hit counter code


Kongres Kemandirian 2014 Dompet Dhuafa, 100 Tokoh Ajukan Petisi Kemandirian

Kesehatan, | Mon 07/2014 16:10:00
Dompet Dhuafa Post Image
Share

JAKARTA- Seratus tokoh bangsa yang berasal dari akademisi, praktisi, dan aktivis mengajukan petisi kemandirian bagi calon presiden Indonesia. Petisi dihasilkan dalam Kongres Kemandirian 2014 Dompet Dhuafa, Selasa (20/5) di Gedung Patra Jasa, Kuningan, Jakarta.

Seratus tokoh yang hadir dalam kongres tersebut antara lain Marwah Daud Ibrahim, Bustanul Arifin, Erna Witular, Hamdi Muluk, Fahira Idris, Faisal Basri, Tri Mumpuni, dan Adrinof Chaniago.

Kongres Kemandirian 2014 Dompet Dhuafa digelar untuk melahirkan gerakan kebaikan. Gelaran ini juga diharapakan mendorong kelompok pakar dan tokoh mendentumkan ikrar keberpihakan bersama seraya selanjutnya merealisasikan hasil rumusan kongres.

“Karena momentum menjelang pilpres (pemilihan presiden), maka kita sebut kongres ini Kongres Kemandirian Petisi Seratus Tokoh untuk Calon Pemimpin. Kita berharap hal ini benar-benar menjadi masukan untuk penyelenggara negara,” kata Presiden Direktur Dompet Dhuafa Filantropi Ahmad Juwaini.

Momen Hari Kebangkitan Nasional dan gelaran pilpres dinilai tepat Indonesia bangkit untuk mandiri. Pasalnya, sebagai sebuah bangsa, Indonesia tidak hanya dianugerahi jumlah penduduk yang besar namun juga sumber daya alam yang melimpah dan beragam kearifan lokal.

“Selain kegiatan Dompet Dhuafa yang bersifat langsung membantu orang-orang miskin, Dompet Dhuafa juga mendorong agar bangsa ini dalam pengelolaan negaranya menjadi bangsa yang mandiri,” terang Ahmad.

Lebih lanjut Ahmad menerangkan, kongres berfokus pada konsep kemandirian dan juga implementasi program. Pada konsep kemandirian, kongres merumuskan bagaimana terwujudnya kemandirian ekonomi, kemandirian budaya, kemandirian pangan, energi, dan lingkungan, serta kemandirian politik, hukum, dan pertahanan.

Terkait implementasi program, seluruh tokoh meramu poin-poin rumusan yang telah dibahas untuk menghasilkan apa yang bisa dikolaborasikan dalam tataran aksi. Dengan begitu, kongres tidak hanya meninggalkan sebuah petisi, tetapi juga kontribusi nyata bagi kemandirian negeri.

Pembelajaran Dompet Dhuafa

Sebagai sebuah gerakan civil society 20 tahun lebih berkiprah, Dompet Dhuafa mempresentasikan dan menawarkan berbagai best practice dan model pemberdayaan yang selama ini dilakukan. “Berbagai pembelajaran tersebut di-share untuk kepentingan publik yang lebih luas,” ungkap Direktur Komunikasi dan Hubungan Eksternal Dompet Dhuafa Nana Mintarti.

Nana menjelaskan, berbagai inovasi program pemberdayaan Dompet Dhuafa menyasar di bidang Pendidikan, Ekonomi, Kesehatan, dan Social Development.

Berdasarkan data Kaleidoskop Dompet Dhuafa tahun 2013, sebanyak 370 siswa dhuafa dari 26 provinsi di Indonesia bersekolah di SMART Ekselensia sejak 2004. Sebanyak 184 guru telah dikirimkan Dompet Dhuafa ke 121 wilayah di 31 kabupaten daerah tertinggal, terluar, dan terdepan seluruh Indonesia sejak 2009 untuk menjadi guru bantu selama setahun. Lebih dari 4.000 orang memiliki life skill yang dikembangkan melalui kegiatan kewirausahaan (start up entrepreneur).

Lebih lanjut Nana menjelaskan, di bidang ekonomi, Dompet Dhuafa telah memberdayakan lebih dari 1968 peternak kecil dengan jumlah ternak lebih dari 4.818 ekor terdiri dari domba/kambing dan sapi sejak 2005. Sebanyak 12.136 kepala keluarga atau 32.268 jiwa telah menjadi pemetik manfaat program pemberdayaan pelaku usaha mikro yang tersebar di 11 provinsi, 31 Kabupaten/Kotamadya, 74 Kecamatan, dan 110 Desa/Kelurahan. Dalam memberdayakan petani, sebanyak 2.774 kepala keluarga (61 kelompok tani) menerima manfaat atau lebih dari 6.000 jiwa dengan luas lahan garapan petani 33.411 hektar. (gie)