hit counter code


Dari Disabilitas Menuju Difabilitas

Sosial, | Thu 08/2015 13:31:57
Dompet Dhuafa Post Image
Share

Angkie Yudistia, wanita kelahiran 1987, adalah sebuah fakta yang seharusnya mengubah pandangan kita. Angkie pernah menjadi finalis Abang None yang mewakili wilayah Jakarta Barat tahun 2008. Ia juga dinobatkan sebagai The Most Fearless Female majalahCosmopolitan tahun 2008 dan Miss Congeniality dari sebuah produk kesehatan dan kecantikan kulit ternama, serta segudang prestasi lainnya. Bukan hanya itu, Angkie juga sudah menyabet gelas Master di bidang komunikasi .

Siapa Angkie? Ia seorang tuna rungu, atau biasa kita sebut penyandang cacat. Untuk memperhalus bahasa, kita sudah mengubah kata “cacat” menjadi “disabilitas” yang berasal dari kata disability yang  dalam bahasa Inggris artinya tidak mampu. Meski sudah memperhalus bahasa, kita pun seharusnya bisa mengubah paradigma dalam memandang para penyandang disabilitas. Mereka bukanlah orang-orang yang tidak mampu, tetapi mereka memiliki kemampuan berbeda (different ability) atau disingkat difability dan diindonesiakan menjadi difabilitas.

Dalam konstruksi cara pandang disabilitas, maka kita akan memandang mereka sebagai orang-orang yang tidak memiliki kemampuan, tidak berguna dan hanya menjadi beban bagi masyarakat. Sementara dalam cara pandang difabilitas, kita memandang bahwa di balik kekurangan yang mereka miliki, tersimpan kemampuan lain yang juga mereka miliki. Dalam paradigma difabilitas, kita didorong untuk menemukan sekaligus memfasilitasi kemampuan (tersembunyi) yang dimiliki oleh para penyandang disabilitas. Dalam beberapa jenis pekerjaan, mungkin penyandang disabilitas memiliki keterbatasan, tapi dalam jenis pekerjaan lain, mungkin mereka memiliki kelebihan.

Kita tentu juga masih ingat dengan nama Gufron Sakaril, penyandang disabilitas yang bisa menduduki jabatan kepala humas di salah satu stasiun televisi swasta. Posisi itu tidak diberikan secara  seketika karena rasa kasihan. Beliau mendapatkan posisi tersebut dengan melalui berbagai jenis pekerjaan dahulu dan menempuhnya dari level pekerjaan yang lebih rendah. Gufron telah menunjukkan kepada kita bahwa para penyandang disabilitas itu mampu melaksanakan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka. Kalau kita mau, tentu masih banyak nama para penyandang disabilitas yang sukses dalam karir dan bisnis yang dapat kita sebutkan.

Bila kita tarik paradigma ini dalam skala yang lebih luas, maka kita akan sampai pada sebuah pertanyaan : Sudah berapa banyak para penyandang disabilitas diserap oleh pasar tenaga kerja dan berwirausaha ? Saat ini diperkirakan jumlah penyandang disabilitas di Indonesia adalah sebesar 3,11% dari total jumlah penduduk. Ini artinya populasi para penyandang disabilitas di Indonesia mencapai tidak kurang dari 7,46 juta jiwa. Jika mereka ini tidak kita dukung dan fasilitasi, maka mereka akan menjadi penganggur, tidak produktif dan terkurung dalam ketakberdayaan.

Harus ada sikap dan tindakan yang mendukung serta memfasilitasi pengembangan keahlian para penyandang difabilitas. Mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan dunia usaha semua harus  bahu-membahu menyediakan layanan bagi berkembangnya segala potensi dan keahlian para penyandang difabilitas. Untuk selanjutnya dunia kerja juga harus cukup ramah terhadap para penyandang difabilitas dalam mengakses pekerjaan sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.

Kegiatan pengembangan kewirausahaan juga diperlukan bagi para penyandang difabilitas. Potensi-potensi yang dimiliki para penyandang difabilitas akan dapat disalurkan bukan hanya sekedar hobby atau kemampuan, tapi juga mampu menghasilkan karya atau produk yang mampu mendatangkan penghasilan dan keuntungan. Tidak tertutup kemungkinan dari para penyandang difabilitas ini akan lahir para pengusaha sukses dengan karyawan ribuan dan skala usaha internasional.

Perubahan paradigma dari disabilitas menuju difabilitas bukan hanya bagian dari perilaku kita memanusiakan para difabilitas, tapi juga sekaligus sebagai  jawaban atas sebagian permasalahan yang masih membelit bangsa Indonesia saat ini. Muara dari perubahan paradigma ini adalah peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia secara keseluruhan.