hit counter code
Header Image
zakat hasil keuntungan jual beli online
adinda | Thu 19/11/2015 10:36:59

Assalamualaikum,

Saya seorang ibu rumah tangga ingin bertanya, saat ini saya berbisnis jual kosmetik secara online. Pendapatan atau untung dari hasil saya jual beli ada setiap bulan, tapi tidak menentu. Saya ingin tanyakan bagaimana perhitungan zakat nya? Walaupun ada untung sedikit atau banyak ingin di zakat kan. Terimakasih

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Wa'alaikumussalam, Bu Adinda.

Jualan online memang berbeda dengan jualan konvensional, karena barang yang akan dijual bukanlah stok yang ada pada kita. Artinya kita mewakilkan penjualan ini kepada pemilik barang tanpa kita meng-qabdh (menggenggam) barang tersebut.

Zakat jualan online tetap masuk kategori zakat perdagangan yang mengikuti hitungan zakat harta dan mengikuti nisab dan haul. Jika pada suatu waktu untung yang diperoleh mencapai nilai 85 gram emas, maka setahun berikutnya Ibu wajib mengeluarkan zakat sebanyak 2,5% dari total keuntungan yang dimiliki pada saat itu, bukan keuntungan yang sudah tidak ada karena kebutuhan, selama nisabnya masih mencukupi.

Berbeda dengan jualan konvensional, stok yang dimiliki, modal serta keuntungan dihitung secara total, kemudian dikeluarkan 2,5% darinya.

Wallahu A'lam

Membayarkan Zakat Suami
dhiaani | Thu 05/11/2015 14:11:51

Assalamu'alaikum Pak Ustadz,

Saya mau tanya. Bolehkah istri membayarkan zakat suaminya karena keperluan mendadak, suami mengambil uang zakat untuk ke dokter, sedangkan gajinya habis untuk membayar hutang kami (rumah). Saya baru gajian beberapa hari setelahnya.

Sahkah zakatnya dan apakah perlu dibayarkan kembali setelah suami mendapat gaji di bulan berikutnya dengan uang milik suami sendiri?

Terimakasih

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Wa'alaikumussalam wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

Semoga keberkahan tercurahkan kepada Ibu Dhiani serta keluarga dengan adanya perhatian Ibu Dhiani untuk persoalan zakat.

Dari paparan Ibu, sudah ada dua hal yang membuat suami tidak berkewajiban membayar zakat;

  1. Uang yang biasanya akan dialokasikan untuk zakat digunakan untuk berobat sehingga tidak mencukupi nilai nisab. Sementara berobat hukumnya wajib agar ketenangan beribadah dan beraktifitas mencari nafkah lebih dapat dicapai.
  2. Kewajiban bulanan berupa hutang angsuran membayar rumah yang menghabiskan uang tersebut.

Dua hal ini sudah cukup untuk landasan tidak wajibnya suami Ibu untuk mengeluarkan zakat. Suami sebagai penopang rumah tangga yang sudah tidak berkewajiban membayar zakat tidak perlu lagi melimpahkan kewajiban zakat tersebut kepada istrinya, atau sebaliknya, istri juga tidak berkewajiban membayarkan zakat suami karena sedari awal suami sudah tidak wajib bayar zakat. Kalaupun Ibu membayarkan sedikit uang untuk yang berhak, tentunya menjadi sedekah sunat.

Wallahu A'lam

Zakat modal pemberian orang tua
sakinatul | Fri 30/10/2015 12:19:24

Assalamu'alaikum

Pak, saya dan suami masih guru sukuan/honorer dengan gaji sedikit. Lalu orang tua memberi kami modal usaha sebesar 135jt untuk berdagang. Bagaimana cara untuk menghitung zakat seperti ini?

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Wa'alaikumussalam wa Rahmatullahi wa Barakatuh

Ibu Sakinatul, semoga hari-hari bersama keluarga selalu diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Pernikahan memang tidak menghalangi keberlangsungan kasih sayang orang tua kepada anaknya yang telah menikah. Jika diperhatikan masih banyak orang tua yang  memberikan dana tambahan untuk anaknya meskipun sudah berkeluarga dan memiliki usaha sendiri. Hal ini tidak lain adalah lantaran kasih sayang orang tua yang tak putus kepada anaknya dan demi kebaikan keluarga anaknya yang telah terbentuk.

Pada dasarnya kewajiban orang tua memberikan nafkah kepada anaknya hanyalah sampai anak beranjak baligh. Kalaupun setelah beranjak baligh, si anak masih diberikan nafkah oleh orang tua maka sejatinya itu adalah bentuk rasa rahmah orang tua kepada anaknya. Sedangkan anak perempuan, menurut Imam Abu Hanifah (w.150H), kewajiban orang tua adalah hingga dia menikah. Selama belum menikah, dia masih dianggap seperti anak-anak. Sebagaimana ucapan Abu Hanifah yang dinukil oleh Imam Nawawi (w.676H) dalam kitab al-Majmu' vol.18, hal.300;

إذا بلغت الابنة لم تسقط نفقتها حتى تزوج لانه لا يمكنها الاكتساب فهى كالصغيرة.

Apabila anak perempuan telah baligh, nafkah untuknya tetap berlaku sampai dia menikah, karena belum mampu berusaha. Oleh karena itu dia dianggap seperti anak kecil -dalam hal belum mampu berusaha-

Artinya, Ibu Sakinatul beserta suami adalah sekelompok anak yang sudah tidak wajib dinafkahi orang tua, namun mendapatkan kemurahan hati orang tua dengan diberikannya modal usaha. Dari redaksi pertanyaan Ibu Sakinatul, dana yang diberikan orang tua adalah pemberian, bukan investasi di dalam usaha yang akan dibangun anaknya. Maka sejak pemberian itu diterima, penghitungan Haul (tahun) sudah dimulai pada saat itu juga karena jumlah tersebut sudah melebihi batas minimal nisab (85 gram emas murni).

Apabila dana tersebut diterima tanggal 20 Muharram 1437H, maka pada tanggal 19 Muharram 1438H Ibu Sakinatul berkewajiban mengeluarkan 2,5% dari nilai semua stok barang, modal serta laba yang direkap pada tanggal 19 Muharram 1438H, termasuk jika ada piutang.

Misal, terhitung tanggal 19 Muharram 1438H laba yang diperoleh sejumlah Rp 50.000.000,-, maka ditambahkan dengan Rp 135.000.000,- menjadi Rp 185.000.000,-. Zakatnya adalah 2,5% x 185.000.000 = Rp 4.625.000,-.

Namun jika dalam usaha mengalami kerugian, perlu dilihat apakah dana tersisa serta nilai stok masih senisab (85 gram emas) atau lebih, ataukah dana tersisa berada di bawah nisab. Jika dana tersisa serta stok barang masih senilai 85 gram emas atau lebih maka tetap dikenakan zakat. Namun jika kerugian yang dialami cukup drastis hingga di bawah nisab, Ibu Sakinatul belum diwajibkan menzakatinya.

Akan tetapi ketika akan memulai bisnis ada kekuatiran terjadinya kerugian, Ibu Sakinatul bisa men-ta'jil atau mensegerakan zakat dari modal tersebut, yaitu 2,5% dari Rp 135.000.000 segera setelah mendapat pemberian tersebut. Namun ternyata pada akhir Haul yaitu 19 Muharram 1438H, usaha tersebut sukses dan memberi keuntungan, maka Ibu Sukinatul cukup mengeluarkan 2,5% dari laba tertanggal 19 Muharram 1438H tanpa memasukkan modal, karena zakat dari modal telah dikeluarkan di awal Haul.

Wallahu A'lam

zakat harta (emas)
sugesti permana | Thu 13/08/2015 10:13:32

Assalamualaikum. tahun lalu saya memiliki emas sebanyak satu nisab (90 gram). adapun zakatnya sudah saya bayarkan. tahun ini emas saya tersebut jumlahnya tetap 90 gram. apakah tahun ini saya wajib mengelaurkan zakatnya lagi?

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc


Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada Bapak dan keluarga.
Para ulama sepakat bahwa zakat emas dikeluarkan setiap tahun selama mencapai nishab dan genap haulnya. Dengan demikian, apabila tahun lalu telah mengeluarkan zakatnya dan tahun ini masih mencapi nishab , maka pada tahun ini wajib dikeluarkan lagi zakatnya 2,5 persen.
Wallahu a'lam

Tanya Zakat Profesi
Aghnia | Tue 04/08/2015 08:01:34

Assalamualaikum wr wb,

Bapak / Ibu yang terhormat, saya mau bertanya. Apabila saya akan membayarkan zakat profesi tiap bulan misalsaya harus zakat Rp 200.000 . Apakah boleh jika saya memberikan zakat ini secara terpisah ? contoh : 100 ribu untuk A, 50 ribu untuk B dan 50 ribu untuk C. Apakah hal tersebut bisa dilakukan atau hal tersebut termasuk sodaqoh ?

Mohon penjelasannya, Terima kasih

Wassalamualaikum wr wb

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Tidak ada masalah menyalurkan zakat dengan cara membagi kepada beberapa kelompok penerima zakat selama penerima zakat tersebut adalah orang yang berhak menerima zakat.

Wallahu a'lam

qadha atau fidyah..??
Junaidi | Tue 07/07/2015 10:31:23

Sy penderita penyakit jantung dan †i?????? dperbolehkan puasa oleh dokter. Apakah sy harus meng qadha puasa sy atau bayar fidyah saja.

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Apabila dokter memutuskan Bapak tidak boleh berpuasa seterusnya maka bisa dengan fidyah. Sebab, hukumnya sama dengan orang yang lanjut usia yang tidak mampu berpuasa. namun bila tidak boleh berpuasa untuk menunggu hingga sembuh dan setelah sembuh boleh berpuasa, maka qadha dan bukan fidyah.

wallahu a`lam

Zakat Mal
ALI MUSTOFA | Sat 04/07/2015 15:29:11

Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh Ustadz. Saya mau bertanya Saya seorang pengusaha yg bergerak dibidang toko material dan produsen baja ringan, Berikut ini saya lampirkan harta yang kiranya saya zakati, apakah termsk ke dlm zakat maal. A. Toko dan tanah sebagai tempat berjualan, B. Mobil NIaga sebagai alat mobilisasi pengiriman, C. Mesin-mesin produksi baja ringan dan tanah beserta gudangnya. Kemudian bila harta di atas termsk zakat maal, apakah dasar saya mengenakan zakat dengan nilai harga harta tersebut dijual saat ini, ataukah nilai saat mendapatkannya. Mohon bisa dibalas Ustadz. Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada Bapak dan keluarga.

Pertama: toko atau tempat berjualan Bapak dan tanahnya tidak terkena zakat.

kedua : mobil yang digunakan sebagai sarana tidak terkena zakat.

Ketiga: alat untuk produksti tidak terkena zakat.

Keempat: zakat dikeluarkan dari : nilai uang yang ada + stock barang jadi yang siap jual + stock bahan baku yang siap diproduksi.

wallahu a'lam

Fidyah
Eko Sumartono | Fri 03/07/2015 12:32:40

Assamu'alaikum...

Bpk Ustadz

Saya mau bertanya, istri saya mulai hamil pada bulan April 2014, dan kondisinya cukup payah, dan pada tahun 2014 Bulan juli sudah memasuki bulan Ramadahan, pada bulan tersebut umur kehamilan istri saya masih 3 bulan, dengan kondisi hamil 3 bulan tersebut dia tidak mampu berpuasa, pernah saya suruh coba waktu hari pertama Ramadhan, terpaksa dibatalkan karena hampir Pingsan.

Kemudian sampai datang bulan Ramadhan 2015 ini istri saya belum bisa meng qadha maupun membayar fidyah, dengan alasan Nifas dan Menyusui.

Mohon saranya, dengan kondisi istri saya diatas, apakah istri saya harus mengqadha dan membayar fidyah, atau cukup hanya membayar fidyah..?

Terima Kasih
Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada Bapak dan keluarga.

Para ulama empat mazhab ( hanafi, maliki, syafi'i dan hambali) sepakat bahwa wanita yang hamil, menyusui dan nifas wajib mengqadha puasa yang ditinggalkan. Mereka juga sepakat bahwa mereka bisa mengqadha tatkala sudah mampu, walau pun  hal itu melewati ramadhan berikutnya. para ulama mazhab juga sepakat bahwa wanita tersebut tidak perlu fidyah, cukup qadha saja tatkala memang sudah mampu untuk melakukannya.

wallahu a'lam

Perhitungan Zakat Mal
Fatahillah | Sun 28/06/2015 11:07:28

Assalamualaikum
Ustad, saya minta tolong cara perhitungan zakat mal yang tepat
Misal tahun kemarin jumlah tabungan+deposito yang saya punyai berjumlah 150jt, dan telah saya keluarkan zakatnya pada tahun kemarin. Kemudian ditahun ini jumlah tabungan+deposito saya bertambah 100jt menjadi 250jt. Dasar perhitungan zakat mal saya ini apakah menggunakan 250jt atau 100jt
Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih ustad buat penjelasannya

wassalamualaikum

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada Bapak dan keluarga.

Terkait dengan penghitungan tabungan dan deposito Bapak ada dua hal penting:

Pertama: tabungan dan deposito yang telah dizakati tahun lalu wajib dizakati lagi pada tahun ini. Sebab, zakat mal wajib dilakukan setiap tahun selama masih mencapai nishab dan genap satu tahun.

Kedua: terkait dengan penambahan yang 100 juta, perlu dilihat kembali: pada bulan apa terjadinya penambahan tersebut? penambahan tersebut akan genap setahun bila memasuki bulan yang sama di tahun yang akan datang. Apabila diterima pada bulan rajab, maka wajib dizakati pada bulan rajab yang akan datang. demikian seterusnya. Cara semacam ini adalah metode ulama syafi'iah. Berbeda halnya dengan ulama hanafiah yang menggabungkan setiap penambahan uang pada uang yang sebelumnya. Apabila merujuk metode ulama hanafiah, pada tahun ini, Bapak berzakat : 2,5 persen dari 250 juta.

wallahu a'lam

Zakat dana investasi
Ardiyan | Sat 27/06/2015 06:33:09

Assalamu'alaikum ustad
Saya ingin menanyakan, apabila kita menginvestasikan dana utk usaha misalnya rumah sakit. Namun RS tsb belum beroperasi.
Apakah dana tsb wajib dizakati?
Mohon penjelasannya.
Jazakallah khair

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Untuk investasi para usaha yang bergerak di bidang jasa tidak terkena zakat terkecuali sudah menghasilkan. Nilai zakat diambil dari nilai hasil yang diterima. Terkecuali bila usahanya berupa jasa dan perniagaan, maka zakat dari nilai modal untuk perniagaan dan dari hasil untuk jasa.

wallahu a'lam

Zakat Harta dari Gaji
Samsuri | Fri 26/06/2015 13:40:37

Jika saya punya tabungan yang saya kumpulkan dari gaji bulanan, yang gaji itu setiap bulan sudah saya keluarkan zakatnya, apakah harta (tabungan) saya tersebut dikenakan zakat? Bagaimana menghitungnya? Terimakasih.

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Terkait dengan pertanyaan Bapak, pada fiqh klasik, ada satu pertanyaan yang memiliki kemiripan dengan pertanyaan yang Bapak tanyakan : Apabila seorang petani telah mengeluarkan zakat pertaniannya, lalu ia jual hasil pertanian tersebut dan ia simpan uang hasil penjualannya, apakah ia wajib menzakatinya untu tahun pertama bagi uang simpanan tersebut?

Ada perbedaan di antara ulama terkait dengan masalah di atas : Pendapat pertama: tidak wajib dizakati lagi untu tahun pertama, namun pada tahun kedua dan seterusnya (selama masih tersimpan dan mencapai nishab) dikeluarkan zakatnya setiap tahun. Demikianlah pandangan ulama hanafiah. Mereka berhujjah bahwa satu harta itu hanya dizakati sekali saja dalam satu tahun. Apabila kita perhatikan, harta yang tersimpan berupa uang itu berasal dari hasil pertanian. Nah, ketika sudah dikeluarkan zakat pertaniannya, berarti untuk tahun itu ia telah mengeluarkan zakatnya. Berdasarkan logika tersebut, Syaikh Yusuf Al-Qardhawi berpendapat bahwa harta yang telah dikeluarkan zakatnya sebagai zakat penghasilan, untuk tahun pertama dari tabungan itu atau penambahannya bila telah lebih dari satu tahun, tidak terkena zakat agar tidak terjadi double zakat dalam tahun yang sama.

Pendapat kedua: wajib zakat ketika telah genap satu tahun. demikian pandangan ulama syafi'iah. Hujjah mereka adalah: selama harta yang berupa emas dan sejenisnya telah tersimpan satu tahun maka terkena zakat. Maka, zakat pertanian yang dikeluarkan saat panen itu tidak berpengaruh ketika memang sudah terjadi perubahan dari hasil panen ke uang.

Demikian pandangan ulama terkait dengan harta yang dizakati untuk pertama kalinya sebagai hasil pertanian, lalu terjadi perubahan dan tersimpan selama satu tahun.

wallahu a'lam

lama berpuasa
ratna M | Thu 25/06/2015 14:05:44

Assalamualaikum Ustad, Belakangan ini banyak diberitakan tentang lamanya berpuasa di negeri orang. Terutama di daerah Eropa bagian utara yang hingga 23 jam lama berpuasa. Bagaimana sebenarnya kewajiban mereka tad? Apakah orang yang tinggal di daerah dengan waktu siang lebih panjang tetap wajib berpuasa hingga matahari terbenam? Atau mengikuti waktu Arab? Terima kasih

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada Ibu dan keluarga.

Pertanyaan semacam ini pernah disampaikan kepada beberapa ulama ternama di dunia international, seperti : Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dari Qatar, Syaikh Shalih bin Utsaimin dari Saudi Arabia dan beberapa ulama yang lain. Secara umum, para ulama tersebut memberikan pandangan : selama masih ada malam dan siang pada suatu negara, maka puasa di mulai dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari. Meskipun waktu siangnya itu panjang atau pendek. Sebab, Al-Qur'an telah menjelaskan secara spesifik , "Sempurnakanlah puasa itu hingga (tiba) malam" (Al-Baqarah: 187).

wallahu a'lam

ajaran berpuasa
gita | Thu 25/06/2015 14:05:12

Ustad, bagaimana saran ustad untuk mendidik anak berpuasa. Sebaiknya sejak kapan kita sebagai orang tua mengajarkan berpuasa pada anak?

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Rasulullah saw memerintahkan umatnya untuk mendidik anaknya melaksanakan shalat dari semenjak umur tujuh tahun. Hal ini bukan menjadi larangan memulai sebelum waktu itu. Namun, minimal ketika usianya sudah tujuh tahun harus dididik untuk mulai melaksanakan shalat. Maka, bisa kita qiyaskan dan analogikan bahwa orang tua sudah saatnya memulai mendidik anak berpuasa dari semenjak usia tujuh tahun.

