hit counter code


Kolaborasi dengan Lapisan Masyarakat, Dompet Dhuafa Respon Bencana Tanah Air

Kesehatan, | Sun 12/2014 15:06:53
Dompet Dhuafa Post Image
Share
Tim kemanusiaan Dompet Dhuafa bersama tim gabungan yang terdiri dari Badan SAR Nasional, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPD) Banjarnegara, TNI, dan elemen relawan lainnya sat mengevakuasi korban tewas longsor Banjarnegara. (Foto: Dokumentasi Dompet Dhuafa)

JAKARTA—Tanah air saat ini tengah berduka. Beberapa wilayah mengalami bencana seperti longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah dan banjir di Garut, Jawa Barat. Lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa merespon cepat bencana tersebut dengan menurunkan tim kemanusiaan.

Merespon longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, sejak kamis (11/12) malam, Dompet Dhuafa telah bergerak menuju lokasi kejadian menyusul tim pertama yang sudah lebih dahulu berangkat untuk penanggulangan bencana banjir. Saat ini, tim gabungan kemanusiaan Dompet Dhuafa yang terdiri dari tim evakuasi Disaster Management Centre (DMC), Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Purwokerto, Badan Pemulasaran Jenazah (Barzah) dan pula melibatkan cabang Dompet Dhuafa di Jawa Tengah bersama elemen relawan lainnya terus melakukan evakuasi untuk mencari korban yang tertimbun longsor di lapangan. Adapun elemen relawan yang tergabung dalam respon di antaranya Persatuan Baitul Mal Wa Tanwil Indonesia, Mahasiswa kedokteran Universitas Muhammadyah Purwokerto dan Pelayanan Kesehatan Ummat Gumeelar.

Beberapa aktivitas yang dilakukan Dompet Dhuafa, selain evakuasi yakni identifikasi korban, mengurus jenazah, aksi layanan kesehatan bagi para pengungsi, dapur umum, dan terapi psikologis untuk anak-anak pengungsi.

“Dalam merespon bencana baik di dalam maupun luar negeri, kita selalu bersinergi, berkolaborasi, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat baik perorangan maupun lembaga. Modal sosial tersebut bisa bersegera turut andil, di tahap respon, recovery, maupun tindakan preventif,” ujar Presiden Direktur Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini yang tengah berada di Qatar dalam agenda World Zakat Forum (WZF) pada Ahad (14/12).

Ahmad menambahkan, kekhasan Dompet Dhuafa sejak awal dalam penanganan kebencanaan selalu ditindaklanjuti dengan berbagai program pemberdayaan baik di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Bentuk program yang bisa dilakukan, kata Ahmad, adalah pemberdayaan pascabencana seperti pemberian modal usaha ataupun keterampilan untuk bisa bekerja.

Selepas bencana, Dompet Dhuafa juga mengupayakan agar kasus bencana seperti longsor tidak terulang. Hal ini dilakukan dengan penyadaran kepada warga melalui program pengurangan risiko bencana melalui sekolah mitigasi bencana.

“Penyadaran kepada warga untuk tidak membuah sampah sembarangan, dilarang menebang hutan dan melakukan penghijauan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Ahmad mengimbau pemerintah agar tidak mengacaukan tata ruang terutama area hijau dan area serapan air. Selanjutnya Ia berharap Pemerintah juga segera memperbaiki kawasan-kawasan rawan longsor agar tidak terjadi hal serupa seperti di Banjarnegara.

“Masyarakat yang tinggal di daerah-daerah rawan longsor untuk dapat dipindahkan dapat dipindahkan ke daerah yang aman dengan ganti rugi lokasi yang memadai, beserta penyiapan modal sosialnya,” jelas Ahmad.

Seperti yang diberitakan, hujan yang mengguyur kawasan Banjarnegara sejak Rabu hingga Kamis, selain mengakibatkan meluapnya Sungai Serayu juga memicu bencana tanah longsor. Pada Jumat (12/12), sekitar pukul 17.30 WIB, terjadi longsor hebat di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, Jawa Tengah.

Dalam kejadian tersebut, 105 rumah tertimbun longsoran dari tebing terjal di kawasan tersebut. Bencana longsor ini sedikitnya menelan 25 korban jiwa, 80an orang masih dinyatakan hilang dan puluhan luka-luka. Korban luka dirawat di Puskesmas Kecamatan Karangkobar dan RSUD Banjarnegara, sementara itu korban selamat diungsikan di Balai Desa Sampa. Sebanyak 300an orang mengungsi di beberapa titik pengungsian.

Sementara, terkait banjir di Kecamatan Cikajang, Garut, Dompet Dhuafa merespon dengan mendirikan dapur umum untuk kebutuhan 500 kepala keluarga pengungsi. Pendirian dapur umum yang berada di Kampung Baru Bandung, Desa Mekarjaya Kecamatan Cikajang tersebut dibantu oleh warga sekitar. Dompet Dhuafa juga mendistribusikan logistik dan pakaian layak pakai di beberapa titik lokasi, sebanyak 66 paket. Guna meminimalisasi banjir, tim Dompet Dhuafa bersama warga membuat tanggul darurat menggunakan karung berisi pasir. (gie)