hit counter code


Dibantu Dompet Dhuafa, Rumah Buruh Tani ini Layak Huni

Kesehatan, | Fri 01/2015 11:25:45
Dompet Dhuafa Post Image
Share

Sudah berpuluh-puluh tahun lamanya, Nenek Pio (65) merasakan tinggal di rumah yang sudah tidak layak huni. Keadaan rumahnya begitu memprihatinkan. Atap yang bocor, dinding yang hanya terbuat dari bilik yang semakin rapuh, juga lantai yang masih beralaskan tanah kerap membuatnya sering mengeluhkan masalah kesehatan. Bagaimana tidak? Saat hujan turun, air hujan pun masuk dari celah-celah atap rumahnya yang bolong. Belum lagi, dinginnya angin malam yang selalu berhembus kencang dari sudut-sudut bilik rumah setia menemani ketika ia beranjak istirahat.

“Saya sering banget masuk angin. Mungkin sering kena angin malam terus. Saya udah biasa kayak gini,” ujarnya saat ditemui tim survey Lembaga Pelayanan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa, di rumahnya di Jalan Rawa Silam. 004/003, Pondok Ungu, Kali abang Tengah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat pada Desember lalu.

Lebih lanjut Nenek Pio menceritakan, ketika musim penghujan tiba, ia sudah mulai mengantisipasi dengan menyingkirkan barang-barang yang berada di dalam rumah seperti tempat tidur dan lemari pakaian ke ruangan yang lebih aman, agar tidak tergenangi air hujan. Selain itu, ia juga lebih memilih mengungsi ke rumah tetangga karena posisi rumahnya yang lebih rendah sehingga air hujan mudah tergenang dan memasuki rumahnya.

Bagi nenek yang telah menyandang status janda ini, memiliki sebidang tanah meski rumah yang ditempatinya sudah tidak layak huni, sedikit pun tak pernah membuatnya merasa berkecil hati. Baginya, menikmati tinggal bersama dengan 2 anak dan 2 cucunya yang masih kecil menjadi nikmat terindah yang menghiasi kehidupannya selama ini.

“Yang penting sekarang mah sehat aja syukur. Bisa kumpul ama cucu ama anak. Jadi banyak-banyak syukurin aja sekarang mah,” ucapnya bijak.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Nenek Pio setiap harinya bekerja sebagai buruh tani di sebuah kebun yang berada di dekat tempat tinggalnya. Dalam sehari, ia biasa mendapat upah sebesar Rp 15 ribu sampai dengan Rp 20 ribu. Sedangan kedua anaknya yang juga telah menyandang status janda bekerja sebagai buruh cuci, dan seorang lagi bekerja sebagai buruh angkut pasir di sebuah matrial.

“Dari hasil buruh tani saya pake buat makan sehari-hari. Kadang juga kasih uang jajan buat cucu saya,” paparnya.

Kini, Nenek Pio memiliki sebuah harapan, kelak mampu merenovasi rumah agar dapat menikmati masa tuanya. Ia begitu sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatan ia beserta anak dan cucunya,bilamana hujan tiba dan angin malam selalu datang menjadi tamu yang membawa ancaman kesehatan bagi keduanya.

“Yah mudah-mudahan ada yang bantu saya supaya bias renovasi rumah. Saya mah cuma bias berdoa terus sekarang,” ujarnya lirih.

Alhamdulillah, doa yang dipanjatkan Nenek Pio dan keluarga setiap harinya terjawab sudah. Dengan rahmat Allah, Dompet Dhuafa melalui Lembaga Pelayanan Masyarakat (LPM) membantu keluarga kecil ini merenovasi rumahnya.                       

Rasa syukur tak henti-hentinya dipanjatkan Nenek Pio beserta keluarga. Kini, rumahnya layak kembali untuk dihuni. Inilah buah manis dari perjuangan orang yang terus bersabar dan berjuang dalam menjalani hidup. (uyang)