Zakat di Arab Saudi

Arab Saudi atau dikenal sebagai Saudi Arabia adalah negeri yang istimewa.  Karena di Arab Saudi terdapat Ka’bah yang menjadi kiblat menghadapnya sholat umat Islam seluruh dunia. Di Arab saudi juga terdapat Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sebagai dua masjid paling istimewa dalam pandangan kaum muslimin di dunia. Pada kedua masjid ini pahala melakukan ibadah sholat nilainya jauh lebih banyak daripada sholat di masjid manapun di dunia.

Setiap tahun jutaan umat Islam dari seluruh dunia datang melaksanakan ibadah haji di Arab Saudi. Dengan menggunakan berbagai moda transportasi, berbondong-bondong umat Islam mendatangi negeri Arab Saudi untuk melaksanakan prosesi haji yang menjadi rukun Islam kelima.  Seluruh pelaksanaan ibadah haji yang dilaksanakan oleh seluruh umat Islam sangat terkait dengan negara Saudi Arabia.

Selain melalui datangnya jamaah haji yang menghasilkan pendapatan besar, Arab Saudi juga memiliki sumber minyak yang luar biasa.  Dari penjualan minyak ini, Arab saudi dapat disebut sebagai negara yang kaya. Pantas bila selama ini Saudi Arabia disebut sebagai negara petro dollar. Meskipun begitu, tidak berarti di sana tidak ada orang miskin.

Ketika terjadi gelombang Arab Spring di kawasan Timur Tengah, di beberapa negara Arab terjadi gejolak tuntutan reformasi politik dari rakyatnya. Sebagian dari tuntutan itu berakhir dengan jatuhnya penguasa di negara-negara Timur Tengah. Mengantisipasi hal itu, Kerajaan Arab Saudi mengeluarkan kebijakan pemberian subsidi bagi penganggur di sana. Setiap warga negara Arab Saudi yang menganggur mendapatkan subsidi 2000 Riyal atau setara dengan Rp 4,5 juta per bulan. Selain pemberian subsidi, juga dikeluarkan kebijakan menutup hutang-hutang konsumtif warga negara oleh kerajaan.

Di Arab Saudi, zakat dikelola satu atap dengan pajak di bawah kementerian keuangan dengan nama Maslahtuz Zakat wad Dakhil. Di sana, zakat diwajibkan kepada individu dan perusahaan yang dimiliki oleh warga negara Arab Saudi. Untuk zakat individu, kerajaan Arab Saudi mempersilakan kepada warga negara untuk menyalurkan zakat kepada mustahik langsung atau melalui yayasan sosial. Tetapi zakat perusahaan, harus dibayarkan kepada Maslahatuz Zakat yang dikelola oleh Kementerian Keuangan.

Setiap perusahaan yang telah membayarkan zakatnya kepada Maslahatuz Zakat akan diberikan sertifikat sebagai tanda telah membayarkan zakat. Perusahaan-perusahaan yang memiliki sertifikat pembayaran zakat akan dimudahkan untuk perpanjangan izin usaha. Sebaliknya, perusahaan yang tidak memiliki sertifikat pembayaran zakat, tidak akan diperpanjang izinnya. Adapun perusahaan yang dimiliki bukan oleh warga negara Arab Saudi diwajibkan membayar pajak. Jadi zakat dibayarkan oleh perusahaan milik muslim, sementara pajak dibayarkan oleh perusahaan milik non muslim.

Sistem penerimaan zakat yang dikembangkan Maslahatuz Zakat seperti penerimaan pajak di Indonesia. Zakat yang dihimpun oleh Maslahatuz Zakat disalurkan ke Kementerian Sosial untuk disalurkan kepada mustahik. Saat ini jumlah perusahaan Arab Saudi yang membayarkan zakat melalui Maslahatuz Zakat mencapai lebih dari 400.000 perusahaan. Total dana yang dihimpun Maslahatuz Zakat adalah lebih dari Rp1000 Trlyun per tahun. Angka ini mencapai lebih dari 70 % APBN Indonesia.

Dengan jumlah zakat yang terhimpun sangat besar, sementara jumlah penduduk miskin di Arab Saudi lebih sedikit dibandingkan Indonesia, maka dana zakat di negeri ini memiliki kemampuan untuk mengatasi kemiskinan warganya secara memadai. Bahkan dana zakat Arab Saudi memiliki peluang untuk dapat didistribusikan ke negara-negara muslim lainnya yang kekurangan atau kelaparan. Di sinilah pentingnya kerjasama zakat antar negara patut untuk dikembangkan. Organisasi kerjasama zakat internasional seperti World Zakat Forum, hendaknya dapat membantu mengupayakan terjadinya kerjasama zakat internasional.

Bagikan Artikel ini :Facebook0Twitter0Google+0

One comment

Leave your comment

Your Name: (required)

E-Mail: (required)

Website: (not required)

Message: (required)

Send comment