hit counter code


Meski Miliki Keterbatasan Fisik, Asti Bisa Mandiri

Kesehatan, | Wed 12/2014 11:24:45
Dompet Dhuafa Post Image
Share
Asti Handayani saat menjahit di rumah kontrakannya di bilangan Rawa Lumbu, Bekasi. Meski penyandang disabilitas, Asti membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk maju. (Foto:Slamet/Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa)

Perempuan tangguh itu bernama Asti Handayani. Perempuan asli Sukabumi ini memang tidak seperti orang pada umumnya. Lumpuh yang di deritanya sejak lahir, membuat ruang geraknya terbatas. Ke manapun ia menggunakan kursi roda kesayangannya.

Keinginan untuk tidak menjadi beban membuatnya berusaha keras untuk mencari pekerjaan. Beruntung, ada perusahaan percetakan yang mau menerimanya. Dengan hasil kerjanya ia bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. ”Dulu sebelum menjahit saya bekerja sebagai tukang setting di percetakan. Lumayan lah bisa untuk sehari-hari,” ujar wanita 35 tahun ini.

Namun, pekerjaan yang penghasilan lumayan tidak mampu menahan mimpinya untuk menjadi pengusaha sukses. Setelah keluar dari pekerjaanya, ia mengikuti pelatihan menjahit di Cipayung, Depok. Setelah pelatihan, ia tidak langsung memulai usahanya karena tidak memiliki modal.

Keinginan Asti memiliki usaha semakin terang saat Ia tinggal bersama keluarganya di Jati Bening Bekasi,. Di sana, ia diperkenalkan temannya pada Paini, pengurus Kelompok Usaha Bersama Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Rawa Lumbu Berkarya, yang semua anggotanya adalah para penyandang disabilitas. Sejak perkenalan itu, ia memutuskan bergabung denga ISM Rawa Lumbu Berkarya.

Setelah bergabung ia memilih untuk hidup mandiri dengan mengontrak rumah yang sekaligus dijadikan sebagai tempat usaha. Ia tinggal bersama Neneng sesama penyandang disabilitas, yang sudah lebih dahulu bergabung dengan usaha bersama.

Setahun sudah ia bergabung dengan kelompok usaha ini. Karena punya keahlian menjahit yang didapat dari pelatihan, ia memutuskan menekuni usaha jahit baju dewasa dan anak. Order menjahit ia dapatkan dari warga sekitar, namun ada juga orderan dari baju anak dari Tangerang yang rutin tiap bulan.

Dengan usahanya tersebut, ia bisa mengantongi panghasilan bersih Rp 500 ribu/bulan. “Usaha kecil-kecilan lah. Jahit baju untuk orang dewasa. Ada juga baju anak. lumayan lah, karena kan disini masih kampung jadi harganya juga gak bisa tinggi. Kalau orang jual gamis di luar bisa Rp 160 ribu /potong, di sini gak bisa, paling Rp 70 ribu-Rp80 ribu,” ujar Asti.

Sejak bergabung dengan ISM, tidak hanya keuntungan secara finansial yang ia dapatkan. Beberapa kali ikut kegiatan seperti pameran, wawasannya pun bertambah banyak. Ia tidak lagi menggantungkan hidup pada orang lain. Ia membuktikan bahwa kondisinya yang terbatas tidak menghalangi mimpinya untuk maju dan mandiri.

Asti merupakan salah mitra program pemberdayaan disabilitas wilayah Rawa Lumbu, Bekasi. Secara keseluruhan penerima manfaat program ini berjumlah 37 mitra yang semuanya adalah penyandang disabilitas. Program ini memberikan modal usaha, pelatihan dan peningkatan kualitas produk yang dihasilkan. Program yang dilakukan dengan metode pendampingan intensif yang berarti pendampingan dilakukan dari mulai membuat perencanaan usaha hingga pemasaran.

Program yang diinisiasi oleh Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa ini tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan penyandang disabilitas secara ekonomi sehingga mereka mampu berdiri sama tinggi dan tidak lagi didiskriminasikan. (slamet/gie)