hit counter code


Menilik Pemberdayaan Kerang Hijau di Serang Banten

Kesehatan, | Thu 03/2015 11:15:53
Dompet Dhuafa Post Image
Share
Sejumlah ibu-ibu warga Kampung Rujak, Desa Margaluyu, Serang, Banten, tengah mengupas tumpukan kerang hijau. (Foto: Uyang/Dompet Dhuafa)

Siang itu matahari begitu terik, namun panasnya cuaca kala itu tak menyurutkan semangat para ibu tangguh yang tengah membantu mengupas kerang hijau, di kawasan Kampung Rujak Beling RT 03/17 Desa Margaluyu, Serang, Banten. Tumpukan kerang yang terlihat menggunung itu setiap harinya diproduksi. Dari mengupas kerang hijau inilah, para ibu tangguh ini mampu memperoleh penghasilannya untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Desa Margaluyu, merupakan salah satu wilayah yang dikenal dengan sebutan kampung nelayan di Serang, Banten. Di kawasan ini pula, budidaya kerang hijau menjadi matapencaharian utama bagi masyarakatnya. Namun seiring berjalannya waktu, banyak masyarakat setempat yang beralih ke profesi lain dalam mencari penghasilan seperti, buruh bangunan, ojek, hingga mengais rezeki di negeri orang.

Tak ingin pemberdayaan kerang hijau di wilayah tersebut lenyap begitu saja, Dompet Dhuafa melalui Masyarakat Mandiri (MM) berupaya membantu menggairahkan kembali pemberdayaan kerang hijau dengan membentuk sebuah lembaga lokal Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) bernama Sinar Abadi, mengelola, serta melakukan pendampingan program.

“Program ini pemetik manfaatnya ada 2, yang pertama dari nelayan kerang sama ibu-ibu rumah tangga yang membantu mengupas kerang di sini,” ujar Livson Zulkah, pendamping program Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa wilayah Serang.

Livson menuturkan, selain menggairahkan pemberdayaan kerang hijau, program pendampingan yang telah berjalan sejak akhir 2012 ini juga berusaha membuka penghasilan tambahan bagi masyarakat setempat. Dalam sehari, sekitar 10 ibu-ibu telah bersiap membantu mengupas kerang hijau yang telah selesai dipanaskan.

“Upah mereka (para ibu) hitungannya per kilo. Jadi 1 kilo kita hargai dengan Rp 2500. Misal dalam sehari, mereka bisa menghasilkan 15-30 kilo,” terang Livson.

Belum lagi, bila musim panen kerang hijau tiba. Kesibukan di wilayah tersebut menjadi dua kali lipat dari hari biasanya. Dalam sehari, para ibu tangguh ini bisa menghasilkan lebih dari 30 kilo. Tidak hanya itu, antusias para pedagang ikan dan kerang pun juga sangat terlihat. Para pedagang ramai berkunjung membeli kerang hijau.

“Saya berharap, dengan berjalannya program pemberdayaan ini, masyarakat lebih terbantu dalam mencari penghasilan tambahan. Karena memang perekonomian di sini sangatlah sulit,” pungkasya berharap. (uyang)