zakat

Pemuda dan Gerakan Zakat

Dalam setiap perkembangan masyarakat, pemuda berfungsi sebagai energi penggerak yang mendinamisir perubahan di dalamnya. Semangat keberanian dan kreativitas pemuda meniscayakan lahirnya gagasan-gagasan baru yang menyuntikkan proses rejuvenasi bidang kehidupan. Suasana monoton dan konvensional dalam suatu masyarakat telah diubah melalui keterlibatan dan dinamika pemuda.

Pemuda, sejatinya adalah makna kelompok usia tertentu dalam kelas sosial masyarakat. Pemuda dalam piramida penduduk, seringkali dimaknai sebagai kelompok usia di bawah 35 tahun. Namun kepemudaan sesungguhnya adalah ruh yang menggelora dalam dada setiap insan yang senantiasa memiliki keberanian, kreativitas dan inovasi untuk melahirkan sesuatu yang baru dalam menciptakan perbaikan keadaan.

Jika  kita menyelami perkembangan zakat di Indonesia, tak pelak kita akan menemukan fakta peran para pemuda dalam mengubah sejarah zakat di Indonesia. Pada periode sebelum akhir dasawarsa 80-an, suasana dunia zakat di Indonesia berkesan tradisional, konvensional dan monoton. Pada periode ini tidak tampak suatu gairah dan gelora dalam pengelolaan zakat di Indonesia. Sebagian masyarakat cenderung berpandangan miring terhadap pengelola zakat.

Memasuki penghujung 80-an dan awal 90-an, terutama dengan kemunculan organisasi-organisasi pengelola zakat “swasta”, dunia zakat mulai digerakkan oleh kaum muda yang rata-rata berusia di bawah 35 tahun. Bahkan sebagian besar awak pengelola zakat saat itu  berusia di bawah 30 tahun.  Para pemuda yang umumnya baru menamatkan bangku perguruan tinggi ini memasuki dunia zakat dengan membawa gelegak semangat dunia kemahasiswaan.  Mereka menjadikan pengelolaan zakat sebagai media baru idealisme perjuangan yang pernah dimiliki saat menjadi mahasiswa.

Kelompok pemuda inilah yang kemudian tanpa terbebani warisan masa lalu dunia zakat, melakukan terobosan-terobosan inovatif dalam pengelolaan zakat. Kelompok inilah yang akhirnya melahirkan model pengelolaan zakat yang lebih modern, terbuka, profesional, berorientasi manfaat untuk masyarakat dan menjadikan profesi pengelola zakat (amil) sebagai profesi yang dapat dibanggakan. Dalam perkembangan lebih jauh, kelompok pemuda inilah yang telah mewarnai pengelolaan zakat di Indonesia sebagai sebuah gerakan kemanusian, kepedulian dan pemberdayaan.

Dalam perkembangan lebih lanjut, tentu saja para pemuda ini telah meninggalkan makna lahir kepemudaan, karena sebagian dari mereka kini tidak berusia muda lagi. Kelompok pemuda dari generasi pertama pengelola zakat ini kini telah menjadi kelompok dewasa dengan bekal pengalaman yang telah dimiliki. Kearifan dan kematangan kelompok dewasa ini semoga terus menjadi inspirasi yang menuntun roda gerakan zakat. Kekuatan generasi pertama ini harus didukung oleh kelompok pemuda generasi kedua untuk tetap menjaga kesegaran dunia zakat.

Dunia zakat harus terus diisi oleh para fresh graduate dari perguruan tinggi yang masih menyimpan energi idealisme kepemudaan yang masih penuh. Dunia zakat juga harus senantiasa menyediakan ruang terbuka yang cukup bagi kalangan muda untuk melontarkan gagasan-gagasan penuh terobosan untuk mendinamisir perkembangan zakat di Indonesia. Dunia zakat harus mampu mengakomodasi kreativitas dan inovasi dari para pemuda untuk terus menggelorakan gerakan zakat.

