hit counter code


Dulang Rupiah Lewat Usaha Kolang-Kaling

Kesehatan, | Mon 02/2015 13:43:02
Dompet Dhuafa Post Image
Share

 

Sulaeni (45) tengah merendam buah kolang-kaling, usaha yang ditekuninya dalam mencukupi kebutuhan keluarga

Kicauan burung di pagi hari menjadi teman sejati ibu tangguh ini dalam mengawali aktivitas sehari-harinya. Olahan buah aren yang dibelinya dari kebun tetangga, mampu disulapnya menjadi makanan ringan yang biasa dikenal dengan sebutan kolang-kaling. Ya, usaha kolang-kaling inilah yang membuat Sulaeni (45), warga Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mampu membantu sang suami dalam mencukupi kebutuhan keluarga.

Mudah bagi Leni, demikian sapaan akrabnya sehari-hari dalam mengolah buah aren menjadi kolang-kaling. Dalam Seminggu, Leni biasa mengolah sekitar 500 butir buah Aren. Satu tangkai buah aren biasanya dibeli dengan harga Rp 10 ribu. Bila dijajakan di Pasar terdekat, 1 kilogram kolang-kaling harganya sebesar Rp 15 ribu.

“Saya kupas dulu buah arennya, abis itu direbus selama 3 jam. Abis itu dikupas lagi lapisan terluarnya dan dikeprek (pukul) sampe bentuknya agak gepeng (datar). Abis itu direndam deh selama 3 hari di tempayan,” ujar ibu dengan 4 orang anak ini.

Dari hasil penjualannya menjajakan kolang-kaling, Leni mengaku, kini ia mampu membantu sang suami dalam mencukupi keluarga seperti memberi uang saku kepada 3 orang anaknya yang masih bersekolah, serta mencukupi kebutuhan dapur untuk makan sehari-hari. Pasalnya, sang suami yang hanya berprofesi sebagai penjual gula aren keliling ini dinilai belum mampu mencukupi kebutuhan bagi keluarga.

“Alhamdulillah, sekarang sudah bisa bantu suami cari duit. Saya kasihan juga lihat suami banting tulang kerja. Lagi pula sembako dan lain-lain juga makin naik harga,” paparnya.

Leni menjelaskan, sudah hampir 3 tahun ia menjalani usaha panganan kolang-kaling ini. Tidak hanya didistribusikan di Pasar Induk yang berada di Kecamatan Cisolok, namun kolang-kaling hasil jerih payahnya ini mampu didistribusikan hingga luar negeri di antaranya, Malaysia, Thailand, dan Singapore.

“Jadi dari Pasar Induk biasanya diborong lagi sama tengkulak. Terus denger-denger dijual sampe Malaysia. Kadang juga nyampe ke Kalimantan sama Sumatera. Ya saya nggak nyangka aja bisa dijual ke luar wilayah,” ucapnya tersenyum.

Kini, Leni hanya mengharapkan, suatu saat kelak, ada yang membantunya dalam menambahkan modal usaha kolang-kalingnya agar segera dapat berkembang.

“Saya bersyukur dengan keadaan saya yang sekarang ini, tapi bila suatu saat ada perubahan saya sangat ingin usaha saya bisa berkembang jadi lebih sukses,” pungkasnya penuh harap. (uyang)