<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Zakat -  Infak - Sedekah - Kemanusiaan Terpercaya By. Dompet Dhuafa</title>
	<atom:link href="http://www.dompetdhuafa.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.dompetdhuafa.org</link>
	<description>Zakat -  Infak - Sedekah - Kemanusiaan Terpercaya By. Dompet Dhuafa</description>
	<lastBuildDate>Wed, 22 Feb 2012 07:30:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Laras Susanti, Kaum Muda Antikorupsi</title>
		<link>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/22/laras-susanti-kaum-muda-antikorupsi/</link>
		<comments>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/22/laras-susanti-kaum-muda-antikorupsi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Feb 2012 07:25:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminDD</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita DD]]></category>
		<category><![CDATA[Etos]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dompetdhuafa.org/?p=10905</guid>
		<description><![CDATA[Laras Susanti, satu dari beberapa mahasiswa penerima Beasiswa Aktivis Nusantara (Baktinusa) LPI Dompet Dhuafa belum lama ini menjadi lulusan terbaik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dengan nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) mencapai 4,00.Tidak mudah bagi perempuan berusia 23 tahun untuk bisa duduk di bangku kuliah. Saat berniat melanjutkan kuliah,setamatnya SMU, kedua orang tua Laras malah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Laras Susanti, satu dari beberapa mahasiswa penerima Beasiswa Aktivis Nusantara (Baktinusa) LPI Dompet Dhuafa belum lama ini menjadi lulusan terbaik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dengan nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) mencapai 4,00.Tidak mudah bagi perempuan berusia 23 tahun untuk bisa duduk di bangku kuliah. Saat berniat melanjutkan kuliah,setamatnya SMU, kedua orang tua Laras malah memaksa dirinya untuk bekerja dan mencari uang.</div>
<div></div>
<div>Lantaran keinginan  yang kuat, wanita murah senyum ini keukeuh untuk tetap melanjutkan kuliah. Kendati dalam keterbatasan ekonomi, salah satu penulis buku  terbitan Dompet Dhuafa “Belajar Merawat Indonesia” ,yang pekan lalu  diluncurkan ini tetap semangat demi mencapai cita-citanya.</div>
<div></div>
<div>“Potensi yang diberikan Allah kepada kita sangat besar, maka menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh adalah upaya untuk mensyukuri nikmat Allah tersebut.  Beragam halangan dan rintangan menghampiri, jangan pernah menyerah,” ucapnya bijak.</div>
<div></div>
<div id="yui_3_2_0_1_1329906448496104">Saat di kampus, Laras aktif dalam organisasi anti korupsi, dia bercita-cita untuk melanjutkan S2 dan menggalang anak muda seusianya untuk kampanye anti korupsi. Jangka panjangnya, Laras ingin menjadi wanita pertama yang menjabat ketua KPK di negeri ini.</div>
<div></div>
<div>“Saya berniat untuk menjadi dosen sambil kuliah S2, tujuannya agar dapat berkontribusi dalam proses pengkaderan generasi antikorupsi. Nantinya, bukan tidak mungkin 20 tahun lagi saya ingin ikut seleksi menjadi pimpinan KPK,” imbuhnya.</div>
<div></div>
<div>Laras bangga bisa terpilih menjadi penerima Baktinusa, menurutnya, beasiswa tersebut sangat membantu mahasiswa yang cerdas tetapi hidup dalam berkecukupan. Langkah Dompet Dhuafa dinilai telah tepat dalam program pendidikan ini.</div>
<div></div>
<div>“ Beasiswa aktivis merupakan sebuah gerakan untuk mengapresiasi mahasiswa yang aktif dalam kegiatan yang memiliki pemihakan kepada masyarakat marjinal. Beragam kegiatan diberikan untuk meningkatkan kapasitas penerimanya. Selain kapasitas personal, beasiswa ini<br />
 diharapkan menjadi konsolidasi bersama untuk merawat Indonesia,” katanya. []</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/22/laras-susanti-kaum-muda-antikorupsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LKC Dompet Dhuafa Periksa Gigi Anak Sekolah</title>
		<link>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/22/lkc-dompet-dhuafa-periksa-gigi-anak-sekolah/</link>
		<comments>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/22/lkc-dompet-dhuafa-periksa-gigi-anak-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 23:42:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita DD]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dompetdhuafa.org/?p=10901</guid>
		<description><![CDATA[CIPUTAT – Sebagai upaya pencegahan pada penyakit mulut dan gigi anak-anak sekolah, Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa (LKC Dompet Dhuafa), menyelenggarakan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Ahyar Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Menurut drg.Triana Zuraida, Koordinator Porgram UKGS LKC Dompet Dhuafa, Selasa (21/2), UKGS diisi dengan penyuluhan dan pemeriksaan gigi anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>CIPUTAT – Sebagai upaya pencegahan pada penyakit mulut dan gigi anak-anak sekolah, Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa (LKC Dompet Dhuafa), menyelenggarakan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Ahyar Pondok Cabe, Tangerang Selatan.</p>
