hit counter code


Potensi Zakat di Banten Rp 100 Miliar per Tahun

Kesehatan, | Mon 01/2015 14:57:07
Dompet Dhuafa Post Image
Share
Kepala Cabang Dompet Dhuafa Banten, Abdurrahman Usman memaparkan potensi zakat di Banten saat Diskusi Publik belum lama ini. (Foto: Dokumentasi Dompet Dhuafa Banten)

SERANG—Kepala Cabang Dompet Dhuafa (DD) Banten, Abdurrahman Usman, mengatakan, potensi zakat di Provinsi Banten dengan mengukur jumlah rumah tangga muslim dan jumlah wajib zakat yang 2.5% cukup besar. Dari data yang diperoleh, zakat di Banten dapat dihimpun lebih Rp 100 miliar per tahun, namun potensi itu baru tergali sekitar satu persen.

“Masih banyaknya potensi zakat yang belum tergarap disebabkan oleh banyak faktor di antaranya sosialisasi zakat yang kurang dan berbagai faktor lainnya,” papar Usman saat mengisi diskusi publik dengan tema “APBD Banten 2015, Seberapa Berpihak terhadap Rakyat Kecil?”, di Serang, Kamis (15/1) lalu.

Usman menambahkan, saat ini isu kemiskinan, pengangguran, dan indeks pembangunan manusia masih menjadi persoalan di Banten. Banyak media memotret kasus-kasus kemiskinan di Banten.

“Provinsi kita sempat menjadi topik hangat berita dunia dengan kehebohan jembatan Indiana Jones-nya, kasus gizi buruk, dan kini yang membuat hati kita miris adalah jumlah wanita tuna susila melonjak tinggi bahkan tercatat sudah ada yang terjangkit virus HIV AIDS,” kata Usman.

Karenannya, pemangku kebijakan bersama seluruh elemen masyarakat Banten diharapkan dapat bersinergi mengentasjan kemiskinan di Banten. Pendayagunaan dana umat seperti zakat, infak, dan wakaf yang dilakukan Dompet Dhuafa menjadi salah satunya.

Turut hadir dalam diskusi tersebut Direktur Pusat Telaah dan Informasi Regional (Pattiro) Banten Panji Bahari Noor Romadhon. Panji menuturkan, pendapatan asli daerah (PAD) Pemprov Banten tahun 2014 sebesar Rp 4,675 triliun dinilai sudah sangat baik. Namun demikian, implementasi dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Banten seringkali tidak sesuai dengan harapan.

"PAD Banten itu termasuk yang baik, namun yang perlu dilihat juga bahwa output dari APBD ini yang bermasalah. Jadi masih tingginya tingkat kemiskinan yang fluktuatif, termasuk kerawanan sosial yang sangat tinggi sekarang ini," paparnya.

Dalam diskusi yang dihadiri oleh sejumlah awak media, akademisi, dan pimpinan perusahaan ini turut berbicara Kabid Perencanan Program Anggaran Pembangunan Bappeda Nur Muttqin dan Ketua Forum CSR Banten Moch. Najib. Diharapkan dari diskusi publik seperti ini lahir berbagai kebijakan hasil sinergi elemen masyarakat, pemerintahan, dan perusahaan untuk menuju Banten yang lebih baik. (chogah/gie)

Abdurrahman Usman