hit counter code


Enyati (36), Korban Longsor Banjarnegara: ‘’Firasat Saya Jadi Kenyataan”

Kesehatan, | Sun 12/2014 15:24:04
Dompet Dhuafa Post Image
Share

Masih terukir jelas dalam benak Enyati (36), salah satu warga Dusun Karangtengah, Desa Pencil, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, ketika bencana longsor terjadi pada Jumat sore (12/12) lalu. Ia tak menyangka, hujan deras yang menguyur kawasan rawan longsor tersebut selama beberapa hari tersebut berujung petaka.

Yati, demikian sapaan akrabnya sehari-hari ini mengungkapkan, sebelum longsor besar terjadi di Kecamatan Karangkobar, bencana longsor sudah menimpa lebih dulu di Kecamatan Wanayasa. Dalam longsor pertama, tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, korban luka-luka diperkiran hingga mencapai puluhan orang, dan diperkirakan ratusan rumah rusak berat.

“Pas kejadian longsor di Wanayasa, saya cuma bisa jerit Allahu Akbar terus-terusan. Belum Lagi seminggu kemudian ada Longsor di Karangkobar. Saya bener-bener trauma,” ujarnya ketika dihubungi via telepon pada Ahad (14/12).

Saat kejadian longsor di tempat tinggalnya, Yati bercerita, ketika itu ia tengah menyiapkan makan siang bagi kedua anaknya yang sebentar lagi akan pulang sekolah. Ketika hendak mengambil sebuah piring, tiba-tiba ada gundukan tanah yang menimpa halaman depan rumahnya hingga masuk dan memenuhi ruang tamu.

“Saya cuma bisa jerit mba, itu lihat tanah mengubur semua halaman rumah saya. Saya nggak pikir panjang, langsung lari menyelamatkan diri,” papar Yati yang sehari-harinya sebagai buruh tani ini.

Rasa trauma melihat bencana longsor yang terjadi, masih sangat dirasakannya bersama 577 warga lainnya yang masih mengungsi di 10 titik posko pengungsian. Terucap didalam hatinya, ia bersama suami dan kedua anaknya tak akan kembali ke rumah hingga kondisi benar-benar kondusif. Karena ia merasa memiliki firasat, akan datang bahaya yang lebih besar di Kabupaten Banjarnegara.

“Saya nggak nyangka firasat saya jadi bener. Saya kayak ngerasa was-was keluar dari rumah. Ternyata Jumat pas mau magrib malah longsor di Karangkobar,” ujarnya lirih.

Yati mengaku, sebelum longsor terjadi di Kecamatan Karangkobar, dirinya hendak pergi ke wilayah tersebut untuk mengajak kedua anaknya jalan-jalan pada siang hari. Tak disangka, sore hari menjelang magrib, bencana longsor pun terjadi yang mengakibatkan lebih dari 108 jiwa meninggal dunia, puluhan luka-luka, dan 105 unit rumah rusak berat.

“Duh Gusti Allah, cobaan apalagi ini? Lha wong saya baru aja dari situ. Saya bener-bener istighfar terus selama denger kabar itu,” paparnya.

Kini, Enyati dan ratusan warga Kabupaten Banjarnegara yang mengungsi hanya bisa terus bersabar menghadapi cobaan yang tengah dihadapi. Ia bersama para pengungsi lainnya sangat berharap bantuan bisa terus mengalir, terutama perbaikan rumah dan perkebunan sawah mereka yang rusak akibat terjangan longsor.

“Rumah saya juga rusak parah. Belum lagi ladang tempat saya biasa bertani juga hancur. Saya berharap ada bantuan secepatnya,” harapnya. (uyang)