Wallahu a'lam

Waktu berbuka puasa
Dhitya | Thu 25/06/2015 14:04:34

assalmualaikum uztad, dalam berpuasa saya sering berpergian dari satu kota ke kota lain. nah, yang saya mau tanyakan bila saya memulai puasa (sahur) di kota A dan kemudian saya melakukan perjalanan menuju kota B dengan waktu berbuka puasa berbeda dengan kota A. waktu berbuka mana yang saya jadikan acuan untuk berbuka puasa, apakah waktu berbuka puasa kota A (tempat saya sahur) atau waktu berbuka puasa kota B (tempat saya tiba)...terimakasih ztad, wasalamualaikum WR WB

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Parameter dalam berbuka ialah :  waktu tempat ia berada. Ia tidak mengikuti waktu orang lain atau tempat yang sebelumnya yang ia telah tidak berada lagi pada tempat tersebut. Demikian kaidah yang berlaku pada ibadah-ibadahyang lain dalam Islam, seperti shalat, zakat dan yang lainnya.

Wallahu a'lam

hukum berpuasa bagi ibu hamil
arief | Tue 23/06/2015 16:46:49

Bagaimana hukumnya berpuasa untuk ibu hamil? Bagaimana hukum penggantian bagi ibu hamil yang tidak kuat berpuasa? Terima kasih.

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudari dan keluarga.
Allah swt memberikan keringanan bagi wanita yang hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa. Baik karena kondisi fisiknya yang lemah atau khawatir terhadap kondisi janin atau bayinya. Hanya saja, ia wajib mengqadha puasanya ketika sudah mampu di luar ramadhan. Ulama empat madzhab sepakat bahwa wanita hamil dan menyusui wajib mengqadha dan bukan fidyah. Hanya saja, ada perbedaan pandangan di antara ulama bila wanita yang hamil atau menyusui itu mampu berpuasa lalu ia tidak berpuasa karena khawatir terhadap janin atau bayinya: ulama hanafiah berpendapat qadha saja tanpa fidyah. Ulama malikiyah berpendapat qadha saja bagi wanita hamil dan qadha plus fidyah bagi wanita yang menyusui . Sedangkan ulama syafi’iyah dan hanabilah berpendapat qadha dan fidyah sekaligus. Demikian pandangan ulama terkait perbedaan antara wanita hamil dan menyusui yang tidak berpuasa karena tidak mampu secara fisik dan yang mampu secara fisik tapi khawatir terhadap anaknya.
Wallahu a’lam

Bolehkah donor darah saat berpuasa?
edy | Tue 23/06/2015 16:45:45

Saya ingin turut donor darah di bulan Ramadan, apakah akan membatalkan puasa saya?

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Donor darah merupakan perkara yang baru dalam fiqh. Apabila kita merujuk ke fiqh, yang memiliki kesamaan dengan donor darah adalah hijamah atau bekam. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berbekam bagi orang yang berpuasa.
Pendapat pertama: membatalkan puasa. Pendapat ini adalah pandangan ulama hanabilah (bermazhab hambali) mereka berhujjah dengan hadits Nabi saw , “Orang yang berbekam dan membakam itu telah berbuka.” (HR Tirmidzi)
Pendapat kedua: berbekam dan membekam tidak membatalkan puasa. Pendapat ini adalah pandangan sebagian besar ulama ( hanafiah, malikiah dan syafi’iah). Ibnu Hajar Al-‘Asqaalani menjelaskan bahwa hadist yang menjadi pegangan ulama hanabilah itu telah dimansukh (hukumnya telah diangkat). Hal ini sebagaimana Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah berbekam saat beliau sedang ihram dan juga berbekam saat berpuasa.
B ila kita merujuk pandangan sebagian besar ulama bahwa bekam tidak membatalkan puasa, maka donor darah juga tidak membatalkan puasa.
Wallahu a’lam

mandi wajib
ucup | Tue 23/06/2015 16:44:55

Assalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Ust, bagaimana hukumnya seseorang yang belum mandi junub  tatkala memasuki waktu subuh di bulan ramadhan? Apakah puasanya sah?

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudari dan keluarga.
Pertama: kondisi junub (berhadast besar karena berhubungan badan atau keluar mani dengan segala jenisnya) tidak menghalangi seseorang berpuasa tatkala masuk waktu fajar.
Kedua: yang membatalkan puasa , menurut para ulama, adalah: melakukan hubungan badan atau keluarnya mani karena sengaja, sedangkan kondisi junub sendiri tidak termasuk perkara yang membatalkan puasa.
Ketiga: para ulama berpendapat bahwa seseorang yang mimpi basah di siang hari tatkala berpuasa ramadhan tidak membatalkan puasa, apalagi seseorang yang mimpi basah di malam hari dan mandi besar tatkala sudaha masuk waktu subuh.
Keempat: Aisyah ra dan Ummu Salamah ra meriwayatkan bahwa Nabi saw memasuki waktu subuh dalam keadaan junub karena berhubungan badan, lalu beliau berpuasa ramadhan (HR Muttafaq ‘alaih). Hadist ini menjadi dasar bahwa memasuki waktu subuh atau siang hari dalam kondisi junub tidak menghalangi keabsahan puasa.
Wallahu a’lam

 

Apakah Belum Mandi Wajib Setelah Memasuki Subuh Diperbolehkan Berpuasa?
Rohman | Mon 22/06/2015 13:44:07

Ketika melakukan hubungan suami istri ketika malam hari dan ketiduran sampai memasuki waktu subuh, apakah masih di perbolehkan untuk melaksanakan ibadah puasa di siang harinya? Terima Kasih

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada Bapak dan keluarga.
Kondisi junub atau berhadast besar yang disebabkan melakukan hubungan badan atau keluarga air mani karena sebab yang lain tidak menghalangi keabsahan dan kewajiban untuk berpuasa. Sebab, pada dasarnya, kondisi berhadas besar karena junub tidak membatalkan puasa. Yang termasuk perkara membatalkan puasa adalah : melakukan hubungan badan ketika telah terbit fajar di waktu berpuasa. Maka, seseorang yang mimpi basah tidak batal puasanya. Sebab kondisi junub yang terjadi pada dirinya bukan karena kesengajaan dan di luar kendali dirinya.
Dari sisi landasan syariah, ada hadits riwayat ‘Aisyah dan Ummu Salamah yang menjelaskan bahwa Rasulullah saw pernah masuk waktu subuh dalam kondisi junub. Hal itu tidak menghalangi beliau untuk berpuasa. Dengan demikian, tidak ada masalah apabila seseorang menunda mandi hingga waktu subuh setelah melakukan hubungan badan untuk berpuasa.
Wallahu a’lam

Bolehkah sholat sunnah setelah sholat witir?
Taufik Riontona | Mon 22/06/2015 13:43:16

Bolehkah sholat sunnah setelah sholat witir?

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Tidak ada larangan bagi orang yang sudah shalat witir, misalnya tarwih dan witir, setelah jeda beberapa waktu atau di pertengahan malam untuk melaksanakan shalat. Hanya saja, ia tidak perlu witir kembali setelah itu. Sebagai dasarnya, Rasulullah saw berwasiat kepada salah seorang sahabat untuk tidak meninggalkan shalat witir sebelum tidur. hal itu tidak menghalangi itu shalat malam di sepertiga malam terakhir.

wallahu a'lam

Bolehkah menyikat gigi saat puasa?
Tia S | Thu 18/06/2015 16:37:56

Ustadz, mau tanya. Biasanya saat puasa kan bau mulut. Apa hukumnya bila kita menyikat gigi saat puasa? Niatnya agar terjaga kebersihan mulut. Terimakasih Ustadz.

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Tidak masalah menyikat gigi ketika berpuasa. secara syar'i, menyikat gigi tidak termasuk perkara yang membatalkan puasa. Akan tetapi harus tetap disertai kehati-hatian agar air tidak masuk ke rongga perut. Ulama syafi'iyah berpendapat makruh bersiwak atau menyikat gigi setelah matahari tergelincir ke arah barat atau telah memasuki waktu dzuhur hingga berbuka. Mereka berhujjah dengan hadist riwayat Abu Hurairah ra, "Aroma mulut orang yang berpuasa, bagi Allah, lebih wangi daripada aroma misk." (Hr Muslim)

Wallahu a'lam

Apa hidangan berbuka puasa yang dianjurkan?
dian | Tue 16/06/2015 14:34:46

Selain kurma, apa hidangan berbuka puasa yang dianjurkan oleh Nabi? Benarkah menyantap yang manis-manis adalah sunnah?

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Hidangan yang terbaik pada saat berbuka adalah kurma. Apabila bila tidak ada kurma, maka yang terbaik adalah air putih. Jadi, bukan yang manis-manis. pilihannya ada dua: kurma atau air putih. Namun bila tidak ada keduanya, maka bisa berbuka dengan apa saja, selama itu halal dan baik.

wallahu a'lam

kumur - kumur
boim | Tue 16/06/2015 14:34:04

Hukumnya kumur-kumur kala puasa apa ya?

Dijawab Oleh : ust. A. Rochim, Lc

Secara Syar'i tidak ada masalah berkumur ketika berpuasa selama menjaga agar tidak masuk ke dalam rongga perut. Ulama syafi'ah berpendapat makruh berkumur dan bersiwak tatkala matahari telah tergelincir ke arah barat atau dari waktu dzuhur hingga terbenam matahari.

wallahu a'lam

Bolehkah menyalurkan zakat kepada keluarga kandung?
Erlita | Fri 01/05/2015 11:41:28

saya seorang PNS dan telah berkeluarga mempunyai 2 anak, tetapi saya memiliki 3 org orang adik kandung 2 (dua) org diantaranya cacat phisik (tdk berpenghasilan) 1 (satu) org normal dan dan seorang ibu kandung saya yang sedang sakit (stroke)sementara ayah kami sudah meninggal dunia 15 tahun yg lalu. Mereka semua tinggal dan hidup bersama (dirumah saya)nafkah lahir mereka semua kami yang biayai, (kalau kami makan, berpakaian mereka juga juga demikian). Kami berniat ingin mengeluarkan zakat atas harta yang kami miliki saat ini (walaupun sedikit atau mencapai nisab). Apakah boleh kami memberikan zakat kami kepada mereka?, terima kasih atas jawaban yang diberikan.

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Assalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Para ulama sepakat bahwa seseorang boleh memberikan zakat kepada saudara kandung dan kerabat (kecuali orang tua dan anak kandung) selama mereka termasuk dalam salah satu di antara delapan kelompok yang berhak menerima zakat. Berbeda dengan sedekah, seseorang boleh memberikan sedekah atau infak kepada siapa pun yang ia inginkan.

wallahu a'lam

zakat
zaldi | Sat 25/04/2015 00:22:21

Assalamu'alaikum warahmatullahiwabarakatuh
Ustadz saya seorang karyawan, tiap bulan bayar (nabung) dana pensiun. Setiap tahun, saya menerima laporan keuangan. Saya kerja hampir  15 thn & dana pensiun yang terkumpul hampir 100jt.
Walaupun saya belum menerima uangnya, apakah saya wajib mengeluarkan zakat atas harta tersebut?
Demikian dari saya,
Wassalamu'alaikum warahmatullahiwabarakatuh

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Terkait dengan pertanyaan saudara, jawabannya ada dua kemungkinan:

Pertama: Apabila tabungan pensiun ini merupakan kebijakan negara atau perusahaan saudara bekerja, sehingga langsung ada pemotongan gaji sebelum diberikan kepada saudara, maka para ulama berpendapat tidak terkena zakat. Sebab, saudara belum memiliki hak penuh atas harta tersebut. Saudara akan terkena zakat tatkala menerima uang pensiun tanpa menunggu haul atas satu tahun yang telah lampau.

Kedua: apabila tabungan pensiun yang saudara maksudkan adalah pilihan saudara, bukan kebijakan perusahaan atau negara, lalu saudara yang menentukan pihak yang mengelola dana pensiun tersebut, maka saudara berkewajiban menzakati harta tersebut. Hal ini berbeda dengan yang pertama, karena pemotongan untuk tabungan pensiun itu berdasarkan permintaan saudara. Dari tinjaun akad, pihak yang memotong gaji untuk tabungan saudara adalah wakil. Dengan begitu, status harta yang diambil untuk tabungan merupakan hak penuh saudara.

Wallahu a'lam

Hukum Wanita Haidh Membaca Al-Qur'an?
Gita S | Wed 08/01/2014 10:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Apakah wanita yang sedang haid boleh membaca Alquran?
Jika membaca Alquran nya melalui handphone boleh tidak?

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.
Para ulama sepakat bahwa orang yang sedang haid tidak boleh menyentuh mushhaf (Al-Qur’an) secara langsung. Jadi, larangan memegang mushhaf secara langsung adalah kesepakatan ulama.

Sedangkan tentang hukum membaca Al-Qur’an bagi wanita yang haidh, para ulama berbeda pendapat.

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa wanita yang haidh tidak boleh membaca Al-Qur’an. Hal ini berdasarkan pada hadits riwayat Ali ra bahwa “Tidak ada yang menghalangi Rasulullah saw membaca Al-Qur’an selain junub.” (HR Tirmidzi)
Mereka juga mengqiyaskan (qiyas aula) wanita haidh dengan orang yang junub. BIla junub saja tidak boleh membaca Al-Qur’an maka wanita yang haidh lebih layak untuk tidak membaca Al-Qur’an.

Mereka juga berhujjah dengan hadits riwayat Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang yang junub dan haidh tidak boleh membaca Al-Qur’an.” (HR Ibnu Majah). Hanya saja, banyak ulama hadits yang menghukumi bahwa hadits ini lemah.

Sedanglan sebagian ulama lain berpendapat bahwa wanita yang haidh boleh membaca Al-Qur’an. Mereka berpendapat bahwa mengqiyaskan haidh dengan junub tidak tepat. Ada perbedaan di antara keduanya. Sedangkan hadist yang melarang wanita haidh membaca Al-Qur’an adalah hadits lemah. Dengan begitu, bila tidak ada ketentuan yang kuat maka hukumnya kembali pada hukum asal.

Ulama yang berpendapat bagi wanita haidh boleh membaca Al-Qu’an adalah Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim dan yang lainnya.
Wallahu a’lam

- See more at: http://zakat.or.id/hukum-wanita-haidh-membaca-al-quran/#sthash.r8DQ4aDa.dpuf

Ijab Kabul dalam Zakat?
Hamba Allah | Fri 27/12/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Pak, Apakah dalam berzakat harus ada ijab qabul?
Lalu, Bagaimana dengan pembayaran zakat melalui transfer bank atau atm?
Terimakasih

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan berkah-Nya kepada saudara dan keluarga.
Para ulama tidak memasukkan ijab qabul dalam rukun atau syarat sahnya zakat. Dengan demikian, seseorang yang menyalurkan zakatnya tanpa ada akad hukumnya sah.

Dengan demikian, tidak masalah bagi seseorang yang menyalurkan zakatnya ke lembaga zakat melalui transfer Bank, ATM atau fasilitas yang lainnya. Yang terpenting, donasi itu masuk ke rekening zakat yang telah ditetapkan oleh lembaga zakat.

Sebab, hal yang sangat penting dalam zakat, penyalurkannya harus tepat sasaran atau tepat pada pihak yang berhak. Misalnya, penyaluran melalui lembaga amil zakat.
Wallahu a’lam

Menzakati Hadiah Handphone?
Yuli | Tue 22/10/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh 

Sebulan lalu secara tidak sengaja saya mendapat 6kupon undian dari sebuah toko. 

Alhamdulillah saya mendapatkan sebuah handpone yang harga berkisar 4-5 juta. 

Berapa besaran zakat undian yang harus saya keluarkan.

Wassalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga. 
Pada dasarnya harta berupa handphone tidak termasuk harta wajib zakat. Handphone hanya akan menjadi harta wajib zakat ketika diperjual belikan untuk mendapatkan keuntungan.
Dengan demikian, handphone yang saudara dapatkan tidak termasuk harta yang wajib dizakati. Hal ini berbeda dengan hadiah yang berupa uang. 

Wallahu a’lam

Apakah Tabungan untuk Pembangunan Rumah Wajib Dizakati?
Andrian | Wed 04/09/2013 00:00:00

Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Saya mau bertanya mengenai zakat maal, dimana misalnya kita memiliki tabungan yang sudah memenuhi ketentuan wajib zakat, namun tabungan tersebut dibutuhkan untuk membangun rumah, apakah wajib dikenakan zakat?

[email protected]

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Apabila seseorang memiliki tabungan yang telah mencapai nishab dan genap tersimpan satu tahun maka ia berkewajiban mengeluarkan zakatnya. Jadi, selama ketentuan itu terpenuhi maka orang tersebut wajib mengeluarkan zakat. Tidak ada perbedaan antara uang yang disimpan sebagai tabungan atau disimpan untuk persiapan pembangunan rumah.

Wallahu a’lam

Hutang Puasa Karena Hamil dan Nifas?
Hamba Allah | Fri 19/07/2013 00:00:00

Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Mohon penjelasan dan pencerahannya ustadz. Ane masih rada bingung mau ambil pendapat ulama yang mana. Kasus istri ane:
1. Romadhon tahun lalu istri ane hutang puasa 10 hari, dan sudah membayar 5 hari. Belum tuntas bayar hutang puasa, istri ane hamil dan tidak memungkinkan untuk mengqadha-nya sampai pada akhirnya melahirkan kurang lebih 3 pekan sebelum romadhon tahun ini
2. Romadhon tahun ini berarti kan istri ane masih dalam masa nifas sampai kurang lebih hari ke 16 romadhon

Pertanyaan ane:
1. Bagaimana status hutang puasa istri ane yg tahun lalu? Diqadha+fidyah atau fidyah saja atau qadha saja?
2. Bagaimana juga dengan yg tahun ini? 16 hari pertama dibayar qadha saja, selanjutnya qadha+fidyah (karena sepertinya istri ane sanggup tapi khawatir berefek ke anak ane). Atau kesemuanya dibayar qadha saja atau kesemuanya qadha+fidyah?

Mohon jawabannya ya ustadz. Karena ane belum menemukan jawaban yang memuaskan hati.Jazakalloh khair

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Dalam berpuasa, ada beberapa ketentuan yang berhubungan dengan wanita.

  1. Para ulama sepakat bahwa wanita haidh dan nifas tidak boleh berpuasa dan harus mengqadha. Tidak ada perbedaan di antara ulama bahwa wanita yang haidh dan nifas harus mengqadha.
  2. Untuk wanita hamil dan menyusui, para ulama sepakat bahwa mereka boleh tidak berpuasa apabila kondisi mereka tidak memungkinkan berpuasa atau ada kekhawatiran yang cukup kuat ada madharat kepada janin atau bayi. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat tentang kewajiban mereka bila tidak berpuasa.

