hit counter code


Kisah Relawan Rohingya: “Indahnya Menolong Sesama”

Kesehatan, | Thu 05/2015 10:18:36
Dompet Dhuafa Post Image
Share
Syahfitri, Relawan Dompet Dhuafa bersama salah satu pengungsi Rohingya di sela-sela kegiatan Sekolah Ceria Dompet Dhuafa. (Foto: Dompet Dhuafa)

Dua anak perempuan berumur sekitar delapan tahun terlihat akrab dengan seorang mahasiswi. Adayang duduk di pangkuan, ada juga yang menggelayutkan tangan ke leher mahasiswi tersebut. Sang mahasiswi tampak menikmati tingkah manja dari dua bocah bernama Fatima dan Moriza, anak-anak pengungsi Rohingya asal Myanmar.

Mahasiswi tersebut adalah Syahfitri atau Fitri, mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris semester enam IAIN Zawiyah Cot Kalla, Langsa. Sudah seminggu Fitri menjadi relawan di tempat pengungsian di Langsa. Di sana dia mengajar Bahasa Inggris untuk program Rumah Ceria yang digelar Dompet Dhuafa sejak 21 Mei lalu. Tidak hanya Rumah Ceria, Fitri juga membantu menyembuhkan trauma pengungsi di program Trauma Healing.

Menjadi relawan di Langsa adalah pengalaman pertama bagi Fitri. Di sini dia merasa senang karena mendapatkan teman baru yang satu visi untuk membantu pengungsi. Di sini pula Fitri bergabung dengan komunitas Dompet Dhuafa Volunteer (DDV).

Awal bergabungnya Fitri dimulai saat pertama kali datang ke tempat pengungsian di Langsa. Saat itu tim Dompet Dhuafa sudah datang. Di sana Fitri bertemu Iskandar dari tim Disaster Management Centre (DMC) Dompet Dhuafa. Iskandar lalu mengajak Fitri bergabung dengan DDV. Gadis asli Sumatera Utara yang mempunyai jiwa sosial ini langsung mengiyakan ajakan tersebut.

“Program yang dibuat oleh Dompet Dhuafa sama dengan apa yang dipikirkan saya”, ujar Fitri, saat dihubungi melalui telepon pada Rabu (27/5).

Selain itu, Fitri menilai bahwa Dompet Dhuafa berpengalaman di bidang kerelawanan. Orang-orang dari Dompet Dhuafa juga hangat dan terlihat mau kerja sama dengan relawan lain.

Rutinitas sehari-hari Fitri adalah mengajar Bahasa Inggris dari pukul sembilan hingga menjelang Dzuhur lalu dilanjutkan dari jam tiga sore hingga setengah lima sore. Di sela-sela istirahat Dzuhur, kadang Fitri bermain puzzle dan tebak angka bersama anak-anak.

Menjadi relawan, diakui Fitri, capek. Membantu pengungsi untuk mengisi hari-hari mereka secara sukarela bisa menjadi hal yang melelahkan. Namun hal tersebut tidak dirasakan oleh gadis berusia 21 tahun ini. Baginya, melihat pengungsi bisa tertawa dan dekat tanpa rasa canggung adalah bayaran yang setimpal. Bagi Fitri, tidak ada alasan untuk tidak menjadi relawan bagi anak muda.

“Dengan menjadi relawan, kita bisa mendapatkan teman baru, pengalaman baru. Ngga ada yang dirugikan kalau mau membantu sesama,” pungkas Fitri. (Erni)

 

Editor: Uyang