hit counter code


Luncurkan Gerakan Sejuta Wakif

Wakaf, | Fri 12/2017 09:39:23
Dompet Dhuafa Post Image
Share

JAKARTA—Dompet Dhuafa meluncurkan “Gerakan Sejuta Wakif”. Gerakan ini diluncurkan untuk memaksimalkan potensi wakaf yang sangat besar di Indonesia. Jika dioptimalkan, potensi wakaf ini bisa menjadi instrumen pembiayaan alternatif yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Mengutip data Badan Wakaf Indonesia, saat ini setidaknya ada 450 ribu titik lahan wakaf dengan luas sekira 3,3 milyar meter persegi. “Jika demikian adanya, luas aset wakaf yang tersebar di 366.595 lokasi itu merupakan harta wakaf terbesar di dunia,” ungkap Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Ismail A. Said di sela-sela acara Indonesia Wakaf Summit 2017 dan Peluncuran Gerakan Sejuta Wakif yang digelar di Jakarta, Kamis (14/12/2017).

Namun demikian Ismail menyayangkan, dari sekian banyak aset wakaf itu, sebagian besarnya dimanfaatkan sebagai fasilitas sosial. Padahal, wakaf dapat dioptimalkan fungsi dan kebermanfaatannya sehingga bisa memberikan keuntungan untuk masyarakat banyak. “Terlebih, banyak di antara aset itu yang berada di lokasi strategis, sehingga sebenarnya bisa dimaksimalkan nilai ekonominya,” tambahnya.

Selain wakaf berupa aset lahan, Indonesia juga memiliki potensi wakaf uang yang juga sangat besar. Berdasarkan penghitungan BWI, potensi wakaf uang di Indonesia mencapai Rp 180 triliun. JIka potensi ini mampu dikelola dan diberdayakan secara profesional, akan sangat membantu dalam mensejahterakan ekonomi umat, memenuhi hak-hak masyarakat, serta mengurangi penderitaan masyarakat.

Ismail menegaskan, wakaf uang sebenarnya bukan tujuan akhir namun sebagai tangga awal untuk mengelola aset produktif. Menurutnya, tantangan utama dalam mengelola dan memproduktifkan aset wakaf yang berupa lahan selama ini adalah ketiadaan uang untuk membiayainya. “Untuk itu, wakaf uang bisa digunakan untuk mengubah lahan-lahan wakaf yang tadinya “tidur” itu menjadi aset yang produktif,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Dompet Dhuafa Filantropi, Imam Rulyawan menjelaskan bagaimana wakaf uang bisa dioptimalkan. Dikatakannya, dana wakaf yang dikumpulkan akan dibelikan atau mengubah lahan yang ada menjadi aset produktif. Aset-aset ini dikelola untuk menghasilkan keuntungan. Selanjutnya keuntungan tersebut disalurkan untuk kepentingan sosial.

“Jadi, selain menguntungkan pelaku bisnis, aset wakaf produktif ini akan menghasilkan dana-dana untuk kegiatan sosial yang tidak pernah putus,” jelasnya.

Imam menambahkan, pengalaman Dompet Dhuafa selama ini menunjukkan, aset wakaf yag dikelola secara professional dapat menghasilkan surflus atau keuntungan. Tahun 2016 lalu, aset wakaf produktif Dompet Dhuafa berhasil membukukan surflus  sebesar Rp 2 milyar. “Surplus ini disalurkan kepada orang miskin melalui program-program Dompet Dhuafa,” jelasnya.

Saat ini beberapa aset wakaf yang dikelola Dompet Dhuafa meliputi berbagai sektor, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga kesehatan. Dompet Dhuafa memiliki hospital network berbasis wakaf seperti Rumah Sakit (RS) Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa, Parung, Jawa Barat; RS AKA Sribhawono, Lampung Timur, Lampung; RS Ibu Anak As-Sayyidah, Jakarta Timur; RS. RST Lancang Kuning, Pekanbaru, Riau; dan  RS. Mata Ahmad Wardi, Serang, Banten.

Di sektor pendidikan ada Sekolah Islam Al-Syukro Universal, Ciputat, Tangerang, Banten; Sekolah SMART Semen Cibinong, Bogor, Jawa Barat dan Khadijah Learning Center (KLC), Tangerang, Banten. Untuk sektor ekonomi terdiri dari agroindustri kebun nanas & buah naga, Subang, Jawa Barat; Mini Market “Daya Mart” & Toko Buah Segar “De Fresh”; DD Water, Bogor, Jawa Barat.

Untuk penghimpunan wakaf, Wakaf Dompet Dhuafa telah menjalin kerja sama dengan beberapa perbankan syariah di Indonesia yang masuk dalam LKSPWU (Lembaga Keuangan Syariah Pengelolaan Wakaf Uang). Dompet Dhuafa juga menggandeng sejumlah e-commerce untuk memudahkan wakif.(Dompet Dhuafa/Bani)