Apabila seorang wanita hamil atau menyusui tidak berpuasa pada bulan ramadhan, maka ada tiga kemungkina.

Pertama: Ia tidak mampu berpuasa karena kondisi fisiknya yang lemah. Tidak sedikit wanita yang hamil atau menyusui mengalami kondisi semacam ini. Untuk kondisi pertama ini, sebagian besar ulama berpendapat bahwa ia boleh tidak berpuasa dan mengqadha’nya ketika mampu di luar bulan ramadhan.

Kedua: Ia tidak mampu berpuasa karena fisiknya lemah dan khawatir terhadap janin atau nakanya. Untuk kondisi semacam ini, seorang wanita yang hamil dan menyusui boleh tidak berpuasa pada bulan ramadhan dan mengqadha di lain hari tatkala ia telah mampu untuk mengqadha’.

Ketiga: ia mampu berpuasa, akan tetapi khawatir terhadap kondisi janin atau bayinya. Untuk kondisi semacam ini, para ulama berpendapat bahwa wanita tersebut boleh tidak berpuasa dan mengqadha di hari yang lain. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat; apakah ia harus membayar fidyah juga (bersamaan dengan mengqadha) ataukah tidak?

Ulama hanafiah berpendapat tidak perlu membayar fidyah, cukup dengan mengqadha saja. Ulama malikiah berpendapat membayar fidyah dan qadha bagi wanita menyusui sedangkan wanita hamil cukup mengqadha. Sementara ulama syafi’iah dan hanabilah berpendapat : hendaknya ia membayar fidyah dan mengqadha juga.

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah memberikan keringanan (tidak) berpuasa dan setengah dari shalat bagi orang yang bepergian (safar). Dan Allah memberikan keringan (tidak) berpuasa bagi wanita yang hamil dan menyusui.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah)

3. Adapun fidyah sendiri, nilainya adalah: 1 mud (7 ons) makanan pokok. Sebagian ulama berpendapat 2 mud (sekitar 14 ons). Bisa juga memberikan makanan jadi plus dengan lauk pauknya. Untuk nilai rupiah, bisa mengikuti nilai makanan siap konsumsi atau senilai dengan 14 ons.

 

Wallahu a’lam

Antara Nishab Emas dan Nishab Perak?
Hamba Allah | Wed 17/07/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullaiwabarakatuh
Bagaimana hukumnya kalau saya tetap mengeluarkan zakat mal (usaha warnet) saya?
Kalau menurut perhitungan KALKULATOR ZAKAT belum memenuhi NISHAB karena total nilai properti saya baru dua puluh tiga juta rupiah.
Kalau perhitungan waktunya sudah pas mencapai HAUL. Tolong bantu saya menemukan jawabannya ust.
Atas saran, bantuan jawabannya saya ucapkan terimakasih yang sebesar besarnya.
Wasallamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamawarahmatullahiwabarakatuh

Apabila saudara mengeluarkan zakat mal, maka zakat mal anda sah. Sebab, menurut sebagian ulama, nishab zakat harta mengikuti perak 595 gram perak. Bila mengikuti nishab perak, maka harta saudara telah mencapai nishab. Nishab perak pada zaman nabi adalah 200 dirham atau 595 gram atau sekitar 14 juta.  Maka, saudara bisa mengeluarkan zakat mal 2,5 persen.

Pada zaman Rasulullah saw, standar nishab mata uang adalah 20 dinar (85 gram emas) atau 200 dirham (595 gram perak).  Pada waktu itu, nilai 20 dinar sama dengan 200 dirham. Kenyataannya, para saat ini, terjadi perbedaan yang sangat jauh antara emas dan perak. Dalam kasus ini, para ulama berbeda pendapat tentang nishab uang kertas dan sejenisnya. Bagaimana pun juga, standar nishab uang kertas, tabungan, harta perniagaan dan sejenisnya mengikuti emas dan perak.

Sebagian ulama kontemporer berpendapat bahwa standar nishab mata uang saat ini adalah emas. Sebab emas adalah standar yang berlaku secara international.

Sebagian ulama berpendapat, apabila terjadi perselisihan nilai antara emas dan perak maka yang menjadi standar adalah yang paling rendah. Kerena perak nilainya lebih rendah maka nishabnya adalah perak. Cara ini, menurut ulama tersebut, lebih mengedepankan kehati-hatian dan kemaslahatan penerima zakat.

Dengan demikian, apabila saudara berkeinginan mengeluarkan zakat harta sementara harta anda belum mencapai nishab emas tapi telah mencapai nsihab perak maka zakat yang saudara keluarkan sah dan termasuk zakat, bukan sedekah.

Wallahu a’lam

Hukum Menzakati Mobil?
Yosoep | Mon 15/07/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Saya memiliki Mobil dibeli dgn cara kredit dan telah terlunasi pertanyaan saya adalah :
Zakat yang harus dibayar apakah dari total harga kreditnya, atau dari harga cash pada saat saya membeli mobil tsb atau zakat yang harus saya bayar berdasarkan harga pasaran jika mobil tersebut dijual saat ini?

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu ‘alaa Rasulillah. Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan berkah-Nya kepada saudara dan keluarga.

Para ulama sepakat bahwa harta yang berfungsi sebagai sarana kebutuhan pokok, seperti : rumah, mobil, motor, prabot rumah tangga dan yang lainnya, tidak termasuk harta wajib zakat. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah saw, “Tidaklah seorang muslim itu berkewajiban menzakati hamba sahanyanya dan kuda tunggangannya .” (HR muslim)

Hadits di atas menjelaskan bahwa seorang muslim tidak berkewajiban menzakati hambasahayanya (untuk zakt harta) dan kuda tunggangannya. Illat-nya adalah sebagai fasilitas penunjang kebutuhan hidup .

Harta di atas akan menjadi harta wajib zakat bila diperjualbelikan atau barang bisnis. Ketika seseorang berbisnis rumah atau motor, maka harta itu akan berubah menjadi harta wajib zakat. Zakat dikeluarkan tatkala mencapai nishab (senilai 85 gram emas atau 595 gram perak) dan genap satu tahun. Nilai zakatnya adalah 2,5 persen.

Kesimpulannya, apabila saudara memiliki kendaraan dengan cara membeli dan saudara membelinya untuk dipakai sendiri maka kendaraan itu tidak termasuk harta yang wajib dikeluarkan zakatnya.

Wallahu a’lam

Hukum Zakat untuk NonMuslim?
Yusuf Ramadhan | Tue 09/07/2013 00:00:00

Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh

Apa hukumnya kalau kita memerikan sedekah kepada orang yang tidak seiman dengan kita yang jelas-jelas orang tersebut sangat membutuhkan bantuan ?
Apakah ada kategori golongan orang-orang yang berhak menerima zakat ?

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Para ulama sepakat bahwa boleh memberikan sedekah (infak) kepada nonmuslim secara umum. Jadi, tidak masalah seorang muslim memberikan sedekah kepada nonmuslim. Walau pun, tentu memberikan sedekah kepada muslim lebih baik.

Sementara memberikan zakat kepada nonmuslim, sebagian besar ulama tidak berpendapat tidak boleh. Terlebih lagi kepada nonmuslim yang memusuhi Islam, para ulama sepakat tidak boleh memberikan zakat kepada mereka.

Mereka berhujjah dengan hadist Rasulullah saw kepada Mu’adz ra, “(Zakat itu) diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang miskin di antara mereka.” Jadi, kata “Mereka” pada teks di atas merujuk kepada orang-orang muslim.

Adapun Orang-orang yang berhak menerima zakat ialah: fakir, miskin, amil, muallaf, gharim (orang yang terlilit hutang hingga tidak mampu membayar sama sekali), budak, fii sabilillah (berperang dan berjuang menegakkan agama Allah) dan Ibnu Sabil.

Allah swt berfirman:

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu´allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah : 60)

Wallahu a’lam

Hukum Puasa Kafarat?
Hanif Fadila | Tue 04/06/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Bagaimanakah hukum melaksanakan puasa khafarat?

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Puasa kafarat ada ragam jenisnya. Ada puasa kafarat melakukan hubungan badan pada waktu bulan ramadhan. Ada puasa kafarat melakukan pembunuhan secara tidak sengaja. Ada puasa kafarat atas pembatalan sumpah atau nadzar.

Untuk puasa kafarat bagi yang melakukan hubungan badan di siang hari pada bulan ramadhan hukumnya wajib bagi orang yang tidak mampu membebaskan budak. Puasa kafarat ini adalah berpuasa selama 60 hari berturut-turut.

Sedangkan puasa kafarat bagi orang yang melakukan pembuhan tidak sengaja ialah berpuasa selama 60 hari berturut-turut. Puasa kafarat ini hukumnya wajib bagi orang yang tidak mampu ( tidak menemukan ) budak untuk ia merdekakan. Allah swt menjelaskan hal ini pada surah An-Nisa’ ayat 92.

Sedangkan puasa kafarat sumpah adalah kafarat bagi orang yang melanggar atau membatalkan sumpah atau nadzar yang tidak mampu membebaskan budak atau memberi makan atau memberikan pakaian kepada 10 fakir miskin. Puasa kafarat atas sumpah atau nadzar ini dilakukan selama 3 hari. Allah swt menjelaskan hal ini pada surah Al-Maidah ayat 89.

Wallahu a’lam

Zakat Hasil Perkebunan Karet
Hamba Allah | Tue 14/05/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh.

Ustadz, orang tua ana punya kebun karet yang penghasilannya per 20 hari 10-15 juta.  
Namun pengurus RW sudah memotong 2,5% dari harga karet setiap penjualan, tapi pemotongannya itu untuk membangun masjid, apakah ini termasuk zakat?

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Zakat perkebunan karet merupakan persoalan baru dalam zakat. Sebagian besar ulama kontemporer berpendapat bahwa zakat perkebunan seperti karet dan sejenisnya yang pengairannya tergantung pada hujan adalah 10 persen. Dengan begitu, nilai zakat yang wajib dikeluarkan adalah 10 persen dari penghasilan yang diterima.

Adapun 2,5 persen yang dipotong untuk pembangunan masjid tidak termasuk kategori zakat, tapi sedekah. Sebab, sebagian besar ulama berpendapat bahwa masjid tidak termasuk pihak yang berhak menerima zakat.

Sebagian besar ulama kontemporer juga berpendapat bahwa dana zakat tidak boleh dipergunakan untuk pembangunan masjid.

Wallahu a’lam

 

Pengaruh Hutang Terhadap Zakat
Ridho | Tue 14/05/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Bagaimana menghitung zakat bagi orang yang masih punya hutang?
Misal, punya tabungan 100 juta, tapi masih punya hutang 200 juta di tempat lain.

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan berkah-Nya.

Para ulama berbeda pendapat tentang pengaruh hutang terhadap kewajiban zakat. Hanya saja, bila seseorang memiliki hutang setelah ada kewajiban zakat, para ulama sepakat bahwa hutang tidak berpengaruh sama sekali terhadap kewajiban zakat.

Ulama syafi’iah berpendapat bahwa hutang tidak berpengaruh sama sekali terhadap kewajiban zakat, baik itu itu ada sebelum atau sesudah masuk kewajiban zakat.

Ulama hanabilah berpendapat bahwa kewajiban membayar hutang dapat mengurangi kewajiban zakat bila hutang itu telah ada sebelum ada kewajiban zakat.

Menurut hemat kami, bila seseorang memiliki hutang yang telah jatuh tempo dan tidak memiliki harta, baik berupa uang cash atau property di luar kebutuhan pokok, untuk membayar hutang itu kecuali harta yang harus dizakati itu maka kewajiban hutang itu mengurangi kewajiban zakat.

Berbeda halnya dengan tanggungan hutang yang pembayarannya dicicil, maka yang mengurangi adalah cicilan yang dikeluarkan tepat sebelum waktu mengeluarkan zakat. Adapun hutang yang belum jatuh tempo pembayarannya tidak termasuk hutang yang menjadi pengurang kewajiban zakat.

Wallahu a’lam

Standar Nishab, Beras atau Gabah?
M. Furqon | Wed 01/05/2013 00:00:00

Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Ustadz, saya sudah men- download panduah zakat dari DD.  Disana dijelaskan jumlah panen X harga beras – biaya insektisida X 10 % atau 5%.  Yang saya tanyakan disini,  jumlah panen itu dikalikan dengan harga beras atau padi ustadz  karena harganya berbeda? Kemudian,  apabila padi, yang  kering atau yang  basah? Syukron ustadz.

Wassalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Para ulama berpendapat bahwa yang menjadi standar adalah bahan makanan yang sudah siap dikonsumsi.

Apabila hasil pertanian itu memiliki kulit yang tidak dikonsumsi maka kulit tersebut tidak masuk dalam penentuan nilai nishab. Dengan demikian, untuk pertanian padi, yang menjadi standar nishab 5 wasaq ( 653 Kg) adalah beras bukan gabah.

Ulama syafi’iah, misalnya, berpendapat bila penghitungannya berdasarkan gabah maka nishabnya adalah 10 wasaq atau dua kali lipatnya beras.

Wallahu a’lam

Apakah Harta Wakaf Harus Dizakati?
Hamba Allah | Wed 01/05/2013 00:00:00

Assalamu’alaikum warrahmatullahiwabarakatuh
Saya mau tanya tentang wakaf yang di produktifkan,  jika harta wakaf tersebut telah mencapai  nishab, apakah harus dikeluarkan zakatnya??

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Para ulama membagi wakaf menjadi dua. Pertama, wakaf yang diperuntukkan umat muslim. Jadi, seseorang mewakafkan hartanya kepada lembaga atau institusi untuk kepentingan umat Islam.  Sebagian besar ulama berpendapat bahwa harta wakaf tersebut tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Sebab, kewajiban zakat itu adalah kewajiban seorang muslim dan bukan kepada umat.

Kedua, wakaf kepada pribadi. Seseorang bisa mewakafkan hartanya kepada orang lain untuk kepentingan dirinya dan keluarganya serta kerabatnya. Untuk wakaf yang kedua ini, para ulama berpendapat wajib dikeluarkan zakatnya bila telah memenuhi ketentuan wajib zakat.

Wallahu a’lam

Hukum Memberikan Zakat ke Orang Tua?
Agus K | Tue 23/04/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Apakah boleh zakat kita diberikan ke saudara atau orang tua kita sendiri?

Wassalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga. Para ulama berpendapat bahwa memberikan zakat kepada saudara hukumnya boleh selama mereka termasuk orang yang berhak menerima zakat sebagaimana yang Allah swt jelaskan dalam surah At-Taubah ayat 60. Hanya saja, terkait dengan memberikan zakat kepada orang tua, para ulama berbeda pendapat. Sebagian besar ulama melarang memberikan zakat kepada orang tua atau kepada anak. Mereka berpendapat tidak boleh memberikan zakat kepada orang tua atau anak karena ada hubungan saling wajib menafkahi ketika salah satu pihak berada dalam kondisi tidak mampu. Ketika orang tua dalam keadaan miskin atau fakir, maka anak berkewajiban menafkahi orang tuanya. Begitu pula ketika anak berada dalam kondisi tidak mampu sedangkan orang tuanya memiliki harta berlebih maka orang tua berkewajiban membantu anaknya. Memang ada sebagian ulama yang berpendapat boleh memberikan zakat kepada orang tua bila orang tua itu memenuhi kriteria penerima zakat. Menurut hemat kami, sebaiknya membantu, berbuat baik dan merawat orang tua bukan dari harta zakat. Dengan begitu, kita keluar dari perbedaan pendapat di antara ulama. Tentu saja, hal ini akan menjadi lebih baik. Wallahu a’lam

Hukum Memberikan Zakat kepada Anak yatim
Deddy A | Wed 17/04/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Apabila kita membayar zakat melalui panti asuhan yatim piatu apakah itu sah secara hukum islam ? Jika membayar zakat kepada orang tua atau mertua atau sanak saudara, apakah itu juga sah secara hukum islam. Apabila kita mencicil zakat , apakah harus selesai atau lunas sebelum 1 tahun ?
Hormat kami

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Pada dasarnya, anak yatim tidak termasuk orang yang berhak menerima zakat. Akan tetapi bila anak yatim itu tidak mampu maka ia berhak menerima zakat. Jadi, yang menjadikan seorang anak yatim bisa menerima zakat bukan karena statusnya sebagai yatim, tapi sebagai orang yang tidak mampu. Saudara bisa memberikan kepada anak yatim bila ia tidak mampu atau miskin.

Adapun memberikan zakat kepada orang tua, para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama melarang memberikan zakat kepada orang tua dan anak keturunan. Sedangkan memberikan zakat kepada kerabat, selain anak dan orang tua, para ulama membolehkan selama mereka memiliki kriteria sebagai penerima zakat (fakir miskin). Namun bila mereka tidak termasuk fakir miskin ( mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak dan wajar) maka tidak berhak menerima zakat.

Sedangkan mencicil zakat, ada dua jenis pencicilan zakat. Mencicil zakat sebelum waktu wajib ( genap haul), menurut sebagian besar ulama, hukumnya boleh. Sedangkan mencicil zakat yang telah tiba waktu wajibnya, menurut sebagian besar ulama, tidak diperolehkan kecuali dalam kondisi darurat atau situasi yang tidak memungkinkan membayar zakat segera. Sebab, menurut sebagian besar ulama, hukum kewajiban membayar zakat ketika telah tiba waktu zakat adalah menyegerakan (al-faur).