<p>Menurut drg.Triana Zuraida, Koordinator Porgram UKGS LKC Dompet Dhuafa, Selasa (21/2), UKGS diisi dengan penyuluhan dan pemeriksaan gigi anak sekolah.</p>
<p>Di MI Nurul Ahyar Tim LKC Dompet Dhuafa memberikan penyuluhan bagaimana cara mencegah gigi berlubang. “Merawat gigi harus dari sedini mungkin dan pencegahan gigi berlubang haruslah dari sejak anak-anak,” tutur drg. Triana.</p>
<p>Dikatakan drg. Triana UKGS ini dilaksanakan secara rutin setiap dua bulan sekali. Tim LKC Dompet Dhuafa yang berasal dari Poli Gigi mendatangi beberapa sekolah dasar untuk kegiatan UKGS ini.</p>
<p>Di Nurul Ahyar, Tim LKC Dompet Dhuafa diterima dengan suka cita oleh guru-guru dan  kepala sekolah MI Nurul Ahyar Ilyas Ismail. “Kami senang mendapat kunjungan Tim UKGS LKC Dompet Dhuafa, semoga acara seperti ini dapat memotivasi anak-anak agar tetap menjaga kesehatan gigi dan mulutnya,” harap Ilyas Ismail.</p>
<p>Saat pemeriksaan gigi, ditemukan lebih dari 50 persen anak-anak MI Nurul Ahyar menderita karies (gigi berlubang). Di saat penyuluhan juga dilaksanakan peragaan sikat gigi yang baik dan benar secara bersama. [fil]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/22/lkc-dompet-dhuafa-periksa-gigi-anak-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sahabat Para Penukar Hati</title>
		<link>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/21/sahabat-para-penukar-hati/</link>
		<comments>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/21/sahabat-para-penukar-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 06:04:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahmad Juwaini]]></category>
		<category><![CDATA[Cermin]]></category>
		<category><![CDATA[Corporate Blogs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dompetdhuafa.org/?p=10882</guid>
		<description><![CDATA[Pada Siang yang terik itu, di ruangan yang luasnya kurang dari sembilan meter persegi, seorang lelaki  berusia menjelang 40 tahun  berdiri dari duduknya menyambut kami. Lelaki yang mengenakan peci haji  putih itu kemudian mempersilakan kami duduk. Di Ruangan itu, ia sehari-hari menerima tamu yang datang.  Sebagian besar tamu yang datang adalah orang-orang yang sedang mencari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-8919" href="http://www.dompetdhuafa.org/2011/09/30/jalan-panjang-pemulihan-somalia/dsc_3680-2/"><img class="alignleft size-medium wp-image-8919" title="ahmad juwaini" src="http://www.dompetdhuafa.org/wp-content/uploads/2011/09/DSC_3680-+1-184x225.jpg" alt="" width="184" height="225" /></a>Pada Siang yang terik itu, di ruangan yang luasnya kurang dari sembilan meter persegi, seorang lelaki  berusia menjelang 40 tahun  berdiri dari duduknya menyambut kami. Lelaki yang mengenakan peci haji  putih itu kemudian mempersilakan kami duduk. Di Ruangan itu, ia sehari-hari menerima tamu yang datang.  Sebagian besar tamu yang datang adalah orang-orang yang sedang mencari cahaya. Bukan sembarang cahaya, tapi cahaya kebenaran untuk menerangi kehidupan.</p>
<p>Pak Irfan, nama lelaki itu. Sudah hampir tiga tahun ia menjadi “relawan” di Wisma Muallaf. Sebuah tempat singgah sementara bagi orang yang baru bertukar keyakinan atau bagi orang yang sedang belajar menemukan hatinya kembali. Tidak banyak tempat tersedia bagi para penukar hati ini untuk tinggal sementara setelah pergolakan batin yang melelahkan. Bukan hanya untuk menguatkan hati mereka yang masih rapuh, tapi juga berteduh dari kerasnya amarah keluarga mereka yang menentang.</p>
<p>Tidak sedikit tamu yang datang itu awalnya hadir dengan seribu tanya, Sebagian lainnya penuh gelisah karena beban yang menghimpit hatinya. Sebagian lagi datang karena masalah hidupnya yang begitu berat, bak sinetron dalam layar kaca. Bahkan ada yang awalnya datang karena ingin menguji apakah keyakinan yang dimiliki Pak irfan memang lurus. Tentu sebagian lagi datang karena pilihannya atas keyakinan Islam, namun sangat terbatas pengetahuan yang dimiliki.</p>
<p>Tanpa kenal lelah Pak Irfan selalu melayani tamu yang datang. Dengan penuh kesabaran Pak Irfan akan berusaha menjawab semua pertanyaan yang diajukan sesuai dengan apa yang beliau ketahui. Ia membimbing para pencari kebenaran tersebut dengan penuh kelembutan, ditemaninya para penukar hati tersebut dengan dengan penuh ketulusan dari hatinya yang dalam. Semua dilakukan karena panggilan jiwanya.</p>