Pengelolaan zakat juga harus mampu menjadi media penempa bagi berkembangnya kapasitas para pemuda. Baik ketika para pemuda tersebut mengembangkan dirinya dalam organisasi pengelola zakat, maupun ketika pengelola zakat melakukan kegiatan yang mengembangkan kemampuan pemuda. Beberapa kegiatan pendayagunaan zakat untuk mengembangkan pemuda misalnya adalah beasiswa untuk pelajar dan mahasiswa, pelatihan kewirausahaan untuk pemuda serta pembentukan organisasi relawan dan kepedulian untuk remaja.

Pada akhirnya, setiap proses pengembangan pemuda, termasuk yang terjadi dalam dunia zakat akan menyumbangkan lahirnya para pemimpin yang akan mewarnai perubahan masyarakat. Menjadi tugas semua pihak yang terlibat dalam dunia zakat untuk terus menjadikan unsur kepemudaan sebagai elemen penting dalam perkembangan gerakan zakat.


PPZ Malaysia Akan Pererat Kerjasama dengan Dompet Dhuafa

JAKARTA – Pusat Pungutan Zakat (PPZ) Malaysia menegaskan akan mempererat kembali kerjasamanya dengan Lembaga Amil Zakat Dompet Dhuafa. Pernyataan ini disampaikan Senior Head Community and International Affairs PPZ Malaysia, Encik Amran Hazali usai menjadi narasumber dalam Seminar Gelombang Ketiga Peradaban Zakat dan Penetapan Direktur LAZ Dompet Dhuafa di Auditorium Kementerian Agama RI, Jl MH Thamrin Jakarta, Senin (17/10).

“Hubungan yang terbina antara PPZ dengan Dompet Dhuafa sudah cukup lama terjalin dalam berbagai program,” ungkap Amran kepada wartawan.

Sementara itu, berkaitan dengan penetapan Direktur LAZ Dompet Dhuafa, Prima Hadi Putra, Amran mengaku cukup mengenalnya dan menganggap Putra sebagai orang yang tepat untuk memimpin LAZ Dompet Dhuafa.

“Sebagai kawan, saya melihat sosok Pak Putra sebagai orang yang tepat untuk memimpin LAZ Dompet Dhuafa. semoga di bawah kepeminpinannya, Dompet Dhuafa semakin bertambah maju dalam penghimpunan zakat dan program pemberdayaan lainnya,” pungkasnya.

LPI Dompet Dhuafa Tuntaskan Program SBI di Bengkayang

BENGKAYANG – Setahun sudah Program Pendampingan Sekolah Beranda Indonesia, Makmal Pendidikan, LPI Dompet Dhuafa dilakukan di SDN Saparan 05, Desa Kumba, Jagong Babai, Bengkayang, Kalimantan Barat.  Sabtu lalu (14/10) program tersebut resmi diselesaikan oleh Dompet Dhuafa.

Acara tersebut dihadiri oleh Dikdas Kabupaten Bengkayang Godelivus, Kepala UPT Dinas Pendidikan Seluas, K. Kardi, Kepala Sekolah SDN 05 Saparan, Sarno, perwakilan Makmal Pendidikan LPI Dompet Dhuafa, Surya Hanafi, perwakilan Dompet Umat, Soehartini, perwakilan dari Dompet Dhuafa, Niesky Hafur Permana serta guru-guru dari Sekolah Dasar se-UPT Seruas, Bengkayang.

Dikdas Kabupaten Bengkayang, Godelivus mengatakan, program Sekolah Beranda tersebut sangat membantu siswa dan guru di daerah yang berbatasan dengan Malaysia itu.

“Program yang dibuat oleh LPI Dompet Dhuafa ini sangat memberikan kontribusi berarti, kami akan menunggu program-program berikutnya dari Dompet Dhuafa,” ucap Godelivus di ruang UPT, Seluas, Bengkayang, Kalimantan Barat.

Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Saparan 05, Sarno merasakan banyak perubahan yang terjadi terhadap SD yang dipimpinnya tersebut. “Prestasi siswa menjadi bertambah, guru-guru juga menjadi aktif dan lebih mempunyai inisiatif dan kreatif. Kami ingin ini bukan program terakhir dari LPI Dompet Dhuafa di sini,” ujarnya. (nes)

Pages:1234...1516Next »