hit counter code


Enam Tahun Derita Hydrocepalus, Bayi Buruh Cuci ini Menanti Kepedulian Kita

Kesehatan, | Fri 02/2015 10:17:37
Dompet Dhuafa Post Image
Share
Uminah bersama anaknya yang menderita Hydrocephalus saat konsultasi kesehatan di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa, Ciputat, Tangerang Selatan (Foto: Dokumentasi LKC Dompet Dhuafa)

Lelah dan kesedihan tampak jelas tergambar di wajah Uminah (33). Enam tahun sudah wanita yang bebekerja sebagai buruh cuci gosok ini mesti rutin setiap pekan mendatangi rumah sakit. Dalam kondisi apapun ia harus mendampingi anak keduanya, Siti Albarokah (6) untuk konsultasi kesehatan dan gizinya di Gerai Sehat Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa di Ciputat, Tangerang Selatan.

Warga yang tercatat tinggal di Jl. Pembangunan II, RT 12 RW 09 No.18, Kelurahan Rawa Badak Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, ini awalnya tidak menduga, bahwa anak yang terlahir secara normal ini didiagnosa oleh dokter menderita Hydrocephalus, sebuah kondisi batok kepala seseorang semakin membesar.

Sebagai manusia normal, ia pun bersedih karena telah kehilangan harapan besar untuk memiliki anak yang riang, “Saya gak nyangka sama sekali. Pertamanya saya liat (kondisi anak) saya menangis sejadi-jadinya,” ucap Uminah lirih.

Namun lambat laun Uminah menyadari bahwa anak merupakan titipan yang dari Sang Maha Kuasa yang wajib ia jaga dan urus, “Saya terus-terusan berdo’a agar saya dikasih rasa sayang,” tuturnya.

Saat berkunjung ke LKC Dompet Dhuafa Jum’at (6/2) lalu, Istri dari Ramin (55) yang bekerja sebagai tukang ojek itu menuturkan bahwa ia bersyukur anaknya tidak rewel. Uminah bahkan kerap kali meninggalkan Barkah sendirian dirumah saat ia bekerja menjadi buruh cuci.

Kehadiran Siti menjadi arti tersendiri bagi Uminah, terlebih lagi bagi Ramin, suaminya. Pasalnya menurut Uminah, semenjak kehadiran Barkah yang divonis mengidap Hydrosefalus, suaminya kerap rajin ibadah. Bahkan Ramin yang dulunya jarang bergaul jadi semakin sering bergaul dengan warga.Hal itu ia lakukan sebagai ikhtiar agar ada jalan untuk menolong anaknya.

“Dulu bapaknya gak pernah ngaji dan bergaul sama tetangga, berkat anak ini saya luar biasa dapet hidayahnya, bahkan dulu mah suami saya malas salat, sekarang orang malah manggil dia pak haji, karena begitu rajinnya pergi ke masjid, padahal dia belum naik haji,” terangnya.

Masih menurut Uminah, meski keadaan ekonomi berkekurangamn, Allah menggantinya dengan menggerakan ia dan suami untuk selalu dekat denganNya dalam beribadah. “Ini mungkin hikmah dibalik musibah yang saya terima, justru saya lebih merasakan berkah yang tak terhingga dibandingkan harta yang lainnya,” pungkas Uminah. (gm/mj/gie)