Wallahu a’lam

Zakat Hasil Pertanian
Syamy Z | Tue 09/04/2013 00:00:00

Assalamu’alaikum wr.wb. 
1.Ustadz bagaimana penghitungan zakat hasi pertanian/sawah jika tanahnya tsb.bukan milik sendiri alias menyewa ?
2.Di daerah kami kebanyakan para petani jika penen raya tidak langsung menjual hasil panennya ..di karenakan tengkulak pasti membeli dg.harga yang relatif murah, maka petani menahan hasil panennya 2-3 bulan biar dapat profit mengingat besarnya biaya operasional, pertanyaannya apakah penahanan gabah tsb.trmasuk kategori IKHTIKAR/ menimbun ? jazakallahu ahsanal jaza’ wasssalamu’alaikum wr.wb

Dijawab Oleh : dian mulyadi

?Jawab:

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Pertama:  Ada beberapa jenis akad dalam Islam terkait pengelolaan lahan persawahan dan perkebunan. Di antaranya:

  1. Al-muzara’ah; pemilik tanah  meminta kepada pihak kedua untuk mengelola tanahnya. Bibit pertanian menjadi tanggung jawab atau kewajiban pemilik tanah. Pihak kedua mendapatkan jatah  bagi hasil atas hasil pertanian atau perkebunan. Para ulama membolehkan system ini. System zakatnya adalah: menurut sebagian ulama, system pencapaian nishabnya tergabung. Artinya, apabila seluruh hasil panen itu mencapai nishab berarti wajib dikeluarkan zakatnya. Hanya saja, masing-masing menzakati jatah yang menjadi hak masing-masing. Pihak pemilik tanah menzakati yang menjadi haknya. Sedangkan pengelola menzakati jatah panen yang menjadi haknya.
  2. Kira’ul ardh atau ijarah dengan pembayaran  uang dan sejenisnya: pemilik tanah menyewakan  ke pihak kedua dengan  nilai x sampai  pada tahun y.  Hasil panen dari tanah yang disewa sepenuhnya menjadi hak  penyewa.  Untuk system ini, zakat hasil panen sepenuhnya menjadi kewajiban pengelola sawah.  Sedangkan pihak pemilik tanah hanya menzakati uang sewa tanah  yang ia terima. Para ulama memang berbeda pendapat tentang zakat hasil sewa property. Sebagian ulama mengatakan bahwa zakatnya adalah zakat pertanian. Sedangkan ulam a yang lain zakatnya zakat emas dan perak tanpa menunggu haul.
  3. Kiraul ardh atau menyewakan tanah dengan pembayaran sebagian dari hasil tanah yang disewakan.  Ilustrasinya: pemilik tanah menyewakan tanahnya kepada pihak kedua. Pihak kedua mengelola tanah tersebut dengan ditanami padi. Pembayaran sewa tanah itu berupa bagi hasil antara pihak pemilik tanah dan pengelola dari hasil panen yang didapat.  Sebagian ulama membolehkan system semacam ini. Ulama kontemporer juga membolehkannya. Hanya saja, ada sebagian ulama yang tidak membolehkan. Zakat untuk system semacam ini sama dengan system muzara’ah, menurut sebagian ulama. System pencapaian nishabnya tergabung. Selanjutnya, masing-masing pihak menzakati jatah masing-masing.

Kedua. Allah swt melarang melakukan  penimbunan barang yang menjadi kebutuhan publik. Para ulama memiliki kriteria yang berbeda tentang penimbunan.  Tidak semua penimbunan termasuk kriteria penimbunan yang terlarang.

Di antra kriteria penimbunan yang terlarang adalah:

  1. Kebutuhan pokok
  2. Memperoleh barang dengan membeli.
  3. Melakukan pembelian pada saat sulit.
  4. Waktu , artinya: ada jangka waktu menyimpan barang untuk menaikkan harga.

Berdasarkan syarat di atas, seorang petani yang menghakhirkan penjualan untuk menunggu stabilitas harga hasil pertaniannya tidaklah termasuk orang yang menimbun.

Wallahu a’lam

Menghitung Zakat Pertanian
Husnul | Wed 03/04/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Berapakah nisab nya zakat pertanian ? Apakah penghitungan nya dari hasil bersih panen atau dari hasil kotor? Terimakasih

Wassalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Sebagian besar ulama sepakat bahwa nishab zakat pertanian adalah 5 wasaq. Sedangkan sebagian ulama hanafiah berpendapat bahwa zakat pertanian tidak memerlukan ketentuan nishab. 5 wasaq sendiri bila dihitung dengan kilogram, para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang paling populer adalah pendapat syaikh Yusuf Al-Qardhawi bahwa 5 wasaq itu kurang lebih = 653 kg.

Adapun terkait dengan pengeluaran zakat pertanian, apakah dikeluarkan hasil bersih atau hasil kotor, ulama syafi’iah berpendapat bahwa zakat pertanian dikeluarkan dari hasil kotor. Hasil kotor disini maksudnya adalah; tanpa dikurangi hutang, beban biaya dan sebagainya. Nilai panen x nilai wajib zakat.

Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa zakat pertanian dikeluarkan setelah dikurangi hutang bila petani itu harus berhutang untuk membiayai pertaniannya. Tentu saja syaratnya ia tidak memiliki uang atau harta lain yang berlebih yang bisa ia gunakan untuk membayar hutang. Apabila ia memiliki harta lebih dari kebutuhan pokok, walau pun berbentuk property, maka hutang itu tidak menjadi pengurang kewajiban zakat.

Wallahu a’lam

Zakat Bagi Hasil Pertanian
Saeful B | Wed 27/03/2013 00:00:00

Assalamualaikumwarahmatullahi wabarokatuh.
Saya adalah penyewa sawah (2hektar dalam 1tahun)dan saya bekerja sama dengan orang lain sekaligus sawah tersebut diolah orang tersebut yang mendapat bantuan bibit dan pupuk dari pemerintah.kalau sawah tersebut panen bagaimanakah cara pembagian hasilnya menurut syariah islam? Dan berapa persenkah zakat yang harus dikeluarkan?terimakasih
Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Ada dua sistem yang dapat saudara terapkan dalam muamalah yang saudara lakukan terkait dengan pengelolaan sawah itu.

Pertama: saudara menyewakan kembali sawah itu kepada rekan saudara dengan nilai tertentu. Jadi, saudara mendapatkan keuntungan dari selisih antara nilai saudara menyewa dengan nilai meyewakan. Maka, akad yang berlaku di sini adalah akad ijarah atau kiraul ard (menyewakan tanah).

Kedua. Saudara menyewakan tanah itu kepada rekan saudara dengan sistem bagi hasil hasil panen. Para ulama memang berbeda pendapat tentang hukum menyewakan tanah dengan bayaran sebagian dari hasil panen dari tanah yang disewakan. Hanya saja, tidak sedikit ulama yang membolehkan cara ini. Sedangkan prosentasi bagi keuntungan antara saudara dan rekan saudara sesuai dengan kesepakatan.

Adapun terkait dengan zakat hasil pertaniannya, apabila hasil panennya mencapai nishab ( 653 kg beras) maka telah memenuhi kriteria wajib dikeluarkan zakatnya. Apabila pengairannya berbiaya, maka zakatnya 5 persen. Sedangkan bila pengairannya tidak berbiaya maka zakatnya 10 persen. Hanya saja, cara mengeluarkan zakatnya sendiri-sendiri. Saudara menzakati 10 persen atau 5 persen dari hasil panen yang menjadi hak saudara. Sedangkan rekan saudara mengeluarkan zakat 10 persen atau 5 persen dari hasil panen yang menjadi haknya.

Wallahu a’lam

Zakat Harta Hasil Penjualan Rumah
Dani K | Tue 26/03/2013 00:00:00

Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Saya terpaksa harus menjual rumah yang saya tempati,  karena kebutuhan biaya yang semakin besar. Apakah ada kewajiban zakatnya ?  Berapa persen ?  dan bolehkah disalurkannya ke mesjid atau kerabat/saudara terdekat ?
Mohon pencerahannya.  terimkasih.

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Allah swt memerintahkan zakat kepada orang yang memiliki kemampuan. Oleh karena itu, bila saudara menjual tanah untuk memenuhi kewajiban, maka saudara segera penuhi kewajiban tersebut. Apabila setelah anda memenuhi kebutuhan dan kewajiban saudara terdapat sisa uang yang mencapai nishab (senilai 85 gram emas atau sekitar 40 juta) maka saudara dapat mengeluarkan zakatnya 2,5 persen.

Para ulama menamakan harta yang bersumber dari menjual sesuatu ( bukan bisnis), hadiah, warisan dan sejenisnya dengan istilah harta mustafad. Untuk harta semacam ini, para ulama berbeda pendapat tentang tatacara mengeluarkan zakatnya. Sebagian ulama berpendapat, bila harta itu mencapai nishab, langsung dikeluarkan zakatnya 2,5 persen tanpa menunggu haul. Sedangkan ulama yang lain berpendapat bahwa kewajiban zakat itu mulai berlaku bila telah genap satu tahun tersimpan dari semenjak peralihan hak atau terjadinya akad. Hanya saja, sebagian besar ulama sepakat diperbolehkan bagi seseorang yang menerima harta yang mencapai nishab untuk mengeluarkan zakatnya sebelum genap haul.

Adapun terkait dengan penyaluran dana zakat ke masjid, bila masjid sebagai perantara untuk disalurkan kembali ke fakir miskin maka hukumnya boleh. Adapun penyalurannya ke masjid untuk biaya operasional masjid, sebagian besar ulama tidak membolehkan. Sebab, masjid bukan termasuk kategori penerima zakat.

Sementara penyaluran zakat kepada kerabat, bila kerabat tersebut memenuhi kriteria sebagai penerima zakat (fakir atau miskin misalnya) maka ia berhak menerima zakat. Bila kerabat itu tidak memenuhi kriteria penerima zakat maka ia tidak berhak menerima zakat.

Wallahu a’lam.

Hukum Memberikan Zakat kepada Nonmuslim
Amie | Tue 19/03/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

jika seorang muslim tinggal di negara non muslim ingin mengeluarkan zakat mal, apakah penerima zakat mal tsb bisa seorang yg bukan muslim ? dan seorang non muslim tersebut bisa dikategorikan golongan miskin (orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan).
Terima kasih.

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Para ulama sepakat tidak boleh memberikan zakat kepada nonmuslim yang memusuhi Islam. Dan sebagian besar ulama juga  berpendapat tidak boleh memberikan zakat kepada non muslim secara umum.  Hal ini berdasarkan pada sabda Rasulullah saw kepada Mua’ad bin Jabal tatkala mengutusnya ke Yaman. “(Zakat itu) diambil dari kalangan orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang miskin di antara mereka.”

Hadits di atas menerangkan bahwa zakat diambil dari orang-orang muslim dan didistribusikan kepada orang-orang muslim yang miskin.

Hanya saja, para ulama berbeda pendapat terkait dengan pemberian zakat kepada nonmuslim yang diharapkan masuk Islam atau dikhawatirkan mendzalimi umat Islam. Perbedaan ini muncul karena perbedaan menafsirkan kata “Al-Muallafatu qulubuhum”. Sebagian ulama mengatakan bahwa makna ayat itu adalah; orang muslim yang masih lemah imannya. Ada pula ulama yang memasukkan orang nonmuslim yang memiliki kecenderungan pada Islam termasuk kategori muallaf.

Menurut hemat kami, cukup banyak umat muslim saat ini yang kehidupan ekonominya sangat lemah. Oleh karena itu, alangkah baiknya bila mendistribusikan kepada orang-orang muslim yang tidak mampu.  Bagaimana pun juga, keluar dari perbedaan pendapat di antara ulama itu lebih baik.

Wallahu a’lam

Apakah Zakat Harta Setiap Tahun
Muhammad RSR | Wed 06/03/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Apabila saya punya uang sudah sampai nisab dan sudah di jakati tahun ini kemudian tahun depan uang itu masih untuh di tabungan. Apakah uang tersebut masih harus di keluarkan zakatnya ?

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Apabila seseorang masih memiliki emas, uang, tabungan, saham, deposito, asset perniagaan atau harta wajib zakat lainnya yang masih mencapai nishab maka ia wajib mengeluarkan zakatnya setiap tahun.  Jadi, zakat yang memiliki unsur haul atau genap satu tahun zakatnya dikeluarkan setiap tahun selama masih mencapai nishab.

Wallahu a’lam

Zakat; Berdasarkan Bulan Hijriah atau Masehi?
Eriadi | Tue 05/03/2013 00:00:00

Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Saya ingin bertanya, ustazd. Bolehkah kita membayar zakat berdasarkan hitungan tahun masehi?
Terimakasih

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Zakat merupakan salah satu ibadah yang Allah swt perintahkan kepada hamba_Nya. Dalam Islam, ibadah seseorang yang berhubungan dengan bulan pasti mengikuti bulan Hijriah dan bukan bulan Masehi. Misalnya, Allah swt memerintahkan seseorang untuk berpuasa pada bulan ramadhan. Maka, tidak sah hukumnya bila seseorang melaksanakannya di luar bulan ramadhan. Begitu pula haji yang Allah swt tentukan pada bulan hijriah.

Adapun terkait dengan zakat, ada sebagian zakat yang waktu mengeluarkannya terikat dengan bulan tertentu dan ada zakat yang waktu mengeluarkannya tidak terikat dengan bulan tertentu (baik hijriah maupun masehi).

Pertama: zakat yang terkait dengan bulan/ tahun hijriah, antara lain: zakat fitrah dan haul zakat harta simpanan (emas, perak, uang, tabungan dsbg) dan perdagangan. Zakat fitrah tidak sah bila diberikan diluar waktu yang telah ditentukan. Sedangkan untuk zakat harta simpanan dan harta perdagangan, parameter haulnya ( jatuh waktu wajibnya ) tetap mengikuti bulan hijriah. Namun bila ia mengeluarkan berdasarkan bulan Masehi, secara dasar tidak tepat. Hanya saja, bila untuk kemudahan waktu pengeluaran, para ulama berbeda pendapat.

Bagaimana pun juga, masa satu tahun bulan hijriah lebih pendek daripada bulan masehi. Ini artinya, bila seseorang mengeluarkan zakat menunggu genap satu tahun masehi berarti ia mengakhirkan waktu mengeluarkan zakat.

Sebagian besar ulama tidak membolehkan mengakhirkan atau menunda pengeluarkan zakat ketika telah tiba waktu wajib. Sebagian ulama membolehkan menunda dalam waktu yang tidak lama.

Kedua, zakat yang tidak terikat dengan bulan, baik hijriah maupun masehi. Yaitu: Zakat pertanian dan perkebunan serta zakat temuan yang terpendam. Begitu pula zakat penghasilan. Zakat tersebut dikeluarkan pada saat panen atau pada saat mendapatkan harta yang wajib dizakati.

Wallahu a’lam

Perhitungan Zakat Pertanian
Ahmad S | Tue 26/02/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh>
Saat ini saya sedang menyewa tanah untuk ditanami padi, dengan harga (sebanding dengan) 6 kwintal gabah/tahun. Harga tersebut belum termasuk biaya benih dan sebagaimanya  yang saya beli sendiri.
Mohon info perhitungan zakat yang harus saya keluarkan.
Terimakasih sebelumnya,
Wassalamu’alaikum.

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Apabila akad yang saudara berlakukan adalah akad sewa menyewa, maka para ulama berbeda pendapat tentang system zakat saudara: ulama syafi’iah berpendapat bahwa saudara harus menzakati semua hasil panen yang saudara dapatkan bila hasil panen itu mencapai nishab ( 653 kg beras atau 5 wasaq). Setelah itu, saudara baru menggunakan sebagian dari hasilnya untuk membayar hutang. Pendapat ini adalah pendapat ulama syafi’iah yang dipegang sebagian besar penduduk Indonesia. Sedangkan ulama hambali berpendapat: saudara mengeluarkan zakat setelah saudara kurangi untuk membayar hutang bila saudara tidak memiliki harta lain  ( seperti tabungan, penghasilan lain, atau uang) untuk membayar hutang itu. Setelah saudara kurangi untuk membayar hutang, sisanya saudara keluarkan zakatnya.

Apabila akad yang saudara gunakan adalah akad bagi hasil, maka saudara hanya menzakati hasil pertanian yang menjadi hak saudara. Sedangkan zakat hasil pertanian yang menjadi hak pemilik tanah adalah kewajiban pemilik tanah. Sedangkan terkait dengan pencapaian nishabnya, sebagian ulama berpendapat dihitung secara tergabung. Sebagian ulama yang lain berpendapat sistem penghitungan nishabnya terpisah. Menurut hemat kami, pencapaian nishab dengan penghitungan tergabung ( hak pemilik tanah dan penyewa).

Adapun nilai zakat pertanian adalah : 5 persen, bila system pengairannya berbiaya. Sedangkan bila system pengairannya tidak berbiaya, nilai zakatnya adalah 10 persen.

Wallahu a’lam

Cara Menghitung Emas Wajib Zakat
Hamba Allah | Wed 20/02/2013 00:00:00

Assalammualaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Saya ingin menanyakan tentang zakat emas/perak:

  1. bagaimana cara menghitung karat suatu emas/perak, misalnya saya mempunyai emas 24 karat, apakah sama menghitungnya dengan emas muni.
  2. apabila emas di bubukan di suatu benda, apakah benda tersebut kena zakat.

 Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa melimpahkan rahmat dan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Pertama. Para ulama berpendapat bahwa emas yang menjadi parameter zakat adalah emas murni atau emas 24 karat. Mereka berpandangan bahwa kewajiban zakat itu berlaku atas emas. sedangkan campurannya tidak termasuk kategori harta wajib zakat. Ada sebagian kalangan yang berpandangan bahwa zakat mengikuti kadar emas yang menjadi bahan dinar pada masa Rasulullah saw. Sebagian penelitian menyebutkan bahwa kadar emas pada dinar adalah 22 karat. Hanya saja, sebagian besar ulama berpendapat bahwa yang menjadi parameter adalah emas murni dan bisa juga 24 karat.

Kedua. Apabila emas bercampur dengan benda lain, maka yang wajib dizakati adalah emasnya saja. Sedangkan yang bukan emas tidak termasuk harta wajib zakat.

Wallahu a’lam

Membayar Zakat Via ATM
Dewi Yuniarti | Tue 19/02/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Saya mau bertanya, jika saya ingin memberikan zakat/infak/sedekah dengan cara melalui transfer lewat ATM,  apakah saya harus membaca ikrar zakat terlebih dahulu atau cukup dengan niat  untuk berzakat saja?

Terima Kasih.

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Pada ulama tidak mensyaratkan akad ijab qabul dalam zakat atau sedekah. Sebab, ibadah zakat atau sedekah berbeda dengan ibadah atau muamalat yang lain seperti : jual beli, wakaf, hibah dan sejenisnya.

Seandainya saja ijab qabul merupakan syarat sah zakat, maka subtansi zakat adalah tujuan dan keridhaan. Dalam konteks transfer, seseorang menyalurkan  sebagian dana yang ia miliki dengan penuh kesadaran dan mengerti tujuan transfer tersebut. Ia juga mentransfernya pada rekening yang tersedia sesuai dengan jenis donasi yang ia ingin salurkan. Terlebih lagi bila melakukan konfermasi, tentu hal tersebut dapat mewakili pernyataan tujuan donasi.

Dengan demikian, tidak masalah seseorang mengeluarkan zakat atau sejenisnya melalui transfer via Bank.

Wallahu a’lam

Hukum Menyicill Zakat
Muhammad Idrus | Wed 13/02/2013 00:00:00

Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Saya mau bertanya apakah bisa zakat itu dicicil dan cicilannya dipotong langsung dari gaji tiap bulannya sampai kewajiban zakatnya terpenuhi?

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Saudara Muhammad Idrus yang dirahmati Allah swt. Menyicil pembayaran zakat ada ragamnya. Ada menyicil zakat yang kewajibannya jatuh pada akhir tahun dan ada pula menyicil pembayaran zakat yang telah lampau.

