hit counter code


Berantas Korupsi, Berantas Kemiskinan!

Ekonomi, | Wed 10/2015 15:14:42
Dompet Dhuafa Post Image
Share

Bulan Desember, bulan tutup tahun, bulan orang diharap berlaku lebih santun. Bulan Desember penuh dengan hari-hari yang dimaknai dengan cinta kasih. Mulai dengan 3 Desember sebagai hari Disabilitas Internasional (HDI), yang mengingatkan kita untuk peduli dengan kaum penyandang disabilitas.

Tahun ini peringatan HDI bertajuk: “Hapus Hambatan, Wujudkan Masyarakat Inklusif”. Tujuannya adalah agar kita memberi kesempatan yang sama dan setara kepada saudara-saudara kita yang menyandang disabilitas dengan melibatkan mereka dalam segala bentuk kegiatan kemasyarakatan agar mereka bisa memperoleh kesempatan kerja, fasilitas umum dan kehidupan yang layak.

Penyandang disabilitas bagi saya adalah dhuafa plus-plus. Maksudnya, sudah kurang beruntung secara ekonomi (miskin), masih meyandang kecacatan lagi (tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, tuna daksa (tubuh) dan tuna grahita) pula.

Oleh karena itu, sebagai Ketua Gerakan #SesamaSetara, ketika melepas gerak jalan HDI 2013 di halaman RRI Jakarta, 1 Desember lalu, saya mengajak semua pihak untuk membantu mereka agar menjadi sehat, bersemangat, cerdas, berkualitas dan bermartabat. Mereka tidak minta dikasihani, tapi dilibatkan, dibantu, diajak bekerjasama sebagai mitra yang setara. Sesama manusia dan makhluk Allah kita wajib saling mencintai!

Lalu, 5 Desember diperingati sebagai Hari Relawan Internasional. Maksudnya agar kita semua meningkatkan semangat kerelawanan untuk menolong sesama. Tanggal 20 Desember kita peringati sebagai Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN). Maksudnya apa lagi, kalau bukan seruan agar kita menunjukkan solidaritas kepada sesama manusia, sesama anak bangsa, terutama mereka yang kurang beruntung, yakni kaum dhuafa dan penyandang disabilitas.

Tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Semua orang pasti sudah tahu bahwa Ibu adalah sumber dan pelaku utama cinta kasih. Maksudnya, kita semua, laki-laki maupun perempuan, yang pasti punya ibu, agar menghargai para ibu. Dan, para ibu menghargai ibu masing-masing, demikian seterusnya ke atas. Peringatan ini mengandung makna kita harus menghargai leluhur, menghargai sejarah.

Lalu, 25 Desember umat Nasrani merayakan hari Natal, yang intinya juga menyerukan kasih sayang. Kemudian paling akhir 31 Desember, hari akhir tahun, yang seharusnya kita gunakan untuk refleksi, tafakur dan bersyukur atas nikmat yang telah kita terima dan berdoa agar tahun depan lebih baik lagi. Bukan untuk hura-hura, pesta pora, membakar uang dalam bentuk mercon!

Salah satu bukti orang yang bersyukur adalah peduli sesama dengan berderma, membantu orang lain. Bagi kaum Muslim, wujudnya adalah membayar zakat, infak, sedekah dan wakaf. Sebelum tutup tahun, yang merasa belum sepenuhnya memenuhi kewajiban sebagai muzaki, ya buru-buru laksanakan, mumpung masih ada waktu.

Berantas Korupsi

Di antara hari-hari yang penuh makna kasih sayang itu, terselip Hari Anti Korupsi Sedunia (HAKS), tanggal 9 Desember. Maksudnya tentu sudah jelas agar manusia sedunia memberantas korupsi. Sekilas HAKS ini agak bertentangan dengan semangat cinta kasih, karena pemberantasan korupsi memerlukan tindakan tegas, keras dengan menjatuhkan hukuman berat, mulai dari hukuman seumur hidup dan memiskinan sampai hukuman mati.

Menurut saya, menyelipnya HAKS itu justru pas, karena berkaitan erat. Alasannya, para koruptor itu adalah pelaku kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) terhadap kemanusiaan. Mereka perlu diingatkan, diberi pelajaran dan menjadi pembelajaran bagi yang lain bahwa korupsi dampaknya sama dengan membunuh orang lain dalam jangka panjang. Membunuh secara pelan-pelan, justru lebih menyakitkan, lebih kejam.

Korupsi jelas dilarang oleh agama apa saja. Dalam Al Quran, berbuat kerusakan di muka bumi sama dengan korupsi dan Allah membenci koruptor (Al Qashash: 28:77). Juga memakan dan minum dari uang haram sama dengan korupsi (Al Baqarah, 2:60).

Dalam diskursus spiritual, teologi dan moral, korupsi adalah semua hal yang bertentangan dengan kesucian atau kemurnian spiritual dan moral atau penyimpangan dari sesuatu yang ideal. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari menerima (dan memberi) suap, menilap uang, korupsi politik (menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi), sampai merusak lingkungan seperti pembabatan hutan dan penambangan ilegal (atau setengah legal) .

Kesimpulannya, para aktivis sosial, amilin dan amilat lembaga amil zakat harus sekaligus menjadi pegiat anti korupsi, karena korupsi adalah musuh nomor satu bagi upaya pemberdayaan masyarakat. Lebih singkat lagi, korupsi adalah musuh nomor satu kaum miskin dan penyandang disabiliitas. Mari kita galang kerjasama dengan semua pihak, para sahabat kaum dhuafa dan disabilitas untuk memberantas korupsi. Ingat, doa mereka makbul! Amin.