News Dompet Dhuafa

Infak Harta dari Hasil Judi?

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Ustadz saya ingin bertanya :
1- Jika menginfaq / menyedekahka harta yang didapat dengan cara yang tidak halal, misalkan dari hasil taruhan bola, bagaimana hukumnya secara islam?
2- Saya beranggapan jika hasil uang haram saya gunakan / beli berupa barang tidak akan apa-apa. Karena setahu saya uang haram tidak boleh digunakan untuk membeli makanan karena akan menjadi dosa dan darah yang mengalir akan diteruskan ke anak kita. Apakan benar anggapan saya pa ustadz?
3- Apabila uang haram itu diinfaqkan, apakah seseorang mendapatkan barokahnya atau tetap berdosa?
Wassalam
tamaxxxxxx@gmail.com

Jawab:
Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Allah swt berfirman:
Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS. 2:188)

Para ahli tafsir mengatakan bahwa kata memakan yang ada pada ayat di atas merupakan penggambaran fenomena umum. Artinya, motivasi sebagian besar orang dalam memiliki harta adalah untuk memenuhi kebutuhan dirinya terhadap makanan. Jadi, penggunakan kata memakan pada ayat di atas bukan bertujuan membatasi keharaman pada memakan saja. Akan tetapi, keharaman terhadap harta yang diperoleh dengan cara tidak benar mencakup seluruh jenis pemanfaatan. Seseorang yang memperoleh harta dengan cara yang tidak benar, baik itu judi, korupsi, mencuri dan sejenisnya, haram hukumnya memanfaatkan harta tersebut .

Para ulama membagi sesuatu yang diharamkan dalam dua kategori: pertama, haram secara dzatnya. misalnya, daging babi, daging anjing, bangkai, darah dan sejenisnya. Kedua, haram secara hukum. Bisa jadi sesuatu itu halal secara dzat, hanya saja cara memperolehnya tidak sesuai dengan syariat maka haram pula mengkonsumsinya. Misalnya, buah-buahan hasil curian, uang hasil korupsi, uang hasil judi dan lain-lain. Allah swt mengharamkan kedua jenis harta di atas.

Abu Mas’ud Al-Anshari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw melarang menerima bayaran jual-beli anjing, bayaran zina dan bayaran praktek perdukunan (sihir).”(HR Bukhari Muslim) hadits ini bisa menjadi landasan keharaman suatu harta yang diperoleh dengan cara yang tidak benar.

Lalu bolehkah kita menggunakan harta tersebut untuk infak?

Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. 2:267)”

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci dan sedekah dari hasil korupsi (ghulul).” (HR An-Nasa’i)
Berdasarkan ayat dan hadits di atas, Allah swt tidak menerima sedekah harta yang diperoleh melalui cara yang tidak benar. Allah swt hanya akan menerima sedekah harta yang berasal dari sumber yang halal.

Bagaimana solusi atas harta yang diperoleh dengan cara yang tidak benar?

Harta yang diperoleh dengan cara yang tidak benar banyak ragamnya. Apabila seseorang memperoleh harta dengan mendzalimi dan mengambil hak orang lain, maka ia harus mengembalikannya. Misalnya, harta yang diperoleh melalui mencuri, mencopet, korupsi, merampok dan sejenisnya. Orang tersebut berdosa atas perbuatannya. Di sisi lain, ia berkewajiban untuk mengembalikan kepada orang yang berhak. Sedangkan bila harta itu diperoleh dengan mendzalimi orang lain secara umu bukan spesifik serta sulit untuk mencari orangnya, ia bisa mendistribusikan harta yang diperoleh dengan cara tidak benar itu kepada wilayah kemaslahatan umum. Misalnya, ia bisa menggunakannya untuk pembangunan jalan, jembatan atau fasilitas umum lainnya. Hanya saja, ia tidak mendistribusikannya untuk pembangunan masjid.

Apakah seseorang mendapatkan pahala dari sedekah harta yang diperoleh dengan cara yang tidak benar?

Apabila seseorang mendapatkan harta haram dengan usahanya, ia berdosa dengan usahanya itu. Apabila ia infakkan harta tersebut ia tidak akan mendapatkan pahala atas infak tersebut. Sedangkan bila ia infakkan karena ia tidak mau memakan harta haram dan pertaubatan, ia mendapatkan pahala atas niat baiknya.

