| |
|
|
|
|
|
|
 |
| |
|
Editorial |
| |
16 Januari 2010 13:29:31 / 1 Shafar 1431 H
Gurita Pasar Bebas
Rini Suprihartanti Direktur Keuangan dan Operasional
Mulai Januari 2010 ini, masyarakat Indonesia berkesempatan untuk membelanjakan lebih banyak uangnya untuk membeli produk-produk Cina dengan harga yang ”hampir pasti” lebih murah dibanding produk-produk serupa produksi dalam negeri. Dengan mulai diberlakukannya perjanjian perdagangan bebas Cina – Asean (ACFTA) mulai Januari ini, maka berlaku tarif nol persen untuk produk-produk impor/ekspor dari dan ke negara-negaran Asean-Cina. Oleh karenanya, produk Cina dipastikan akan lebih membanjiri Indonesia setelah pemberlakuan FTA, dibanding produk Indonesia membanjiri Cina. Jauh sebelum pemberlakuan FTA ini saja, produk Cina sudah sangat leluasa membanjiri Indonesia.
Mungkin, bagi sebagian kalangan ini adalah kabar gembira, terutama kalangan konsumen dan pedagang. Untuk sesaat, masyarakat bawah juga akan bergembira karena bisa membeli aneka produk dengan harga yang sangat terjangkau.
Akan tetapi, kegembiraan masyarakat konsumen dan pedagang ini bisa menyimpan petaka bagi kalangan industri dalam negeri. Mereka harus bersaing sangat keras menghadapi perdagangan bebas ini. Sebagian kalangan memperkirakan akan terjadinya deindustrialisasi di Indonesia. Ada kekhawatiran para produsen akan lebih memilih beralih profesi menjadi pedagang (importir) karena ketidakmampuan menghadapi persaingan bebas ini.
Daya saing Indonesia sangatlah jauh. Produksi Cina harganya jauh lebih rendah, bahkan lebih rendah dari harga produksi di Indonesia. Pemerintah dengan sangat sadar mendukung industrinya. Mereka menyediakan kredit ekspor, rabat khusus, listrik murah, tempat usaha dibantu, upah dikontrol, ada balai latihan kerja, dibuatkan kluster industri yang didukung pusat dan daerah, bukan hanya untuk urusan bahan baku, tetapi juga promosinya. Sementara di Indonesia, mengurus perizinan usaha saja harus mengeluarkan biaya-biaya tak terduga sedemikian banyaknya. Belum lagi pungutan-pungutan lain yang ditarik oleh berbagai tingkatan pemerintahan, dari tingkat pusat, daerah sampai ke tingkat desa. Akses permodalan, ketersediaan bahan baku, ketidakjelasan peraturan pemerintah dan iklim investasi menyusul sebagai faktor penghambat tumbuhnya industri dalam negeri.
Yang sangat perlu kita khawatirkan adalah dengan ketidakmampuan kita bersaing di pasar bebas ini, rakyatlah yang menjadi korbannya. Ancaman PHK yang berarti bertambahnya pengangguran dan bertambahnya kemiskinan. Bila pemerintah dan masyarakat tak siap, maka kita hanya akan menjadi penonton dan konsumen sejati. Tanpa sanggup memroduksi barangnya sendiri. Seharusnyalah dengan potensi sumber daya alam dan jumlah penduduk yang besar kita mampu menjadi tuan di rumah sendiri. Maka, menjadi penting pemerintah untuk bisa meninjau penundaan pemberlakuan FTA ini, meski mungkin tidak untuk keseluruhan tarif.
Bukanlah kesalahan Cina bila mereka bisa menguasai perdagangan di era pasar bebas ini. Dalam hal ini, sekali lagi kita harus belajar dari mereka bagaimana menumbuhkan daya saing dan melindungi industri mereka. Pemerintah harus punya kemauan yang tidak sekedar retorika untuk menuju ke arah sana. Ditunda atau tidak, pemberlakuan FTA adalah keniscayaan. Siap atau tidak negeri ini harus bergelut dalam pergaulan dunia perdagangan bebas.
