hit counter code


Taqiyyah Syarah Pradini, Semangat Juang Anak Satpam Meraih Bangku Kuliah

Kesehatan, | Thu 09/2014 11:20:58
Dompet Dhuafa Post Image
Share
Taqiyyah Syarah Pradini, mahasiswa UGM Yogyakarta penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa. (Foto: Uyang/Dompet Dhuafa)

Mata yang berbinar bahagia terlihat jelas dari sorot mata Taqiyyah Syarah Pradini (19) saat menceritakan sekelumit perjuangannya dalam mewujudkan impian menempuh pendidikan di universitas Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

“Awalnya saya nggak nyangka bisa kuliah. Tapi, bila terus optimis dan berusaha pasti Allah kasih jalan terbaik buat saya,” kata mahasiswi Jurusan Teknik Kimia UGM yang juga merupakan salah satu penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa ini.

Sarah, demikian sapaan akrabnya sehari-hari bercerita, sang ayah hanya berprofesi sebagai penjaga keamanan (satpam) tak mampu lagi membiayai pendidikannya hingga ke jenjang sarjana. Faktor keuangan keluarga menjadi alasan. Orang tuanya hanya mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari seperti makan dan biaya SPP kedua adiknya yang masih kecil.

Sempat terlintas dalam benaknya, Sarah yang dulu pernah mengenyam pendidikan SMK ini ingin mencari pekerjaan. Menurutnya saat itu, kondisi keuangan keluarganya yang pas-pasan dirasanya tak akan mampu membiayai kuliah. Pilihan bekerja pun menjadi salah satu jalan baginya untuk membantu memperbaiki kondisi keuangan keluarga.

“Per semester aja udah setinggi langit biayanya. Makanya kayak mimpi di siang bolong aja rasanya bisa kuliah,” ujar Sarah yang berasal dari Bandung ini.

Namun, keinginannya untuk menuntut ilmu seolah menari-nari terus dipikiran mahasiswi yang hobi membaca buku ini. Untuk menghilangkan kegundahannya tersebut, ia akhirnya memutuskan untuk bertemu sang guru yang sangat dekat dengannya semasa menjadi pelajar SMK dulu.

Salah seorang gurunya di SMK yang kala itu mengetahui kondisi sangat menyayangkan Sarah bila tidak melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi. Pasalanya, Sarah adalah salah satu murid yang berprestasi dengan nilai akademik yang cukup baik. Sang guru pun menyarankannya untuk mengikuti beasiswa-beasiswa yang dibuka di beberapa instansi atau lembaga sosial.

“Saya ikuti saran guru saya itu. Saya berharap saat itu mudah-mudahan ada jalan buat saya untuk bisa kuliah,” kenangnya.

Melalui informasi internet, Sarah berusaha mencari-cari pendaftaran beasiswa di berbagai situs instansi pemerintah hingga lembaga kemanusiaan, seperti Dompet Dhuafa. Setelah lama mencari, akhirnya hatinya pun tertuju pada Beastudi Etos, salah satu program beasiswa yang dimiliki Dompet Dhuafa dan akhirnya ia pun mendaftar.

Rangkaian proses seleksi seperti penyeleksian berkas administrasi, home visit, psikotest, hingga penyeleksian akhir pun dijalaninya. Alhamdulillah, ternyata usaha yang dijalani Sarah selama ini tidak sia-sia. Bersaing dengan ratusan para pendaftar, Sarah berhasil lolos dan kini menempuh pendidikan di UGM yang merupakan kampus idamannya.

“Alhamdulillah, saya yakin. Allah akan mengabulkan doa saya. Terima kasih Dompet Dhuafa telah memberikan kesempatan, saya akan belajar dengan sunggu-sungguh,” ucapnya terharu. (uyang/gie)