hit counter code


Membangun Asa di Tanah Suku Bajo

Kesehatan, | Fri 03/2015 16:24:56
Dompet Dhuafa Post Image
Share

Gemercik air tak hentinya terdengar dari balik rumah-rumah kayu. Setiap hari anak-anak Bajo tidak lepas diri bermain di laut. Tinggal di atas permukaan laut yang dangkal, laut menjadi bagian dalam hidup suku bajo. Desa Bajo, dimana suku bajo tinggal terletak di Kabupaten Wakatobi yang dapat ditempuh 2 jam perjalanan dengan kapal motor. Bajo sendiri bermakna sama bahari, dimana ada 1700 orang tinggal di perkampungan desa ini,

Anugerah Tuhan yang harus kita syukuri, Taman Nasional Wakatobi termasuk dalam triangle coral dunia tak heran menjadi dambaan wisata dunia. Bahkan 11.000 orang setiap tahunnya berkunjung kesana, dunia pun menyatakan pusat biosfer dunia berada disini.

Nama harumnya Desa Bajo, Wakatobi sungguh bertolak belakang dengan tingkat pendidikan di Bajo ini. Dodong namanya, salah satu anak suku bajo yang kesehariaanya mencari ikan dengan cara khas menombak sambil menyelam. Siswa kelas 5 ini masih gagap membaca dan menulis, sungguh membuat hati pilu melihat kenyataan ini.

Bahkan anak-anak disana ada yang sekolah dan tidak, mereka yang datang ke sekolah pun kebanyakan hanya untuk main-main saja. Tidak heran ada siswa yang berseragam da nada pula yang hanya memakai baju biasa, yang diajarkannya cuma tulis baca. Murid-murid di sana tidak biasa untuk belajar formal, orangtuany saja masih banyak buta huruf.

Kondisi ini membawa seorang Syahril Huda menginjakkan kaki di desa Bajo. Pemuda asli minang ini memantapkan diri menjadi pengajar disana, bergabung dalam program Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa. Dia mengajar di Madrasah Intiidayah Swasta yang berdiri sejak 9 tahun yang lalu oleh Bapak Sibbly seorang pensiunan guru Agama.

DI sekolah ini terdapat 148 siswa terdaftar dan memiliki 13 guru yang berstatus honorer. Mahasiswa Alumni Jurusan Administrasi Negara, Universitas Sriwijaya ini setiap harinya mengajar dua kelas yaitu kelas 5 dan 6 yang di gabung dalam satu ruangan. Seringkali dia juga mengisi kelas ketika ada guru yang tidak masuk kelas, karena sedang ada kerjaan diluar.

Syahril Huda menekankan betapa pentingnya ilmu harus berkembang di Desa Bajo.“Ketika mereka tidak punya ilmu maka akan selalu dijajah, misalkan mereka menghasilkan banyak ikan dan gak bisa mengolahnya maka dia tidak akan bisa memaksimalkan hasil lautnya untuk diolah menjadi lebih bernilai sehingga bisa meningkatkan perkonomian mereka,” pungkasnya. (Riandy)