<p>Ketika ditanyakan kepada beliau, apa yang membuat beliau betah sebagai relawan di Wisma Muallaf? Beliau menjawab, “Saya sering mengingat hadits Nabi yang kurang lebih maksudnya : seseorang yang membimbing satu orang muallaf itu laksana matahari yang menerangi bumi. Kalau membimbing satu orang muallaf saja dinilai sama dengan matahari yang menerangi bumi, bagaimana kalau banyak&#8230;? itu kan besar sekali,” begitu jawab beliau.</p>
<p>Ketika ditanyakan kepada beliau, apa yang paling membahagiakan beliau selama bertugas ? Beliau membacakan sebuah SMS (layanan pesan singkat) dari <em>handphone</em>-nya yang katanya dikirim oleh Nur Nabila (nama sebelum masuk Islam adalah Josephine), wanita kelahiran Sumatera Utara, yang setelah dibimbing dan berubah menjadi lebih baik, kemudian melanjutkan pendidikan di sebuah pesantren di Bandung, begini bunyi sms-nya : <em>“Nuhun kasadayana anu tos ngabantu Nur&#8230;, Puntennya bilih aya kalepatan, Nur Nyuhunkeun dihapunten. Kitu oge ka keluarga Ustad (Irfan) anu tos ngabimbing Nur sareng anu tos merjuangkeun Nur nepi keun Nur tiasa ngaos supartos ayeuna nu ku nur karaos.”</em> (Terima kasih kepada semua yang telah membantu Nur, mohon maaf kalau ada kesalahan Nur, terima kasih juga kepada keluarga Ustad (Irfan)) yang telah membimbing dan memperjuangkan Nur, sehingga Nur mampu belajar (nyantri) seperti yang Nur rasakan sekarang). Sambil membacakan SMS itu, ada titik-titik air mata terlihat membasahi kelopak mata Pak Irfan.</p>
<p>Kami yang mendengar penuturannya, menjadi malu dalam hati. Diam-diam kami mengagumi laki-laki bersahaja yang dengan penuh keikhlasan telah mendedikasikan hidupnya untuk melayani dan menemani para penukar hati ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/21/sahabat-para-penukar-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dompet Dhuafa Turut Sumbang Gagasan di FGD TKI di Komisi IX</title>
		<link>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/21/dompet-dhuafa-turut-sumbang-gagasan-di-fgd-tki-di-komisi-ix/</link>
		<comments>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/21/dompet-dhuafa-turut-sumbang-gagasan-di-fgd-tki-di-komisi-ix/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 05:53:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminDD</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita DD]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dompetdhuafa.org/?p=10856</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta- Kelompok Komisi IX Fraksi PKS DPR RI menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Memperkuat Peran Negara Dalam Perlindungan TKI di Luar Negeri. FGD tersebut membahas rencana revisi UU No.39 Tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri. “Untuk menyikapi dan membenahi permasalahan TKI di luar negeri,sejak 2010 lalu  Komisi IX DPR [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dompetdhuafa.org/wp-content/uploads/2012/02/FGD-DPR.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-10860" title="FGD DPR" src="http://www.dompetdhuafa.org/wp-content/uploads/2012/02/FGD-DPR-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Jakarta- Kelompok Komisi IX Fraksi PKS DPR RI menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Memperkuat Peran Negara Dalam Perlindungan TKI di Luar Negeri. FGD tersebut membahas rencana revisi UU No.39 Tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri.</p>
<p>“Untuk menyikapi dan membenahi permasalahan TKI di luar negeri,sejak 2010 lalu  Komisi IX DPR telah membahas revisi perubahan UU No.39 Tahun 2004. Masalah revisi ini telah dimasukan dalam program legislasi nasional tahun 2012,” kata HM Martri Agoeng, salah satu anggota Komisi IX DPR RI di ruang BK DPR RI, Nusantara II, Senayan, Jakarta, Senin (20/2).</p>
<p>FGD ini dihadiri oleh perwakilan BNP2TKI dan beberapa LSM yang mengurus TKI. Selain itu, juga hadir Konsulat Jendral Indonesia di Jeddah serta staf khusus Menakertrans.</p>
<p>Sementara itu, Dompet Dhuafa yang diwakili, GM Corsec , M. Sabeth Abilawa memberikan beberapa masukkan, antara lain, tentang kontrak mandiri antara pekerja dengan pemberi kerja (untuk PRT) bukan dengan intermdiari agensi.</p>
<p>“Harus diberlakukan kontrak mandiri, jika buruh migrant itu telah bekerja di sebuah negara selama bertahun-tahun,” kata Sabeth.</p>
<p>Selain itu, perlu juga diatur tentang hak libur bagi tenaga kerja kita di luar negeri, pasalnya,  hari libur ini bisa menjadi sarana berserikat pekerja migran kita di luar negeri. &#8220;Dengan berserikat, setidaknya dapat membantu para nakerwan kita yang bermasalah,&#8221; pungkasnya.[nes]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/21/dompet-dhuafa-turut-sumbang-gagasan-di-fgd-tki-di-komisi-ix/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dora; Terima Kasih, Ternyata Masih Banyak Yang Peduli Dora</title>
