hit counter code


Alumni Institut Kemandirian Dompet Dhuafa ini Sukses Dirikan Bengkel Motor

Kesehatan, | Fri 10/2014 15:59:21
Dompet Dhuafa Post Image
Share
Usaha bengkel motor Matic Rider milik Abdul Rachan, penerima manfaat Institut Kemandirian Dompet Dhuafa. (Foto: Dokumentasi Institut Kemandirian Dompet Dhuafa)

Butuh penantian yang panjang bagi Abdul Rachman (33) dalam membangun usaha bengkel motor yang sangat diimpikannya selama ini. Sebelum berkecimpung dalam dunia mekanik motor, beberapa profesi dengan keahlian lain pernah ia cicipi, di antaranya bekerja di Pabrik Kimia, hingga membuka usaha yang berhubungan dengan desain grafis.

“Saya hanya ingin terus berusaha, paling tidak saya memotivasi diri saya untuk tidak nganggur, meski yang saya lakukan belum berhasil,” terang Abdul, yang merupakan lulusan Sekolah Teknik Menengah jurusan desain grafis ini.

Bukan tanpa alasan bagi pria kelahiran Jakarta, 14 Agustus 1980 ini untuk mencintai dunia otomotif sejak kecil. Betapa tidak, Dul, demikian sapaan akrabnya sehari-sehari, sering meluangkan waktu bermain ke sebuah bengkel motor yang berada dekat di sekitar rumahnya. Agar kemampuannya menjadi seorang montir semakin matang, di tahun 2005 ia juga sempat membentuk klub motor bersama beberapa teman dekatnya.

“ Dari klub ini saya memperoleh banyak relasi. Pengetahuan tentang mesin otomotif bertambah,” pungkasnya.

Namun suatu ketika, ada yang terganjal dalam pikiran dan hati pria yang tinggal di Jalan Raya Bekasi KM 21 No. 88, Cakung Jakarta Timur ini. Pengalaman yang didapatkannya selama ini menurutnya belum cukup untuk mengukur kemampuannya dalam membuka usaha bengkel motor yang sangat ia dambakan. Perlu baginya untuk belajar lebih dalam lagi mengenal dunia otomotif mesin.

Sampai suatu hari, Dul pun mengetahui informasi dari seorang sahabat terdekatnya mengenai pelatihan gratis pada kelas otomotif yang merupakan salah satu program dari Institut Kemandirian Dompet Dhuafa. Tanpa pikir panjang, ia pun mendaftar pada tahun 2011 dan mengikuti pelatihan kelas otomotif selama 6 bulan.

“Saya tertarik untuk mengikuti pelatihan tersebut karena keinginan saya untuk lebih mendalami mesin. Teori sedikit-sedikit saya sudah ada dari belajar autodidak,” ujar pria yang penuh semangat ini.

Setelah lulus dari pelatihan di Institut Kemandirian, ia mencoba peruntungan dengan magang di bengkel yang sudah berlisensi. Namun, upah yang diterimanya sekitar Rp 35 ribu per hari hanya cukup untuk kebutuhan makannya sehari-hari. Meski hasil yang diterimanya tidaklah sesuai harapan, namun ia tetap bersyukur dan menjadikan hal tersebut sebagai pengalaman yang sangat berarti dalam hidupnya.

“Bagi saya, yang paling penting adalah ilmu yang saya dapatkan selama magang. Magang ini saya jalani sampai akhirnya saya diterima bekerja di bengkel resmi,” pungkasnya.

Dua tahun bekerja dengan orang lain sangat menambah pengetahuan dan pengalamannya tentang dunia perbengkelan. Saat itu juga, terlintas dalam pikirannya untuk mewujudkan apa yang diimpikannya selama ini, untuk membuka usaha bengkel sendiri. Namun, ketika semangat membuka usaha sedang menggelora, tiba-tiba semangatnya seolah padam, akibat terganjal dengan masalah finansial. Hingga akhirnya ia mencoba mengajukan pinjaman modal ke Institut Kemandirian.

Seraya menanti respons dari Institut Kemandirian, ia mencari-cari peluang dari tempat lain. Dul bertemu dengan pemimpin sebuah Event Organizer otomotif untuk mengajukan permodalan. Kesempatan langka ini tidak ingin ia sia-siakan. Seketika itu ia segera membuat konsep dan proposal.

“Saya sungguh bersyukur karena proposal saya diterima,” ungkapnya tersenyum.

Dengan kegigihannya yang dilakukan Dul dalam menimba pengetahuan yang diperolehnya dari Institut Kemandirian Dompet Dhuafa, dan pengalaman magangnya di beberapa bengkel, serta bantuan modal yang diterimanya, kini ia mampu mendirikan usaha bengkel motor. Bengkel dengan nama Matic Rider tersebut beralamat di Jalan Ampera no 4A Jakarta Selatan.

Jatuh bangun yang dirasakannya selama ini menjadi pengalaman berharga baginya untuk bertahan dan terus berusaha. Dari mengelola bengkel, kini ia bisa menghidupi keluarga dan memberdayakan tiga karyawan Matic Rider.

“Saya bersyukur dengan apa yang saya peroleh saat ini, terlebih kepada Dompet Dhuafa yang telah memberikan pelatihan gratis, saya ucapkan terima kasih,”pungkasnya. (uyang/gie)