Ahmad Juwaini
Tembus 100 Miliar
Di tengah diskursus tentang rencana pemerintah untuk menghapus (sebagian) LAZ, keluarga besar Dompet Dhuafa (DD) sedang terlarut dalam rasa syukur yang sangat dalam. Betapa tidak, menjelang 1 Muharram 1431 sebagai penanda tahun baru Islam ini, DD dihujani beberapa anugerah. Dari mulai Penghargaan Social Entrepreneur Award untuk Pendiri DD, Bapak Erie Sudewo oleh Ernst & Young, Penerimaan Sertifikat Manajemen Mutu ISO 9000 : 2008, Pencatatan Rekor MURI atas pengelolaan hewan kurban terbesar di Indonesia, Pemenang Marketing Award 2009 dari Majalah Marketing dan puncaknya ditutup dengan prestasi penghimpunan melampui 100 Miliar yang diraih oleh DD selama setahun (1 Muharram – 30 Dzulhijah 1430 H).
Raihan dana masyarakat 100 Miliar (tepatnya Rp 101.897.272.466) yang berhasil digalang DD adalah sebuah catatan baru dalam sejarah perkembangan zakat di Indonesia. Ini adalah sebuah prestasi bahwa sebuah organisasi pengelola zakat yang dibentuk dengan sederhana pada awalnya, telah mampu dipercaya masyarakat untuk mengemban amanah pengelolaan dana 100 Miliar. Ini sekaligus membuktikan bahwa sesungguhnya masyarakat Indonesia, apabila telah mengetahui kinerja suatu lembaga, maka masyarakat tidak akan segan-segan untuk mengalirkan dananya untuk diberdayakan dalam rangka mengangkat harkat hidup kaum mustahik.
Bagi kami di DD, angka 100 Miliar adalah tangga aman ketiga dalam lapis perkembangan pertumbuhan organisasi pengelola zakat atau organisasi penggalang dana masyarakat yang tumbuh dari Zero. Tangga aman pertama adalah apabila organisasi penggalang dana masyarakat mampu menghimpun dana 1 Miliar per tahun. Dengan 1 Miliar dana setahun, maka operasional lembaga akan berjalan dan akan tumbuh kegiatan lembaga dalam membantu kehidupan masyarakat miskin. Tangga aman kedua adalah pencapaian 10 Miliar, yaitu tangga di mana organisasi penggalang dana masyarakat akan mulai mampu menghidupi pengelolanya. Dengan perolehan 10 Miliar per tahun, maka para pengelola organisasi pemberdayaan masyarakat akan mampu bertahan untuk terus berada di dalam organisasi tersebut, sehingga tidak mudah menjadikan personilnya keluar-masuk.
Adapun angka pencapaian 100 Miliar adalah tangga untuk mengukur peran dan kontribusi organisasi nirlaba dalam mempengaruhi masyarakat. Dengan dana 100 Miliar, organisasi kepedulian akan memiliki kesempatan untuk berperan nyata dalam rangka mewarnai perubahan masyarakat. Tangga ketiga adalah pengukur potensi yang dimiliki oleh setiap organisasi pengelola dana masyarakat untuk berkiprah dalam rangka membantu menggerakkan bangsa guna memperbaiki kehidupan masyarakat yang tak berdaya.
Pendiri DD, Bapak Erie Sudewo, 10 tahun yang lalu pernah menyampaikan, bahwa apabila pada waktu itu DD diberi amanah dana 100 Miliar, mungkin DD akan termehek-mehek karena tidak sanggup mengelolanya. Akan tetapi dengan bertambahnya waktu dan terus berkembangnya pengalaman DD, mudah-mudahan kini DD akan lebih siap untuk dapat memanfaatkan dana tersebut dengan sebaik-baiknya. Bukan untuk sekedar dibanggakan, tetapi untuk berbakti melalui perjuangan penuh kesungguhan dan penuh kreasi untuk dapat melayani dan membantu mustahik terentas dari kemiskinannya. Tentu itu semua tidak akan berhasil tanpa dukungan dan koreksi dari semua pihak, terutama masyarakat donatur.
Sumber gambar : www.wartaislam.com
Berguru kepada Guru
Pada sebuah rapat komite sekolah swasta di bilangan Jakarta Selatan, sedang dibahas tentang anggaran tahunan sekolah. Rapat itu dihadiri oleh perwakilan Yayasan, Perwakilan orang tua murid dan perwakilan guru. Tiba waktunya pada pembahasan tentang gaji guru, berbagai pendapat dilontarkan. Beberapa orang tua murid mengusulkan untuk menaikkan gaji guru. Salah satu orang tua murid menuturkan bahwa sudah saatnya gaji guru di sekolah tersebut dinaikkan, karena menurut beliau bahwa dedikasi dan kesungguhan para guru di sekolah itu luar biasa. Kualitas pengajaran yang diberikan sekolah tersebut kepada anak didik juga sebanding dengan sekolah-sekolah yang mahal bayarannya. Apalagi sudah beberapa tahun ini gaji guru juga tidak dinaikkan.
