hit counter code


Dompet Dhuafa dan Berbagai Ormas Serukan Peduli Palestina

Kesehatan, | Thu 08/2014 17:10:11
Dompet Dhuafa Post Image
Share
Foto: Gita/Dompet Dhuafa

JAKARTA—Ribuan massa yang berasal dari berbagai lembaga kemanusiaan dan organisasi melakukan aksi Solidaritas Save Palestine pada Jumat (11/4), di Bundaran HI, Jakarta. Mereka menyerukan kepedulian untuk Palestina dan mendesak agar zionis Israel menghentikan serangannya terhadap warga Palestina.

Dalam aksi tersebut, massa melakukan long march dari Bundaran HI menuju kantor perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jalan MH. Thamrin, Jakarta. Aksi ini diinisiasi oleh lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa, Forum Umat Islam (FUI), Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA), Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK), dan Punk Muslim.

“Sungguh memilukan nasib masyarakat Palestina. Kita, semua masyarakat yang memiliki hati nurani harus membantu masyarakat Palestina,” ungkap Presiden Direktur Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini.

Ahmad pun menyeru lembaga-lembaga internasional agar membantu warga Palestina danjuga bertindak untuk menghentikan kekejaman zionis Israel. Pasalnya, pembantaian dan penindasan di Palestina merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak bisa ditolerir oleh hukum internasional.

Menurut laporan Abdillah Onim, relawan Indonesia yang menetap di Gaza, Palestina, hingga Senin (7/7) lalu Israel telah meluncurkan lebih dari 300 roket ke Gaza. Imbasnya, warga sipil umumnya anak-anak, wanita, serta lansia yang tak berdosa menjadi korban kekejaman Israel.  

“Waktu yang menjadi langganan Israel untuk menyerang Gaza dengan roket melalui pesawat jet F16 adalah pada saat warga Gaza buka puasa dan pada saat santap sahur, itu benar-benar diserang habis-habisan,” demikian ungkap Abdillah melalui surat elektronik yang diterima Dompet Dhuafa.

Abdillah menambahkan, kondisi tersebut kian diperparah dengan masih diblokadenya perbatasan antara Gaza dan Mesir. Dengan demikian, segala bantuan sulit untuk masuk Gaza, terutama bantuan bahan makanan.

Terkait bantuan untuk warga Palestina, saat ini Dompet Dhuafa terus melakukan koordinasi dengan beberapa lembaga internasional di antaranya South East Asia Humanitarian (SEAHUM) Comitte. Palestine Welfare House serta mendorong komunitas Internasional lainnya, khususnya PBB untuk menghentikan serangan-serangan Israel.

Seruan dari Dompet Dhuafa bersama beberapa lembaga kemanusiaan dan organisasi lainnya dalam aksi solidaritas Save Palestine diharapkan dapat segera direspon oleh pihak-pihak tersebut. Dengan begitu, tidak ada lagi warga Palestina yang tak berdosa menjadi korban. PBB pun diharapkan dapat menuntut Israel atas kejahatan kemanusiaan yang terjadi.

Untuk tahap awal, Dompet Dhuafa sendiri mengalokasikan bantuan dana sebesar Rp 300 juta untuk kebutuhan makanan warga Palestina. Bantuan tersebut akan disalurkan melalui Jommah Al Najjar, relawan yang berada di Palestina. Selain itu, Dompet Dhuafa juga melepas relawannya pada Kamis, 10 Juli 2014 untuk diberangkatkan ke Gaza.

“Untuk itu, kami mengetuk hati semua masyarakat untuk peduli dan turut berpartisipasi membantu meringankan penderitaan warga Palestina, bantuan bisa disalurkan berupa donasi,” ungkap Ahmad.

Bantuan Dompet Dhuafa terhadap palestina bukan kali ini saja, sejak 2010 Dompet Dhuafa telah mendirikan program kemandirian pangan yang disebut Gaza Food Bank. Bergulirnya program Gaza Food Bank ini telah memberikan manfaat kepada warga di jalur Gaza, Palestina. Sekitar 70 Keluarga miskin, janda dan anak yatim rutin mendapat manfaat dari Gaza Food Bank.

Berdasarkan laporan bulan April 2014 dari Palestinian Welfare House Association (PWH), mitra Dompet Dhuafa di sana, sekitar 140 ekor kelinci tersalurkan setiap dua bulan.

Gaza Food Bank yang didirikan di atas tanah seluas 250 m2 ini bertujuan mendukung daya tahan (resilience) warga melalui revitalisasi sektor peternakan yang rusak.

Gagasan hadirnya Gaza Food Bank dilatarbelakangi terhadap kondisi lumpuhnya sendi-sendi Palestina, terutama jalur Gaza akibat serangan militer zionis Israel yang seakan tidak pernah berhenti. Akibatnya, terjadi embargo di Gaza sehingga suplai logistik pangan terhambat. Hal tersebut telah membuat kehidupan masyarakat Gaza yang berjumlah sekitar 1,5 hingga 1,7 juta jiwa menderita. (gie)