hit counter code


Harapan Baru untuk Pendidikan di Indonesia

Kesehatan, | Mon 06/2015 16:45:24
Dompet Dhuafa Post Image
Share

“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah "dosa" setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan,” Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Permasalahan pendidikan di Indonesia bukan menjadi rahasia lagi. Sebanyak 75 persen sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar layanan minimal pendidikan. Nilai rata-rata kompetensi guru di Indonesia hanya 44,5, sedangkan standar kompetensi guru adalah 75. Dua data tersebut merupakan hal buruk yang dicapai oleh pendidikan di Indonesia.

Dompet Dhuafa melalui Sekolah Guru Indonesia (SGI) berusaha meminimalisir permasalahan pendidikan di Indonesia. Di dalam SGI terdapat program School of Master Teacher (SMT) yang mana pada program tersebut para guru diberi pelatihan untuk menjadi guru yang berkarakter, yang dapat mengubah pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik.

Salah satu peserta SMT adalah I,id Marsono. Pria yang mengajar di Sekolah Dasar Negeri 19 Kubu Raya, Kalimantan Barat ini mengaku sekolah tempatnya mengajar berada di wilayah terpencil. Dari itu, meskipun berada di wilayah terpencil, ia tetap ingin memajukan pendidikan di tempatnya mengajar dengan menerapkan pola mengajar seperti yang telah diajarkan di SMT.

Selama mengikuti pendidikan selama 36 hari ia merasa mendapatkan hal baru di SMT. Pelajaran tak melulu diajarkan dengan hal-hal yang serius, tapi bisa juga diajarkan dengan kreativitas yang menarik dan inovatif. “Selama di SMT kita diajarkan untuk disiplin, mental kita juga dididik. Tapi, tak lupa keimanan juga selalu diteguhkan,” ungkap lelaki yang memperoleh JS Award saat wisuda SMT beberapa waktu lalu.

Ketika mengikuti SMT, ayah dari lelaki bertubuh tinggi ini meninggal dunia. Saat itu ayahnya berpesan padanya untuk smelanjutkan pendidikannya di SMT hingga tuntas. “Dari pesan ayah saya itu, saya bertekad untuk memajukan Indonesia, memberikan manfaat kepada orang lain, dan mendidik anak bangsa dengan sungguh-sungguh,” paparnya.

Menurutnya, Indonesia dapat terus maju dengan pendidikan yang baik dan guru yang bermartabat. Ia berharap guru-guru di Indonesia dapat mengajar dengan tulus dan selalu memberi motivasi kepada setiap peserta didiknya. “Kalau guru-guru mengajar dari hati dan ikhlas, saya yakin pendidikan di Indonesia akan berjalan dengan baik, meski di wilayah terpencil sekalipun,” ujarnya.

Setelah pulang ke wilayah masing-masing, para guru telah memperoleh pendidikan di SMT kembali dengan semangat mengajar yang baru. Kini, di pundak mereka masa depan anak-anak Indonesia terlihat semakin jelas. (Gita)

 

Editor: Uyang