hit counter code


Menyehatkan Masyarakat dengan Pemberdayaan

Kesehatan, | Tue 11/2014 16:41:54
Dompet Dhuafa Post Image
Share
Para kader kesehatan Dompet Dhuafa mengikuti jambore kader. (Foto: Yogi/Dompet Dhuafa)

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Badan Pusat Statistik (BPS) pernah merilis Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012. Berdasarkan survei tersebut, diketahui bahwa angka kematian ibu (AKI) melonjak drastis 359 per 100.000 kelahiran hidup.

Sebelumnya, AKI dapat diturunkan dari 390 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 1991) menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2007). Selain AKI, angka kematian bayi (AKB) pun masih tinggi, 32 per 1.000 kelahiran hidup. Angka tersebut hanya turun sedikit dari AKB SDKI 2007 yang 34 per 1.000 kelahiran hidup.

Kematian ibu dan bayi merupakan sebagian dari berbagai masalah kesehatan di Indonesia. Kasus gizi buruk yang masih ditemukan di beberapa wilayah, kasus diare, tingginya jumlah penderita Tuberkulosis(TB) dan HIV/AIDS, serta masih banyaknya pasien dari kalangan miskin yang sulit mendapatkan akses pelayanan kesehatan adalah masalah kesehatan lainnya yang mesti ditanggulangi.

Berbagai persoalan kesehatan tersebut bukannya tanpa penanggulangan. Selama ini, Pemerintah berusaha menekan masalah tersebut melalui program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda), dan Asuransi Kesehatan (Askes). Di bidang penyuluhan dan sosialisasi kesehatan sebagai wujud program promotif dan preventif pun dilakukan, kendati porsinya tidak sebanding dengan kuratif.

Bagaimanapun, program promotif dan preventif mesti memiliki kadar yang sama atau malah lebih diutamakan dibanding program kuratif (pengobatan). Hal ini dilakukan agar dapat menekan angka orang yang terkena penyakit. Dengan begitu, masyarakat yang sehat dapat terwujud. Sejak dahulu kita semua tahu, mencegah lebih baik daripada mengobati.

Ranah kesehatan sejatinya tidak melulu soal pengobatan dan orang yang sakit. Ranah kesehatan amat luas termasuk orang yang sehat. Oleh karena itu, upaya kesehatan dapat berbentuk pemberdayaan masyarakat lewat pendidikan kesehatan (promotif) dan pencegahan (preventif).

Menyehatkan masyarakat dengan pemberdayaan merupakan upaya intervensi pada faktor perilaku masyarakat. Sebuah pemberdayaan masyarakat (promotif dan preventif kesehatan) dilakukan agar perilaku masyarakat sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Derajat kesehatan masyarakat pun diharapkan kian mengalami peningkatan.

Prinsip pemberdayaan masyarakat sendiri adalah bagaimana menumbuhkan kemampuan masyarakat oleh masyarakat itu sendiri. Pihak luar hanya memantik dan mengintervensi agar tumbuh kesadaran akan pentingnya kesehatan. Oleh sebab itu, diperlukan sumber daya manusia lokal dalam hal ini kader lokal yang terlibat dalam jangka panjang. Pasalnya, kader lokal adalah pihak yang jauh lebih mengetahui nilai-nilai atau kebiasaan masyarakat di daerahnya sendiri.

Menyadari pentingnya program promotif dan preventif berbasis pemberdayaan masyarakat, Dompet Dhuafa melalui jejaring kesehatan Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) menggulirkan berbagai program edukasi kesehatan kepada masyarakat.  

LKC Dompet Dhuafa tidak hanya mengobati pasien dhuafa sebagaimana awal berdirinya pada tahun 2001, tetapi juga bagaimana membantu masyarakat agar tetap sehat. Saat ini, LKC berfokus pada tindakan promotif dan preventif agar tidak banyak orang yang sakit.

Salah satu wujud program LKC dalam upaya membantu menyehatkan masyarakat adalah dengan adanya Pos Sehat. Sejak 2006, Pos Sehat hadir sebagai upaya pemberdayaan kesehatan masyarakat miskin melalui promotif dan preventif.

Langkah yang ditempuh LKC dalam pelaksanaan Pos Sehat adalah dengan menggandeng masjid atau majelis taklim, yayasan sosial, karang taruna, Lazis perusahaan atau program Corporate Social Responsibility (CSR). LKC Dompet Dhuafa lebih berperan sebagai fasilitator bagi masyarakat dalam mengembangkan Pos Sehat.

Konsep Pos Sehat adalah pemberdayaan kesehatan yang berakar dari masyarakat. Dengan begitu, program utama yang dipilih dapat dikatakan fleksibel, menyesuaikan dengan kondisi masyarakat. Kesadaran yang telah tumbuh menjadi modal awal. Langkah selanjutnya adalah membangun inisiatif masyarakat miskin untuk bersama-sama memecahkan masalahnya, Upaya promotif dan preventif yang berbasis partisipasi masyarakat ini diharapkan akan lebih bersinambungan.

Komponen utama Pos Sehat yakni promotif dan preventif dilakukan melalui edukasi dan pelatihan kader sehat. Pada kader-kader sehat inilah LKC menaruh harapan besar demi terwujudnya dhuafa yang sehat. Kendati hanya kompenen penyerta, Pos Sehat juga tidak meninggalkan kegiatan kuratif berupa pengobatan gratis secara periodik dengan relawan dokter LKC.

Dengan filosofi kemitraan dan pemberdayaan, LKC membangun Pos Sehat yang berfokus pada pemberdayaan kader kesehatan. Pos Sehat hadir mendayagunakan potensi masyarakat yang selama ini terpendam. Keberadaan Pos Sehat diharapkan mampu mengoptimalkan kepedulian dan pemberdayaan masyarakat untuk siap bertindak dalam penanganan permasalahan kesehatan di masyarakat secara kolektif dan terintegrasi.

Menurut data LKC Dompet Dhuafa per tahun 2011, Pos Sehat LKC sudah berdiri di 25 tempat yang merupakan kantong-kantong kemiskinan. Sebagian besar Pos Sehat berada di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), dan di luar Jabodetabek, yakni Cikampek, Sukabumi, dan Yogyakarta.

Selain berbasis Pos Sehat, upaya promotif dan preventif yang dilakukan LKC juga menyasar langsung ke daerah-daerah dengan berbagai penyuluhan seperti gizi, kanker servik, dan kesehatan ibu serta anak.

Khusus bidan, LKC mengadakan program Bidan Tapal Batas. Program tersebut didedikasikan kepada para bidan di daerah perbatasan negeri guna meningkatkan kapasitas diri. Sasaran program ini adalah 100 orang bidan dengan masing-masing 25 orang bidan di empat titik perbatasan di Indonesia. Empat titik perbatasan di Indonesia tersebut, yakni Entikong, (Kalimantan Barat) Bantaeng (Sulawesi Selatan), Rote (NTT), Pulau Aceh (NAD).

Promotif dan preventif memang harus menjadi solusi jangka panjang. Biaya sebesar apapun akan habis jika hanya berfokus pada upaya pengobatan penyakit. Pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan hanya butuh biaya yang lebih sedikit dibanding pengobatan. Namun, hasilnya niscaya sangat besar dalam menurunkan angka kesakitan. (gie)