. Semua yang saya lakukan untuk mereka,” ucap Wiwin.

Keberadaan Wiwin ternyata mengundang perhatian Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa. Karena kondisi Wiwin sebelumnya selalu terlilit hutang dan pendapatan yang ia raih pun sangat sedikit.  Kemudian Wiwin bergabung dalam koperasi ISM (Ikhtiar Swadaya Mitra) Maju Jaya yang merupakan bentukan dari MM dan tak lama pun ia dipercaya menjadi bendahara. Di ISM Maju Jaya itu, Wiwin mendapatkan banyak ilmu mengenai pengolahan dan pembuatan makanan yang sehat, pengaturan keuangan, bahkan ia tak percaya bahwa dirinya saat ini mampu mengoperasikan komputer.

“Keberadaan MM lewat ISM Maju Jaya itu sangat membantu. Sangat berbeda sekali ketika saya sebelum bergabung dengan ISM,” ujar Wiwin

Secara perlahan-lahan perubahan dirasakan oleh Wiwin. Pendapatan yang ia dapatkan ternyata mampu digunakan untuk menabung guna keperluan anak-anaknya. Padahal, sebelumnya ia selalu berhutang untuk menutupi kebutuhannya.

“Selama lima bulan saya bergabung, penghasilan saya bertambah dibandingkan yang lalu-lalu. Saya bisa menabung untuk sekolah anak-anak saya setiap harinya,” ucap syukur Wiwin.

Wiwin merupakan pribadi yang tidak terlalu mengejar keuntungan yang banyak. Karena menurut Wiwin, ketika dirinya berambisi untuk memperoleh keuntungan yang berlimpah ditakutkan muncul tindakan-tindakan yang negatif yang menghalalkan segala cara.

“Minimal anak-anak saya bisa sekolah semua sudah Alhamdulillah,” pungkas Wiwin.

 

 

Related posts

Leave your comment

Your Name: (required)

E-Mail: (required)

Website: (not required)

Message: (required)

Send comment