hit counter code


Mahasiwa Penerima Beasiswa Dompet Dhuafa Jadi Penyaji Makalah di Turki

Kesehatan, | Fri 10/2014 07:51:48
Dompet Dhuafa Post Image
Share
Tiga mahasiswa penerima manfaat beastudi Etos (Etoser) Dompet Dhuafa asal Universitas Diponegoro Semarang (berkerudung) menjadi salah satu tim penyaji makalah di konferensi internasional di Istanbul. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

SEMARANG—Tiga mahasiswa penerima manfaat beastudi Etos (Etoser) Dompet Dhuafa asal Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menjadi penyaji makalah di konferensi internasional di Istanbul, Turki 25-26 Oktober 2014 lalu. Ketiga etoser tersebut adalah Sayyida Saida Syarifa (Teknik Lingkungan), Septi Ayu Azizah (Sastra Indonesia), dan Ratih Khoirunnisa (Ilmu Komunikasi),

Mereka menjadi penyaji makalah di konferensi yang bertajuk International Conference Economics And Social Science (ICESS) menyusul makalah yang mereka ajukan sebelumnya lolos seleksi. Konferensi tersebut diikuti oleh berbagai macam profesi dan civitas akademika berbagai jenjang pendidikan dari seluruh negara di dunia.

Tema yang diangkat ketiga etoser Undip tersebut disesuaikan dengan bidang keilmuan yang dipersyaratkan dalam konferensi. Dengan kerja tim yang terdiri dari tiga orang mahasiswi yang berasal dari tiga fakultas yang berbeda, makalah membahas bagaimana meningkatkan kualitas perempuan sebagai pondasi dalam sebuah bangsa. Pokok penelitian makalah tersebut adalah permasalahan perempuan Dolly di Surabaya yang mengalami depresi pasca penutupan lokalisasi.

“Memang tak mudah mengubah diri dari hal buruk ke hal baik, namun jika tidak pernah mencobanya, mana mungkin bisa tahu sejauh mana akan mampu berubah,” jelas Sayyida Saida Syarifa, sebagai ketua tim.

Sayyida menuturkan, tujuan penulisan makalah tersebut merupakan sebuah bentuk kontribusi nyata seorang calon penerus bangsa yang nantinya akan menggerakkan dan mengubah keadaan masyarakat di sekitarnya. Berawal dari hal kecil dan kepekaan sosial yang dibangun sejak dini maka sudah sepantasnya untuk turut serta membangun lingkungan sekitar.

Dalam persoalan tersebut, kata Sayyida, pemerintah mesti serius menangani. Solusi tidak hanya sebatas pada penutupan area lokalisasi. Dalam makalah tersebut disebutkan pula perlu diperhatikan aspek-aspek yang berpengaruh pada kehidupan mereka, misalnya dari segi ekonomi dan sosial kemasyarakatan.

“Orang buruk yang tinggal dalam lingkungan buruk maka selamanya akan buruk, tetapi orang buruk yang berada dalam lingkungan baik maka ada kemungkinan padanya untuk berubah menjadi baik”, ungkap Septi.

Perempuan berperan penting dalam perubahan peradaban. Sebab itu, pemberdayaan peran serta perempuan di lingkungan masyarakat sangat dibutuhkan. Apalagi generasi generasi selanjutnya akan lahir dari perempuan perempuan hebat masa kini.

“Ini sudah seperti janji-Nya, Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai kaum tersebut berusaha untuk mengubah keadaan mereka. Dan itu akan berlaku di mana saja,” pungkas Ratih.

Dengan tekad semangat berbuat kebaikan dan berbagi sesama, harapannya masyarakat turut serta membantu terwujudnya keadaan masyarakat yang dinamis. Jauh dari hal-hal negatif dan tentu dukungan pemerintah akan sangat memudahkan dalam menyelesaikan masalah mereka, baik dari segi sosial maupun ekonomi. (bi/gie)