Kampoeng Ternak Nusantara: Karena Peternak Kecil Perlu Diberdayakan

Tidak ada yang membantah bila Indonesia negeri makmur. Seabrek “modal” sebagai negeri ideal,  Indonesia memilikinya. Beragam potensi sumber daya mulai pertanian, pertambangan, perikanan, hingga peternakan melimpah ruah.

Namun, keberlimpahan segala sumber daya nyatanya tidak relevan dengan realita di lapangan. Dalam bidang peternakan, faktanya Indonesia malah masih mengimpor daging.

Padahal, beternak merupakan kegiatan yang sudah mengakar di Indonesia. Lebih dari 5,7 juta keluarga kelas bawah berprofesi  sampingan sebagai peternak terutama jenis kambing, domba, sapi dan kerbau. Kendati sering dikategorikan sebagai “peternak guram”, tetapi sumbangsih mereka sangat dominan dalam pemenuhan kecukupan daging segar di masyarakat.

Dengan pengelolaan yang sederhana saja mereka mampu menjadi “pahlawan daging” di negeri ini, apalagi jika dikelola dengan lebih profesional. Hal tersebut tentu akan memberikan dampak lebih. Sehingga suatu saat negeri ini tidak lagi perlu mengimpor daging, bahkan bisa menjadi salah satu negara pengekspor daging.

Untuk itulah pada 1 Juni 2005, Dompet Dhuafa membentuk Kampoeng Ternak Nusantara (Kater) sebagai unit jejaring Community Enterprise (CE) yang melakukan pemberdayaan masyarakat bidang ekonomi khususnya peternakan. Kater mengembangkan program peternakan yang berbasis pada peternakan rakyat (peternak mustahik).

“Hingga saat ini jumlah peternak Kater yang dibina sebanyak 1.275 orang. Sedangkan untuk jumlah ternak sebanyak 4.818 ekor dengan rincian 4.607 ekor doka (domba kambing) dan 211 ekor sapi,” ucap Direktur Kater Dompet Dhuafa, Yayan Rukmana.

Yayan mengatakan, Kater memiliki tiga visi masa depan peternakan Indonesia. Pertama, mengembangkan model pemberdayaan peternak kecil melalui kewirausahaan sosial (social enterpirse). Kedua, menguatkan jaringan peternak guna membangun kemitraan pasar. Ketiga, pengembangan bisnis di mana kemandiran pangan menguntungkan bagi peternak kecil.

Program Kater yang telah menyasar 9 provinsi, 18 kabupaten, 32 kecamatan, 52 desa dan 86 kampung di Indonesia ini mengusung model pemberdayaan melalui tiga fase. Fase pertama merupakan fase perintisan berupa penaksiran wilayah, seleksi mitra dan penguatan akad. Kemudian berlanjut di fase pembentukan kelompok dan pembinaan terpadu. Terakhir merupakan fase kemandirian dan penguatan bisnis.

“Upaya pemberdayaan peternak adalah pemberian bantuan ternak berupa ternak induk, jantan, dan bakalan serta subsidi kandang. Selain itu kami berikan pelatihan untuk peningkatan kapasitas peternak,” ujarnya.

Menurut Yayan, pokok kunci keberhasilan pemberdyaan terletak pada manajemen pendampingan yang dilakukan selama 2 hingga 3 tahun.

“Tidak bisa instan karena mengubah karakter kemiskinan butuh proses edukasi. Kater secara berkala menargetkan perubahan dalam sisi sikap agar terjadi perubahan kondisi masyarakat baik sosial maupun ekonomi,” imbuhnya.

Maksimalkan pendamping

Dalam pelaksanaan program pemberdayaan peternak, peran pendamping menjadi salah satu elemen penting. Hal ini lantaran peran pendamping yang turun langsung berinteraksi dan hidup di sekitar lingkungan para peternak binaan. Yayan mengatakan, dalam pelaksanaannya setiap wilayah pemberdayaan dikelola oleh seorang pendamping.

“Mereka melakukan dakwah penyadaran dan pembangunan karakter kemadirian ekonomi,” jelasnya.

