hit counter code


IDEAS Paparkan Hasil Riset Ilusi Mobilitas Ekonomi Di Indonesia (Bagian 2)

Advokasi, | Wed 01/2020 20:40:21
Dompet Dhuafa Post Image
Share

JAKARTA -- Dalam ilusi mobilitas ekonomi masyarakat, transisi anak keluarga miskin dan kelas menengah dibagi menjadi empat kuadran. Kuadran I diisi oleh orang-orang miskin. Kemudian kuadran II diisi oleh kelas menengah baru (yang sebelumnya miskin atau menempati kuadran I). Sedangkan kuadran III diisi oleh orang-orang kelas menengah, dan pada kuadran IV diisi oleh kelas menengah yang rentan untuk miskin (atau bisa dikatakan peralihan dari kuadran III).

Berdasarkan ilusi tersebut, Nur Rosifah memaparkan, menurut data yang dihimpun oleh IDEAS dari IFLS (Indonesia Family Life Survey) dalam rentang 21 tahun (1993-2014), ditemukan bukti empiris bahwa kelompok kaya jauh lebih mampu mempertahankan kesejahteraannya dibandingkan kemampuan mobilitas vertikal si miskin. Untuk mencapai kuadran II dari kuadran I sangatlah sulit. Sedang yang turun dari kuadran III ke kuadran IV sangat sedikit. Data tersebut membuktikan bahwa untuk mencapai kesejahteraan dari kemiskinan sangatlah sulit. Sedangkan yang sudah kaya, sedikit yang terjatuh ke kelompok rentan miskin.

“Dari 3.319 anak yang besar di keluarga tidak miskin pada 1993, 96,6 persen di antaranya mampu menjaga tingkat kesejahteraannya dan tidak miskin pada 2014. Hanya 3,4 persen diantaranya yang jatuh menjadi miskin. Si kaya memiliki peluang jauh lebih besar untuk mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan ekonominya dibandingkan si miskin,” papar Nur Rosifah.

IDEAS mencoba melakukan simulasi kenaikan garis kemiskinan dua kali lipat untuk memastikan bahwa kelompok miskin benar-benar telah sejahtera. Namun hasilnya terlihat jelas bahwa memang sangat sulit bagi kelompok miskin untuk naik ke kelas yang lebih tinggi.

Dengan standar kemiskinan yang lebih tinggi, dari 2.120 anak yang besar di keluarga miskin pada 1993, hanya 57,8 persen di antaranya yang mampu naik ke kelas yang lebih tinggi pada 2014. Sedangkan 42,2 persen di antaranya tetap miskin. Dengan standar kemiskinan yang lebih tinggi, dari 1.612 anak yang besar di keluarga tidak miskin pada 1993, 80,7% diantaranya mampu bertahan sebagai kelas menengah di 2014.

Yusuf Wibisono menambahkan, keadaan kemiskinan di Indonesia tak lepas dari pengaruh politik. Kekuatan kapital telah mendominasi sistem politik paska krisis. Oligarkhi ekonomi mampu mengubah peta dukungan suara. Motivasi keamanan dan mempertahankan kakayaan menjadi faktor terpenting bagi para elit kapital dan politik.

“Paska reformasi, Indonesia ternyata tidak beranjak dari negara patrimonial. Dibutuhkan reformasi ekonomi yang kuat untuk mencegah negara plutokrasi. Ketika kekuasaan sepenuhnya dikendalikan oleh pemilik kapital,” tutur Yusuf. (Dompet Dhuafa/Muthohar)