Tanya Ustadz

Jika Bapak/ Ibu ada pertanyaan mengenai Zakat Infak Sedekah (Ziswaf) silakan menanyakan Konsultasi ZISWAF Klik  disini

Hukum Menyicil Zakat?

Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Saya mau bertanya apakah bisa zakat itu dicicil dan cicilannya dipotong langsung dari gaji tiap bulannya sampai kewajiban zakatnya terpenuhi?

Muhammad Idrus di Surabaya

Jawab:
Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Saudara Muhammad Idrus yang dirahmati Allah swt. Menyicil pembayaran zakat ada ragamnya. Ada menyicil zakat yang kewajibannya jatuh pada akhir tahun dan ada pula menyicil pembayaran zakat yang telah lampau.

Menyicil zakat yang belum jatuh temponya, Sebagian besar ulama berpendapat bahwa hal ini diperbolehkan. Misalnya, kita memiliki tabungan 200 juta. Sebagian orang, apabila kita keluarkan zakatnya sekaligus di akhir tahun, ia merasa berat. Maka, ia bisa menyicil zakatnya setiap bulan. ketika tiba akhir tahun, ia hanya membayar kekurangan nilai zakat yang harus ia bayarkan bila nilai zakat yang harus ia keluarkan lebih besar dari nilai akumulasi cicilan zakatnya. Apabila nilai cicilannya telah memenuhi nilai wajib zakatnya, di akhir tahun ia tidak harus mengeluarkan kembali. sedangkan bila nilai cicilannya lebih daripada nilai zakat yang harus ia keluarkan, maka kelebihan yang telah ia bayarkan menjadi sedekah bagi dirinya. Para ulama membolehkan menyicil zakat bila muzakki telah memiliki harta yang mencapai nishab.

Hukum diperbolehkan menyicil zakat ini berdasarkan pada hadits Abbas bahwa dirinya meminta izin kepada Rasulullah saw untuk memajukan pembayaran zakatnya. Rasulullah saw pun mengizinkan Abbas ra membayar zakatnya sebelum tiba waktu membayar zakat.

Berbeda halnya dengan menyicil zakat yang harus ditunaikan pada tahun yang sebelumnya. Untuk yang kedua ini, para ulama sepakat bahwa orang tersebut wajib mengeluarkan zakatnya segera. Apabila orang tersebut mampu, ia tidak boleh menyicilnya. Akan tetapi bila tidak mampu membayarnya, ia bisa menyicilnya.

Sebagai ilustrasi, misalnya Bapak A pernah memiliki emas 100 gram dari ramadhan 1428-1430. Sepanjang tahun tersebut, ia tidak pernah membayar zakat. pada tahun 1431 H, emas itu habis ia belanjakan. Pada tahun 1432, Bapak A sadar bahwa selama ini ia tidak menzakati hartanya. Akan tetapi, bila ia menzakatinya sekaligus, tentu akan mengakibatkan gonjangan ekonomi keluarga atau usahanya. Untuk hal semacam ini, ia bisa menyicil zakatnya. Wallahu a’lam

Menghitung Nishab Harta yang Berbeda-beda

Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh.
Ustad, saya sudah beberapa kali membaca tentang zakat baik melalui buku maupun internet. Yang dijelaskan selalu zakat pada masing2 jenisnya (emas, profesi, dll), padahal kita semua tahu bahwa seseorang secara umum memiliki lebih dari 1 jenis harta/penghasilan.

Yang ingin saya tanyakan, saya memiliki beberapa jenis harta (emas/tabungan/piutang) yang sudah sampai 1 tahun, namun jika masing2 berdiri sendiri maka tidak sampai nishob, dan jika digabung maka sudah sampai, apakah sudah benar cara menghitungnya dengan total dari harta tsb dan bukan per jenisnya?

W. Setiawan di Bekasi

Jawab:
Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Dalam fikih zakat, ada bermacam-macam jenis harta wajib zakat. Masing-masing harta zakat memiliki ketentuan yang berbeda-beda. Ada sebagian zakat yang menjadikan haul sebagai syarat wajib dan ada yang sebagian tidak mensyaratkan wajib. Demikian pula terkait dengan nishab masing-masing zakat.

Terkait dengan nishab, apabila beberapa harta wajib zakat itu sejenis maka nishabnya tergabung. Misalnya, emas, perak, tabungan, deposito, perniagaan, cek dan sejenisnya. nishab zakat harta tersebut tergabung karena jenis. Apabila seseorang memiliki emas tidak mencapai nishab, tabungan tidak mencapai nishab, perak tidak mencapai nishab, perniagaan tidak mencapai nishab, namun ketika semuanya digabungkan mencapai nishab berarti harta tersebut telah mencapai nishab dan pemiliknya berkewajiban mengeluarkan zakatnya.

