hit counter code


Terapi Tulang ke LKC Dompet Dhuafa, Pedagang Gerobak Dorong ini Membaik

Kesehatan, | Mon 10/2014 13:57:43
Dompet Dhuafa Post Image
Share
Rita Murni saat diperiksa dokter Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa. (Foto: Uyang/Dompet Dhuafa)

Datang seorang diri untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terpadu dari Klinik Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa, perempuan paruh baya berdarah Suku Batak ini rela mengantri dengan sabar Kalimat dzikir terus dilantunkan perempuan bernama Rita Murni Pohan (52) ini setiap dirinya melakukan pemeriksaan rutin di LKC, di bilangan Ciputat Timur, Tangerang Selatan ini.

Rita, demikian sapaan akrab sehari-hari ibu 4 orang anak ini menceritakan, ia tak sanggup berkata apa-apa ketika kejadian yang menimpanya 2 tahun lalu. Nasib malang menimpanya, saat melakukan kegiatan sehari-hari yakni mencari nafkah dengan berjualan minuman dingin dan makanan ringan menggunakan gerobak dorongnya di pinggir jalan raya di kawasan Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Saat itu, sebuah sepeda motor yang melaju cukup kencang tba-tiba kehilangan kendali, sehingga menabrak gerobak dagangannya dan dirinya. Akbatnya, tulang ekor dibagian punggung Rita patah dan disarankan dokter untuk menjalani operasi.

“Saya nggak mau dioperasi. Alhamdulillah LKC menyarankan saya untuk menjalani terapi pemulihan tulang, dengan mengggunakan sabuk perekat,” ujar ibu yang tinggal di Jalan Pahlawan, Kedaung, Sawangan, Depok, Jawa Barat ini.

Rita menuturkan, sejak sang suami meninggal dunia pada 2008 lalu, ia harus menggantikan posisi sang suami dengan menjadi tulang punggung keluarga. Selain berjualan makanan ringan dan minuman dengan gerobak dorongnya, ia juga mencoba usaha dengan berjualan baju dan sepatu. Semua itu dilakukannya demi tercukupinya kebutuhan keluarga.

“Tapi sekarang usia saya semakin menua. Nggak kuat dorong-dorong gerobak lagi. Ya, sejak ngalamin kecelakaan itu juga,” ungkapnya.

Setelah menjalani rangkaian pemeriksaan rutin dan terapi pemulihan, keadaan Rita kini semakin membaik. Namun, masih ada yang mengganjal dalam pikirannya saat ini. Putra ketiganya yang berusia 24 tahun mengalami stroke ringan dibagian syaraf wajahnya.

“Dulu dia ditonjok temannya pas masih SD. Yah waktu itu udah diperiksa ke puskesmas tapi udah terlambat. Katanya udah kena syaraf dan suruh bawa ke rumah sakit,” jelasnya.

Dengan penuh semangat, Rita berusaha membujuk sang anak untuk berobat dan menjalani pemeriksaan medis, namun sang anak menolak mentah-mentah keinginannya. Meski demikian, sebagai seorang ibu, Rita tak pernah patah semangat untuk membujuk sang anak. Ia sangat yakin, suatu saat anaknya menerima tawarannya tersebut.

“Alhamdulillah, saya di LKC bisa pulih kembali. Mudah-mudahan anak saya juga mau dibawa berobat ke LKC. Saya nggak akan pernah putus asa ngajak dia berobat,” harapnya. (uyang/gie)