hit counter code


Santunan Keranda, Warga Ujung Kulon Tak Lagi Gunakan Batang Pisang

Kesehatan, | Fri 10/2014 14:35:14
Dompet Dhuafa Post Image
Share
Masyarakat Kampung Cipining, Desa Tunggal Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten saat menerima bantuan Keranda dari Badan Pemulasaran Jenazah (Barzah) Dompet Dhuafa dan Dompet Dhuafa Banten (DD Banten). (Foto: Chogah/Dompet Dhuafa Banten)

PANDEGLANG—Badan Pemulasaran Jenazah (Barzah) Dompet Dhuafa dan Dompet Dhuafa Banten (DD Banten) menyalurkan bantuan keranda dan pakaian layak pakai kepada warga Kampung Cipining, Desa Tunggal Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten pada Kamis (23/10) pekan lalu.

Keranda amat dibutuhkan masyarakat Tunggal Jaya. Sebab, selama ini masyarakat Tunggal Jaya masih menggunakan batang pisang untuk kegiatan memandikan jenazah saat ada warga desa yang meninggal.

“Selama ini kami masih menggunakan gedebong pisang, kalau musim panas, nyari gedebok agak susah,” ungkap Hasan Basri, salah satu tokoh masyarakat Desa Tunggal Jaya.

Dengan bantuan keranda dengan material stainless steel diharapkan masyarakat dapat memudahkan masyarakat. “Alat ini insya Allah akan sangat bermanfaat bagi kami, juga bagi saudara-saudara kami di desa lain yang bila ada kemalangan (warga yang meninggal, -red) bisa menggunakan alat ini,” tutur Hasan dalam logat Sunda Banten.

DD Banten juga menyalurkan 50 pasang pakaian, beberapa di antaranya berupa seragam sekolah untuk anak-akan yatim dhuafa. Ke depannya, DD Banten akan terus berupaya melayani masyarakat dhuafa salah satunya pengoptimalan layanan pemulasaran jenazah 24 jam.

Program-program pelayanan yang diberikan Barzah di antaranya Layanan Antar Jemput Jenazah, Quick Respon, Pelatihan Pengurusan Jenazah, dan Santunan Paket Kain Kafan. Barzah melayani hingga ke seluruh provinsi di pulau Jawa dan wilayah Lampung.

“Selain dari pulau Jawa dan wilayah Lampung, kita tidak bisa meng-cover, karena jangkauan jarak jauh yang memakan waktu yang lama ini tidak baik untuk kondisi jenazah,” ujar Manajer Program Barzah Dompet Dhuafa, Madroi.

Madroi berbagi cerita mengenai pengalaman dan suka dukanya bersama tim Barzah saat menjalankan program-program Barzah. Pengalamannya saat bersama tim menjalani program Layanan Antar Jemput Jenazah di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), terlihat banyak sekali keluarga menangis histeris hingga ada yang pingsan karena saat keluarganya meninggal dunia, biaya antar jenazah dengan menggunakan ambulan rumah sakit sangat mahal. Terlebih, jika jenazah diantar ke kampung halamannya.

“Biaya ambulans ternyata sampai lebih dari Rp 4 juta, sedangkan ia orang tak mampu, ditambah lagi dengan biaya beban ambulans. Alhamdulillah mereka juga tahu ada akses meminta layanan kita, dan kita datangi Itu kita gratiskan, sampai ke kampung halaman,” jelasnya.

Terlepas dari pengalaman tersebut, Madroi bersama tim lainnya merasa sangat bahagia dan tak ada beban dalam menjalankan tugas tersebut. Menyampaikan amanah dari dana yang diberikan donatur kepada Dompet Dhuafa untuk menjalani program Barzah merupakan nikmat tersendiri.

“Menjalankan program Barzah Dompet Dhuafa juga merupakan ibadah, artinya kami sangat senang membantu sesama dan menyampaikan amanah donatur,” ungkapnya.

Sejatinya, program yang mulai berjalan pada 2012 ini tidak menyasar orang miskin saja. Kaum berpunya pun dapat memanfaatkan layanan ini, mulai dari memandikan, mengkafani, menyalatkan hingga pemakaman. Hal ini didasari di kawasan perkotaan seperti Jakarta, masih banyak masyarakat yang bingung bagaimana memperlakukan keluarganya yang wafat secara Islami. Namun, jika mereka ingin berinfak melalui Dompet Dhuafa tentu akan diterima sebesar apapun, alias tidak ada tarif. (chogah/gie)