Demikian pula dengan pertanian. Misalnya beras dan ketan, nishabnya tergabung. Begitu pula pertanian sejenis dan masa tanam yang berdekatan, walaupun tempatnya terpisah-pisah. Sebagian ulama berpendapat pertanian dalam satu musim tergabung. Sebagian ulama berpendapat dua musim tergabung untuk pencapaian nishab.

Adapun untuk jenis harta yang berbeda, misalnya perdagangan dan pertanian, nishabnya tidak tergabung. Sebab, masing-masing harta memiliki ketentuan yang berbeda.

Demikian pula yang terkait dengan haul dan nishab. Haul suatu harta mulai terhitung dari semenjak mencapai nishab. Nishab terkait dengan parameter harta wajib dikeluarkan zakatnya. Sedangkan haul adalah ketentuan waktu mengeluarkan zakatnya. Satu harta yang telah mencapai nishab, ada kemungkinan masa haulnya berbeda-beda. Dengan begitu, waktu mengeluarkan zakatnya pun bisa berbeda-beda.
Wallahu a’lam

Zakat Hasil Jasa Penyewaan

Assalamu’alaikum wr.wb
Jika kita punya rumah yang dikontrakkan, misalnya nilai rumahnya 1 milyar, dikontrakkan 30 juta/tahun, apakah zakatnya dihitung dari nilai rumahnya (jadi diqiyaskan dengan menyimpan emas) atau dari hasil kontrakannya?

irmanrisma@xxxx.com

Jawab:

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Persoalan yang saudara tanyakan merupakan persoalan kotemporer. Para ulama berbeda pendapat tentang zakat hasil sewa menyewa.

Pendapat pertama, zakatnya adalah zakat emas dan perak. Penghitungannya nishabnya tergabung dengan harta yang lainnya. saudara gabungkan harta sewa menyewa itu dengan tabungan dan yang lainnya. Bila nilainya mencapai nishab, saudara keluarkan zakatnya 2,5 persen dari hasil yang diterima.

Pendapat kedua, zakat perniagaan. Cara penghitungannya adalah: nilai modal ( nilai rumah ) + nilai keuntungan (hasil sewa) x 2,5 persen.

Pendapat ketiga, zakat pertanian. Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dan beberapa ulama lain berpendapat bahwa zakat sewa menyewa property adalah zakat pertanian.  Properti yang menjadi modal diqiyaskan sebagai sawah. Sementara hasil sewa diqiyaskan sebagai hasil panen. Zakat hanya dikeluarkan dari hasil panen atau hasil sewa saja bila telah mencapai nishab pertanian (senilai 653 kg beras). Sedangkan nilai zakatnya adalah : 5 persen bila dihitung dari penerimaan kotor dan 10 persen bila zakat dikeluarkan setelah dikurangi biaya operasional.  Pendapat yang ketiga ini adalah pendapat yang banyak dipakai oleh lembaga zakat di Indonesia.

Wallahu a’lam

 

Hukum Jual Beli Anjing Peliharaan

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Saya ingin mengetahui bagaimana hukum jual beli anjing untuk hobi (para penyayang anjing). Apakah jual-belinya sah dan dibolehkan secara syariah? Terima kasih.
putraxxxx di Jakarta

