hit counter code


Bagaimana Agar Bisnis Tetap Langgeng?

Social Enterpreneur, Nasional, | Thu 10/2016 10:53:51
Dompet Dhuafa Post Image
Share

JAKARTA -- Pada tahun 2016, tingkat pengangguran terbuka per bulan Februari tercatat sekitar 7,02 juta orang, atau sekitar 5,5 persen. Angka ini menurun jika dibandingkan bulan Februari tahun 2015 yang mencapai 7,45 juta orang atau sekitar 5,81 persen. Meskipun menurun, kenyataan bahwa jumlah lapangan pekerjaan yang lebih sedikit daripada pencari kerja, tetap tidak bisa dimungkiri. Sulitnya mencari pekerjaan membuat sebagian masyarakat lebih memilih membuka bisnis.

Fenomena menarik lainnya adalah, mereka yang terjun ke dunia bisnis, kini kebanyakan kaum muda. Mereka berbondong-bondong membuka bisnis meskipun masih duduk di bangku sekolah atau kuliah. Namun banyak dari mereka membangun bisnis tersebut tanpa pondasi yang kuat. Sehingga bisnis tersebut tidak bertahan lama. Menurut Zainal Abidin, Direktur Institut Kemandirian Dompet Dhuafa, kunci dari langgengnya sebuah bisnis salah satunya adalah kepercayaan. Terutama bisnis yang pemiliknya lebih dari satu orang.

“Selain modal besar, kunci berbisnis adalah percaya. Saat kita hilang rasa percaya terhadap seseorang atau rekan bisnis kita, bisnis tersebut pasti gampang hancur,” ujar lelaki yang kerap disapa Bang Jay ini, saat mengisi acara seminar dan pelatihan Digitalpreneur di UIN Jakarta.

Selanjutnya, dalam seminar yang digagas oleh Dompet Dhuafa bekerjasama dengan Alfacart tersebut, Jay mengatakan kunci langgengnya bisnis adalah menemukan potensi. Tidak ada individu yang dilahirkan sempurna, pasti ada kekurangan. Namun, jangan jadikan kekurangan tersebut hambatan untuk memulai bisnis. Jadikan potensi tersebut sebagai pendukung berjalannya bisnis.

Persaingan dalam dunia bisnis adalah hal yang biasa. Hal tersebut tidak bisa dihindari. Namun semua problematika dapat diatasi. Maka untuk membuat lini bisnis dilirik oleh para konsumen, sebuah bisnis haruslah memiliki keunikan. Hal ini berkaitan pula dengan kunci sebelumnya yaitu potensi. Jadikan potensi dan keunikan sebagai alat promosi dan untuk menggaet para konsumen. Karena, jenis barang atau jasa yang ditawarkan boleh saja sama, tetapi pastinya setiap pebisnis memiliki keunikan sendiri. (Dompet Dhuafa/Dea)