Petani Melon Elan Buktikan Amanah Zakat Mampu Perluas Manfaat

Elan Maulana di salah satu green house yang siap dipanen.

JAWA BARAT — Di Kecamatan Langensari, Kota Banjar, berdiri barisan green house sederhana yang menjadi semangat perubahan sekelompok petani. Di baliknya, ada sosok Elan Maulana, Ketua Kelompok Melon Langensari, yang memulai langkah dengan keyakinan bahwa sesuatu yang kecil bisa tumbuh besar jika dirawat dengan kesungguhan.

Elan bukanlah petani yang sejak awal terbiasa dengan buah melon. Ia justru dikenal sebagai pribadi yang tak pernah berhenti belajar. Semangat untuk terus berkembang membuatnya berani bereksperimen membangun green house secara mandiri. Ia belajar otodidak dari berbagai sumber, dari bacaan, internet, hingga bertanya pada orang-orang yang lebih berpengalaman.

“Alhamdulillah, beberapa kali panen berhasil. Itu jadi titik balik saya,” kenangnya.

Proses pemindahan bibit melon yang sudah disemai ke dalam polybag.
Proses pemindahan bibit melon yang sudah disemai ke dalam polybag
Proses perawatan green house melon.
Proses perawatan green house melon

Elan memilih melon bukan hanya untuk coba-coba. Ia memilih melon, karena baginya, melon adalah komoditas yang punya daya jual tinggi, sekaligus peluang untuk mengubah nasib. Itulah yang membuatnya percaya diri menekuni usaha ini meski awalnya harus berjuang sendiri.

“Kalau di melon ini, yang menentukan harga adalah petaninya. Kalau kualitas dijaga, kita bisa menjual dengan harga yang bagus,” ujarnya dengan nada optimis.

Setelah merasakan hasil panen pertamanya, Elan sadar bahwa keberhasilan akan lebih bermakna jika bisa dibagikan. Ia lalu mengajak 11 orang di lingkungannya untuk bergabung. Mereka sepakat berkomitmen membangun kelompok green house melon. Dari sinilah perjalanan baru dimulai. Perjalanan yang tidak hanya tentang hasil panen, tapi juga tentang kebersamaan dan cita-cita bersama.

Baca juga: Gairah Kembali, Pak Ade Petani Nanas Bangkit Lewat IKON Dompet Dhuafa

Langkah Elan bersama kelompoknya semakin kuat ketika mereka dipertemukan dengan Dompet Dhuafa. Lembaga ini hadir melalui program pemberdayaan dari dana zakat, ditujukan bagi masyarakat yang benar-benar mau berdaya. Dukungan itu berupa intervensi modal usaha. Hasilnya, berdirilah tiga unit green house yang kini dikelola bersama oleh 12 anggota kelompok.

Program ini sudah berjalan dua tahun. Dalam kurun waktu itu, bukan hanya melon yang tumbuh, tapi juga kepercayaan diri, semangat, dan kesejahteraan para penerima manfaat. Jika dulu mereka hanya mengandalkan pekerjaan serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu, kini mereka memiliki sumber pemasukan tambahan yang lebih stabil. Bahkan, tak jarang hasil panen melampaui target keuntungan.

“Merasa bangga, menjadi manfaat bagi orang lain. Ketika saya punya ilmu, saya ingin membagikannya kepada orang-orang sekitar saya. Saya pun bukan siapa-siapa tanpa teman-teman anggota,” kata Elan.

Proses perawatan green house melon.
Proses perawatan green house melon
Elan di salah satu green house yang siap dipanen.
Elan di salah satu green house yang siap dipanen

Di balik usaha ini, Elan menyimpan kegelisahan yang lebih besar. Ia melihat semakin sedikit anak muda yang berminat bertani. Padahal, menurutnya, perkembangan teknologi pertanian sudah semakin maju dan seharusnya menarik generasi baru untuk terjun.

“Motivasi terbesar saya bergelut di dunia ini karena saya melihat kurangnya minat anak-anak muda bertani. Kalau hanya mengandalkan orang tua kita, sulit berkembang. Harusnya kita, generasi muda, yang mengambil peran,” tegasnya.

Baginya, melon hanyalah pintu masuk. Lebih penting dari itu adalah menanamkan kesadaran bahwa pertanian adalah jalan mulia untuk memberi makan banyak orang sekaligus membuka ruang kesejahteraan.

Elan dan kelompoknya juga memahami bahwa usaha ini bukan semata tentang keuntungan pribadi. Ada amanah besar yang menyertai. Program melon yang mereka jalankan adalah program zakat. Artinya, setiap modal dan fasilitas yang mereka kelola mengandung harapan besar dari para donatur.

“Maka kami selalu menanamkan kepada diri masing-masing untuk menjaga amanah ini. Di setiap dana yang kita manfaatkan untuk greenhouse melon ini, ada doa dari para donatur agar program ini berkembang, berkelanjutan, dan memberi manfaat luas,” tutur Elan penuh kesungguhan.

Baca juga: Solusi di Tengah Anjloknya Harga Sayur: Borong Sayur dari Petani, Bagikan Gratis ke Masyarakat

Kini, di balik deretan green house yang berdiri tegak, tersimpan hal lebih besar dari sekadar tanaman melon. Ada cerita tentang keberanian memulai, keteguhan menjaga kualitas, serta semangat berbagi yang melahirkan perubahan nyata. Ada pula harapan agar generasi muda kembali percaya pada potensi bertani, bukan hanya sebagai pekerjaan, tapi sebagai jalan untuk membangun kemandirian dan kebersamaan. Juga yang pasti, ada manfaat zakat yang berisi harapan besar dari para muzakki Dompet Dhuafa.

Bagi Elan, keberhasilan bukan hanya diukur dari jumlah keuntungan yang didapat. Lebih dari itu, ia merasa bangga karena bisa bermanfaat bagi orang lain, tumbuh bersama teman-temannya, dan menjaga amanah dari para donatur yang mempercayakan zakatnya.

Di Banjar, Elan dan kelompok Melon Langensari telah membuktikan bahwa zakat, jika dikelola dengan baik, dapat menumbuhkan tidak hanya hasil panen, tetapi juga harapan dan masa depan yang lebih cerah. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Riza Muthohar
Penyunting: Dhika