Menyicil zakat yang belum jatuh temponya, Sebagian besar ulama berpendapat bahwa hal ini diperbolehkan. Misalnya, kita memiliki tabungan 200 juta. Sebagian orang, apabila kita keluarkan zakatnya sekaligus di akhir tahun, ia merasa berat. Maka, ia bisa menyicil zakatnya setiap bulan. ketika tiba akhir tahun, ia hanya membayar kekurangan nilai zakat yang harus ia bayarkan bila nilai zakat yang harus ia keluarkan lebih besar dari nilai akumulasi cicilan zakatnya. Apabila nilai cicilannya telah memenuhi nilai wajib zakatnya, di akhir tahun ia tidak harus mengeluarkan kembali. sedangkan bila nilai cicilannya lebih daripada nilai zakat yang harus ia keluarkan, maka kelebihan yang telah ia bayarkan menjadi sedekah bagi dirinya. Para ulama membolehkan menyicil zakat bila muzakki telah memiliki harta yang mencapai nishab.

Hukum diperbolehkan menyicil zakat ini berdasarkan pada hadits Abbas bahwa dirinya meminta izin kepada Rasulullah saw untuk memajukan pembayaran zakatnya. Rasulullah saw pun mengizinkan Abbas ra membayar zakatnya sebelum tiba waktu membayar zakat.

Berbeda halnya dengan menyicil zakat yang harus ditunaikan pada tahun yang sebelumnya. Untuk yang kedua ini, para ulama sepakat bahwa orang tersebut wajib mengeluarkan zakatnya segera. Apabila orang tersebut mampu, ia tidak boleh menyicilnya. Akan tetapi bila tidak mampu membayarnya, ia bisa menyicilnya.

Sebagai ilustrasi, misalnya Bapak A pernah memiliki emas 100 gram dari ramadhan 1428-1430. Sepanjang tahun tersebut, ia tidak pernah membayar zakat. pada tahun 1431 H, emas itu habis ia belanjakan. Pada tahun 1432, Bapak A sadar bahwa selama ini ia tidak menzakati hartanya. Akan tetapi, bila ia menzakatinya sekaligus, tentu akan mengakibatkan gonjangan ekonomi keluarga atau usahanya. Untuk hal semacam ini, ia bisa menyicil zakatnya. Wallahu a’lam

Menghitung Nishab Harta yang Berbeda-beda
W. Setiawan | Wed 13/02/2013 00:00:00

Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh.
Ustad, saya sudah beberapa kali membaca tentang zakat baik melalui buku maupun internet. Yang dijelaskan selalu zakat pada masing2 jenisnya (emas, profesi, dll), padahal kita semua tahu bahwa seseorang secara umum memiliki lebih dari 1 jenis harta/penghasilan.

Yang ingin saya tanyakan, saya memiliki beberapa jenis harta (emas/tabungan/piutang) yang sudah sampai 1 tahun, namun jika masing2 berdiri sendiri maka tidak sampai nishob, dan jika digabung maka sudah sampai, apakah sudah benar cara menghitungnya dengan total dari harta tsb dan bukan per jenisnya?

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Dalam fikih zakat, ada bermacam-macam jenis harta wajib zakat. Masing-masing harta zakat memiliki ketentuan yang berbeda-beda. Ada sebagian zakat yang menjadikan haul sebagai syarat wajib dan ada yang sebagian tidak mensyaratkan wajib. Demikian pula terkait dengan nishab masing-masing zakat.

Terkait dengan nishab, apabila beberapa harta wajib zakat itu sejenis maka nishabnya tergabung. Misalnya, emas, perak, tabungan, deposito, perniagaan, cek dan sejenisnya. nishab zakat harta tersebut tergabung karena jenis. Apabila seseorang memiliki emas tidak mencapai nishab, tabungan tidak mencapai nishab, perak tidak mencapai nishab, perniagaan tidak mencapai nishab, namun ketika semuanya digabungkan mencapai nishab berarti harta tersebut telah mencapai nishab dan pemiliknya berkewajiban mengeluarkan zakatnya.

Demikian pula dengan pertanian. Misalnya beras dan ketan, nishabnya tergabung. Begitu pula pertanian sejenis dan masa tanam yang berdekatan, walaupun tempatnya terpisah-pisah. Sebagian ulama berpendapat pertanian dalam satu musim tergabung. Sebagian ulama berpendapat dua musim tergabung untuk pencapaian nishab.

Adapun untuk jenis harta yang berbeda, misalnya perdagangan dan pertanian, nishabnya tidak tergabung. Sebab, masing-masing harta memiliki ketentuan yang berbeda.

Demikian pula yang terkait dengan haul dan nishab. Haul suatu harta mulai terhitung dari semenjak mencapai nishab. Nishab terkait dengan parameter harta wajib dikeluarkan zakatnya. Sedangkan haul adalah ketentuan waktu mengeluarkan zakatnya. Satu harta yang telah mencapai nishab, ada kemungkinan masa haulnya berbeda-beda. Dengan begitu, waktu mengeluarkan zakatnya pun bisa berbeda-beda.
Wallahu a’lam

Hukum Kurban Satu Kambing Satu Keluarga
Hamba Allah | Wed 13/02/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Ustadz, pada kesempatan ini saya ingin berkurban atas nama saya dan keluarga. Hanya saja, saya hanya memiliki satu kambing. Bolehkan saya berkurban dengan satu kambing untuk saya dan keluarga? Trimakasih
Wassalamu’alaikumwarahmatullahwabarakatuh

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Seseorang boleh berkurban dengan satu ekor kambing untuk dirinya dan keluarganya. Sebagaimana Imam Muslim meriwayatkan hadits Aisyah ra bahwa Rasulullah saw menyembelih seekor domba untuk berkurban dan berdoa, “Dengan Nama Allah. Ya Allah, terimalah kurban ini dari Muhammad, keluarga Muhammad dan umat Muhammad.”

Selain itu, banyak riwayat lain yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw berkurban seekor domba untuk beliau dan keluarga. Para sahabat pun melakukan hal yang sama.

Sebagian ulama memang ada yang berpendapat bahwa berkurban satu ekor kambing untuk satu keluarga tidak boleh. Mereka berpendapat bahwa hukum di atas telah dimnsukh (diangkat atau dihapus). Hanya saja, pendapat yang kuat adalah diperbolehkan berkurban dengan seekor kambing untuk satu keluarga.

Adapun untuk keluarga yang berbeda-beda, tidak boleh hanya dengan satu ekor kambing. Satu ekor kambing hanya dapat mewakili satu orang atau satu keluarga ( yang tinggal satu rumah).
Wallahu a’lam

Zakat Hasil Jasa Penyewaan
Irmanrisma | Tue 12/02/2013 00:00:00

Assalamu’alaikum wr.wb
Jika kita punya rumah yang dikontrakkan, misalnya nilai rumahnya 1 milyar, dikontrakkan 30 juta/tahun, apakah zakatnya dihitung dari nilai rumahnya (jadi diqiyaskan dengan menyimpan emas) atau dari hasil kontrakannya?

Dijawab Oleh : Administrator Web

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Persoalan yang saudara tanyakan merupakan persoalan kotemporer. Para ulama berbeda pendapat tentang zakat hasil sewa menyewa.

Pendapat pertama, zakatnya adalah zakat emas dan perak. Penghitungannya nishabnya tergabung dengan harta yang lainnya. saudara gabungkan harta sewa menyewa itu dengan tabungan dan yang lainnya. Bila nilainya mencapai nishab, saudara keluarkan zakatnya 2,5 persen dari hasil yang diterima.

Pendapat kedua, zakat perniagaan. Cara penghitungannya adalah: nilai modal ( nilai rumah ) + nilai keuntungan (hasil sewa) x 2,5 persen.

Pendapat ketiga, zakat pertanian. Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dan beberapa ulama lain berpendapat bahwa zakat sewa menyewa property adalah zakat pertanian.  Properti yang menjadi modal diqiyaskan sebagai sawah. Sementara hasil sewa diqiyaskan sebagai hasil panen. Zakat hanya dikeluarkan dari hasil panen atau hasil sewa saja bila telah mencapai nishab pertanian (senilai 653 kg beras). Sedangkan nilai zakatnya adalah : 5 persen bila dihitung dari penerimaan kotor dan 10 persen bila zakat dikeluarkan setelah dikurangi biaya operasional.  Pendapat yang ketiga ini adalah pendapat yang banyak dipakai oleh lembaga zakat di Indonesia.

Wallahu a’lam

Hukum Jual Beli Anjing Peliharaan
Putra | Tue 12/02/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Saya ingin mengetahui bagaimana hukum jual beli anjing untuk hobi (para penyayang anjing). Apakah jual-belinya sah dan dibolehkan secara syariah? Terima kasih.

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu’ala rasulillah
Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga. Para ulama sepakat bahwa jual beli anjing untuk peliharaan (binatang kesayangan) adalah jual beli yang terlarang. Hal ini berdasarkan pada hadits riwayat Abu Juhfah bahwa Rasulullah saw melarang menerima bayaran jual beli anjing. (HR Bukhari). Abu Mas’ud Al-Anshari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw melarang menerima bayaran jual-beli anjing, bayaran zina dan bayaran praktek perdukunan (sihir).”(HR Bukhari Muslim). Abu Hurairah juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidak halal menerima bayaran penjualan anjing, jasa praktek perdukunan dan bayaran layanan zina.” (HR Abu Dawud) Ungkapan hadits di atas begitu jelas bahwa Rasulullah saw melarang jual beli anjing. Bersamaan dengan itu, Rasulullah saw melarang seseorang memelihara anjing sebagai binatang kesayangan. Beliau saw bersabda, “Barangsiapa yang memelihara anjing, selain anjing untuk berburu dan menjaga tanaman, sesungguhnya hal itu mengurangi pahalanya setiap hari sebanyak dua qirath.” (Bukhari Muslim) Lalu berapakah ukuran satu qirath itu? Suatu ketika ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah saw tentang satu qirathm setelah beliau saw memaparkan pahala orang yang berta’ziah. Beliau saw menjawab, “Sebesar bukit uhud”. Ketika Islam melarang seseorang memelihara anjing, maka sarana menuju pada perkara yang haram juga haram. Para ulama mengatakan, “hukum terhadap sesuatu juga hukum atas perkara yang mengarah pada sesuatu itu.” Di samping itu, Allah swt berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. 5:2)
Bagaimana dengan anjing untuk buruan, anjing pelacak dan untuk menjaga pertanian? Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Sebagian ulama berpandangan bahwa hukum jual beli untuk anjing pemburu, pelacak atau menjaga pertanian termasuk jual beli yang terlarang. Pendapat mereka berlandaskan pada keumuman larangan menerima uang hasil jual beli anjing. Pendapat ini adalah pendapat sebagian besar ulama. Pembolehan memelihara anjing untuk berburu, melacak dan menjaga pertanian bukan berarti pembolehan menerima uang hasil jual belinya.
Pendapat kedua berpandangan bahwa, diperbolehkan menerima hasil jual beli anjing buruan, anjing pelacak dan anjing menjaga kebun atau pertanian. Para ulama yang sependapat dengan pendapat ini melandaskan pendapat mereka kepada hadits riwayat Nasa’i , bahwa Nabi saw melarang menerima bayaran jual beli anjing kecuali anjing untuk berburu.” Di samping itu, para ulama yang sependapat dengan hal ini berhujjah bahwa jual beli anjing untuk berburu bukanlah jual beli atas dzat anjingnya. Jual beli tersebut adalah jual beli manfaat dan ganti jasa melatih anjing tersebut.
Wallahu a’lam.

Pembayaran Zakat atas Penjualan Rumah
Light | Tue 12/02/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Ibu saya berusia 74 tahun dalam keadaan sakit baru menjual salah satu rumahnya dengan penerimaan bersih hasil penjualan sejumlah Rp. 400.000.000,-. Rumah tersebut sudah beberapa tahun kosong dan tidak memberikan penghasilan bagi Ibu saya. Ibu saya menghendaki membayar zakat atas penjualan rumah yang baru beliau jual. Peruntukkan pokok dari hasil penjualan rumah tersebut adalah untuk menutupi biaya pengobatan dan perawatan Ibu saya selama sakit serta kebutuhan hidupnya sehari-sehari.
Bagaimanakah ketentuan pembayaran zakat atas penjualan rumah Ibu saya tersebut?

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara serta memberikan kesembuhan kepada Ibu saudara. Syafaahallah syifaan ‘aajilan.

Para ulama menamakan harta yang diperoleh melalui penjualan sesuatu, bukan dalam kerangka bisnis, termasuk harta mustafad. Contoh harta mustafad lainnya, hadiah, warisan, bonus dan gaji.

Untuk harta mustafad dari penjualan sesuatu, bila harta tersebut mencapai nishab (senilai 85 gram emas) berarti wajib dikeluarkan zakatnya 2,5 persen. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat tentang waktu wajib mengeluarkan zakatnya.

Pendapat pertama mengatakan bahwa harta mustafad dikeluarkan zakatnya setelah menerima uang tersebut. Zakat ini dikeluarkan setelah dikurangi hutang jatuh tempo atau kebutuhan darurat lainnya. Zakat juga bisa dikeluarkan tanpa mengurangi sama sekali terlebih dahulu. Syaikh Yusuf Al-Qardhawi, ketua persatuan ulama international, menguatkan pendapat ini. Hal ini merujuk pada pendapat Abdullah bin Mas’ud, Mu’awiyah, Umar bin Abdul Aziz dan Imam Zuhri.

Sementara pendapat yang kedua mengatakan bahwa harta mustafad dikeluarkan zakatnya setelah genap tersimpan satu tahun. Apabila ada pengurangan dalam satu tahun, pengurangan itu tidak masuk dalam hitungan zakat. Banyak ulama yang mengikuti pendapat ini. Hanya saja, mereka sepakat apabila seseorang telah memiliki harta yang mencapai nishab lalu mengeluarkan zakatnya sebelum tiba haul, hal itu diperbolehkan. Bahkan, sebagian ulama berpandangan itu lebih afdhal karena menyegerakan penyampaian hak-hak orang tidak mampu.

Menurut hemat kami, saudara bisa langsung mengeluarkan zakatnya 2,5 persen dari hasil penjualan tanah itu. Atau, saudara mengurangi terlebih dahulu dengan beban biaya pengobatan Ibu saudara. Setelah itu, saudara keluarkan 2,5 persen dari sisa biaya pengobatan. Bila saudara mengikuti pendapat yang pertama, semua ulama sepakat bahwa hal itu diperbolehkan.

Wallahu a’lam

Hukum Zakat Harta Suami dan Istri
Hamba Allah | Tue 12/02/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahwabarakatuh
Saya seorang istri yang bekerja. saya berusaha untuk mengeluarkan zakat atas harta yang sama miliki. Di saat yang sama, saya dan suami memiliki harta bersama. Saya ingin menzakati harta kami itu. Hanya saja, suami saya tidak suka apabila saya mengeluarkan zakat. Ia mengatakan bahwa dirinya sudah mengeluarkan zakat fitrah. Intinya, ia tidak berkenan saya mengeluarkan zakat. Bagaimankah solusinya?

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Apabila seseorang -baik laki-laki maupun perempuan- telah memiliki harta yang telah mencapai nishab dan tiba saatnya untuk mengeluarkan zakatnya, maka ia berkewajiban mengeluarkan zakat.

Kewajiban zakat adalah kewajiban seorang hamba kepada Allah swt. Seseorang yang belum menunaikan zakat atas hartanya berarti ia berhutang kepada Allah swt. Dan hutang tersebut tidak gugur sampai orang tersebut menunaikannya.

Terkait dengan persoalan saudari, dalam Islam, harta suami dan istri terpisah. Kewajiban membayar zakat juga terpisah. Saudari hanya berkewajiban menzakati harta saudari saja. Sementara untuk harta bersama, hukum asalnya dikeluarkan zakatnya bersama-sama. Akan tetapi bila suami tidak berkenan, saudari menzakati harta yang menjadi hak saudari saja. Sedangkan harta suami adalah kewajiban suami untuk mengeluarkan zakatnya.

Pada dasarnya, seorang istri harus taat kepada suami. Akan tetapi ketaatan ini tidak berlaku ketika kehendak suami bertentangan dengan perintah Allah swt. Tidak ada ketaatan bagi makhluk dalam bermaksiat kepada khalik.

Apabila saudari telah menzakati harta yang menjadi milik penuh saudari, maka kewajiban saudari telah gugur. Adapun terkait dengan suami, sebagai istri, saudari berperan besar untuk terus berupaya menasehati dengan cara yang terbaik dan bijak. Semoga Allah swt senantiasa memberikan kemudahan dan keberkahan-Nya kepada saudari serta keluarga.
Wallahu a’lam

Zakat Online
Yani | Wed 06/02/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Apakah benar bila membayar zakat itu harus ada ijab kabul,
bagaimanakah hukumnya bila membayarnya via online, transfer? terimakasih.
wassalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Saudari Yani yang dirahmati Allah swt, pada dasarnya ijab qabul tidak termasuk salah satu rukun zakat. Ijab qabul juga tidak termasuk syarat sah zakat. Sebenarnya, ibadah zakat berbeda dengan wakaf, akad jual beli, hutang piutang, gadai dan sejenisnya.

Unsur yang terpenting dalam zakat adalah: pemberi zakat, harta zakat dan penerima zakat. seorang muzakki haruslah orang yang memiliki harta mencapai nishab atau memenuhi kriteria wajib zakat. Sedangkan harta zakat adalah harta yang diperbolehkan sebagai zakat. Sementara penerima zakat haruslah orang yang benar-benar berhak menerima zakat.

Adapun unsur penting lainnya, walau bukan suatu keharusan, dalam penyerahan zakat adalah: pernyataan zakat dan doa penerima zakat. Syaikh Yusuf Al-Qardhawi, dalam Fiqhuzzakat-nya, berpendapat bahwa seorang pemberi zakat tidak harus menyatakan secara eksplisit kepada mustahik bahwa dana yang ia berikan adalah zakat. Oleh karena itu, apabila seorang muzakki (pemberi zakat) tanpa menyatakan kepada penerima zakat bahwa uang yang ia serahkan adalah zakat, maka zakatnya tetap sah. Dengan demikian, seseorang bisa menyerahkan zakatnya secara online kepada lembaga amil zakat.

Bersamaan dengan itu, idealnya seseorang yang menyalurkan dana zakatnya via online ke lembaga amil zakat disertai dengan konfermasi zakat secara tertulis. Dan konfermasi tertulis itu merupakan salah satu bentuk pernyataan zakat. Konfermasi zakat atau transfer ke rekening zakat secara khusus akan memudahkan amil dalam mendistribusikan harta zakat kepada orang-orang yang berhak.
wallahu a’lam.

Pengaruh Hutang Terhadap Zakat
Jundi | Wed 06/02/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Saya ingin bertanya, apakah hutang seseorang mengurangi kewajiban zakat. Misalnya, hutang untuk membeli rumah atau hutang untuk mengembangkan usaha? Terimakasih

Dijawab Oleh : Administrator Web

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Pada ulama berbeda pendapat tentang pengaruh hutang terhadap kewajiban zakat. Perbedaan ini muncul karena tidak ada teks Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang membahas secara eksplisit. Hanya saja, di tengah perbedaan tersebut, para ulama sepakat bahwa hutang tidak berpengaruh terhadap kewajiban zakat apabila kewajiban zakat telah ada sebelum adanya hutang.