		<link>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/21/dora-terima-kasih-ternyata-masih-banyak-yang-peduli-dora/</link>
		<comments>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/21/dora-terima-kasih-ternyata-masih-banyak-yang-peduli-dora/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 05:10:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dompetdhuafa.org/?p=10877</guid>
		<description><![CDATA[PADANG – Poster berukuran besar dengan gambar salah satu proklamator Republik Indonesia, Soekarno terpapang sangat mencolok dibanding hiasan dinding lainnya. Sofa dengan warna kemerahan dan tak bermeja tampak kontras dengan warna dinding rumah dengan ukuran 36 meter persegi ini. “Silahkan masuk mas,” sapa wanita berambut cepak itu. Masih ingat kah anda dengan Dora? Ya, wanita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PADANG – Poster berukuran besar dengan gambar salah satu proklamator Republik Indonesia, Soekarno terpapang sangat mencolok dibanding hiasan dinding lainnya. Sofa dengan warna kemerahan dan tak bermeja tampak kontras dengan warna dinding rumah dengan ukuran 36 meter persegi ini. “Silahkan masuk mas,” sapa wanita berambut cepak itu.</p>
<p>Masih ingat kah anda dengan Dora? Ya, wanita yang menyapa kami itu adalah Dora, yang sempat menghebohkan dunia medis tanah air dan ramai dibicarakan media massa dalam negeri karena memiliki penyakit aneh, kepalanya selalu mengeluarkan darah segar ketika ia berfikir berat atau stres. Rambut di kepalanya masih dibiarkan cepak untuk meringankan beban di kepalanya yang setiap saat bisa keluar darah.</p>
<p>Kini, Dora tidak lagi menempati kamar kos-kosan yang sempit dan pengap. Kini, Dora juga sudah tidak lagi memorsir dirinya untuk mencari uang dengan mengojek pada malam hari, sebagaimana yang ia lakukan dahulu. Kini, Dora bisa tingga nyaman di rumah yang cukup besar denga dua orang saudaranya, Dora juga sudah memiliki kendaraan roda dua yang tidak perlu dicicil lagi pembayaran setiap bulannya.</p>
<p>Setelah nama Dora muncul di berbagai media dengan penyakitnya, banyak pihak yang bersimpati kepadanya. Selama delapan bulan pendampingan, total penghimpunan donasi untuk Dora yang dikelola Dompet Dhuafa berjumlah Rp397.429.817. Dari dana ini kemudian dipakai untuk semua kebutuhan Dora seperti biaya pengobatan, pembeliaan dan renovasi rumah, kebutuhan harian, dan biaya pendidikan Dora dan adiknya, Doni.Total biaya yang dikeluarkan adalah Rp231.434.271. Sebelumnya amanah dari donatur Dompet Dhuafa se-Indonesia dana yang dititipkan melalui Dompet Dhuafa ini digunakan untuk pengobatan dan biaya pendidikan Dora dan Doni namun karena beberapa pertimbangan, dana tersebut akhirnya juga digunakan untuk membeli dan merenovasi rumah untuk Dora yang terletak  di Taruko 1 Blok WW No 12 Padang.</p>
<p>Tiga pekan lalu, Dompet Dhuafa secara resmi mengakhiri program pendampingan Dora. Sisa donasi yang berjumlah Rp165.995.546 diserahkan sepenuhnya kepada Dora dalam sebuah seremoni di Aula Radio Republik Indonesia (RRI) Padang, Sumatera Barat, Jumat (3/2).</p>
<p>“Uang ini akan Dora depositokan di bank. Sebenarnya Dora pingin buka usaha, tapi sekarang belum memungkinkan,” ungkapnya ketika Dompet Dhuafa bersilaturrahmi ke kediamannya, Sabtu (18/2).</p>
<p>Dora kembali menceritakan kisah pilunya selama ini, mulai dari kondisi keluarga setelah perceraian orang tuanya hingga ia harus terbaring tak berdaya di Rumah Sakit. “Sudah habis nampaknya air mata ini mas,” tuturnya lirih.</p>
<p>Dora juga bercirta bagaimana ia harus banting tulang untuk menghidupi adik dan ibunya. Meskipun ia seorang wanita, segala pekerjaan lelaki pernah ia lakoni. Mulai dari kondektur angkutan kota, menarik ojek, hingga kuli bangunan. “Saya pernah jatuh dari lantai dua karena kelelahan bekerja di pabrik perakitan DVD player di Batam,” ceritanya.</p>
<p>Dora tidak menyangka, kini ia mengantongi banyak uang di rekeningnya. Padahal dulu ketika ia masuk rumah sakit tidak sepeser pun ia pegang. Karena kebaikan donatur dari seluruh Indonesia lah, akhirnya Dora bisa memiliki rumah sendiri dan menjalani pengobatan sebagaimana mestinya. “Sekarang Dora mau konsentrasi kuliah dulu, Alhamdulillah kemarin baru ujian semester,” ungkap Dora.</p>
<p>Dora mengambil pelajaran dari apa yang telah dialaminya selama ini, bahwa di tengah kesulitan yang ia alami selama ini, ternyata masih banyak yang peduli dan simpati kepada Dora. Ia bercerita, suatu waktu ada satu keluarga yang datang ke rumah sakit dengan mengendari sepeda motor hanya untuk menjenguk dan memberikan support moril kepada Dora. “Padahal dia bukan saudara dan tidak kenal sebelumnya, tapi dia datang jauh-jauh ke Padang untuk jenguk dora. Di sini Dora sempat menangis,” ceritanya.</p>