Mereka aktif memberikan materi-materi pembinaan terkait dunia ternak. Syafran, salah seorang pendamping peternak asal Sabua Ade, Bima, Nusa Tenggara Barat menuturkan, pembinaan umumnya terkait peningkatan kapasitas diri.

“Artinya membangun kesadaran, kerja keras, serta berusaha memberikan pemahaman akan manfaat beternak,” papar Syafran.

Para peternak dampingan juga diperkenalkan bagaimana pentingnya mengenal jaringan terutama pemasaran. “Mereka juga mendapat berbagai pelatihan untuk meningkatkan teknik-tenik dalam beternak. Melakukan konsultasi dengan pihak dinas peternakan dan ahli terkait pengenalan jenis-jenis penyakit dan cara penanganannya,” imbuhnya.

Syafran yang merupakan pendamping kelompok peternak Koperasi Serba Usaha Peternak (KSUP) Sabuade, Bima ini mengaku, dahulu para peternak binaannya mengalami kesulitan dalam beternak. Hal ini lantaran sebelumnya mereka kekurangan informasi dan berbagai pelatihan.

Proses membina dan mendampingi peternak pun diakui bukanlah perkara semudah mengembalikan telapak tangan. Berbagai tantangan acapkali dijumpai para pendamping dalam ikhtiar memajukan peternak.

Moenir, pendamping peternak di Tuban, Jawa Timur memiliki pengalaman. Ia menyadari bahwa terkadang faktor kebiasaan keliru dari lingkungan menjadi tantangan tersendiri. Dalam kasus seperti ini, pandangan sebagian besar peternak yang masih berpikir tidak ilmiah adalah salah satu kasus.

“Contohnya, penanganan kesehatan. Pengobatan mata ternak menggunakan sayur yang basi. Disemprotkan. Karena dari turun temurun dari nenek moyangnya kaya gitu. (Padahal) yang benar secara alami pakai jeruk nipis,” tutur Moenir.

Peternak mandiri

Upaya Kater dalam memandirikan para peternak kecil amat dirasa oleh Ade Supriatna. Mendapatkan pembinaan dan pendampingan Kater sejak 2009, kehidupan ekonomi Ade mengalami perubahan signifikan. Ia tak lagi khawatir dalam urusan ekonomi.

Sebelumnya, Ade merupakan seorang pengangguran lantaran perusahaan tempatnya bekerja di Jakarta kolaps. “Setelah itu, saya paling-paling mengelola lahan milik sendiri dan yah luntang-lantung gitu,” kata Ade.

Memulai beternak tahun 2009 dengan modal lima ekor domba, kini Ade telah memiliki 40 ekor domba. Pria yang tinggal di Desa Palasarigirang, Sukabumi, Jawa Barat ini tergolong peternak binaan Kater yang berhasil mengoptimalkan seluruh potensi ternaknya.

“(Padahal) awalnya tidak tahu menahu mengenai peternakan domba. Pengalaman saya bisa dikatakan nol besar dalam dunia peternakan,” ujarnya.

Awalnya, tidak tebersit dalam benak Ade untuk menjadi peternak. Namun, demi keberlangsungan hidup lebih baik dibanding menganggur, Ade mendaftar dan mengikuti berbagai seleksi yang diadakan Kater. Setelah dinyatakan lolos, ia mendapatkan berbagi pelatihan.

“Pelatihan-pelatihan dari Kampoeng Ternak yang saya ikuti berguna. Hasil dari pelatihan tersebut membekas di kepala saya dan bisa dipraktikkan dan alhamdulillah berhasil,” ungkapnya.

Keberhasilan dan kemandirian yang diraih Ade dalam bidang ternak domba selama ini tidak membuatnya jemawa. Ia pun tidak segan untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan para peternak lain di Sukabumi. Ia berdalih semakin banyak peternak mendapatkan pelatihan dan ilmu yang komprehensif tentang dunia ternak, semakin banyak pula peternak yang maju, mandiri, dan sejahtera. (gie)

Bagikan Artikel ini :Facebook0Twitter0Google+0
Related posts

Leave your comment

Your Name: (required)

E-Mail: (required)

Website: (not required)

Message: (required)

Send comment