Berbeda halnya seseorang yang mendapatkan harta haram bukan karena usaha dirinya atau ia mendapatkannya karena suatu aturan dan kebutuhan darurat. Misalnya, seseorang memperoleh bunga dari tabungannya yang ia tidak bisa melepaskan diri darinya. Padahal, ia menabung bukan untuk mendapatkan bunga. Bunga itu tetap haram baginya. Apabila ia menginfakkannya, ia tidak akan mendapatkan pahala atas infak itu. Ia bisa mendapatkan pahala dari niat shalihnya untuk melepaskan diri dari harta haram yang datang bukan atas kemauan dirinya.
Wallahua’lam.

Ketika Imam Shalat Isya’, Makmum Shalat Maghrib

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Bagaimakah Hukum orang yang shalat maghrib dengan bermakmum kepada imam yang shalat isya’? Hal ini bisa terjadi ketika dalam perjalanan dan menjama’ takkhir. Ketika ke masjid, imam sedang shalat isya’ sementara dirinya belum shalat maghrib.

Hamba Allah

Jawab:

Wa’alaikum salamwarahmatullahiwabarakatuh
Para ulama sepakat bahwa shalat jamaah lebih baik daripada shalat sendiri. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa kesamaan niat bukanlah suatu keharusan dalam shalat jamaah. Seseorang boleh bermakmum kepada imam yang berbeda niat dan shalat. Tentu saja, hal ini tidak akan ada persoalan ketika seseorang bermakmum kepada imam yang rakaatnya lebih sedikit. Sebab, tatkala imam salam, makmum bisa menambahkan kekurangan rakaatnya sebagaimana yang terjadi pada makmum yang masbuq (ketinggalan rakaat).

Persoalan baru muncul tatkala jumrah rakaat makmum lebih sedikit dibandingkan rakaat imam. Hal ini dapat terjadi pada orang yang menjama’ takkhir shalat. Ia shalat maghrib sedangkan imamnya shalat isya’. Ia shalat tiga rakaat sedangkan imam harus shalat empat rakaat.

Para ulama berbeda pendapat tentang shalat jamaah yang jumlah rakaat makmum lebih sedikit daripada shalat imam.

Pendapat pertama: makmum shalat maghrib bersama imam hingga rakaat ketiga. Pada saat imam bangkit memasuki rakaat ke empat, makmum duduk tasyahhud dan berdoa. Makmum terus duduk dan menunggu imam. Ia salam bersama dengan imam. Imam Nawawi menguatkan pendapat ini.

Pendapat kedua, makmum ikut shalat bersama imam hingga rakaat ketiga. Tatkala Imam berdiri ke rakaat ke empat, makmum duduk, tasyahhud dan langsung salam. Setelah itu, ia bisa bergabung dengan imam untuk melaksanakan shalat isya’. Imam Nawawi berpendapat bahwa hal ini diperbolehkan. Imam Nawawi, dalam Majmu’, mengatakan, “Dan apabila takaat makmum telah lengkap lebih dahulu, ia tidak boleh mengikuti imam dengan menambah(rakaat). Namun, ia bisa memisahkan diri (mufaraqah) ketika bilangan rakaatnya lengkap, tasyahhud dan langsung salam. Tidak ada perbedaan (dalam madzhab) bahwa shalatnya sah. Sebab, dirinya memisahkan diri karena ada udzur terkait dengan shalat. Namun ia juga bisa menunggu dengan tasyaahud serta memperpanjang doa hingga Imam menyelesaikan rakaatnya. Ia pun salam setelah imam salam.” Hanya saja, terkait cara yang kedua ini, ulama hanafiah dan malikiah tidak sepakat. Mereka berpendapattidak diperolehkan memutus di tengah-tengah tatkala shalat berjamaah.

Pendapat ketiga: makmum bisa ikut shalat isya’ berjamaah bersama imam. Jadi, ia langsung shalat isya bersama imam sampai akhir. Setelah selesai shalat isya’ berjamaah, ia melaksanakan shalat maghrib. Untuk cara ini, ia tidak berkewajiban mengulangi shalat isya’.

