hit counter code


Dulang Rupiah dari Air Isi Ulang, Mantan BMI Arab Ini Move On

Ekonomi, | Mon 07/2014 15:13:17
Dompet Dhuafa Post Image
Share

Bekerja di luar negeri tak sedikit memberikan kenangan pahit bagi para Buruh Migran Indonesia (BMI). Tak sedikit mereka mengalami mengalami penyiksaan atau ditelantarkan.  Hal senada tak terlepas dari pengalaman Hadi Maskur sebagai seorang mantan BMI.  Kenangan pahit bekerja di luar negeri masih teringat jelas dalam ingatannya.

Hadi berksiah, tahun 1995 silam ia berangkat ke Korea. Namun tidak sampai setahun, ia sudah kembali ke Indonesia karena dideportasi. “Saya dideportasi karena kabur dari perusahaan, jadi dianggap ilegal,” kenangnya. Tidak lama berada di kampung halaman, jodoh pun datang. Ia kemudian menikahi seorang wanita, yang dulu sempat menjadi teman sekolahnya. Setelah memiliki seorang anak ini kembali memutuskan untuk mencari peruntungan di luar negeri.

Dengan tekad yang bulat, ia pun berangkat ke Saudi Arabia. “Di sana sebenarnya saya mendapat pekerjaan yang lumayan, hanya saja perusahaan pailit di tengah jalan dan saya tidak mendapatkan gaji,” terangnya. Semenjak itu, Hadi kapok untuk kembali kerja ke luar negeri. Ia lalu memikirkan berbagai cara untuk memulai usaha di daerah tempatnya tinggal. Bermacam usaha ia jalani, namun lagi-lagi hasilnya gagal di tempat.

“Sepulang dari Saudi, saya pernah mencoba usaha berjualan rujak dengan sambal kacang yang kemudian dititip ke warung-warung atau kantin sekolah. Namun usaha itu tidak berjalan lama karena buahnya tidak bisa bertahan lama. Saya kemudian banting setir berjualan rokok. Rokok tersebut saya produksi sendiri. Saya beli tembakaunya dan dilinting sendiri. Namun karena banyaknya operasi rokok ilegal, akhirnya saya berhenti. Takut ketangkap,” paparnya.

Setelah itu, ia pun mulai merintis usaha air isi ulang. Tahun 2005 ia mulai merintis usaha air isi ulang di Ngawi. Sumber air diambil dari pegunungan langsung. Hingga saat ini usaha tersebut masih berlangsung, bahkan Hadi sudah memiliki mesin air isi ulang sendiri.

Memiliki mendapatkan pengalaman pahit saat bekerja di luar negeri dan jatuh bangun membangun usaha, Hadi tak patah semangat. Hal tersebut justru membuat ia semakin kreatif membidik usaha yang lain.

“Pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan itu malah membuat saya terus mencari peluang usaha yang bisa dikembangkan. Kebetulan di Ngawi sini, usaha air isi ulang belum ada. Dan air yang menjadi sumber kehidupan utama terbilang sulit didapatkan. Makanya kemudian saya berpikir untuk memulai usaha air isi ulang ini,” tuturnya.

Kini sudah hampir delapan tahun usaha air isi ulangnya berjalan. Dan usaha ini semakin berkembang. Sekarang Hadi telah memiliki tiga orang karyawan yang ia pekerjakan dan omzetnya mencapai 1.500 galon per hari dengan jumlah pelanggan sebanyak lebih dari 2.000 orang yang tersebar di Ngawi. Menurut Hadi, jumlah tersebut akan terus bertambah setiap harinya. Apalagi saat mulai musim kemarau.

Rencana ke depan, Hadi ingin memperluas usahanya. “Jika memang ada yang tertarik untuk investasi bersama saya di bisnis air isi ulang ini, saya terbuka,” kata Hadi. Apalagi Hadi memang berencana untuk memperluas pasar sehingga pengguna air isi ulang ini tidak hanya di Ngawi tapi juga merambah ke daerah yang lain.

Hadi pun tak memiliki niat untuk kembali ke Saudi. “Kalau ke Saudi untuk kerja, saya sudah tidak ingin. Tapi kalau ke Saudi maunya untuk pergi haji bersama istri,” ungkapnya. Karena menurut Hadi, di Indonesia ini juga banyak usaha yang bisa dikembangkan. Ia menyarankan agar masyarakat Indonesia, khususnya teman pekerja migran agar bisa lebih jeli melihat berbagai peluang usaha di Indonesia ini.

Selain itu, masalah utama yang sering dialami teman pekerja migran dalam meniti usahanya adalah kurangnya kesabaran. “Padahal butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa mendulang sukses,” paparnya. Hadi sadar, keberhasilan yang kini direguknya tidak datang begitu saja melainkan buah dari kerja kerasnya memasarkan air isi ulangnya. Menurut Hadi, yang dibutuhkan dalam menjalankan sebuah usaha adalah ketelatenan dan kesabaran.

Hadi menilai perencanaan dalam membangun konsep usaha agar usaha yang kelak kita jalankan jelas arahnya adalah sebuah keharusan. Hadi menagku, dirinya dulu juga termasuk ke dalam pekerja yang tanpa planning. “Dulu saya kerja keluar hanya karena tidak mendapat pekerjaan di sini. Makanya saya tidak memiliki planning apa-apa kala itu. Dan itu merupakan kesalahan besar yang menyebabkan saya mencari-cari jenis usaha yang tepat. Barulah di tahun 2005 saya menemukan usaha yang pas,” tukasnya.