Upaya kita, di luar kebijakan pemerintah tentu haruslah kita lakukan. Keberpihakan kita sebagai konsumen sangatlah diperlukan. Mungkin mulai hari ini kita tidak selalu harus tergiur dengan harga murah produk Cina. Karena murahnya harga tersebut bisa mengakibatkan kesengsaraan bagi rakyat dengan gulung tikarnya industri kecil dan ancaman pengangguran dan kemiskinan. Sebagai pilihan terakhir dalam kita menghadapi perdagangan bebas ini , ada baiknya salah satu prinsip inovasi sebuah perusahaan Jepang yang pernah saya kunjungi ini kita pinjam menjadi pilihan semangat kita: Tingkatkan Daya Saing, Kalahkan Cina. Wallahu’alam.
|
|
|
08 Januari 2010 12:43:14 / 22 Muharram 1431 H
Sakitnya Miskin
Oleh Ahmad Juwaini
Sofyan masih muda, usianya baru menginjak 23 tahun. Ia harus mengembuskan napasnya yang terakhir setelah berjuang melawan diebetes mellitus. Penyakit yang diderita selama dua tahun terakhir ini hanya diobati sekadarnya. Bukan tak ingin Sofyan dan keluarganya berobat dengan sepenuh hati, tapi mahalnya biaya pengobatan, membuat keluarga Sofyan harus berhitung cermat dan menghemat. Kalau tidak sedang sangat parah, penyakit diabetes mellitus yang diderita Sofyan cukup diobati dengan ramuan obat-obatan yang dibuat sendiri. Bahkan menjelang ajalnya pun, Sofyan cuma ditangani oleh seorang bidan dekat rumah.
|
|
|
30 Desember 2009 18:59:33 / 12 Muharram 1431 H
Beda Status
Oleh Yuli Pujihardi Direktur Komunikasi dan Penghimpunan Dompet Dhuafa
Saya terkejut setengah mati ketika mendengar seorang menteri menyebutkan harga mobil Toyota Crown Royal Saloon, mobil dinas yang bakal dia gunakan seharga Rp. 1,3 miliar tersebut sebagai bukan mobil mewah. Saya memang tak pernah punya uang sebanyak itu, sehingga tak punya keberanian untuk mengatakan mobil senilai tersebut bukan barang mewah. Dan, saya tengah membayangkan banyaknya harta yang mereka miliki sampai-sampai mereka mengatakan, “Itu mobil biasa kok, sama-sama Toyota juga.” Ya saya membayangkan berapa besarnya zakat yang dia bayarkan dengan kekayaan sebanyak itu.
|
|
|
28 Desember 2009 14:23:52 / 11 Muharram 1431 H
Belajarlah Pada Ibu
Ismail A. Said
Selasa yang lalu, tepatnya tanggal 22 Desember, kita baru saja merayakan “Hari Ibu”, hari yang perlu kita sikapi karena yang paling penting bukan pada perayaannya, tetapi pada sebuah pertanyaan: sudahkah kita secara pribadi mengimplementasikan makna yang tersirat dari hari tersebut?
|
|
|
17 Desember 2009 06:53:44 / 30 Dzulhijjah 1430 H
Tembus 100 Miliar
oleh Ahmad Juwaini Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa Republika
Di tengah diskursus tentang rencana pemerintah untuk menghapus (sebagian) LAZ, keluarga besar Dompet Dhuafa (DD) sedang terlarut dalam rasa syukur yang sangat dalam. Betapa tidak, menjelang 1 Muharram 1431 sebagai penanda tahun baru Islam ini, DD dihujani beberapa anugerah.
|
|
|
14 Desember 2009 09:48:41 / 27 Dzulhijjah 1430 H
Social Entrepreneur of the Year 2009
Oleh: Erie Sudewo (Social Entrepreneur) Saat tengah di Desa Lendang Nangka Kecamatan Masbagik Lombok Timur, SMS Mas Sigit dari Bina Swadaya Masyarakat (BSM) masuk. Isinya, Bambang Ismawan, pimpinan utama BSM, menominasikan lagi saya untuk turut seleksi di Social Entrepreneur of the Year 2009 yang digelar Ernst & Young (E&Y). |
|
|
24 Juni 2009 12:58:46 / 1 Rajab 1430 H
Pendidikan Bagi Semua
Zaman memang sedang tidak memihak Si Kecil. Itulah kenyataan masa kini yang tengah kita hadapi. |
|
|
24 Juni 2009 12:48:44 / 1 Rajab 1430 H
Keikhlasan Memimpin
Pemimpin, kata Rasulullah adalah pelayan umat. Karena pelayan, seorang pemimpin perlu punya jiwa keikhlasan. Bukan sebaliknya |
|
|
15 April 2009 10:34:35 / 18 Jumadil Awwal 1430 H
Setelah 9 April
Kampanye partai politik sedang mencapai puncaknya. Sebagian orang sedang berebut kekuasaan dengan janji dan sumpah. Mendadak, tanggul Situ Gintung, jebol. |
|
|
25 Maret 2009 07:31:51 / 20 Rabiul Akhir 1430 H
Sentralisasi Zakat yang Belum Perlu
Menteri Agama, Maftuh Basyuni dalam rapat Panitia Ad Hoc (PAH) Dewan Perwakilan Daerah (DPD), di Gedung DPD Jakarta, Selasa (24/2),
|
|
|
1
|
|
|
|