Pendapat pertama, hutang tidak mengurangi kewajiban zakat. Pendapat ini adalah pendapat ulama syafi’iah, dzahiriah dan salah satu riwayat Ahmad. Ulama syafi’iah berpendapat bahwa kewajiban hutang itu menyatu dengan harta. Sedangkan kewajiban membayar hutang itu adalah tanggungan seseorang. Jadi, hutang itu tidak terkait dengan harta yang wajib dizakati. Maka, hutang tidak mengurangi kewajiban zakat. Apabila seseorang memiliki hutang dan menggunakan hartanya untuk membayar hutang sebelum tiba waktu zakat maka hal itu diperbolehkan.

Pendapat kedua, hutang mengurangi kewajiban zakat harta tidak Nampak (al-baathinah) berupa emas perak dan sejenisnya. Sedangkan untuk zakat harta yang Nampak (adz-dzahirah)seperti : pertanian dan peternakan, hutang tidak menjadi pengurang. Pendapat ini adalah pendapat ulama malikiah dan sebagian besar hanafiah. Hujjah mereka adalah atsar Ustman bin Affan yang memerintahkan membayarkan hutang sebelum mengeluarkan zakat. Sedangkan untuk pertanian atau selain itu, hujjahnya adalah para sahabat yang menarik zakat tidak pernah menanyakan hutang tatkala mengambil zakat sehingga hutang tidak menjadi pengurang.

Pendapat ketiga, hutang menjadi pengurang kewajiban zakat b, baik harta yang Nampak maupun tidak nampak bagi publik. Pendapat ini adalah pendapat sebagian dari hanabilah dan hanafiah untuk zakat ternak. Hujjah mereka adalah atsar Ustman bin Affan dan Atsar Abdullah bin Umar. Di samping itu, mereka berhujjah bahwa kewajiban zakat berlaku bagi orang yang memiliki harta berlebih. Ketika mereka menanggung hutang sama artinya mereka tidak memiliki harta berlebih. Hanya saja, sebagian ulama hanabilah memberikan catatan yang sangat penting, apabila seseorang memiliki beban hutang dan di saat yang sama memiliki property (di luar kebutuhan pokok) yang sebanding dengan nilai hutang itu maka beban hutang tersebut tidak menjadi pengurang kewajiban zakat.

Menurut hemat kami, apabila seseorang berhutang untuk memenuhi kebutuhan pokoknya dan di saat yang sama ia tidak memiliki harta lain di luar kebutuhan pokok yang sebanding dengan nilai hutangnya maka beban hutang itu menjadi pengurang kewajiban zakat. Apabila hutang tersebut jangka panjang atau cicilan, makan hutang yang jatuh tempo saja yang menjadi pengurang. Adapun hutang untuk membeli property di luar kebutuhan pokok atau fasilitas di luar kebutuhan pokok, untuk memperbanyak kekayaan dan sejenisnya maka hutang tersebut tidak menjadi pengurang kewajiban zakat.
Wallahu a’lam

Melepaskan Diri dari Harta Haram
Hamba Allah | Wed 06/02/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Saya ingin bertanya, bagaimanakah cara membersihkan diri dari harta yang diperoleh dengan cara tidak halal? Misalnya, uang dari hasil riba. Terimakasih
Wassalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Dijawab Oleh : Administrator Web

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Apabila seseorang memiliki harta yang diperoleh dengan cara yang haram, minimal ada dua kemungkinan. Setiap kemungkinan memiliki cara yang berbeda-beda untuk membersihkan diri darinya.

Pertama: Harta haram diperoleh melalui pencurian, korupsi, penipuan dan kejahatan lain yang pemiliknya ada dan diketahui. Seseorang yang memperoleh harta melalui cara-cara yang haram itu harus mengembalikannya kepada orang yang berhak.

Kedua: Harta haram diperoleh melalui usaha haram dan tidak diketahui dengan pasti orang-orang yang terdzalimi dengan adanya usaha tersebut. Misalnya, harta yang diperoleh melalui hasil usaha riba. Untuk membersihkan diri dari harta tersebut, seseorang dapat memberikan harta hasil usaha haram itu pada fasilitas publik atau kepada fakir miskin.

Sebagian besar ulama berpandangan bahwa seseorang dapat memberikan harta yang diperoleh melalui usaha haram dan tidak diketahui pemiliknya kepada fakir miskin atau kemaslahatan umat muslim. hanya saja, sebagian besar berpendapat tidak boleh digunakan untuk membangun masjid dan membeli Al-Qur’an.

Lalu, apakah harta itu halal bagi orang yang menerima? Sebagian besar ulama berpendapat bahwa harta itu halal bagi fakir miskin yang menerima. Hujjah mereka, keharaman pada harta itu dikarenakan sebab mendapatkan harta itu dan bukan pada dzatnya.

Fakir miskin menerima harta itu secara halal, karena berbentuk pemberian atau hadiah. Hal ini berdasarkan pada hadits bahwa suatu ketika Rasulullah saw mendapatkan hadiah daging kambing. Barirah menghadiahkan daging itu kepada beliau saw. Sedangkan Barirah sendiri mendapatkannya dari sedekah. Ketika itu, Rasulullah saw bersabda, “Daging itu , baginya (Barirah) adalah sedekah. Sedangkan bagi kita adalah hadiah.” (HR Tirmidzi)

Di samping itu, Rasulullah saw menerima hadiah dari orang yahudi atau pun orang-orang musyrik. Padahal, cara-cara mereka banyak yang berseberangan dengan cara Islam. Hanya saja, apabila ada seseorang yang tidak menerima pemberian tersebut untuk menjaga kebersihan agamanya, maka hal itu tidak masalah. sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Bakar ra tatkala menerima hadiah dari seseorang yang mendapatkannya dari perdukunannya sewaktu belum masuk Islam.

Wallahu a’lam

Infak Harta dari Hasil Judi
Tama | Tue 05/02/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Ustadz saya ingin bertanya :
1- Jika menginfaq / menyedekahka harta yang didapat dengan cara yang tidak halal, misalkan dari hasil taruhan bola, bagaimana hukumnya secara islam?
2- Saya beranggapan jika hasil uang haram saya gunakan / beli berupa barang tidak akan apa-apa. Karena setahu saya uang haram tidak boleh digunakan untuk membeli makanan karena akan menjadi dosa dan darah yang mengalir akan diteruskan ke anak kita. Apakan benar anggapan saya pa ustadz?
3- Apabila uang haram itu diinfaqkan, apakah seseorang mendapatkan barokahnya atau tetap berdosa?
Wassalam

Dijawab Oleh : Administrator Web

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Allah swt berfirman:
Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS. 2:188)

Para ahli tafsir mengatakan bahwa kata memakan yang ada pada ayat di atas merupakan penggambaran fenomena umum. Artinya, motivasi sebagian besar orang dalam memiliki harta adalah untuk memenuhi kebutuhan dirinya terhadap makanan. Jadi, penggunakan kata memakan pada ayat di atas bukan bertujuan membatasi keharaman pada memakan saja. Akan tetapi, keharaman terhadap harta yang diperoleh dengan cara tidak benar mencakup seluruh jenis pemanfaatan. Seseorang yang memperoleh harta dengan cara yang tidak benar, baik itu judi, korupsi, mencuri dan sejenisnya, haram hukumnya memanfaatkan harta tersebut .

Para ulama membagi sesuatu yang diharamkan dalam dua kategori: pertama, haram secara dzatnya. misalnya, daging babi, daging anjing, bangkai, darah dan sejenisnya. Kedua, haram secara hukum. Bisa jadi sesuatu itu halal secara dzat, hanya saja cara memperolehnya tidak sesuai dengan syariat maka haram pula mengkonsumsinya. Misalnya, buah-buahan hasil curian, uang hasil korupsi, uang hasil judi dan lain-lain. Allah swt mengharamkan kedua jenis harta di atas.

Abu Mas’ud Al-Anshari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw melarang menerima bayaran jual-beli anjing, bayaran zina dan bayaran praktek perdukunan (sihir).”(HR Bukhari Muslim) hadits ini bisa menjadi landasan keharaman suatu harta yang diperoleh dengan cara yang tidak benar.

Lalu bolehkah kita menggunakan harta tersebut untuk infak?

Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. 2:267)”

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci dan sedekah dari hasil korupsi (ghulul).” (HR An-Nasa’i)
Berdasarkan ayat dan hadits di atas, Allah swt tidak menerima sedekah harta yang diperoleh melalui cara yang tidak benar. Allah swt hanya akan menerima sedekah harta yang berasal dari sumber yang halal.

Bagaimana solusi atas harta yang diperoleh dengan cara yang tidak benar?

Harta yang diperoleh dengan cara yang tidak benar banyak ragamnya. Apabila seseorang memperoleh harta dengan mendzalimi dan mengambil hak orang lain, maka ia harus mengembalikannya. Misalnya, harta yang diperoleh melalui mencuri, mencopet, korupsi, merampok dan sejenisnya. Orang tersebut berdosa atas perbuatannya. Di sisi lain, ia berkewajiban untuk mengembalikan kepada orang yang berhak. Sedangkan bila harta itu diperoleh dengan mendzalimi orang lain secara umu bukan spesifik serta sulit untuk mencari orangnya, ia bisa mendistribusikan harta yang diperoleh dengan cara tidak benar itu kepada wilayah kemaslahatan umum. Misalnya, ia bisa menggunakannya untuk pembangunan jalan, jembatan atau fasilitas umum lainnya. Hanya saja, ia tidak mendistribusikannya untuk pembangunan masjid.

Apakah seseorang mendapatkan pahala dari sedekah harta yang diperoleh dengan cara yang tidak benar?

Apabila seseorang mendapatkan harta haram dengan usahanya, ia berdosa dengan usahanya itu. Apabila ia infakkan harta tersebut ia tidak akan mendapatkan pahala atas infak tersebut. Sedangkan bila ia infakkan karena ia tidak mau memakan harta haram dan pertaubatan, ia mendapatkan pahala atas niat baiknya.

Berbeda halnya seseorang yang mendapatkan harta haram bukan karena usaha dirinya atau ia mendapatkannya karena suatu aturan dan kebutuhan darurat. Misalnya, seseorang memperoleh bunga dari tabungannya yang ia tidak bisa melepaskan diri darinya. Padahal, ia menabung bukan untuk mendapatkan bunga. Bunga itu tetap haram baginya. Apabila ia menginfakkannya, ia tidak akan mendapatkan pahala atas infak itu. Ia bisa mendapatkan pahala dari niat shalihnya untuk melepaskan diri dari harta haram yang datang bukan atas kemauan dirinya.
Wallahua’lam.

Katika Imam Shalat Isya, Makmum Shalat Maghrib
Hamba Allah | Tue 05/02/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Bagaimakah Hukum orang yang shalat maghrib dengan bermakmum kepada imam yang shalat isya’? Hal ini bisa terjadi ketika dalam perjalanan dan menjama’ takkhir. Ketika ke masjid, imam sedang shalat isya’ sementara dirinya belum shalat maghrib.

Dijawab Oleh : Administrator Web

Wa’alaikum salamwarahmatullahiwabarakatuh
Para ulama sepakat bahwa shalat jamaah lebih baik daripada shalat sendiri. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa kesamaan niat bukanlah suatu keharusan dalam shalat jamaah. Seseorang boleh bermakmum kepada imam yang berbeda niat dan shalat. Tentu saja, hal ini tidak akan ada persoalan ketika seseorang bermakmum kepada imam yang rakaatnya lebih sedikit. Sebab, tatkala imam salam, makmum bisa menambahkan kekurangan rakaatnya sebagaimana yang terjadi pada makmum yang masbuq (ketinggalan rakaat).

Persoalan baru muncul tatkala jumrah rakaat makmum lebih sedikit dibandingkan rakaat imam. Hal ini dapat terjadi pada orang yang menjama’ takkhir shalat. Ia shalat maghrib sedangkan imamnya shalat isya’. Ia shalat tiga rakaat sedangkan imam harus shalat empat rakaat.

Para ulama berbeda pendapat tentang shalat jamaah yang jumlah rakaat makmum lebih sedikit daripada shalat imam.

Pendapat pertama: makmum shalat maghrib bersama imam hingga rakaat ketiga. Pada saat imam bangkit memasuki rakaat ke empat, makmum duduk tasyahhud dan berdoa. Makmum terus duduk dan menunggu imam. Ia salam bersama dengan imam. Imam Nawawi menguatkan pendapat ini.

Pendapat kedua, makmum ikut shalat bersama imam hingga rakaat ketiga. Tatkala Imam berdiri ke rakaat ke empat, makmum duduk, tasyahhud dan langsung salam. Setelah itu, ia bisa bergabung dengan imam untuk melaksanakan shalat isya’. Imam Nawawi berpendapat bahwa hal ini diperbolehkan. Imam Nawawi, dalam Majmu’, mengatakan, “Dan apabila takaat makmum telah lengkap lebih dahulu, ia tidak boleh mengikuti imam dengan menambah(rakaat). Namun, ia bisa memisahkan diri (mufaraqah) ketika bilangan rakaatnya lengkap, tasyahhud dan langsung salam. Tidak ada perbedaan (dalam madzhab) bahwa shalatnya sah. Sebab, dirinya memisahkan diri karena ada udzur terkait dengan shalat. Namun ia juga bisa menunggu dengan tasyaahud serta memperpanjang doa hingga Imam menyelesaikan rakaatnya. Ia pun salam setelah imam salam.” Hanya saja, terkait cara yang kedua ini, ulama hanafiah dan malikiah tidak sepakat. Mereka berpendapattidak diperolehkan memutus di tengah-tengah tatkala shalat berjamaah.

Pendapat ketiga: makmum bisa ikut shalat isya’ berjamaah bersama imam. Jadi, ia langsung shalat isya bersama imam sampai akhir. Setelah selesai shalat isya’ berjamaah, ia melaksanakan shalat maghrib. Untuk cara ini, ia tidak berkewajiban mengulangi shalat isya’.

Pendapat ke empat: Melaksanakan shalat maghrib sendiri. Setelah itu, ia bergabung bersama imam untuk melaksanakan shalat isya’.

Para ulama kontemporer berpendapat bahwa semua cara di atas diperbolehkan. Hanya saja, cara yang pertama itu lebih afdhal. Pertama, tidak ada perbedaan di antara ulama tentang diperbolehkan cara ini. Ada satu kaidah dalam fikih, “keluar dari perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang disukai”. Kedua, dalam salah satu bentuk shalat khauf, Imam duduk menunggu sebagian makmum untuk melengkapi rakaat dalam shalatnya dan mereka pun salam bersama-sama dengan imam. Hal ini bisa memberikan gambaran ketika makmum telah lengkap bilangan rakaatnya, ia bisa menunggu imam untuk salam setelahnya. Wallahu a’lam.

Hukum Penggunaan Dana Zakat untuk Pembangunan Masjid
Yatim | Wed 30/01/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Saya ingin bertanya, bolehkan menggunakan dana zakat untuk pembangunan masjid? Terimakasih. Wassalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Dijawab Oleh : Administrator Web

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Saudara Yatim yang dirahmati Allah swt, pada surah At-Taubah, Allah swt berfirman:

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya,untuk (memerdekaan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. 9:60)

Para ulama berbeda pendapat tentang penggunaan dana zakat untuk pembangunan masjid. Perbedaan pendapat ini bersumber dari perbedaan penafsiran tentang kata “fii sabilillah”.

Pendapat pertama: melarang penggunaan dana zakat untuk pembangunan masjid. Sebab, menurut mereka kata fii sabilillah berarti berperang di jalan Allah swt. Di samping itu, kata “innama” para awal ayat memiliki fungsi hashr dan itsbat (pembatasan cakupan dan penetapan), sehingga kata “fii sabilillah” tidak bisa ditafsirkan dengan semua bentuk kebaikan. Mereka juga berhujjah bahwa makna suatu kalimat dalam Al-Qur’an harus ditafsirkan sesuai dengan pengertian kalimat tersebut pada waktu turunnya ayat. Pendapat yang pertama ini adalah pendapat sebagian besar ulama.

Pendapat kedua: boleh menggunakan dana zakat untuk pembangunan masjid. Menurut mereka, kata fii sabilillah mencakup semua yang memiliki nilai kebaikan. Pendapat yang kedua ini adalah pendapat Imam Ar-Razi dan Imam Al-Kasani. Sedangkan Syaikh Rasyid Ridha dan Syaikh Mahmud Syalthut menafsirkan kata “fiisabiilillah” dengan: segala sesuatu yang berhubungan dengan kemaslahatan umum umat muslim.

Pendapat ketiga: boleh menggunakan dana zakat untuk masjid ketika darurat. Hukum asalnya tidak boleh menggunakan dana zakat untuk masjid. Hanya saja, zakat bisa digunakan untuk membangun masjid ketika: tidak ada dana lain untuk membangun masjid selain dana zakat, belum ada masjid sedangkan kebutuhan masjid sangat dibutuhkan, kebutuhan fakir miskin terdekat telah terpenuhi, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat shalat saja tapi juga berfungsi untuk menegakkan dan memperjuangkan agama Allah. Jadi, masjid ini harus berfungsi sebagai tempat shalat dan pusat dakwah Islam untuk menolong dan memperjuangkan agama Allah. Ketentuan-ketentuan itu hanya dapat terpenuhi pada daerah-daerah terpencil dan miskin atau pada negara-negara yang muslimnya minoritas.

Menurut hemat kami, pendapat yang ketiga ini memiliki landasan yang cukup kuat. Pendapat ini tidak mengeluarkan kata fii sabilillah dari makna berperang di jalan Allah atau memperjuangkan agama Allah. Syaikh Yusuf Al-Qardhawi menguatkan pendapat yang ketiga ini.
Wallahu a’lam.

Hukum Zakat Tanah Investasi Jangka Panjang
Widodo | Tue 29/01/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Saya ingin bertanya, apakah tanah sebagai investasi jangka panjang termasuk harta yang wajib dikeluarkan zakatnya? Bagaimanakah cara mengeluarkan zakat tanah yang menjadi sarana investasi jangka panjang?

Dijawab Oleh : Administrator Web

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Para ulama sepakat bahwa hukum asal tanah tidak termasuk harta wajib zakat. Sebab, status asli harta berupa tanah adalah sebagai penunjang kehidupan. Hal ini berdasarkan pada hadits Rasulullah saw, “Tidaklah ada kewajiban zakat bagi orang muslim atas hambasahayanya dan kuda tunggangannya.” (HR Bukhari Muslim).

