hit counter code


Ketangguhan Nenek Aminah Pencari Nafkah Keluarga

Kesehatan, | Thu 11/2014 15:12:15
Dompet Dhuafa Post Image
Share

Usia yang semakin senja rasanya tak begitu dihiraukan nenek yang kian gigih dan bersemangat dalam mencari penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Dengan sabar dan ikhlas Aminah (61) menjajal peruntungan dengan menjajakan makanan bubur obyoh atau yang lebih dikenal dengan makanan ongol-ongol dengan berkeliling di sekitar tempat tinggalnya yang berada di kawasan Kampung Pulo RT 003/0037 Kelurahan Sumber Jaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Saat ditemui tim survey Lembaga Pelayanan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa di kediaman rumahnya pada Rabu (11/11) lalu, Nenek Aminah, demikian sapaan akrabnya sehari-hari ini tidak mau banyak mengeluh dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan yang kini dirasakan keluarganya. Sang suami, Marsan yang dulu berprofesi sebagai pedagang minyak keliling dan menjadi tulang punggung keluarga kini tak mampu lagi mencari nafkah karena sering sakit-sakitan dikarenakan faktor usia yang semakin menua.

Ketika sang suami sudah tidak berdaya lagi dalam mencari nafkah untuk nenek Aminah dan seorang cucu yang tinggal bersamanya, Sang suami pun menyerahkan semua tanggungjawab yang diembannya kepada nenek Aminah untuk mencari penghasilan sendiri agar kebutuhan sang suami dan cucunya yang masih sangat kecil dapat tercukupi kebutuhannya.

Tak tega melihat istrinya yang banting tulang menafkahi kebutuhan keluarga, Marsan terkadang berusaha membantu sang istri dengan bekerja serabutan bila mana ada orang lain yang mengajaknya dengan kondisi kesehatan yang kurang membaik. Sudah 7 tahun lamanya Marsan menderita sakit lingsir dibagian kemaluannya.

Nenek Aminah terkadang memikirkan juga kondisi suaminya yang sudah sakit menahun. Namun apa daya? Biaya pengobatan yang mahalnya bukan kepalang menjadi penghalang utama untuk berikhtiar agar sang suami tercinta dapat pulih kembali. Terkadang disarankan oleh pihak Puskesmas untuk berobat ke RSUD setempat, tapi ibu Aminah hanya bisa berdiam diri saja, mungkin karena tidak mengerti akan alur kesehatan gratis serta tidak mempunyai ongkos jalan.

Seluruh anak-anaknya telah berkeluarga dan telah bertempat tinggal jauh dari rumah Nenek Aminah serta mempunyai usaha masing-masing. Terkadang Nenek Aminah diberi uang kepada anaknya hanya untuk sekedar membantu biaya makan, karena anak-anaknya hanya sebagai pedagang bubur keliling layaknya penjual biasa.

Dalam sehari berjualan, penghasilan Nenek Aminah sebesar Rp. 30.000 hanya untuk makan sehari-hari, itu pun tidak cukup dan terkadang harus berhutang di warung sekitar rumahnya. Meski himpitan ekonomi yang begitu luar biasa dirasakannya, namun ia tak pernah menyerah dalam menjalani hidup. Pantang baginya untuk meminta belas kasihan kepada orang lain. Nenek yang gigih ini berusaha semaksimal mungkin untuk tetap bekerja walau hanya sebatas jualan atau dagang bubur obyoh atau ongol-ongol yang di dorongnya tiap pagi dan sore hari. Tidak banyak memang ke untungan yang didapatnya selama dagang tiap harinya. Namun kegigihannya tersebut yang membuat ia selalu bersyukur dan bersabar dalam mengarungi kehidupan ini. (uyang)