hit counter code


Agus Ruwantoro, Berjuang Di Tengah Gemerlap Kota Jakarta

Kesehatan, | Mon 08/2014 13:55:35
Dompet Dhuafa Post Image
Share
Foto Agus Ruwan di depan toko kelontong miliknya 

Tinggal di kontrakan sederhana di tengah kehidupan ibukota yang serba mewah berlatar gedung pencakar langit, tidak membuat Agus Ruwantoro (51) salah satu penerima manfaat Lembaga Pelayanan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa merasa minder. Berbagai profesi pekerjaan pernah dijalaninya, seperti menjadi supir taksi dan buruh pabrik untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

“Kebutuhan hidup semakin tinggi, makanya saya buka usaha aja. Soalnya hasil nyetir dan jadi buruh pabrik hasilnya sedikit,” terang bapak empat anak ini.

Agus, demikian sapaan akrabnya sehari-hari menceritakan, dulu semasa berprofesi sebagai supir taksi, perhari pendapatan yang diterimanya tidak menentu. Bila penumpang yang diperolehnya mencapai target, per harinya sekitar Rp 150 ribu. Namun bila sedikit penumpang yang diperolehnya, ia hanya memperoleh pendapatan sebesar Rp 75 ribu per harinya. Tentu, hal tersebut dirasanya tak mampu mencukupi biaya sehari-hari seperti kebutuhan dapur dan uang saku sekolah.

“Belum lagi biaya SPP anak saya yang masih SD dan SMP, aduh pusing juga mikirnya,” jelas warga Karet Tengsin, Jakarta Pusat ini.

Meski hidup dalam kesederhanaan ekonomi, Agus tak lantas hanya berpangku tangan saja. Dengan menggunakan uang pesangon yang diperolehnya dari pabrik yang sudah gulung tikar tersebut, ia membangun usaha warung kelontong di samping rumahnya. Bahan makanan kebutuhan pokok seperti beras, telur, makanan ringan, dan minuman dingin.

Selama lima bulan berjalan, usaha warung kelontongnya cukup berkembang. Namun, terkadang para pelanggan yang mampir di tokonya sering bertanya tentang voucher pulsa.  Melihat banyaknya pelanggan yang sering bertanya hal tersebut membuat sang istri, Sri (48) memberikan saran kepada sang suami agar menambah usaha jual voucher pulsa.

“Iya cuma bingung juga modalnya dari mana? Makanya sempat bingung juga sih jadi buka usaha pulsa apa nggak,” terang Sri.

Kekurangan modal usaha tak membuat Agus dan Sri menyerah. Berbagai upaya dilakukannya, seperti meminjam modal dari kerabat terdekat hingga tetangga. Namun, pinjaman modal yang didapatnya sangatlah minim, sehingga belum cukup untuk membuka usaha pulsa yang diinginkannya.

Alhamdulillah, bantuan yang Agus harapkan datang. Melihat kegigihan dan semangat Agus dan keluarga berjuang mencukupi kebutuhan hidup, membuat Dompet Dhuafa melalui Lembaga Pelayanan Masyarakat (LPM) memberikan dana bantuan sebesar Rp 1 juta untuk membuka usaha  voucher pulsa.

“Alhamdulillah, saya berterimakasih sekali dengan Dompet Dhuafa yang telah membantu saya,” ucapnya. Semoga bantuan dari Dompet Dhuafa dapat memberikan yang terbaik untuk hidupnya. Serta kegigihannya dalam berjuang mencari nafkah, mampu menjadikan tauladan dan mampu ditiru. (Uyang)