Pendapat ke empat: Melaksanakan shalat maghrib sendiri. Setelah itu, ia bergabung bersama imam untuk melaksanakan shalat isya’.

Para ulama kontemporer berpendapat bahwa semua cara di atas diperbolehkan. Hanya saja, cara yang pertama itu lebih afdhal. Pertama, tidak ada perbedaan di antara ulama tentang diperbolehkan cara ini. Ada satu kaidah dalam fikih, “keluar dari perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang disukai”. Kedua, dalam salah satu bentuk shalat khauf, Imam duduk menunggu sebagian makmum untuk melengkapi rakaat dalam shalatnya dan mereka pun salam bersama-sama dengan imam. Hal ini bisa memberikan gambaran ketika makmum telah lengkap bilangan rakaatnya, ia bisa menunggu imam untuk salam setelahnya. Wallahu a’lam.

DMC DD Respon Banjir Bekasi

BEKASI-Banjir merendam sebagian wilayah di Bekasi, Jawa Barat Senin, (4/2) malam hingga Selasa, (5/2) dini hari. Banjir terjadi akibat jebolnya Tanggul Kali Bekasi di bilangan Jati Asih. Ketinggian banjir 1,5 hingga 2 meter. Read more

Melihat Dekat Manfaat Zakat

Tak seperti Jakarta, sawah dan pepohonan hijau masih terhampar luas di Desa Palasarigirang. Udara sejuk tak ketinggalan menjadi pelengkap suasana desa yang terletak di Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini. Read more

Rasulullah The Social Entrepreneur

Rasulullah Muhammad is a multi-dimensional figure who sets an example for mankind. He became a personal plenary of all men to imitate his behavior. In the history of his life we can draw lessons for the improvement of our lives. In the context of social entrepreneurship, Rasulullah also is a Social Entrepreneur.

When Muhammad saw his surroundings, he felt there was a problem in the community. The problem that encompassed many facets of life. From the start of depravity, slavery, political hegemony and economic domination by a few members of society, rich and poor, and the gap was widening. The main cause of the many problems that occur in the midst of the society is the worship of man to man and man to worship objects (matter) that gave birth to paganism.

While aware of the problems in the community, Muhammad tried to find answers to the problem. Muhammad began to think hard and long reflection. Once a response has not been found, Muhammad continued to look, until he withdrew in the Cave of Hira. The answer was finally found through revelation comes from God. An answer to begin to provide a solution to the situation experienced by the surrounding community. This solution is a new innovation in the life of society at that time – an innovation that guided by the instructions of God’s revelation.

Rasulullah Muhammad SAW then start inviting people around him to make the change. Rasulullah Muhammad invited people to make improvements life. Day and night the Rasulullah Muhammad endless activities to engage the community. Step by step, people began to be interested with the call of the Rasulullah Muhammad. There was hope that the beauty of the new life brought by the Rasulullah Muhammad. Of course, some of the members of the community who refuse to call the Rasulullah Muhammad, and even against his way.

To make changes in the community, the Prophet Muhammad had to organize their activities properly. Prophet Muhammad had to mobilize resources to support the activities of the changes being made. Prophet Muhammad was well aware that a good cause will not be able to achieve without the organization and mobilization of resources are superior. Resource management includes the management of funds, non-financial assets, human resources, also including the management of natural resources. Join the skills of human resources in the ranks of the state of repair. Through tremendous struggle earnestness, coupled with superior activity management expertise, and leadership to the entrancing, the impact of the changes produced by the Prophet Muhammad began to be felt. The number of people who follow the Prophet Muhammad more and more. Support greater resources, most businesses have also donated wealth and profit improvement efforts to support the movement of the life led by the Prophet Muhammad. People are increasingly enlightened and started to leave the various issues that had clung them.

Even the impact of the changes brought by the Prophet Muhammad was no longer in the community or the community level, but have come to the scope of the state and nation. Community improvement movement has spread beyond national borders and the peninsula, to spread around the world. Prophet Muhammad had successfully doing the betterment of society, so the echoes seemed to shake every corner of the earth.

 

Pages:« Prev12...137138139140141142143...364365Next »