<p>Untuk itu, Dora hanya bisa menyampaikan terima kasih kepada seluruh donatur yang tidak ia ketahui namanya. “Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada semuanya, rumah sakit, dompet dhuafa dan para donatur,” tukas Dora.</p>
<p>Dora juga berjanji, sebagaimana orang-orang telah berbuat baik kepada dirinya, ia juga akan membantu jika ada orang yang tidak mampu dan membutuhkan pertolongan. “Tentu saya juga akan membantu orang-orang yang tidak berpunya seperti saya,” tutup Dora. [mir]</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/21/dora-terima-kasih-ternyata-masih-banyak-yang-peduli-dora/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yadi Sastro Butuh Uluran Tangan Kita</title>
		<link>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/17/yadi-sastro-butuh-uluran-tangan-kita/</link>
		<comments>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/17/yadi-sastro-butuh-uluran-tangan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Feb 2012 23:54:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>maulina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita DD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dompetdhuafa.org/?p=10838</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA &#8211; Wartawan senior, Yadi Sastro sudah tiga hari tidak sadarkan diri. Tubuhnya terbaring lemah di bangsal Rumah Sakit Tugu Ibu, Cimanggis karena pembuluh darahnya pecah. Tidak banyak yang bisa dilakukan tim dokter setelah proses operasi beberapa hari lalu. &#8220;Menurut dr. Madian, salah satu tim dokteryang menanangani, pembuluh darah yang pecah sudah bertambah, sehingga perlu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JAKARTA &#8211; Wartawan senior, Yadi Sastro sudah tiga hari tidak sadarkan diri. Tubuhnya terbaring lemah di bangsal Rumah Sakit Tugu Ibu, Cimanggis karena pembuluh darahnya pecah. Tidak banyak yang bisa dilakukan tim dokter setelah proses operasi beberapa hari lalu.</p>
<p>&#8220;Menurut dr. Madian, salah satu tim dokteryang menanangani, pembuluh darah yang pecah sudah bertambah, sehingga perlu penanganan yang lebih serius dan peralatan yang lebih lengkap seperti di RSCM atau RSPAD,&#8221; ungkap rekan Yadi, E Sinansari Ecip, Kamis (16/2).</p>
<p>Ecip menambahkn, selama ini Yadi tidak pernah mengeluh kolesterolnya tinggi. Pembuluh darah pecah karena tekanan darah tinggi akibat kolesterol meningkat. &#8220;Dia hanya mengeluh asam urat,&#8221; tambah pria yang juga wartawan senior.</p>
<p>Ecip juga menjelaskan, Yadi yang bertubuh tambun, dengan berat badan 96 kilogram ini dilarikan ke rumah sakit sepuluh hari lalu karena pembuluh darahnya pecah. Saat itu, lulusan terbaik Unpad ini muntah-muntah dan selalu buang air besar. Ia pun dibawa ke RS Medistra, yang tak jauh dari tempat tinggalnya di Mampang. Namun, Yadi hanya bisa dirawat satu malam karena mahalnya biaya perawatan. &#8220;Atas rekomendasi dari kawan, Yadi dibawa ke RS Tugu Ibu Cimanggis,&#8221; ceritanya.</p>
<p>Satu malam di RS Tugu Ibu, Yadi langsung dioperasi oleh tim dokter. Tiga hari berselang, ia pun sudah dapat berbincang-bincang. Namun, karena ia juga tengah batuk, akhirnya pembuluh darahnya kembali pecah.</p>
<p>Di mata Ecip, Yadi yang pernah aktif di majalah Umat dan harian Mimbar Umat ini adalah sosok yang sederhana dan tipe pekerja keras. Bagi Dompet Dhuafa, Yadi juga bukan sosok yang asing, ia pernah terlibat dalam penulisan buku 10 Tahun Dompet Dhuafa, terakhir ia menjadi salah satu juri dalam lomba penulisan blog yang diselenggarakan LKC Dompet Dhuafa.</p>
<p>Kami mengajak para donatur sekalian untuk peduli dengan kondisi Yadi saat ini. Sedikitnya biaya yang dibutuhjan untuk pengobatannya adalah Rp100 juta. Bagi donatur yang ingin berdonasi dapat langsung ditransfer ke rekening BCA acc. 7650 349 959 a/n Sutiono.</p>
<p>&#8220;Yadi sangat membutuhkan uluran tangan kita, teman-teman siap barter untuk berbagi tentang ke-PR-an bagi donatur yang menginginkan,&#8221; pungkas Ecip.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/17/yadi-sastro-butuh-uluran-tangan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dompet Dhuafa Luncurkan Buku “Belajar Merawat Indonesia”</title>
		<link>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/16/dompet-dhuafa-luncurkan-buku-%e2%80%9cbelajar-merawat-indonesia%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/16/dompet-dhuafa-luncurkan-buku-%e2%80%9cbelajar-merawat-indonesia%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Feb 2012 21:55:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita DD]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dompetdhuafa.org/?p=10831</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA – Dompet Dhuafa meluncurkan buku “Belajar Merawat Indonesia” yang merupakan kumpulan tulisan mahasiswa penerima Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa) Dompet Dhuafa, di Jakarta, Rabu (15/2). Peluncuran