hit counter code


Moddin, Pengrajin Gula Lontar Binaan Dompet Dhuafa: Meski Tunanetra, Panjat 12 Pohon

Kesehatan, | Wed 11/2014 15:43:50
Dompet Dhuafa Post Image
Share
Moddin (43) saat memanjat pohon lontar. Moddin merupakan salah satu penerima manfaat program pemberdayaan pengrajin gula lontar di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. (Foto: Yogi/Dompet Dhuafa)

Hari itu jam menunjukkan pukul 16.20 WITA di Desa Taba, Kelurahan Balang Beru, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Namun, di saat petang kiat mendekat tersebut, seorang pria berperawakan kurus masih gesit memanjat pohon lontar (siwalan).

Pria itu bernama Moddin (43). Sebagaimana kebanyakan warga Balang Beru, Moddin adalah pengrajin gula lontar. Hampir setiap hari ia memanjat pohon lontar setinggi 15-20 meter. Tujuannya tidak lain untuk mengambil nira buah lontar sebagai bahan utama pembuatan gula lontar.

“Sekitar 12 pohon saya naiki setiap hari. Setiap pagi saya berangkat. Istirahat pas siang sekitar jam 12 kemudian lanjut lagi sampai sore,” ujar Moddin awal November lalu.

Hal yang dilakukan Moddin bisa dibilang istimewa. Sebabnya, ia adalah seorang penderita tunantera. Meski memiliki kekurangan, ia tidak lantas menyerah. Memanjat pohon lontar ia lakukan demi bertahan hidup karena tidak memiliki pekerjaan lain.

Lebih dari 15 tahun Modin menjalani hidup sebagai pengrajin gula lontar. Selama itu pula ia pernah beberapa kali terjatuh. Bahkan, ia pernah mengalami luka berat dan tidak bisa memanjat dalam jangka waktu yang lama. Dalam melakukan aktivitas memanjat pohon, Moddin benar-benar melakukannya sendirian.

Pria yang hanya lulusan sekolah dasar ini menuturkan, sebenarnya ia terlahir dengan mata yang normal. Namun belakangan, ia mengalami kelainan mata. Seiring dengan berjalannya waktu, kualitas penglihatannya kian menurun. Lantaran tidak memiliki biaya untuk berobat lebih lanjut, kondisi penglihatan Moddin semakin memburuk. Puncaknya, ia sama sekali tidak bisa melihat sejak tujuh tahun lalu.

“Sebelumnya saya merantau ke Makassar jadi penarik becak. Waktu itu saya masih bila lihat walaupun sedikit burem,” katanya.

Lebih berdaya usai pemberdayaan

Meski penghasilannya sebagai pengrajin gula lontar terkadang cukup untuk kehidupan sehari-hari, Moddin masih tidak terlepas dari hutang. Ia kerap terpaksa berhutang kepada tengkulak. Kendala modal menjadi alasan utama bagi pengrajin gula lontar kecil seperti Moddin ini.

Namun, semua masalah tersebut kini sudah tidak lagi Moddin rasakan. Sejak hadirnya program pemberdayaan pengrajin gula lontar dari Dompet Dhuafa pada 2012 lalu, perubahan sedikit demi sedikit ia rasakan.

“Saya dapat modal bantuan Rp 1 juta. Diberi bantuan peralatan seperti alat untuk masak gula lontar dan bambu untuk tangga biar mudah manjat pohon. Alhamdulillah sangat membantu,” ujarnya.

Moddin pun kini terbebas dari berhutang ke tengkulak. Dari segi produksi, ia bisa lebih maksimal. Pasalnya, tempat produksi pun diperbaiki sehingga produk lebih higienis. Walhasil, produksi gula lontar pun meningkat dan berkualitas.

Moddin merupakan satu dari 166 penerima manfaat program pemberdayaan gula lontar Dompet Dhuafa di Jeneponto. Mereka diberdayakan dengan model community development (pengembangan komunitas). Dengan begitu, potensi dan energi mereka dilejitkan agar lebih berdaya.

Proses pemberdayaan Dompet Dhuafa sendiri dilakukan dengan pendampingan. Seorang pendamping dilibatkan di tengah-tengah masyarakat dampingan bertahun-tahun. Penguatan kapasitas digarap, dari intelektual, material sampai manajerial. Seiring pendampingan, keuangan mikro juga diterapkan. Model-model pembiayaan berbasis syariah dikenalkan.

Selain bantuan modal, Moddin merasakan manfaat penguatan nilai seperti etos kerja dan kerja sama dari pemberdayaan Dompet Dhuafa. “Kami ada ikrar. Salah satunya adalah bertekad untuk menyekolahkan anak-anak kami. Tidak boleh putus sekolah,” jelas Moddin.

Moddin dan 165 pengrajin gula lontar di Jeneponto masih terus berikhtiar menuju kesejahteraan ekonomi. Di tengah kondisi ekonomi yang semakin kompleks dan gempuran impor gula, mereka tetap bertahan. Moddin pun seakan mengajarkan, keterbatasan tidak seharusnya menyurutkan semangat dan etos kerja. (gie)