Nyaris tidak ada satupun orang tua yang berkeberatan dengan usulan tersebut. Akhirnya semua orang tua murid bersepakat untuk menaikan gaji guru pada tahun anggaran baru. Menjelang detik-detik palu keputusan hendak diketok oleh pimpinan rapat, tiba-tiba Pak Pepen salah seorang yang mewakili para guru dalam rapat tersebut berbicara : “Kami menghargai rencana komite sekolah untuk menaikkan gaji para guru. Kami pun mengerti alasan dan penghargaan orang tua murid kepada kami. Tapi kalau boleh berpendapat, biarlah kami para guru tidak menerima kenaikan gaji guru sekarang. Kami merasa masih banyak kekurangan kami. Kami belum memberikan yang terbaik bagi anak didik di sekolah. Lagian masih banyak orang tua murid yang masih lalai memenuhi kewajibannya. Jadi kami mohon janganlah kenaikan gaji guru itu dinaikkan sekarang, mungkin pada waktu lain di masa yang akan datang saja.”
Mendengar pernyataan Pak Pepen ini, sontak semua peserta rapat terdiam. Ada keharuan yang dalam menjalar di seluruh ruangan rapat itu. Beberapa orang tua murid tak kuasa meneteskan air mata. Salah seorang dari orang tua murid dengan terbata-bata dan menahan sesak di dada berujar : “para guru kami mohon tidak berkeberatan untuk dinaikkan gajinya, ini sesungguhnya bentuk penghargaan kami yang belum sebanding dengan segala hal yang telah dikerjakan guru-guru di sekolah ini, kami mohon usulan ini diterima.” Rapat akhirnya memutuskan untuk menaikkan gaji guru di sekolah itu.
Kejadian di atas kadang sangat kontras dengan perilaku sebagian guru di Indonesia. Mereka jarang datang ke sekolah. Mengajar di kelas dengan asal-asalan. Atau datang di kelas cuma memberi tugas, sementara dirinya berkeliaran kemana-mana. Kalau ada anak-anak yang kesulitan dididik langsung dibentak dan dimarahi. Tidak sedikit yang kadang-kadang sampai memukul anak didiknya. Tapi kalau soal menagih kenaikan gaji paling duluan. Sedikit-sedikit mereka minta kenaikan gaji, peningkatan tunjangan dan perbaikan fasilitas. Terhadap guru yang seperti ini kadang kita tidak rela kalau mereka dinaikkan gajinya.
Seandainya perilaku para guru teladan seperti pak pepen di atas dicontoh oleh para guru lainnya, maka memang sudah sepantasnya apabila kesejahteraan para guru dinaikkan. Profesi guru harus menjadi profesi terhormat di tengah kehidupan bangsa ini. Profesi guru harus menjadi profesi yang serius penuh dedikasi dan kompetensi. Kita semua harus memperlakukan guru dengan penuh kebanggaan dan penghormatan.
Sumber gambar : Kompasiana
Pengguna Facebook Indonesia Terbesar ke-7 di Dunia
Popularitas Facebook di Tanah Air benar-benar sudah mendigdaya. Tak tanggung-tanggung, Indonesia tercatat sebagai negara dengan pengguna Facebook terbesar ke-7 di dunia.
Dikutip detikINET dari CheckFacebook, Senin (9/11/2009), Indonesia dikatakan telah memiliki 11.759.980 pengguna Facebook. Posisi Indonesia satu strip di bawah Italia yang memiliki 12.581.060 pengguna dan berada di posisi ke-6.
Amerika Serikat masih menjadi pemasok warga Facebook terbesar sejagad. Negeri Paman Sam itu tercatat memiliki 94.748.820 pengguna. Disusul Inggris di posisi kedua dengan 22.261.080 pengguna.
Sementara jika dilihat dari pertumbuhan tiap minggunya, Indonesia juga berhasil masuk 10 besar dalam daftar negara dengan memiliki pertumbuhan pengguna tercepat. Pada perhitungan terakhir misalnya, Indonesia berada di posisi ke-9 tercepat dengan presentase 6,84%.
Total pengguna Facebook sendiri saat ini sudah menembus angka 325 juta user di seluruh dunia. Melirik raihan tersebut, rasanya sulit bagi situs jejaring sosial lainnya untuk mengejar situs racikan Mark Zuckerberg itu.
Berikut adalah daftar negara dengan pengguna Facebook terbesar di dunia:
1. Amerika Serikat 94.748.820 (user)
2. Inggris 22.261.080
3. Turki 14.215.880
4. Prancis 13.396.760
5. Kanada 13.228.380
6. Italia 12.581.060
7. Indonesia 11.759.980
8. Spanyol 7.313.160
9. Australia 7.176.640
10. Filipina 6.991.040





