hit counter code


Catatan Alm Jamilah, Sang Guru SGI

Kesehatan, | Fri 11/2014 18:01:39
Dompet Dhuafa Post Image
Share

Teladan dari Ujung Kulon

Jamilah Sampara

Mendengar pertama kali pengumuman bahwa aku ditugaskan di Pandeglang, Banten, aku merasa tidak perlu banyak adaptasi seperti beberapa kawan yang ditempatkan di daerah pelosok luar Jawa. Kupikir Pandeglang cukup dekat dengan Jakarta sehingga sedikit banyak teperciki keramaiannya. 
Tapi, bayanganku itu terbantahkan seketika saat tiba di lokasi penempatan. Alih-alih ramai lalu lalang kendaraan, suasana asri jauh dari kebisinganlah yang kutemui. Belum lagi eloknya hamparan pantai Ujung Kulon yang dipagari julangan pohon kelapa di bibir pantai.

SDN Banyuasih 2 tempat mengabdiku. Letaknya di ujung barat Pulau Jawa, tepatnya di Kampung Muara Jaralang, Desa Banyuasih, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang. Meski tampak dekat di peta, butuh tidak kurang 12 jam perjalanan darat dari Jakarta.

Bayanganku soal fasilitas serupa Jakarta juga sirna. Di sini medan begitu ekstrem. Awal kedatanganku dan rekan-rekan di desa ini menjadi tantangan yang luar biasa. Waktu awal-awal kedatanganku tantangan bertambah berat dengan seringnya turun hujan. Jalan bebatuan yang licin dan tanah merah berlumpur harus kunikmati setiap hari. Jatuh bangun tatkala berjalan sudah tidak perlu ditanyakan berapa kalinya. Syukurnya, listrik sudah menerangi setahun ini. Aku tidak bisa membayangkan andai warga Banyuasih harus menghadapi gulita malam tanpa listrik tatkala berjalan di tengah guyuran hujan.

Namun, yang kualami itu sebenarnya secuil sensasi medan Ujung Kulon. Bagiku yang pendatang mungkin masih belum bisa menerimanya sebagai kewajaran. Tapi, tidak demikian dengan warga di sini. Medan tantangan berat dan kurangnya perhatian pemerintah dalam pembangunan infrastruktur tidak mengurangi pengabdian. Sebut saja Pak Dudi Mashudi sebagai contoh.

Rekan guru di sekolah tempatku mengabdi itu berasal dari luar desa. Setiap hari beliau menghadapi medan berat itu. Jarak yang beliau tempuh hanya sekitar 50 kilometer. Beliau lalui keletihan setiap hari semata ingin mendedikasikan ilmunya sebagai guru Olahraga SDN Banyuasih 2. 
Setiap harinya beliau ke sekolah menunggangi kuda besinya yang sudah mulai renta, hampir serenta usianya. Usia beliau sudah menginjak kepala lima, uban pun telah menghiasi kepalanya. Namun, hal ini tak mengurangi semangatnya dalam menjalankan amanah. Peluh yang membasahi tubuhnya justru menjadi penawar kelelahan. Beliau salah seorang guru yang aktif di sekolah juga di kegiatan-kegiatan UPTD. Beliau juga guru yang rajin dan selalu dinantikan kehadirannya di sekolah.

Anak-anak sangat senang menyambut beliau. Tubuhnya yang jangkung akan muat merangkul anak-anak saat bertemu. Beliau sangat ramah, senyumannya menebar di sepanjang pengajarannya. Mungkin karena itulah anak-anak selalu menantikan sosoknya. Teriakan anak-anak akan menggelegar ketika Pak Dudi memasuki gerbang sekolah.
Pak Guru, hari ini saya olahraga! 
Saya juga, Pak Guru!
Kita olahraga apa lagi, Pak Guru?
Kalimat itu bergantian keluar dari mulut anak-anak sambil menghampiri beliau dan bersalaman dengannya. Beliau pun dengan sabar dan ramah menjawab kecerewetan khas anak-anak.

Aku penasaran dengan perjalanan yang beliau lalui untuk tiba di sekolah setiap harinya. Di tengah-tengah jam istirahat sekolah, aku pun berkesempatan bertanya.

Berapa lama Bapak dalam perjalanan untuk tiba di sekolah?
Lebih kurang 80 menit, Bu.
Wah 80 menit ya? Jam berapa kiranya Bapak berangkat dari rumah? Bapak kan biasanya datang lebih awal dari guru yang lain? 
Sekitar pukul 06.00 atau paling lambat 06.30, Bu. 
Pukul 06.00 waktu yang cukup awal untuk melakukan tugas di daerah pedesaan. Aku jadi semakin salut pada beliau.
Jalan yang berliku tajam, naik turun gunung, dan keluar masuk hutan dilaluinya setiap hari untuk tiba di sekolah. Banyak pengalaman yang beliau dapat saat menempuh perjalanan panjang ke sekolah. Maut pernah hampir menyambangi beliau.
Waktu itu dari posisi berlawanan arah ada truk pembawa kayu hutan. Saya dari posisi atas ingin menuruni bukit dalam hutan, sedang truk itu dari arah bawah, cerita Pak Dudi.
Aku serius menyimak ceritanya. 
Awalnya saya menekan rem, lanjutnya, tapi karena jalan yang menurun, motor tua saya tak begitu bersahabat. Datanglah truk dari posisi berlawanan, dan plakkk... saya pun terguling-guling hampir masuk ke dalam jurang. Alhamdulillah, tak ada luka yang berat hanya lecet sedikit di bagian kaki.
Aku membayangkan bila diriku dalam posisi sebagai Pak Dudi.
Kejadian itu membuat saya trauma sampai sebulan lamanya. Setelah kejadian itu saya jadi ragu bila melalui jalan menurun lagi, apa lagi pada tempat kejadian perkara.
Lalu selama itu Bapak tidak mengajar dulu? tanyaku.
Ya tetap mengajarlah, Bu! jawabnya dengan disertai senyuman.
Walaupun trauma itu ada, mengajar adalah amanah yang harus dijalankan. Itu wajib hukumnya, Bu, untuk pendidik seperti saya ini.
Jleebb... kata-kata itu seketika menusuk jantungku. Bukan karena menyinggung perasaanku, namun rasa malu akan diri ini lebih menggerogoti. Sudah setua itu tapi semangat Pak Dudi mengalahkan anak muda sepertiku.


Sejujurnya sudah jarang aku temui guru seperti sosok beliau. Seorang pendidik yang mengajar bukan hanya hendak bertatap muka, melainkan juga menjalin cinta melalui keikhlasan mengajar anak didiknya. Jarak, waktu, dan medan yang luar biasa tak menyurutkan semangatnya. 
Aku berharap, semoga kelak pendidik di negeri ini dipenuhi sosok-sosok seperti beliau. Dan aku berharap, kendati masih dalam proses belajar, termasuk di dalamnya.

 

Jamilah Sampara, SPd.
(Relawan pendidikan Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa, SD Negeri Banyuasih, Pandeglang, Banten)

*Tulisan telah melalui proses editing tanpa mengurangi substansi tulisan.

Redaksi menerima tulisan citizen journalism. Tulisan dapat dikirim ke [email protected]