jawab:
Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu’ala rasulillah
Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga. Para ulama sepakat bahwa jual beli anjing untuk peliharaan (binatang kesayangan) adalah jual beli yang terlarang. Hal ini berdasarkan pada hadits riwayat Abu Juhfah bahwa Rasulullah saw melarang menerima bayaran jual beli anjing. (HR Bukhari). Abu Mas’ud Al-Anshari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw melarang menerima bayaran jual-beli anjing, bayaran zina dan bayaran praktek perdukunan (sihir).”(HR Bukhari Muslim). Abu Hurairah juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidak halal menerima bayaran penjualan anjing, jasa praktek perdukunan dan bayaran layanan zina.” (HR Abu Dawud) Ungkapan hadits di atas begitu jelas bahwa Rasulullah saw melarang jual beli anjing. Bersamaan dengan itu, Rasulullah saw melarang seseorang memelihara anjing sebagai binatang kesayangan. Beliau saw bersabda, “Barangsiapa yang memelihara anjing, selain anjing untuk berburu dan menjaga tanaman, sesungguhnya hal itu mengurangi pahalanya setiap hari sebanyak dua qirath.” (Bukhari Muslim) Lalu berapakah ukuran satu qirath itu? Suatu ketika ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah saw tentang satu qirathm setelah beliau saw memaparkan pahala orang yang berta’ziah. Beliau saw menjawab, “Sebesar bukit uhud”. Ketika Islam melarang seseorang memelihara anjing, maka sarana menuju pada perkara yang haram juga haram. Para ulama mengatakan, “hukum terhadap sesuatu juga hukum atas perkara yang mengarah pada sesuatu itu.” Di samping itu, Allah swt berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. 5:2)
Bagaimana dengan anjing untuk buruan, anjing pelacak dan untuk menjaga pertanian? Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Sebagian ulama berpandangan bahwa hukum jual beli untuk anjing pemburu, pelacak atau menjaga pertanian termasuk jual beli yang terlarang. Pendapat mereka berlandaskan pada keumuman larangan menerima uang hasil jual beli anjing. Pendapat ini adalah pendapat sebagian besar ulama. Pembolehan memelihara anjing untuk berburu, melacak dan menjaga pertanian bukan berarti pembolehan menerima uang hasil jual belinya.
Pendapat kedua berpandangan bahwa, diperbolehkan menerima hasil jual beli anjing buruan, anjing pelacak dan anjing menjaga kebun atau pertanian. Para ulama yang sependapat dengan pendapat ini melandaskan pendapat mereka kepada hadits riwayat Nasa’i , bahwa Nabi saw melarang menerima bayaran jual beli anjing kecuali anjing untuk berburu.” Di samping itu, para ulama yang sependapat dengan hal ini berhujjah bahwa jual beli anjing untuk berburu bukanlah jual beli atas dzat anjingnya. Jual beli tersebut adalah jual beli manfaat dan ganti jasa melatih anjing tersebut.
Wallahu a’lam.

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Ibu saya berusia 74 tahun dalam keadaan sakit baru menjual salah satu rumahnya dengan penerimaan bersih hasil penjualan sejumlah Rp. 400.000.000,-. Rumah tersebut sudah beberapa tahun kosong dan tidak memberikan penghasilan bagi Ibu saya. Ibu saya menghendaki membayar zakat atas penjualan rumah yang baru beliau jual. Peruntukkan pokok dari hasil penjualan rumah tersebut adalah untuk menutupi biaya pengobatan dan perawatan Ibu saya selama sakit serta kebutuhan hidupnya sehari-sehari.
Bagaimanakah ketentuan pembayaran zakat atas penjualan rumah Ibu saya tersebut?

lightxxxxx@yahoo.com

Jawab:

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara serta memberikan kesembuhan kepada Ibu saudara. Syafaahallah syifaan ‘aajilan.

Para ulama menamakan harta yang diperoleh melalui penjualan sesuatu, bukan dalam kerangka bisnis, termasuk harta mustafad. Contoh harta mustafad lainnya, hadiah, warisan, bonus dan gaji.

Untuk harta mustafad dari penjualan sesuatu, bila harta tersebut mencapai nishab (senilai 85 gram emas) berarti wajib dikeluarkan zakatnya 2,5 persen. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat tentang waktu wajib mengeluarkan zakatnya.

Pendapat pertama mengatakan bahwa harta mustafad dikeluarkan zakatnya setelah menerima uang tersebut. Zakat ini dikeluarkan setelah dikurangi hutang jatuh tempo atau kebutuhan darurat lainnya. Zakat juga bisa dikeluarkan tanpa mengurangi sama sekali terlebih dahulu. Syaikh Yusuf Al-Qardhawi, ketua persatuan ulama international, menguatkan pendapat ini. Hal ini merujuk pada pendapat Abdullah bin Mas’ud, Mu’awiyah, Umar bin Abdul Aziz dan Imam Zuhri.

Sementara pendapat yang kedua mengatakan bahwa harta mustafad dikeluarkan zakatnya setelah genap tersimpan satu tahun. Apabila ada pengurangan dalam satu tahun, pengurangan itu tidak masuk dalam hitungan zakat. Banyak ulama yang mengikuti pendapat ini. Hanya saja, mereka sepakat apabila seseorang telah memiliki harta yang mencapai nishab lalu mengeluarkan zakatnya sebelum tiba haul, hal itu diperbolehkan. Bahkan, sebagian ulama berpandangan itu lebih afdhal karena menyegerakan penyampaian hak-hak orang tidak mampu.

Menurut hemat kami, saudara bisa langsung mengeluarkan zakatnya 2,5 persen dari hasil penjualan tanah itu. Atau, saudara mengurangi terlebih dahulu dengan beban biaya pengobatan Ibu saudara. Setelah itu, saudara keluarkan 2,5 persen dari sisa biaya pengobatan. Bila saudara mengikuti pendapat yang pertama, semua ulama sepakat bahwa hal itu diperbolehkan.

Wallahu a’lam

Pages:« Prev123456789101112131415Next »