Mereka menamakan harta tersebut dengan harta untuk qunyah. Di saat yang sama, ulama sepakat juga sepakat bahwa tanah yang dijual belikan, sebagai barang bisnis, menjadi harta yang wajib dikeluarkan zakatnya setiap tahun bila telah mencapai nishab. Sebab, ketika tanah itu diperjualbelikan maka statusnya telah menjadi barang dagangan (‘urudhuttijarah). Dan ulama sepakat bahwa barangdagangan termasuk harta wajib zakat.

Lantas, bagaimana dengan tanah yang niatnya dijadikan barang investasi jangka panjang; yang pemiliknya menjadikan tanah tersebut sebagai harta simpanan yang akan ia jual beberapa tahun ke depan bila membutuhkan uang?

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa tanah yang diperoleh dengan membeli dan akan dijual pada waktu yang akan datang dengan harapan mendapatkan keuntungan termasuk barang dagangan. Dengan begitu, pemilik tanah itu harus mengeluarkan zakatnya setiap tahun atas nilai tanah tersebut.

Ulama madzhab Maliki membagi perdagangan dalam dua kategori. Pertama, pegagang al-mudir (setiap waktu menawarkan barang). Untuk kategori ini ia berkewajiban menzakati barang dagangannya setiap tahun. Hal ini berlaku bagi orang-orang yang berbisnis property yang menjual setiap waktu.

Kedua, pedagang al-muhtakir (menyimpan jangka panjang). Pedagang ini tidak menjual barangnya setiap waktu. Akan tetapi, ia berniat menahan hartanya untuk beberapa tahun dan menjualnya setelah ia mendapatkan keuntungan. Untuk kategori kedua ini, ulama malikiah berpendapat ia menzakatinya setelah menjual hartanya itu satu tahun ke belakang. Sedangkan sebagian besar ulama tidak membedakan antara keduanya. Artinya, keduanya wajib mengeluarkan zakat setiap tahun.

Menurut hemat kami, pendapat madzhab Maliki itu cukup kuat. Apabila seseorang membeli tanah untuk investasi jangka panjang berarti tanah itu bukanlah sebagai barang dagangan. Ia telah berniat untuk tidak menjual tanah itu dalam beberapa waktu. Dengan begitu, dalam waktu tersebut status tanah itu adalah tanah qunyah. Ia tidak berkewajiban menzakatinya. Ia baru berkewajiban menzakatinya setelah menjual tanah itu satu kali untuk satu tahun yang berlalu.

Dan perubahan status dari qunyah ke barang dagangan tatkala pemilik tanah investasi itu berniat dan memulai aktifitas menjual tanahnya.Hanya saja, dalam kurun waktu tunggu, tidak selayaknya bila ia membiarkan tanah itu tanpa dimanfaatkan sama sekali. Ia bisa menyewakan tanah itu dan mengeluarkan zakat dari hasil sewanya.

Apabila seseorang memiliki tanah investasi yang cukup luas, namun tidak memanfaatkannya sama sekali berarti ia telah melakukan tabdzir (pemborosan). Sedangkan perbuatan tabdzir merupakan perkara yang terlarang dalam Islam.
Wallahu a’lam

Memberi Zakat kepada Orang yang Tidak Shalat?
08134357xxxx | Tue 29/01/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Bolehkah zakat (dalam bentuk sembako) diberikan kepada fakir miskin (tukang becak, buruh kasar dll) yang tidak shalat dan tidak berpuasa?

Dijawab Oleh : Administrator Web

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Pertama, para ulama berbeda pendapat tentang hukum memberikan zakat dalam bentuk sembako. Untuk zakat fitrah, ulama sepakat boleh memberikan zakat fitrah dalam bentuk bahan makanan pokok. Adapun untuk selain makanan pokok, para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama melarang dan sebagian ulama membolehkan. Sedangkan memberikan zakat mal dalam bentuk sembako, sebagian ulama melarang karena zakat mal harus sesuai dengan harta yang dikeluarkan zakatnya. Sementara ulama yang lain berpendapat bahwa zakat boleh dikeluarkan dalam bentuk selain jenis harta yang dizakati bila ada kemaslahatan yang kuat.

Kedua, ulama berbeda pendapat terkait memberikan zakat kepada orang yang tidak shalat atau tidak puasa sama sekali. Perbedaan pendapat ini bersumber dari perbedaan pandangan ulama terhadap orang yang meninggalkan shalat secara total; apakah masih berstatus muslim ataukah tidak?

Sebagian ulama menghukumi orang yang meninggalkan shalat secara total sebagai orang yang keluar dari Islam, maka ia tidak berhak menerima zakat. Sedangkan sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat, tanpa menentang kewajiban shalat, masih berstatus sebagai seorang muslim. Maka, orang miskin yang semacam ini masih boleh menerima zakat.

Ketiga, pada dasarnya kita menilai seseorang berdasarkan pada pengakuan atau penampilan luarnya. Apabila seseorang mengaku sebagai muslim kita menghukuminya sebagai seorang muslim. Syariat tidak membebankan kepada kita untuk mencari-cari informasi apakah dirinya shalat lima waktu ataukah tidak. Sebab, mencari-cari sesuatu yang tidak Allah swt perintahkan merupakan tindakan takalluf (berlebihan).

Keempat, lebih baik bila kita memberikan zakat kepada orang yang benar-benar membutuhkan dan memiliki komitment agama yang kuat. Membantu orang yang taat berarti membantu seseorang untuk taat kepada Allah swt. Walau demikian, seorang muslim yang taat maupun kurang taat (dalam tataran masih sebagai muslim) berhak menerima zakat apabila terdapat kriteria mustahik zakat pada dirinya.
Wallahu a’lam.

Hukum Harta Zakat untuk Imam dan Takmir Masjid
Setiawan | Tue 29/01/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Apakah marbot masjid dan ustad/ imam masjid berhak atas dana zakat dari golongan fi sabilillah? Mohon penjelasannya.

Dijawab Oleh : Administrator Web

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Semoga Allah swt memberikan keberkahan selalu kepada saudara dan keluarga.
Para ulama berbeda pendapat tentang fii sabilillah pada surah attaubah ayat 60 tentang orang-orang yang berhak menerima zakat.

Pendapat pertama, pendapat sebagian besar ulama, kata fii sabilillah pada ayat di atas adalah jihad di jalan Allah swt. Artinya, salah satu penerima zakat adalah orang-orang yang berperang di jalan Allah dan segala keperluan yang terkait dengan perang tersebut.

Pendapat kedua, sebagian ulama kontemporer berpendapat bahwa fii sabilillah pada ayat tersebut berarti jihad dalam arti memperjuangkan agama Allah. Jihad di sini bisa berarti jihad dengan fisik, jihad dengan lisan dan jihad dengan tangan. Para ulama mensyaratkan bahwa orang-orang yang berjihad dalam pengertian ini adalah orang yang secara mewakafkan dirinya dalam jihad tersebut secara penuh sehingga dia tidak bisa bekerja untuk keperluan yang lain. Apabila ia memiliki pekerjaan lain atau mendapatkan gaji dari pihak tertentu maka ia tidak berhak menerima zakat.

Pendapat ketiga fii sabilillah berarti segala bentuk kebaikan. Pendapat ini adalah pendapat Imam Ar-Razi.

Pendapat ke empat fii sabilillah adalah semua bentuk kemaslahatan umum dan bukan bersifat pribadi. Pendapat ke empat ini adalah pendapat Syaikh Rasyid Ridha dan Mahmud Syaltut.

Menurut hemat kami, pendapat yang kedua adalah pendapat yang cukup kuat. Kata fii sabilillah tidak bisa kita tafsirkan secara luas dengan pengertian segala bentuk kebaikan secara umum atau kebaikan yang terkait dengan kemaslahatan umum . Sebab, ayat di atas dimulai dengan kata Innama yang artinya hanyalah. Kata innama dalam bahasa arab memiliki fungsi pembatasan dan penetapan. Di samping itu, para ulama tafsir memiliki kaidah dalam tafsir: tafsir suatu ayat atau kata dalam Al-Qur’an harus sesuai dengan pengertian ayat atau kata tersebut pada saat turunnya ayat atau kata.

Dengan begitu, bila kata fii sabilillah diartikan dengan seluruh dimensi kebaikan berarti menghilangkan fungsi kata innama pada ayat di atas. Maka, pendapat yang kuat adalah pendapat yang mengartikan “fii sabilillah” dengan jihad dengan segala dimensinya. Jihad fisik, tangan, lisan dan tulisan. Tentu saja, orang berjihad yang berhak menerima zakat adalah orang yang melakukannya secara totalitas. Seluruh waktu yang ia miliki ia gunakan untuk memperjuangkan agama Allah sehingga ia tidak bisa bekerja pada bidang usaha untuk mencukupi hidupnya.

Bila kita mengacu pada kaidah ini, maka: imam masjid, takmir, ustadz sebagaimana pada umumnya tidak termasuk orang yang berhak menerima zakat dalam kerangka fii sabilillah. Imam masjid dan takmir masjid mungkin mendapatkan zakat bila ia termasuk dalam kategori miskin atau tidak mampu. Ia bisa mendapatkannya bukan dalam kategori fii sabilillah, tapi dalam kategori fakir miskin.

Wallahu a’lam.

Zakat Uang Hasil Penjualan Rumah
Hari | Wed 23/01/2013 00:00:00

Assalamu alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Ustazd, kalau kita punya rumah, tanah, mobil yang kita jual tapi MERUGI, apa juga terkena zakat ( baik untuk dipakai sendiri maupun untuk jual beli)? Hitungan haul itu sejak rumah, tanah, mobil itu kita miliki atau sejak terjual. Terima kasih

Dijawab Oleh : Administrator Web

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara.
Para ulama menamakan harta yang diperoleh melalui penjualan, hadiah, warisan dan sejenisnya termasuk harta mustafad.

Para ulama sepakat apabila nilai harta tersebut mencapai nishab (senilai 85 gram emas) maka wajib dikeluarkan zakatnya 2,5 persen. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat tentang waktu mengeluarkan zakatnya.

Sebagian ulama berpendapat bahwa zakat dikeluarkan pada saat menerima harta tersebut. Jadi, tidak harus menunggu satu tahun. Pendapat ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Muawiyah dan Imam Zuhri dan salah satu riwayat Imam Ahmad. Syaikh Yusuf Al-Qardhawi merupakan salah satu ulama yang menguatkan pendapat ini.

Sedangkan sebagian ulama yang lain, berpendapat bahwa zakat dikeluarkan setelah genap satu tahun dari semenjak transaksi telah terjadi. Berbeda halnya dengan zakat perniagaan. Untuk zakat perniagaan, penghitungan haulnya dimulai dari semenjak kepemilikan modal yang mencapai nishab, bukan dari mulainya usaha perdagangan.

Adapun perubahan barang dari barang untuk fasilitas penunjang hidup atau bukan bisnis ke barang usaha bisnis bermula dari semenjak aktifitas jual beli.

Misalnya, Bapak A memiliki 3 rumah. sebelumnya, ia menjadikan rumah tersebut sebagai rumah tempat tinggal. pada suatu kesempatan, ia berniat membisniskan rumahnya untuk mendapatkan keuntungan. Maka, ketika Bapak A itu mulai melakukan usaha untuk memasarkan rumahnya semenjak itulah rumah tersebut berstatus sebagai barang dagangan atau ‘uruduttijarah.

Wallahu a’lam

Zakat Bisnis Emas
Kunto A.K | Tue 22/01/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Saya saat ini usaha jual beli emas, untuk penghitungan zakat perdagangan emas caranya bagaimana, ya? Mengingat pada tanggal 23 Oktober 2012 sudah berjalan satu tahun.Terima Kasih..

Dijawab Oleh : Administrator Web

Wa’alaikumsalamwarahamtullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada Bapak dan keluarga.

Pada dasarnya, penghitungan zakat perniagaan dan zakat harta yang berupa uang, emas, perak dan tabungan hampir memiliki kesamaan. Untuk zakat perniagaan, termasuk perniagaan emas, ada dua hal penting terkait dengan penghitungan zakatnya.

Pertama, penghitungan pencapaian nishab. Untuk nishab zakat perniagaan, penghitungannya tergabung dengan harta lain yang sejenis seperti: simpanan, deposito, emas, uang dan yang lainnya. Sedangkan dari asset perniagaannya yang masuk dalam penghitungan adalah nilai barang dagangan dan uang yang ada. Sementara sarana perniagaan tidak masuk dalam penghitungan harta zakat.

Adapun nishab zakat perniagaan adalah 85 gram emas atau senilai dengannya. Sebagai ilustrasi, misalnya Bapak A bisnis emas perniasan. Akumulasi emas yang ia perjual belikan + uang kas perniagaannya adalah 35 juta. Di saat yang sama, Bapak A memiliki tabungan senilai 10 juta dan uang cash di luar usaha perdagangan senilai 5 juta. Cara penghitungan pencapaian nishabnya adalah: 35 juta + 10 juta + 5 juta = 50 juta. Jadi, yang dihitung bukan hanya yang 35 juta saja, akan tetapi semua harta yang sejenis (seperti tabungan, uang cash, piutang yang akan cair dan lain-lain, walau pun harta yang lain itu telah dikeluarkan zakatnya). Dengan demikian, harta perniagaan bapak A telah mencapai nishab.

Kedua, terkait dengan jumlah dan waktu yang dikeluarkan. Adapun nilai zakat perniagaan adalah 2,5 persen. Apabila sebagian dari harta bapak A , sebagimana dalam contoh di atas, telah dikeluarkan zakatnya, maka harta yang sudah tidak dizakati itu tidak dihitung kembali di akhir tahun. Misalnya saja, 10 juta dari 50 juta di atas telah dikeluarkan zakatnya, maka zakat yang dikeluarkan adalah 2,5 persen dari 40 juta.

Sedangkan waktu mengeluarkan zakat adalah satu tahun dari semenjak mencapai nishab. Misalnya harta perniagaan itu mencapai nishab pada awal usaha, maka zakat dikeluarkan satu tahun setelah itu.

Wallahu a’lam

Hukum Menzakati Mobil
Damiansyah | Tue 22/01/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Apakah mobil termasuk. Kekayaan yang harus dizakati?
Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Dijawab Oleh : Administrator Web

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Pada dasarnya, hukum asal mobil adalah harta yang tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Sebab, fungsi utama mobil adalah sarana penunjang hidup seseorang. Pada ulama menyebutnya dengan qunyah.

Ketentuan ini berdasarkan pada hadits Rasulullah saw, “Tidak ada kewajiban atas seorang muslim untuk menzakati hamba sahayanya dan kuda tunggangannya.” (HR Bukhari).

Sedangkan dalam Imam Muslim juga menyebutkan suatu riwayat hadits , “Tidaklah seorang muslim itu berkewajiban menzakati hamba sahayanya kecuali zakat fitrah.”

Kedudukan mobil sebagai sarana penunjang hidup atau sarana transportasi dapat kita qiyaskan pada kuda tunggangan. Oleh karena itu, tidak ada kewajiban atas seorang muslim untuk menzakati mobil yang ia miliki.

Hanya saja, status mobil sebagai harta tidak wajib dizakati dapat berubah menjadi harta yang wajib dizakati bila status dan fungsi mobil itu berubah. Mobil seseorang berubah menjadi harta wajib zakat bila mobil tersebut berstatus sebagai barang dagangan atau berfungsi sebagai barang sewaan.

Apabila berubah menjadi barang dagangan, maka mobil itu harus dikeluarkan zakatnya dengan ketentuan zakat perdagangan. Zakat perdagangan dikeluarkan oleh seseorang yang hartanya telah mencapai nishab (senilai 85 gram emas) dan genap satu tahun. Untuk orang yang berbisnis mobil, maka zakat dikeluarkan dari nilai mobil tersebut dan bukan keuntungannya saja. Sedangkan nilai zakatnya adalah 2,5 persen.

Berbeda halnya bila fungsi mobil itu menjadi barang sewaan, maka zakatnya dikeluarkan dari hasil sewanya. Syaikh Yusuf Al-Qardhawi, ketua persatuan ulama international yang berdomisi di Qatar, berpendapat bahwa zakat yang dikeluarkan adalah 10 persen setelah dikurangi biaya operasional. Sedangkan batas nishab seseorang mulai berkewajiban mengeluarkan zakat adalah penghasilan sewa tersebut mencapai 653 kg beras atau senilai dengannya.

Wallahu a’lam.

Dana Zakat Untuk Orang Terlilit Hutang?
Hamba Allah | Tue 22/01/2013 00:00:00

Asslmualaikum warahmatullahiwabarakatuh.

Ustadz, bagaimanakah kriteria orang yang termasuk kategori “gharim” dalam masalah zakat? Kayaknya golongan ini sering luput dari perhatian BAZ maupun LAZIS.
trimakasih.

Wassalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh.

Dijawab Oleh : Administrator Web

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Gharim artinya orang yang terlilit hutang. Abu Hanifah memberikan gambaran bahwa gharim adalah orang yang menanggung hutang dan ia tidak memiliki harta lebih untuk membayar hutang.

Sedangkan Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad membagi gharim atau orang yang terlilit hutang dalam dua kategori: Pertama, orang yang berhutang untuk maslahat dirinya. kedua, orang yang berhutang untuk mashlahat publik.

Untuk kategori yang pertama, kriterianya adalah: seseorang yang berhutang untuk menafkahi kebutuhan pokok hidupnya dan ia tidak memiliki harta untuk membayar hutang tersebut. Toh, apabila ia memiliki harta, harta itu hanyalah cukup untuk menopang kebutuhan pokoknya. Dengan demikian, apabila seseorang terlilit hutang, namun ia memiliki aset harta yang lebih dari kebutuhan pokok, seperti : tanah selain untuk rumah, rumah kedua, properti, kendaraan di luar kebutuhan pokok, maka tidak termasuk gharim. Gharim berhak menerima zakat karena kedudukannya sama dengan fakir miskin yang tidak mampu memenuhi kebutuhan daruratnya.

Mujahid mengatakan: orang yang termasuk gharim adalah: orang yang hartanya hanyut terbawa banjir bandang, orang yang hartanya terbakar dan orang yang tidak memiliki harta lantas berhutang untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.

Dengan demikian, tidak semua orang yang sedang menanggung hutang termasuk kategori gharim yang berhak menerima zakat.

Gharim atau orang yang berhutang yang berhak menerima zakat adalah orang yang tidak memiliki harta untuk membayar hutangnya. Apabila ia memiliki harta, harta itu hanya cukup untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari. Apabila seseorang memiliki hutang dan di saat yang sama ia memiliki property lebih dari rumah yang ia pakai maka orang itu tidak termasuk kategori gharim.

Seseorang yang terlilit hutang dapat menerima zakat bila memenuhi beberapa kriteria, antara lain:

1. Membutuhkan harta untuk membayar hutangnya. apabila ia memiliki harta untuk membayar hutangnya, walau itu berupa properti, ia tidak berhak menerima zakat.
2. Latar belakang berhutang bukan dalam rangka bermaksiat kepada Allah.
3. Hutang telah jatuh tempo.

