hit counter code


Catatan Guru SGI Dompet Dhuafa Angkatan VII Penempatan Pandeglang

Kesehatan, | Mon 02/2015 15:25:19
Dompet Dhuafa Post Image
Share
Tim SGI Dompet Dhuafa angkatan VII penempatan Pandeglang, Banten. Dari kanan ke kiri: Sapto, Ulfa, Nur, Anty, Sasni dan Heri. (Foto: Dokumentasi SGI Dompet Dhuafa)

Oleh: Ulfa Wardani, Peserta Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa Angkatan VII penempatan Pandeglang, Banten

Sekarang aku sedang mengikuti program penempatan Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa atau biasa kami sebut dengan SGI. SGI adalah salah satu jejaring Dompet Dhuafa yang bergerak di bidang pendidikan dengan tujuan membantu pemerintah meningkatkan pemerataan pendidikan di daerah 3T (Terpencil, Terluar dan Tertinggal). Aku merupakan satu dari 30 pemuda-pemudi seluruh Indonesia yang bergabung di SGI angkatan VII.

Sebelum masuk SGI ada serangkaian test yang aku lalui. Mulai dari seleksi administrasi hingga micro teaching dan wawancara yang semua test itu aku lakukan di Medan. Setelah dinyatakan lulus tes micro teaching dan wawancara, terpilihlah 30 pemuda-pemudi seluruh Indonesia yang diundang datang ke Bogor untuk melakukan masa pembinaan lebih kurang empat bulan setengah sebelum nantinya akan ditempatkan selama 1 tahun di daerah 3T.

SGI banyak memberikan perubahan dalam hidupku, mulai dari pengetahuanku tentang dunia pendidikan yang sebelumnya belum pernah aku dapati di bangku perkuliahan walaupun aku sendiri adalah lulusan Fakultas Tarbiyah (pendidikan). Terlebih lagi karena SGI mimipi-mimpi konyolku mengunjungi daerah-daerah seluruh Indonesia perlahan mulai terwujud. SGI memepertemukanku dengan teman-teman luar biasa. Aku menyebut mereka orang asing yang dalam sekejap berubah seperti saudara sendiri. Selama masa pembinaan melalui teman-teman aku mengakui bahwa Indonesia benar-benar kaya. Masing-masing kami datang ke Bogor membawa kekhasan daerah masing-masing, mulai dari dialek bahasa yang berbeda, adat istiadat dan makanan khas di lidah kami.

Sekarang tiba masanya kami ditempatkan selama 1 tahun di daerah terpencil, untuk menjadi guru relawan. Aku dan kelima temanku di tempatkan di Pandeglang Banten, di sini kami disebar perorang 1 kecamatan. Aku ditugaskan di Madrasah Iftidaiyah (MI) Miftahul Huda, tepatnya di Desa Cijaralang Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Jika kalian berkunjung ke madrasah ini akan kalian dapati 1 ruangan kelas yang terdiri dari kelas 2, 3, dan 4. Pemandangan lain yang kalian dapat lihat adalah kelas-kelas yang hanya berlantaikan tanah, sempurna sudah seperti yang pernah aku lihat di telebisi kini nyata di hadapanku. Satu hal yang perlu kalian bawa ketika ingin berkenalan dengan murid-murid di sini, yaitu ATLAS. Kenapa begitu? Biar kuceritakan kisahnya.

Senin, 19 januari 2015 adalah hari pertamaku mengajar di MI tersebut. Pertemuan pertama biasanya ritual perkenalan. Semua siswa sudah dikumpulkan di ruangan kelas satu. Setelah kata sambutan dari perwakilan guru sekarang tiba giliranku untuk berkenalan.

“Nama ibu, Ulfa Wardani, Asalnya dari Medan. Ada yang tahu Medan di provinsi apa?” tanyaku kepada mereka. Hening beberapa menit tidak jawaban dari mereka. “Medan, masih Indonesia kah bu?” seorang siswa bertanya balik kepadaku diiringi tawa siswa yang lain dan para guru. Untungnya aku membawa peta Indonesia yang memang sengaja aku beli dari Bogor. Aku perlihatkan kepada mereka wilayah Indonesia dan lima pulau terbesar di Indonesia. Aku jelaskan kepada mereka kota Medan letaknya di ujung barat Indonesia. Medan adalah ibu kota Provinsi Sumatera Utara, ada di pulau Sumatera. Aku perlihatkan juga letak provinsi Banten dan adanya di pulau Jawa. “Wah… ibu mah jauh pisan kedieu (sekali ke sini),” begitu cetus mereka. Aku tersenyum kepada mereka sekali lagi aku katakan “Nama ibu, Ulfa Wardani. Asalnya dari Medan dan Medan itu masih Indonesia”.