hit counter code


Pupuk Nasionalisme dalam Napak Tilas dan Tutur Veteran Rengasdengklok

Nasional, | Wed 08/2016 13:29:09
Dompet Dhuafa Post Image
Share

RENGASDENGKLOK – Ada suatu yang spesial di Rumah Perjuangan Rengasdengklok. Bertepatan dengan peringatan Hari Veteran Nasional kali ini, puluhan siswa dari berbagai sekolah di Karawang dan Bekasi mendapatkan penuturan kisah perjuangan dari para Veteran bangsa dalam acara Napak Tilas dan Tutur Veteran Rengasdengklok.

Dengan mengambil tempat di Rumah Perjuangan Rengasdengklok, Rabu (10/8), Dompet Dhuafa menginisiasi kegiatan tersebut. Kegiatan yang bertujuan untuk terus menumbuhkan semangat nasionalisme para generasi muda tersebut dihadiri oleh belasan pelaku perjuangan bangsa yang tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia.

“Kami menginisiasi kegiatan ini untuk mengenang jerih payah para pejuang sekaligus menumbuhkan semangat nasionalisme generasi penerus bangsa. Sehingga generasi muda senantiasa mengenang jasa para pahlawan dan dapat mendengarkan langsung cerita dari para pelaku mengenai sejarah perjuangan bangsa. Selain itu juga untuk mengenang Hari Veteran Nasional dan menyambut hari ulang tahun ke-71 Republik Indonesia,” ungkap Ahmad Fitroh, penanggung jawab acara Napak Tilas dan Tutur Veteran Rengasdengklok dari Dompet Dhuafa.

Ini juga menjadi momen-momen spesial para pejuang Veteran untuk berbagi kisah dan semangat perjuangan merebut, serta mempertahankan kemerdekaan bangsa. Pada hari ini, siswa-siswi dapat bertemu dengan salah satu pelaku penjaga keamanan Rumah Perjuangan Rengasdengklok pada saat Bung Karno dan bung Hatta dibawa ke lokasi ini.

"Saya adalah tentara didikan Jepang dan menjadi saksi hidup saat riwayat Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta dibawa ke Rengasdengklok. Memang suasana mencekam, namun tekad kuat kami untuk terus memperjuangkan kemerdekaan bangsa sangat tinggi. Saya salah satu bagian dari Badan Keamanan Rakyat (saat ini TNI), harus menjaga kondisi sekitar rumah Rengasdengklok, saat musyawarah berlangsung. Kami tak takut penjajah saat itu, lebih baik mati di tangan penjajah daripada kami mati konyol tanpa berjuang. MERDEKA…," cerita Jauhani (95), salah satu pelaku sejarah perjuangan bangsa dengan penuh semangat. (Dompet Dhuafa/Taufan YN)