buku ini dilangsungkan bersamaan dengan talkshow yang mengangkat tema “Gerakan Mahasiswa dan Pemberantasan Korupsi di Indonesia” yang menghadirkan narasumber politisi muda Bima Arya S, aktivis Koalisi Masyarakat Anti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-10832" href="http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/16/dompet-dhuafa-luncurkan-buku-%e2%80%9cbelajar-merawat-indonesia%e2%80%9d/berita-foto-2/"><img class="alignleft size-medium wp-image-10832" title="Berita Foto" src="http://www.dompetdhuafa.org/wp-content/uploads/2012/02/Berita-Foto-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>JAKARTA – Dompet Dhuafa meluncurkan buku “Belajar Merawat Indonesia” yang merupakan kumpulan tulisan mahasiswa penerima Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa) Dompet Dhuafa, di Jakarta, Rabu (15/2).</p>
<p>Peluncuran buku ini dilangsungkan bersamaan dengan talkshow yang mengangkat tema “Gerakan Mahasiswa dan Pemberantasan Korupsi di Indonesia” yang menghadirkan narasumber politisi muda Bima Arya S, aktivis Koalisi Masyarakat Anti <em>Korupsi</em> (Kompak), Fadjroel Rahman dan salah satu penulis buku yang juga peneliti Pusat Kajian Antikorupsi UGM, Laras Susanti.</p>
<p>“Buku ini adalah karya calon pemimpin bangsa masa depan, kita ingin tunjukkan bahwa dalam carut marut bangsa seperti diinformasikan media sakarang ini kita masih bisa bersuara positif untuk membangun bangsa,” ungkap Direktur Komunikasi dan Sumber Daya Dompet Dhuafa, Arifin Purwakananta  saat membuka acara.</p>
<p>Arifin berharap, buku ini bisa diterima oleh publik dan dapat dibaca oleh banyak orang di seluruh penjuru negeri, bahkan hingga ke pelosok. “Dompet Dhuafa berharap dapat berbuat lebih banyak lagi untuk bangsa ini,” tukasnya.</p>
<p>Sementara itu, dalam talkshow yang berlangsung hangat, Laras yang mengurai tulisannya tentang korupsi di buku itu mengatakan, gerakan mahasiswa dan pemuda harus menjadi garda terdepan dalam pemberantasan korupsi, bukan justru tercebur dan ikut menikmati hasil korupsi ketika sudah duduk di kekuasaan.</p>
<p>“Cukup dilematis memang, saat ini gerakan mahasiswa menjadi tumpul karena kakak-kakaknya (seniornya) diadopsi penguasa dan menjadi bagian dari penguasa,” ungkapnya.</p>
<p>Laras juga mengurai bagaimana korupsi di level daerah yang justru lebih dahsyat, sementara gerakan civil society di tingkat daerah sulit berkembang karena diredam. “Gerakan masyarakat di level daerah dalam memberantas korupsi menjadi sulit karena penegak hukum bisa dibungkam, begitu juga media dan masyarakat,” pungkasnya. [mir]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/16/dompet-dhuafa-luncurkan-buku-%e2%80%9cbelajar-merawat-indonesia%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asep; Yang Penting Bisa Cari Makan</title>
		<link>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/14/asep-yang-penting-ada-untuk-makan/</link>
		<comments>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/14/asep-yang-penting-ada-untuk-makan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Feb 2012 06:08:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niesky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita DD]]></category>
		<category><![CDATA[Lirih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dompetdhuafa.org/?p=10800</guid>
		<description><![CDATA[Sudah sejak lahir Asep Maulana mengalami bengkak pada wajahnya. Awalnya, benjolan tersebut kecil, tapi lama kelamaan benjolan itu makin membesar. Lantaran makin membesar, benjolan tersebut menarik urat dan syaraf kedua mata Asep. Akibatnya, jarak pandangnya menjadi terganggu. Ia mengaku hanya bisa melihat dengan jelas benda di depannya tak sampai 5 meter. Akibatnya, di saat mengamen, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dompetdhuafa.org/wp-content/uploads/2012/02/asep-maulana.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-10802" title="asep maulana" src="http://www.dompetdhuafa.org/wp-content/uploads/2012/02/asep-maulana-149x225.jpg" alt="" width="149" height="225" /></a>Sudah sejak lahir Asep Maulana mengalami bengkak pada wajahnya. Awalnya, benjolan tersebut kecil, tapi lama kelamaan benjolan itu makin membesar.</p>
<p>Lantaran makin membesar, benjolan tersebut menarik urat dan syaraf kedua mata Asep. Akibatnya, jarak pandangnya menjadi terganggu. Ia mengaku hanya bisa melihat dengan jelas benda di depannya tak sampai 5 meter.</p>
<p>Akibatnya, di saat mengamen, Asep pernah beberapa kali ditabrak kendaraan. “Karena penglihatan saya kabur, saya pernah ditabrak motor sampai jatuh tiduran. Tapi, nggak apa-apa, itu sudah resiko,” imbuh Asep cuek.</p>
<p>Remaja berusia 17 tahun tersebut mengatakan, jika sedang kambuh, dirinya merasakan demam dan pening. “Kalau benjolannya lagi kumat, saya sampai pusing dan panas. Kalau sudah begitu tidak bisa ngapa-ngapain,” kata Asep baru-baru ini.</p>
<p>Kehidupan Asep juga jauh berbeda dengan anak seumurannya. Asep mengaku sampai saat ini tidak pernah merasakan bangku sekolah sejak ia kecil.</p>
<p>Untuk memenuhi nafkahnya, remaja yang sejak usia 9 tahun sudah tidak tinggal dengan orang tuanya ini mengandalkan suaranya untuk mengamen dari satu bus ke bus kota lainnya. Hasil yang diperoleh, kata Asep, tidak selalu tetap, yang terpenting baginya bisa untuk makan sehari-hari.</p>
<p>“Kalau lagi banyak bisa dapat Rp.50 ribu sehari, kalau lagi sepi paling Rp.20 ribu. Yang penting ada buat makan,” kata Asep yang sudah menjadi yatim sejak umur 6 tahun.</p>
<p>Anak kedua dari tiga bersaudara biasa mengamen di daerah Pulogadung, Kelapa Gading, sampai ke Kampung Rambutan.</p>
<p>Bagi Asep yang juga menderita penyakit hernia ini, kotornya pelataran WC umum di terminal dan bangku bus kota merupakan tempat tidur yang dianggap layak untuk melepas lelah di kala malam hari tiba. Asep merasa telah terbiasa dengan kerasnya kehidupan kota Jakarta.</p>
<p>“Kalau lagi ngamen sampai malam saya sering ikut bis kota ke pool nya, sering juga saya tidur di sana. Kalau lagi di Pulogadung, paling saya tidur di depan WC terminal, gelar Koran,” ucap Asep enteng.</p>
<p>Kini, Asep sedang dalam proses pengobatan di LKC Dompet Dhuafa Ciputat. Asep, yang hanya hidup sebatang kara di Jakarta berharap penglihatannya segera pulih. Selain itu, dirinya juga ingin merasakan kegiatan belajar mengajar.[nes]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/14/asep-yang-penting-ada-untuk-makan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dompet Dhuafa Gelar Pelatihan Penanggulangan Bencana Masyarakat</title>
		<link>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/14/10809/</link>
		<comments>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/14/10809/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Feb 2012 04:03:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita DD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dompetdhuafa.org/?p=10809</guid>
		<description><![CDATA[BANJARMASIN – Sebanyak 50 orang yang terdiri dari para aktivis sosial dan pegiat kerelawanan di Banjarmasin, termasuk sejumlah eks-pejabat Pemprov Kalimantan Selatan mendapatkan pelatihan dasar-dasar kerelawanan sosial dan  pertolongan bencana bagi penyandang disabilitas, Rabu (8/2). Pada kesempatan ini, Dompet Dhuafa dipercaya menjadi Pelatih Utama (main trainer) diwakili oleh GM Relief Bambang Suherman serta Social Grant [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><a rel="attachment wp-att-10810" href="http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/14/10809/irsi-kalsel/"><img class="alignleft size-medium wp-image-10810" title="irsi kalsel" src="http://www.dompetdhuafa.org/wp-content/uploads/2012/02/irsi-kalsel-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>BANJARMASIN – Sebanyak 50 orang yang terdiri dari para aktivis sosial dan pegiat kerelawanan di Banjarmasin, termasuk sejumlah eks-pejabat Pemprov Kalimantan Selatan mendapatkan pelatihan dasar-dasar kerelawanan sosial dan  pertolongan  bencana bagi penyandang disabilitas, Rabu (8/2).</div>
<div>Pada kesempatan ini, Dompet Dhuafa dipercaya menjadi Pelatih Utama (<em>main trainer</em>) diwakili oleh GM Relief Bambang Suherman serta Social Grant  Officer Akhsin Muamar. Kehadiran Dompet Dhuafa di Banjarmasin juga didukung oleh  DNIKS (Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial), BK3S Kalsel dan  IRSI (Ikatan Relawan Soaial Indonesia)</div>
<div>Sejumlah peserta mengaku sangat terkesan dengan pelatihan ini. sebagaimana diungkapkan Ratu(45), salah satu aktivis pelatih tuna netra dan tuna Grahita yang juga  menjadi peserta. &#8220;Saya sudah 10 tahun berkecimpung dalam  bidang pertolongan penyandang cacat, saya sangat tercerahkan dengan pelatihan  ini,&#8221; uangkapnya.</div>
<div>Selain  Ratu, pujian juga disampaikan oleh Ny. Said, yang merupakan istri dari mantan Gubernur Kalimantan Selatan. “Kita  biasa di PKK, namun selama ini kalau kami ini melakukan pertolongan tanpa ada  dasar keilmuan yang kuat,” ungkapnya.</div>
<div>Di dalam pelatihan, GM Relief DD Bambang Suherman memaparkan pengalamannya dalam berbagai bencana di sebelas negara,  dari kawasan Asia Tenggara hingga Afrika dan Turki. Sementara Akhsin Muamar memaparkan isi buku yang baru saja disusunnya, “Panduan Pertolongan  Penyandang Disabilitas dan Kelompok Rentan dalam Bencana”. []</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/14/10809/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Desa Terisolir itu Kini Berlimpah Air</title>
		<link>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/14/desa-terisolir-itu-kini-berlimpah-air/</link>
