hit counter code


CATATAN RELAWAN DOMPET DHUAFA: Duka di Bumi Banjarnegara (2)

Kesehatan, | Sun 12/2014 07:11:02
Dompet Dhuafa Post Image
Share

Sabtu, 13 Desember 2014

Matahari sudah agak meninggi ketika aku harus menyasakkan sekop ke tanah, mencoba mengurai timbunan tanah longsor yang melanda Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara Jawa Tengah. Sesekali aku berteriak memberikan arahan kepada rekan-rekan sesama relawan bencana untuk terus menggali dan berusaha menemukan korban bencana yang masih tertimbun.

Hujan deras yang mengguyur kawasan Banjarnegara sejak hari Rabu hingga Jum’at malam telah menimbulkan bencana tanah longsor di desa ini. Aku diamanahkan oleh Disaster Management Centre (DMC) Dompet Dhuafa untuk membuka Posko Bencana di Banjarnegara sekaligus membantu proses evakuasi korban bencana tanah longsor.

Letih.. Karena sebelum berangkat ke Banjarnegara, sejak hari kamis hingga Jumat sore, aku dan rekan-rekan ditugasi memberikan respon bencana di Wonosobo. Begitu mendapat intruksi dari Pusat Komando DMC di Jakarta tentang bencana longsor di Banjarnegara, akupun segera meluncur menuju lokasi bencana di Kecamatan Karangkobar.

Membelah jalanan jalur tengah provinsi Jawa Tengah, menembus kawasan pegunungan yang dikenal dengan sebutan zona Triple S (Sindoro, Sumbing, Slamet), hujan deras, jalanan licin dan berkelok-kelok, serta penerangan jalan yang minim, menjadi tantangan buat kami Relawan DMC untuk menuju lokasi bencana di dusun Jemblong, masuk area Pegunungan Serayu Utara. Tak disangka, begitu hampir sampai dilokasi, satu-satunya akses jalan dan jembatan menuju dusun Jemblong pun putus karena longsor.

Kami pun segera bergabung dan berkoordinasi dengan relawan dari berbagai unsur masyarakat dan aparat keamanan malam itu untuk langkah pertama, hujan deras masih mengguyur, khawatir akan terjadinya longsor susulan, proses evakuasi tak bisa dilanjutkan, para relawan terpaksa menunggu hingga Sabtu Pagi.

“Tarik-tarik..! Ayo cangkul sebelah sini..!!”, suara teriakan salah seorang relawan. Dengan peralatan sederhana, sekop dan cangkul kami mengeluarkan sesosok korban yang berhasil ditemukan. Sudah tak bernyawa. Jenazah segera kami bungkus dengan kantung mayat, kemudian dibawa menuju ambulans yang stand by beberapa ratus meter, karena tak bisa mendekat ke lokasi pencarian.

Sampai saat ini sudah delapan korban meninggal yang berhasil ditemukan. Akupun lantas bergabung lagi dengan masuarakat dan terus menggali dengan peralatan sederhana, alat-alat berat belum bisa masuk ke lokasi karena jalur evakuasi yang masih terputus.

“Ya Tuhan.. Ini bencana tanah longsor terparah yang pernah kutemui,” kataku dalam hati. Kuteruskan menggali. Sampai ketika rintik hujan turun dan lama kelamaan semakin deras, proses evakuasi diperintahkan untuk dihentikan. Bahaya longsor susulan.

Para Relawan pun turun ke lokasi aman. Aku kemudian bergabung lagi bersama timku. Berkoordinasi, memberikan laporan dan perlembangan pada Posko Pusat di Jakarta. "Mas Adi, Alhamdulillaah tim dari Jogja bergabung dengan tenaga kesehatan dan obat-obatan melengkapi tim dari Purwokerto, beberapa relawan mahasiswa juga siap bergabung dengan kita..”, lapor salah seorang anggota. Kuanggukan kepala, tersenyum menunjukkan betapa senangnya aku akan kabar ini.

Huff.. Mataku tertuju lagi ke hamparan tanah liat kemerahan lokasi longsor dibelakangku, masih banyak korban yang belum kami temukan. Pekerjaan berat masih menanti esok hari.

Kututup catatan ini Ahad dini hari, di posko yang dingin. [DD]

 

*Catatan Adi Sumarna, ketua tim rescue DMC Dompeet Dhuafa