Kolom

Melayani Adalah Kehormatan

Cerita 1

Beberapa hari yang lalu saya mendapat cerita yang menarik tentang pola pendidikan di  suatu sekolah di suatu negara. Diceritakan, ketika pengambilan rapot akhir tahun, ada sepasang suami istri yang sedang mengambil raport anaknya. Ketika sampai di meja guru wali kelas, sang guru berkata, “Bapak dan Ibu, anak kalian pintar dan juara kelas. Karena itulah sesuai dengan budaya di sekolah ini, anak kalian akan diberi hadiah.”

Betapa senang dan bangganya sepasang suami istri tersebut, “ Kami sangat bersyukur dan beterima kasih atas bimbingan dari para guru di sekolah ini kepada anak kami,” ujar sang suami. “Hadiah apakah yang akan diberikan untuk anak kami bu guru ?” tanya sang istri dengan harap-harap cemas.

Sang guru menjelaskan,”dengan anak-anak juara kelas lainnya, anak kalian kami beri hadiah berupa MEMBERSIHKAN KAMAR MANDI SEKOLAH.”

Pada cerita di atas, terdapat filosofi indah dan besar yang kita pelajari. Anak juara kelas adalah simbol dari kekuasaan dan kepemimpinan di masa depan pada suatu negeri. Dengan kepintarannya, anak tersebut akan mampu terus bersekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak setinggi-tingginya. Kemudian akan menjadi pejabat, tokoh atau pemimpin di negerinya.

Sejak dini diajarkan bahwa, pejabat, tokoh atau pemimpin adalah pelayanan masyarakat. Dan membersihkan kamar mandi adalah salah satu bentuk pendidikan untuk bisa belajar melayani dengan baik dan penuh kehormatan. Karena kamar mandi adalah salah satu fasilitas masyarakat yang penting dan sangat diperlukan. Sehingga dengan kamar mandi yang selalu bersih dan nyaman karena dia bersihkan dengan baik dan sungguh-sungguh, maka masyarakat akan senang dan terlayani dengan baik pula. Ketika masyarakat senang dan terlayani dengan baik, maka membersihkan kamar mandi adalah sebuah kehormatan.

Jadi melayani adalah kehormatan!!!


Cerita 2

Beberapa pekan yang lalu pada suatu acara pertemuan tokoh-tokoh nasional di negeri ini yang kebetulan saya menghadirinya. Ada seorang tokoh yang bercerita tentang  pengalamannya yang menarik di suatu daerah di negeri ini.

Ketika sedang berjalan di sebuah pasar tradisional yang padat pengunjung, sang tokoh ini menemui seorang nenek (usianya sudah sangat sepuh)  yang sehari-hari membantu membawakan belanjaan para pengunjung pasar. Kalau belanjaan yang harus dibawa banyak dan berat, biasanya sang nenek akan menggendongnya.

Dengan niat yang ikhlas, sang tokoh ingin memberikan uang sedekah untuk si nenek. “Ini uang untuk nenek,” ujar sang tokoh sambil menyerahkan uang lembaran lima ribuan. Dan ketika sang nenek menerimanya, sang tokoh langsung pergi meninggalkannya.

Dengan spontan, sang nenek yang sudah menerima uang tersebut (yang sudah diniatkan oleh sang tokoh adalah sedekah) mengejar sang tokoh, dan berujar, “SAYA HARUS MEMBAWAKAN BELANJAAN BAPAK, KARENA SUDAH DIBERI UANG.”

Pada cerita di atas juga terdapat pembelajaran yang sangat luar biasa yang ditunjukkan oleh sang nenek untuk kita. Sang nenek mengajarkan bahwa ketika ia mendapat uang dari seseorang, walaupun sudah diniatkan untuk sedekah, ia merasa lebih terhormat bahwa ia mendapatkan uang setelah ia bekerja lebih dahulu. Ia akan memberikan pelayanan yang memang menjadi profesinya dengan baik dan sungguh-sungguh kepada setiap pengguna jasanya, barulah ia merasa berhak dan terhormat untuk mendapatkan imbalan yang sesuai.

Jadi melayani adalah kehormatan !!!


dr.Yahmin Setiawan, MARS

Direktur Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa