hit counter code


Penerima Manfaat Beastudi Etos DD Berprestasi

Kesehatan, | Mon 07/2014 16:05:46
Dompet Dhuafa Post Image
Share

Setelah lebih dari 100 tahun, Indonesia telah menjadi tonggak sejarah kebangkitan pendidikan dengan menorehkan berbagai prestasi baik secara nasional maupun internasional. Namun, belenggu kekhawatiran akan tingkat pendidikan yang masih rendah yang mewarnai anak-anak bangsa di belahan nusantara, menjadi sebuah hambatan generasi muda untuk menjadi negarawan muda harapan bangsa. Terlebih, akibat angka kemiskinan dan pengangguran yang kian meningkat.

Namun dibalik kenyataan itu semua, tidak sedikit anak-anak bangsa yang berhasil mengukir prestasi. Kendala akibat keterbatasan ekonomi yang dirasakannya bersama keluarga sedari kecil, tak membuatnya lantas diam berpangku tangan menerima nasib. Segala upaya dilakukan mulai dari menjadi tukang ojek, pelayan restoran, ia jalani, demi menunjang pendidikan hingga ke tingkat sarjana. Peluang beasiswa pun ia raih hingga pada akhirnya ia bisa menjadi anak bangsa yang berprestasi.

Mahasiswa berprestasi tersebut adalah Muhammad Taufik penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa, yang juga Mahasiswa Fakultas Universitas Andalas (Unand) ini memiliki segudang prestasi. Awal September 2011, Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia dalam pemberitaannya mengundang sekitar 80 universitas se-Indonesia untuk ikut serta dalam lomba Peradilan Semu Mahkamah Konstitusi tahun 2011. Perlombaan ini lebih spesifiknya ditujukan bagi Fakultas Hukum universitas yang bersangkutan. Ia menjadi perwakilan fakultas, untuk mengikuti lomba tersebut. Dan akhirnya menduduki posisi juara satu.

Momentum Peringatan Hari Pendidikan Nasional bisa membangkitkan semangat generasi muda untuk terus semangat dalam berkarya menjadi penerus generasi bangsa. Berikut, penuturan kisahnya.

Ingin menangis rasanya, jika harus mengungkit kembali mengenang betapa saat itu. Aku hujan-hujanan mengendarai motor kreditanku dari Padang Panjang ke Padang sekadar memberanikan diri bersaing dengan ratusan orang yang ikut seleksi beasiswa dan dengan puluhan ribu orang yang ikut SNMPTN. Tapi demi sebuah asa, semua itu kulalui. Dan aku berhasil.

Status sebagai seorang mahasiswa adalah salah satu bagian terbesar yang pernah terwujud sepanjang hidupku. Berbeda dengan sebagian orang lainnya yang mungkin menganggap perkuliahan adalah hal biasa dan sebagai suatu tuntutan zaman atas pendidikan atau hasrat haus akan gelar kesarjanaan. Namun bagiku, perkuliahan adalah hal lain yang lebih daripada itu; ia merupakan anugerah yang sangat besar dari Alah kepadaku sebagai jawaban atas segala doa dan usaha untuk sebuah pengabdian yang ditujukan kepada orangtuaku.
Aku adalah anak dari pasangan pedagang kecil di pasar kota Padang Panjang, sebuah kota kecil nan indah dikelilingi perbukitan, sekitar satu setengah jam perjalanan dari Padang. Ibuku berdagang tanaman hias, sedangkan ayah berdagang mainan anak-anak dan terkadang bekerja sampingan menjadi tukang ojek. Maklum saja, ketiga adikku masih kecil. Padahal, ayahku pernah bekerja di sebuah perusahaan Jerman yang ada di Indonesia. Tuntutan harus berpisah dengan keluarga membuatnya keluar dari perusahaan tersebut. Ayah lebih memilih tinggal bersama aku dan ibu serta bekerja sebagai pedagang kecil dengan penghasilan pas-pasan. Aku tak pernah menyesali keputusan ayah tersebut semisal dengan membayangkan kemudahan hidup seandainya ayah masih bekerja di sana. Kedewasaan membuat aku memaklumi langkah sulit yang beliau pilih saat itu.

Kerasnya kehidupan membuat masa-masa sekolahku harus dihadapi dengan kesabaran dan kesyukuran atas yang ada. Sedari SD di Padang aku terbiasa menjalani hari yang lepas tanpa pengawasan yang ketat dari orangtua yang sibuk bekerja. Meskipun begitu, sedari sekolah dasar aku sudah menggenggam prestasi: selalu menjadi yang pertama di kelas. Saat pindah ke kota Padang Panjang, di kala usiaku baru memasuki belasan dan menginjak SMP, pernah aku berprofesi sebagai pemulung logam tanpa sepengetahuan orangtuaku.

Tatkala aku SMA, aku pernah berniat segera saja memutuskan sekolah hingga kelas I SMA. Aku tak ingin semakin menyusahkan ibu dan ayahku. Perasaan itu begitu kuat saat itu, menggema berulang kali dalam benak, menyugesti aku untuk cukup sampai di sini saja daftar riwayat pendidikanku. Tentu saja orangtuaku menentang asumsi bodohku itu karena bagi mereka aku layaknya investasi yang begitu berharga, setelah bertahun-tahun modal-modal kehidupan itu ditanamkan di dalam diriku.

Tahun 2010, waktu itu akan kukenang sebagai titik balik masa kembalinya jati diriku. Hari itu mukjizat-Nya terjadi, takala aku membaca tawaran beasiswa nasional dari sebuah Koran lokal. Aku memang hobi sekali membaca, dan kali ini kegemaran itu mengantarkanku pada kehidupan yang berbeda. Dengan sigap sekali, aku tahu apa yang harus segera kulakukan, aku tahu akan kemampuanku, kuberanikan diri membangun asa kembali untuk kuliah sesegera mungkin. Kuamtarkan langsung lamaran seleksi untuk mendapatkan beasiswa itu. Uang hasil kerja keras sebagai tukang ojek sedikit aku tabungkan untuk kembali mendaftar seleksi masuk perguruan tinggi.

Di sela-sela waktu istirahatku, kuulang kembali pelajaran-pelajaran SMA. Tak sampai di situ saja, aku mencoba menyeimbangkan potensiku dengan mental spiritual yang sering kuabaikan karena aku kali ini sadar bahwa itulah yang akan mengantarkanku pada apa yang kuinginkan dalam hidup ini. Tanpa pikir panjang, segala macam nazar aku tumbalkan untuk-Nya demi secercah harapan.
Dan kurasa berbeda, Allah kali ini menjawab keluh kesahku dengan keberhasilan. Berkat kesungguhan yang teramat sangat, beasiswa penuh itu kuraih untuk kuliah di Fakultas Hukum Universitas Andalas. Kuraih pula Beastudi Etos, beasiswa di bawah naungan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa yang aktif memberikan pembinaan dan bantuan finansial bagi mahasiswa kurang mampu. Bersyukur sekali bahwa bukan hanya materi, namun bimbingan dan limpahan kesegaran rohani kudapatkan dari lembaga beasiswa ini.

Ibuku bahkan berani membebankan amanah yang lebih besar padaku. Ibu dari dulu ingin sekali punya rumah sendiri karena rumah kami selalu berpindah, mengontrak rumah milik orang lain. Ibu membayangkan apabila ia meninggal kelak, setidaknya bisa melihat kami tak lagi hidup nomaden. Dan kali ini curahan hati beliau aku terima sebagai motivasi, bukan sebagai beban. Malah lebih jauh lagi aku berani menantang diriku berkeinginan melanjutkan studi mengambil scholarship ke Belanda, negara pusatnya studi hukum dunia.

Awal September 2011, Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia dalam pemberitaannya mengundang sekitar 80 universitas se-Indonesia untuk ikut serta dalam lomba Peradilan Semu Mahkamah Konstitusi. Perlombaan ini lebih spesifiknya ditujukan bagi Fakultas Hukum universitas yang bersangkutan. Fakultasku juga termasuk yang diundang.

Aku sebagai bahagian dari mahasiswa Hukum tentu saja lantas menceburkan diri dalam proses seleksi rekrutmen peserta lomba untuk dipilih 17 orang mewakili universitas dalam ajang tersebut. Melalui proses seleksi tertulis dan wawancara, alhamdulillah tahap awal sebagai peserta yang mewakili Fakultas Hukum Unand kuraih.

Lomba Peradilan Semu (Moot Court) Mahkamah Konstitusi yang bertemakan Pengujian Undang-Undang Dasar 1945. Para peserta diminta untuk menyusun berkas pengujian undang-undang yang akan dilombakan dan dipilih 10 berkas terbaik terbaik mewakili universitasnya masing-masing ke MK.

Tim Fakultas Hukum Unand memilih Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah sebagai UU yang diujikan dalam perlombaan. Dan subhanallah setelah melalui proses seleksi berkas bersaing dengan puluhan peserta lainnya yang mengikuti kegiatan, alhasil tim Unand masuk ke posisi 2 besar.

Tibalah saatnya pengumuman juara I, yang tinggal menyisakan Unand dan UGM sebagai pilihan. Dan betapa terkejutnya akhirnya kami terpilih menjadi juara pertama.
Khusus bagiku, sejak awal telah kumaknai dalam koridor harapan untuk kontribusi berprestasi bagi Etos, membuat ibu bangga dan ikhlas menerima hasil terbaik yang diberikan Allah SWT. (uyang)