hit counter code


Kisah Ilham dan Mimpi Menjadi Dokter (Bagian 1)

Pendidikan, Kesehatan, Nasional, Zona Madina, | Tue 05/2017 16:00:04
Dompet Dhuafa Post Image
Share

“Alhamdulillah, Karena Dompet Dhuafa Saya Bisa Jadi Dokter, ujar Ilham.

BOGOR -- Masih segar dalam ingatan Ilham Nurdin (32), saat keluarganya terbelit permasalahan ekonomi. Dirinya ingin sekali melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Ketika berusia 18 tahun, Ilham berkeinginan besar ingin menjadi seorang dokter. Padahal ayahnya, Nurdin Songgah, hanya berprofesi sebagai guru sekolah dasar dengan penghasilan tak seberapa. Di saat yang sama, Ilham masih memiliki empat saudara yang juga membutuhkan biaya pendidikan.

“Setiap bulan, penghasilan ayah saya hanya Rp 500 ribu, lantaran sudah terpotong bayar cicilan hutang untuk membiayai kakak saya kuliah. Untuk tambah-tambah penghasilan, ayah berjualan makanan ringan di sekolah. Sedangkan ibu saya hanya pedagang kaki lima di pasar,” ujar Ilham, di sela kesibukannya memeriksa pasien di RS Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa, di Parung, Bogor.

Melihat keluarganya yang sarat keterbatasan, tak membuat pria kelahiran Pangkajene, Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, patah arang. Bermodal restu orang tua, Ilham berhasil diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin Makassar (UNHAS), lewat jalur SPMB pada 2003.

Karena jauh dari rumah, Ilham tinggal bersama kakak pertamanya di sebuah pondok semi permanen dari papan kayu, tak jauh dari UNHAS dengan sewa Rp 400 ribu per tahun. Bak gayung bersambut, Ilham mendapati sebuah poster Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan pertama tertempel di Masjid Al Hizam, yang masih satu komplek dengan pondokan.

“Saya merasa mungkin ini jalan saya. Kebetulan beastudi itu juga menawarkan beasiswa untuk fakultas kedokteran. Saya amati, akhirnya saya mendaftar, saya ikuti proses administrasinya, tes tertulis hingga tes agama. Alhamdulilah saya lolos seleksi dan diterima,” kata ayah dua anak tersebut.

Sejak menjadi mahasiswa melalui pembiayaan dari kebaikan para donatur di program Beastudi Etos Dompet Dhuafa, pendidikan Ilham berjalan mulus. Ia tak lagi pusing memikirkan biaya, terlebih Ilham juga mendapatkan uang saku Rp 250 ribu per bulan. Bahkan menurut Ilham uang masuk kuliah pada semester 1 sebesar Rp 1,5 juta yang sudah ia keluarkan turut diganti oleh Dompet Dhuafa. (Dompet Dhuafa/Eva)