“Umur manusia paling 50 atau 100 tahun, tetapi sebuah organisasi akan terus hidup melampaui orang-orang yang menjalankannya ..”
Demikian ungkap Masayoshi Son, pendiri sekaligus CEO SoftBank, raksasa software terunggul di Jepang. Dijuluki sebagai Bill Gates-nya Jepang, Son memiliki visi yang jauh melampaui cara pemikiran yang biasa, bahkan amat jauh. Son pernah menggemparkan jagat pemikiran para pebisnis dengan mencanangkan visi 300 tahun kedepan. Bukan sekedar basa-basi, tapi Son memilah dalam visi 50 tahunan, dengan merancang sebuah DNA bisnis yang step by step beliau yakini akan konsisten melampaui 300 tahun kedepan.
Organisasi non-profit patut rasanya melihat cara pandang pebisnis ini,cara pandang yang jauh tembus kedepan. Pada hakekatnya, organisasi non-profit sama dengan organisasi yang berorientasi profit, ingin tetap bertahan hidup dalam pusaran aktivitasnya. Organisasi harus tumbuh berkembang, dikelola dengan sangat profesional, bebas kepentingan dan menjadi agen solusi problematika masyarakat.
Dalam memenuhi upaya tersebut, patut rasanya para pendiri, penggagas dan pelaku organisasi non-profit merancang DNA sukses organisasinya agar tetap sustain, melampaui jauh dari cara pandang yang biasa. Ada beberapa pandangan yang bisa menuju kelanggengan sebuah organisasi non-profit, yaitu dimulai dengan berorientasi pada Program. Ketahuilah bahwa alasan pertama donatur mendukung (baca: berdonasi) sebuah organisasi non-profit adalah karena program-programnya yang mampu mengatasi problem sosial pada bidang yang digeluti organisasi tersebut.
Bagi donatur, program yang “ketemu” dengan kebutuhan rakyat miskin, akan mudah meluluhkan sehingga membuka mata dan hatinya. Akhirnya, membuka dompetnya guna mendukung program tersebut. Jangan pernah lelah meretas program-program kreatif sarat solusi. Kembangkan inovasi program karena ‘jualan’-nya organisasi non-profit ada pada inovasi programnya.
Berorientasi pada SDM. Bekerja mengentaskan kemiskinan juga perlu orang berkualitas. Saat ini banyak lulusan universitas terbaik memilih bekerja di organisasi non-profit. Ini menunjukkan bahwa mengurus persolan orang miskin juga menjadi passion mereka. Organisasi patut memperkuat dan mempersiapkan SDM yang memiliki komitmen, integritas dan daya intelektual. Hak dan kewajiban SDM diatur dengan proporsional sehingga membuat nyaman SDM yang bekerja bagi organisasi non-profit. Visi melahirkan kader-kader pemimpin yang siap melanjutkan estafet di masa depan.
Sistem dan tatakelola organisasi non-profit juga harus ditata secanggih mungkin. @Dompet_Dhuafa memelopori sertifikasi ISO di Direktorat Keuangan dan unit Pendidikannya. Kita juga membentuk unit TQM (Total Quality Management), sebuah unit yang menjaga pola dan perangkat kerja tersistematisir dengan prosedur yang terdokumentasikan. Langkah ini untuk menginspirasi organisasi lainnya bahwa bekerja untuk bidang sosial-kemanusiaan, juga harus mengedepankan tata kerja yang sistemik.
Keberadaan organisasi non-profit salah satu basis terkuatnya adalah dukungan para supporter-nya ; donatur, simpatisan dan relawan. Organisasi wajib mengelola dan me-maintain dengan baik stakeholder ini. Dukungan mereka adalah bagian dari kesinambungan organisasi kita. Kritik, saran dan partisipasi menjadi bagian dari ‘rasa sayang dan peduli’ mereka terhadap organisasi. Jangan anti, jangan dihindari. Melayani para stakeholder ini jangan kalah dengan organisasi profit yang begitu hebatnya melayani setiap keluhan pelanggannya. Kita harus siap 24jam, 7X seminggu melayani dengan hati, bahkan memberi ruang kepada mereka berpartisipasi dalam aksi sosial kita.
Perkuat kerjasama, kembangkan aliansi strategis merupakan bagian dari ajaran baginda Rasulullah. Organisasi kita bukan superman yang bisa mengatasi permasalahan sendiri. Aspek sosial-kemanusiaan terus berkembang dengan eskalasi problem yang tak berkesudahan, maka butuh merapatkan barisan memperkuat jejaring. Berpegang teguh pada prinsip Fastabiqul khairat.
Akhirnya, orientasi pada transparansi dan akuntabilitas menjadi keharusan bagi organisasi yang ingin terus dapat trust dari stakeholder. Hak mereka diatur dalam “Donors bill of rights” agar donatur paham kemana uang mereka dipergunakan. Maka celakalah bagi organisasi yang belum bisa memenuhi prinsip di atas. Jangan salahkan jika mereka berpaling ke organisasi lain yang konsisten bisa memenuhi prinsip diatas.
Kalau organisasi yang berorientasi profit bisa jauh melihat kedepan, harusnya orientasi benefit bisa lebih jauh dari itu karena orientasi kebajikan selalu di atas kebahagiaan dari sekedar profit oriented.





