hit counter code


Mengidap Kanker Mata, Susanti Menanti Bantuan Kita

Kesehatan, | Wed 10/2014 10:41:23
Dompet Dhuafa Post Image
Share
Susanti terkulai lemas di tempat tidur. Gadis belia ini membutuhkan bantuan lantaran menderita penyakit kanker mata. (Foto: Dokumentasi LKC Dompet Dhuafa)

Susanti (17) nampak hanya bisa pasrah dan tabah menerima keadaan. Gadis belia yang memiliki cita-cita menjadi guru ini hanya bisa terkulai lemas di tempat tidur. Ia terpaksa putus sekolah. Sebab, penyakit kanker yang menyerang bagian matanya sudah semakin ganas dan meluas.

Anak ke tiga dari sembilan bersaudara pasangan Sumanta dan Kocih itu terus mengeluh terhadap penyakit yang dideritanya. Sesekali ia mengusap air mata yang menetes dipipinya. Ia sangat berharap penyakitnya segera mendapatkan pengobatan untuk disembuhkan.

“Saya pengen di bawa kerumah sakit besar, supaya bisa diobatin penyakit saya,” tutur Susanti saat ditemui di rumahnya oleh Tim Respon Darurat Kesehatan LKC Dompet Dhuafa pada Jum’at (19/9) lalu.

Warga Kampung Dungus Biuk, RT 01 RW 06, Kel. Babakan, Kecamatan Tenjo, Bogor itu divonis dokter mengidap penyakit kanker Retinoblastoma. Kanker tersebut menyerang pada bagian mata Susanti. tepatnya di daerah belakang mata yang peka terhadap cahaya pada retina.

Susanti menyadari kalau penyakitnya harus mendapatkan penanganan medis yang lebih lengkap. Namun, karena terbentur masalah biaya ia hanya beberapa kali saja dibawa ke RSUD Rangkasbitung, Banten. Itu pun karena inisiatif dari gurunya sewaktu di SMPdulu.

Menurut Ibunda Susanti, Kocih, anaknya itu termasuk yang paling rajin sekolah. Banyak guru-guru Susanti yang mengetahui kondisinya merasa prihatin terhadapnya. ”Guru-guru sama temen-temennya banyak yang jengukin dia, pada kangen katanya sama Santi, mereka berharap Santi cepat sembuh,” kata Kocih.

Karena melihat kondisinya semakin parah dan belum mendapatkan pengobatan maksimal, Muhtadin salah seorang guru Susanti saat sekolah di SLTP menghantarnnya untuk berobat di Gerai Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa. Susanti beberapa kali diantar dengan mengunakan mobil yang disewa oleh gurunya itu.

“Kadang Pak Muhtadin juga yang beliin Obatnya. Waktu ke LKC aja dia yang nyarter mobilnya,” ungkap Kocih terharu dengan mata yang berkaca – kaca.

Sumanta dan Kocih cuma bisa pasrah melihat kondisi penyakit yang diderita anaknya itu. Meski mereka sudah memiliki kartu Jamkesmas, namun lokasi rumah yang sangat jauh terhadap akses pelayanan kesehatan, serta jarangnya kendaraan angkutan umum, menjadi kendala tersendiri untuk mengobati Susanti ke rumah sakit.

Mereka sangat berharap terhadap kesembuhan anaknya, Susanti. Mengingat usianya yang masih sangat muda terlebih ingin mewujudkan cita – cita mulianya untuk menjadi guru sekolah. (gm/mj/gie)