Sedangkan gharim kategori kedua, ialah orang yang berhutang untuk kemaslahatan publik atau umat. Misalnya, seseorang berhutang untuk membangun lembaga pendidikan yang untuk tujuan sosial bukan profit, membangun asrama yatim piatu dan lain-lain. gharim kategori pertama ini, menurut ulama, termasuk orang yang berhak menerima zakat. Syaikh Yusuf Al-Qardhawi berpendapat bahwa mereka termasuk orang yang berhak menerima zakat. Tentu saja, mereka berhak tatkala mereka tidak memiliki harta lebih dari kebutuhan pokok untuk membayar hutang.

Wallahu a’lam.

Mengapa Harus Zakat
Puteri | Tue 22/01/2013 00:00:00

Asalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Ustazd , saya ingin bertanya : mengapa setiap harta harus di keluarkan zakatnya ? terimakasih

Dijawab Oleh : Administrator Web

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Pada dasarnya, tidak semua harta wajib dizakati. Harta yang wajib dizakati adalah harta yang memiliki potensi untuk tumbuh dan tumbuh.

Dari sisi Maqashid syariah, salah satu tujuan zakat adalah mencegah terjadinya penumpukan dan penimbunan harta pada sekelompok orang. Harta yang wajib dizakati adalah harta yang harus terus bergerak. ketika harta itu tidak mengalami pergerakan dan penimbunan akan memiliki efek sosial yang besar. Emas atau uang yang disimpan tidak akan menggerakkan roda ekonomi. sedangkan fungsi utama emas atau uang adalah sebagai alat tukar yang menjadikan harta terus bergerak. ini salah satu maqahid zakat.

Sedangkan hikmahnya, zakat memberikan dampak menetralkan rasa cinta terhadap harta agar tidak berlebihan. Bersamaan dengan itu, ada nilai berbagi terhadap fakir miskin.

Ada juga harta yang tidak wajib zakat. Harta yang tidak wajib dizakati adalah harta yang tujuan utamanya untuk pemenuhan kebutuhan dasar. misalnya, rumah, kendaraan, fasilitas penunjang kehidupan dan sejenisnya. Selama harta itu berstatus sebagai penunjang kebutuhan pokok maka tidak ada kewajiban zakat. Akan tetapi bila harta itu berubah menjadi barang dagangan maka ada kewajiban zakat atas harta itu.

Wallahu a’lam

Hukum Dana Zakat Untuk Operasional Sekolah
Hamba Allah | Wed 16/01/2013 00:00:00

Assalaamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh.
Ustadz, saya punya PAUD (pendidikan anak usia dini), penghasilan paud dari spp murid hanya cukup untuk honor guru sekitar 80.000-100.000 per bulan (20 hari kerja). Kemudian adik saya ingin menitipkan zakat penghasilannya setiap bulan untuk menambah penghasilan guru paud tersebut dan juga untuk membantu biaya operasional PAUD ini. Bolehkah ustadz? Sebagai tambahan informasi : guru2nya ada 3 orang (1 orang laki2), semuanya sudah menikah dan memiliki anak. Jazakumullah atas penjelasannya.

Dijawab Oleh : Administrator Web

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Pendistribusian zakat untuk sekolahan, secara umum, termasuk persoalan kontemporer. Pada zaman Rasulullah saw tidak ada sekolah semacam PAUD dan sejenisnya yang menerima zakat. Tidak ada riwayat yang menyebutkan lembaga pendidikan sebagai penerima zakat.

Hanya saja, tidak semua persoalan yang tidak ada pada masa Rasulullah saw tidak ada hukumnya. Para ulama kontemporer berbeda pendapat tentang penyaluran dana zakat untuk lembaga pendidikan. Latar belakang perbedaan pendapat ini disebabkan perbedaan dalam menafsirkan kata “Fii sabiilillah( jalan Allah)” yang ada pada surah attaubah ayat 60.

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya,untuk (memerdekaan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. 9:60)

Pendapat pertama: sebagian besar ulama berpendapat bahwa “fii sabilillah” artinya jihad atau perjuangan untuk membela agama Allah di medan pertempuran. Pendapat ini adalah pendapat sebagian besar ulama. Dengan begitu, mereka tidak memperkenankan penggunaan dana zakat untuk lembaga pendidikan.

Pendapat kedua: ” fii sabilillah” artinya semua dimensi kebaikan. Pendapat ini adalah pendapat imam Arrazi. Pendapat ini, menurut sebagian besar ulama, pendapat yang lemah. sebab, apabila kata ” fii sabiilillah” diartikan dengan semua dimensi kebaikan akan menghilangkan fungsi kata “innama (hanyalah)” pada awal ayat yang menunjukkan fungsi pembatasan ruang lingkup (hashr).

Pendapat kedua: “fii sabilillah” mencakup semua unsur kepentingan umum atau orang yang mengurus kepentigan umum. Contohnya: lembaga pendidikan, jembatan, pengajar dsbg. Pendapat ini adalah pendapat Rasyid Ridha.

Menurut hemat kami, untuk guru PAUD dapat menerima zakat dari hak fakir miskin bukan karena berprofesi sebagai guru. Dengan penghasilan seperti yang saudara sebutkan tadi, maka guru tersebut berhak menerim zakat. Tentu saja, apabila guru tersebut tidak memiliki usaha lain atau sumber penghasilan lain yang menjadikan dirinya berkecukupan. Demikian pula tidak ada pihak yang menjamin kebutuhannya.

Adapun untuk lembaga paudnya, apabila PAUD itu khusus untuk fakir miskin dan muslim, maka boleh menerima dana zakat. Namun bila PAUD tersebut untuk semua masyarakat, sebaiknya menyalurkannya dari dana sedekah , bukan zakat. Dengan cara ini, kita dapat keluar dari perselisihan pendapat.
Wallahu a’lam.

Zakat Hasil Sewa Lahan Pertanian
[email protected] | Tue 15/01/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahwabarakatuh
Saya memiliki pertanyaan seputar bab zakat. Kami mempunyai tanah sawah dan disewakan. Berapa persen besar zakat yang harus dikeluarkan? siapakah yang harus membayar zakat (pemilik atau penyewa)?
Termasuk kategori zakat apakah hal seperti ini (pertanian/perniagaan atau yang lain)?

Terimakasih

Dijawab Oleh : Administrator Web

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Apabila penyewa itu menyewa dengan membayar uang kepada saudara, misalnya menyewa 5 tahun senilai 5 juta, maka pemilik tanah mengeluarkan zakat atas uang sewa yang ia terima pada saat menerima uang sewa itu saja. Menurut Syaikh Yusuf Al-Qardhawi, zakat atas uang sewa itu adalah 10 persen bila zakat dikeluarkan setelah dikurangi biaya operasional dan 5 persen bila zakat dikeluarkan dari hasil terima. Tentu saja, zakat dikeluarkan bila hasil sewa itu mencapai nishab senilai 653 kg beras. Sistem sewa semacam ini para ulama sepakat diperbolehkan.

Adapun system sewa tanah dengan pembayaran bagi hasil dari hasil tanah tersebut, para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama membolehkan hal tersebut berdasarkan sistem yang Rasulullah saw berlakukan terhadap tanah khaibar.

Sebagian ulama membolehkan, dengan syarat bibit tanaman berasal dari pemilik tanah. Dalam fikih metode ini dikenal dengan istilah muzaara’ah.

Sebagian ulama tidak memperbolehkan sistem sewa dengan pembayaran dari hasil tanah itu bila bibit tanaman berasal dari penyewa. Berapa berasalan bahwa akad tersebut mengandul unsur jahalah (ketidakpastian informasi tentang nilai sewa).

Menurut hemat penulis, boleh menyewakan tanah dengan bayaran sewa dari sebagian hasil tanah atau sawah yang ditanami. Sedangkan bibit bisa berasal dari pemilik tanah atau pekerja. Dengan syarat berdasarkan prinsip keadilan. Pendapat ini mengikuti pendapat Imam Mawardi, Ibnu Qayyim dan ulama yang lain.

Apabila menggunakan metode ini, maka sistem zakatnya adalah: pemilik tanah menzakati hasil panen yang menjadi jatahnya. Sedangkan orang yang menggarap tanah itu juga mengeluarkan zakat atas bagiannya. Sementara untuk pencapaian nishabnya berdasarkan nilai hasil panen yang diperoleh. Sedangkan prosentasi zakat yang dikeluarkan adalah: 10 persen dari bagian yang diterima bila pengairannya berasal dari air hujan atau sungai. Sedangkan bila pengairannya membutuhkan pembiayaan atau beli, nilai zakatnya adalah 5 persen dari hasil yang diterima.

Sebagai ilustrasi, Pak Ahmad adalah seorang pemilik tanah. Sedangkan Pak Hamid penyewa tanah untuk ditanami dengan akad bagi hasil pertanian dan benih berasal dari Pak Hamid. Ketika panen, tanah pak Ahmad menghasilkan 3 ton beras. Sedangkan system pengairannya berasal dari pembelian air disel. Sedangkan bagi hasilnya adalah: 40: 60. 40 persen untuk Pak Ahmad dan 60 persen untuk Pak Hamid. Bila kita perhatikan, hasil pertanian itu telah mencapai nishab karena lebih dari 653 kg beras (5 wasaq). Dengan begitu, Pak Ahmad mengeluarkan zakat 5 persen dari bagi hasil yang ia terima. Sedangkan Pak Hamid mengeluarkan zakat 5 persen dari bagi hasil yang ia terima. Wallahu a’lam

Hukum Kewajiban Zakat yang Belum Tertunaikan
Hamba Allah | Fri 11/01/2013 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Bagaimana jika harta sudah mencapai nishab sejak 3 tahun yang lalu tetapi belum pernah dikeluarkan untuk zakat maal? Harga emas tahun berapakah yg dipakai untuk menghitung nishab? Mohon contoh perhitungannya. Terima kasih

Dijawab Oleh : Administrator Web

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.
Para ulama sepakat apabila seseorang telah memiliki harta yang mencapai nishab dan genap satu tahun, lalu ia tidak mengeluarkan zakatnya hingga bertahun-tahun, maka kewajiban zakat di tahun-tahun yang telah lampau tidak gugur. Ini artinya, ia harus membayar zakat pada tahun-tahun yang telah lampau. Para ulama memasukkan zakat yang belum dibayar di masa lampau sebagai hutang kepada Allah swt. Dalam syariat Islam, hutang dibagi menjadi dua: hutang kepada makhluk atau sesame manusia dan hutang kepada Allah swt. Salah satu contoh hutang kepada Allah swt adalah: kewajiban zakat yang belum ditunaikan.

Adapun harta emas yang menjadi parameter nishab adalah harta emas murni yang berlaku dipasar. Misalnya, Ibu A memiliki uang 50 juta. Sedangkan nilai emas pergram saat ini adalah: 500.000. Maka nishab zakat harta adalah: 85 gram x 500 ribu= 42. 500.000. Dengan demikian, harta Ibu A telah mencapai nishab. Cara penghitungan nilai zakat yang harus dikeluarkan adalah: 50 juta x 2,5 %= 1.250.000 (nilai zakat yang harus dikeluarkan).

Wallahu a’lam.

Zakat Pertanian dan Perkebunan
Baharudin | Tue 08/01/2013 00:00:00

Ustadz, saya mempunyai sawah & kebun, masing-masing luasnya ada beberapa hektar. Ketika saya usai panen & sampai nisabnya dalam setahun, apakah zakat kebun ini sama dengan zakat pertanian tadah hujan atau sama dengan irigasi? Selanjutnya, apabila mengeluarkan zakat maal (pertanian atau perkebunan) apakah setiap panen atau setiap tahun?

Dijawab Oleh : Administrator Web

Bapak Baharudin, semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada Bapak dan keluarga.

Apabila Bapak memiliki kebun yang berbeda-beda tempatnya dan menggunakan sistem pengairan yang berbeda, maka nilai zakat masing-masing perkebunan atau pertanian itu juga berbeda. Perkebunan yang menggunakan tadah hujan atau pengairannya tanpa membeli seperti dari sungai, maka nilai zakatnya adalah 10 persen. Sedangkan perkebunan atau persawahan yang pemenuhan kebutuhan airnya dengan membeli maka nilai zakatnya adalah 5 persen. Apabila kadangkala pengairannya melalui air hujan dan kadangkala membeli maka nilai zakatnya 7,5 persen.

Dalam hal pencapaian nishab, hasil panen pertanian atau perkebunan yang sejenis dalam satu tahun, menurut sebagian ulama, dihitung secara tergabung. Perbedaan tempat, lokasi dan waktu dalam satu tahun tidak menghalangi pencapaian nishab.

Zakat pertanian dikeluarkan zakatnya setiap kali panen dan tidak harus menunggu genap satu tahun. Hanya saja, terkait dengan pencapaian nishab, hasil panen dalam satu tahun digabung sehingga mencapai nilai nishab (653 kg beras atau 5 wasaq). Sebagian ulama berpendapat hasil satu musim untuk pertanian yang satu jenis dihitung secara tergabung, tidak terpisah, untuk mencapai penggenapan nishab. Namun hal ini tidak menjadikan pengeluaran zakat dilakukan menunggu satu tahun. Allah swt berfirman dalam surah Al-An’am, ayat 141:

“Makanlah dari buahnya (yang bermaca-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya dihari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. 6:141)

Wallahu’alam.

Pemberian Sebelum Orang Tua Wafat apakah Warisan? Apakah Wajib dizakati?
Hamba Allah | Wed 02/01/2013 00:00:00

Ass, wr wb.

Setahun yang lalu ayah saya menjual sebidang tanah dan memberikan sebagian dari hasilnya kepada kami anak-anaknya, kemudian tak lama setelah itu beliau meninggal dunia karena penyakit yang telah lama dideritanya. Yang menjadi pertanyaan, apakah pemberian sebagian harta dari ayah saya sebelum beliau wafat termasuk harta warisan? Bila harta pemberian tersebut merupakan harta warisan, apakah harta tersebut wajib dikeluarkan zakatnya? Sebelumnya saya mendapatkan informasi yang mengatakan harta warisan tidak diwajibkan dikeluarkan zakat. Mohon kiranya saya mendapatkan penjelasan yang baik agar harta yang saya miliki bersih

Dijawab Oleh : Administrator Web

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh.
Apabila orang tua dalam keadaan sakit, lalu ia menjual sebagian dari tanahnya, lalu memberikan sebagian dari hasil penjualan itu kepada anaknya maka pemberian itu adalah pemberian  secara sah, apabila memenuhi beberapa syarat.  Pertama, sakit tersebut tidak parah dan tidak menghalangi seseorang untuk melakukan aktifitas yang berhubungan dengan uang atau harta. Kedua, bila pemberian itu dilakukan pada saat parah, pemberian itu dilakukan pada saat sembuh atau kondisi yang tidak mengancam nyawa. Ketiga, apabila seseorang memberikan harta secara langsung dan sempurna kepada anaknya di saat sakit parah, maka yang berlaku hanya sepertiga dari seluruh harta yang dimiliki. Apabila lebih dari sepertiga, maka kelebihan itu harus dikembalikan dan dijadikan harta warisan yang dibagi dengan cara islami.
Adapun terkait dengan harta warisan, apabila harta warisan itu berupa tanah atau harta tidak wajib zakat maka tidak ada kewajiban zakat atasnya. Namun bila harta warisan itu berupa uang, emas, barang perniagaan dan sejenisnya maka ada kewajiban zakat atas harta itu. Hanya saja, ada perbedaan tentang waktu mengeluarkan zakatnya.  Syaikh Yusuf Al-Qardhawi berpendapat bahwa harta Mustafa (seperti pemberian, hadiah, warisan, penjualan sesuatu asset) yang wajib dikeluarkan zakatnya pada saat menerima, tanpa harus menunggu haul atau genap satu tahun. Sementara ulama yang lain berpendapat zakat dikeluarkan setelah tersimpan satu tahun dari waktu menerima harta itu.
Wallahu a’lam

Antara Zakat Harta Warisan dan Rikaz ?
Heri P | Fri 21/12/2012 00:00:00

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh.
Mohon penjelasan atas dua hal:

1. Mengenai dalil mana yang bs dipakai hujjah untuk mempertemukan titik persamaan antara harta warisan dengan harta temuan (rikaz)?
2. Ketika keduanya ternyata memang sama,tidakkah kadar zakat warisan adalah 20% sebagaimana kadar zakat rikaz jg sebesar 20%?

Demikian, smg jawaban menjadi ilmu bermanfaat bagi banyak orang.
Jazakumullah khairan.

Dijawab Oleh : dian mulyadi

Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga. Pada dasarnya, para ulama kontemporer tidak ada yang menyamakan kedudukan harta warisan dengan barang temuan yang terpendam atau rikaz. Para ulama memasukkan harta warisan dalam kategori harta mustafad atau harta yang datang tiba-tiba. Sedangkan rikaz adalah harta temuan yang terpendam.

Apabila ada sebagian kalangan yang mengqiyaskan (analogi) harta warisan dengan rikaz, menurut hemat kami kuranglah tepat. Memang ada sebagian kalangan di Indonesia yang menganalogikan hadiah atau pun warisan dengan rikaz berdasarkan pada kesamaan bahwa keduanya diperoleh tanpa ada kerja keras. Hanya saja, perolehan tanpa kerja itu tidak bisa dijadikan sebagai illat karena bukan sifat yang tetap atau menyatu dengan harta.

Apabila kita merujuk pada kajian ulama kontemporer tentang zakat harta warisan, seperti DR. Wahbah Zuhaili dan DR Yusuf Al-Qardhawi serta ulama ternama yang lainnya, mereka semua berpendapat bahwa zakat harta warisan adalah 2,5 persen dan bukan 20 persen. Hanya saja, ada perbedaan pendapat tentang waktu mengeluarkan zakatnya. Syaikh Yusuf Al-Qardhawi berpendapat bahwa zakat dikeluarkan pada saat menerima warisan itu secara langsung , tanpa menunggu genap satu tahun. Sedangkan ulama hanafiah berpendapat zakat digabungkan dengan zakat harta yang lainnya, tanpa membuat haul baru. Artinya, seseorang mengeluarkan zakat atas warisan itu bersamaan dengan waktu orang tersebut biasa mengeluarkan zakat harta. Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa harta itu membentuk haul baru.

Sebagian ulama mengqiyaskan barang tambang, seperti emas, perak, minyak bumi, batu bara dan sejenisnya dengan rikaz atau barang terpendam. Adapun persamaan sifat yang menghasilkan hukum (illat) padanya adalah sama-sama barang terpendam. Oleh karena itu, ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa zakat barang tambang adalah 20 persen. Akan tetapi, sebagian besar ulama kontemporer berpendapat zakatnya sama dengan zakat harta, yaitu 2,5 persen.

Wallahu a’lam