		<comments>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/14/desa-terisolir-itu-kini-berlimpah-air/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Feb 2012 03:54:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dompetdhuafa.org/?p=10805</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu, Kamis (9/2) cuaca di Jember cukup cerah, ditandai dengan bersinarnya sang mentari tanpa terhalang awan. Kami bertiga yaitu saya, Pak Shufyan, Pimpinan Dompet Dhuafa (DD) Jatim, serta Pak Didi, mitra kerja kami memulai perjalanan menuju Dusun Karang Harjo, Desa Curah Takir, Kec. Tempurejo, Kab. Jember, lokasi salah satu program DD “Air untuk Kehidupan”. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-10806" href="http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/14/desa-terisolir-itu-kini-berlimpah-air/air_jatim/"><img class="alignleft size-medium wp-image-10806" title="Air_Jatim" src="http://www.dompetdhuafa.org/wp-content/uploads/2012/02/Air_Jatim-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Pagi itu, Kamis (9/2) cuaca di Jember cukup cerah, ditandai  dengan bersinarnya sang mentari tanpa terhalang awan. Kami bertiga yaitu saya,  Pak Shufyan, Pimpinan Dompet Dhuafa (DD) Jatim, serta Pak Didi, mitra kerja  kami memulai perjalanan menuju Dusun Karang Harjo, Desa Curah Takir, Kec.  Tempurejo, Kab. Jember, lokasi salah satu program DD “Air untuk  Kehidupan”.</p>
<p>Meskipun desa ini terletak jauh di luar kota,  perjalanan terasa tidak membosankan, apalagi bagi saya yang terbiasa dengan  semrawutnya  lalu lintas di ibukota Jakarta. Sama sekali tidak kami temukan kemacetan di sana. Ditambah bonus hijau, teduh  dan indahnya pemandangan ketika memasuki perkebunan karet yang diselingi  dengan pohon jati dan sengon laut milik PTP Nusantara XII (Persero) Glantangan,   terasa menyejukkan mata sehingga cukup untuk menebus rasa lelah atas perjalanan Surabaya – Jember dengan kereta pada  malam sebelumnya.</p>
<p>Setelah satu jam perjalanan melewati jalanan yang  beraspal  mulus, kecuali sedikit jalan tanah menjelang jalanan akhir di perkebunan, sampailah kami di lokasi yang kami tuju.  Sebuah desa yang terisolir karena terletak di tengah-tengah perkebunan milik  PTPN XII yang hanya dibatasi sungai dan bersebelahan dengan perbukitan. Satu-satunya akses keluar masuk desa ini harus melewati perkebunan ini.  Tak heran jika sebagian besar warga bekerja sebagai buruh lepas penyadap  karet dengan penghasilan rata-rata sekitar Rp 1 jutaan per bulan.</p>
<p>Mobil tidak bisa masuk ke desa karena jembatan yang  ada hanya cukup untuk kendaraan roda dua, sehingga kami parkir di area  perkebunan dan melanjutkan dengan berjalan kaki. Dari kejauhan terdengar pengumuman  dari masjid agar warga berkumpul di Posyandu untuk menyambut kedatangan  kami.</p>
<p>Untuk memasuki kampung, kami harus menuruni jalan  yang di dasarnya terdapat  sungai kecil dan cerukan tanah berisi mata air di dalamnya.  Di tempat inilah warga selama puluhan tahun melakukan aktivitas mandi, cuci dan  buang air. Sedangkan untuk keperluan memasak mereka harus mengambil air dari  mata air kecil di samping sungai, dan mereka harus antri karena kecilnya debit  air yang dikeluarkan. Selanjutnya mereka pikul air ini dengan jirigen besar  menuju rumahnya yang terletak di atas.</p>
<p>Setelah melihat-lihat sungai dan saluran pipa air,  kami langsung menuju ke Posyandu yang biasa dipergunakan sebagai tempat  pertemuan. Terlihat rumah di sekitarnya masih banyak yang terbuat dari bilik, bukan  tembok permanen. Di sana kami disambut oleh Pak Kampung – julukan bagi Kepala  Dusun dan beberapa warga untuk berbincang-bincang sejenak. Kami diperlihatkan  desain program air yang dibuat secara sederhana dengan ditulis tangan.</p>
<p>“Ini  sumber airnya ada di atas di area perkebunan kira-kira 3 km dari desa ini yang dialirkan melalui pipa-pipa. Agar pembagian air merata, dibuat  satu  bak induk yang kemudian dibagi-bagi lagi menjadi 6 bak tandon yang ukurannya lebih kecil. Dari tandon inilah air dialirkan ke rumah-rumah warga” jelas Pak Kampung yang benama asli Pak  Hariyadi ini.</p>
<p>Alhamdulillah warga desa yang berjumlah 164 KK, sebagian besarnya adalah keturunan Madura,  sekarang sudah bisa menikmati air langsung di rumahnya tanpa perlu lagi  naik-turun untuk mengambil air ke sungai. “Bahkan sekarang air berlimpah. Makanya kami  juga berkeinginan untuk memelihara ikan untuk memanfaatkan luberan air ini,  tapi kami tak cukup punya modal untuk membeli bibit ikannya. Sayang rasanya  kalau air ini terbuang percuma,” pungkas Pak Kampung.</p>
<p>Laporan Perjalanan Siti Rusmiati (Program Controller Dompet Dhuafa)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dompetdhuafa.org/2012/02/14/desa-terisolir-itu-kini-berlimpah-air/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

